PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 42


__ADS_3

Rani terus menjalankan mobilnya dengan senyum di bibir. Mulutnya bersenandung kecil, mengikuti lagu yang dia putar di dalam mobil.


Sesekali tertawa dan berteriak kegirangan. "Hari ini, elo akan benar-benar merasakan bagaimana nikmatnya hidup." serunya.


"Uuuhhh,,,, elo akan melayani lima orang sekaligus. Waow,,, benar-benar hebat. Pengalaman pertama yang pastinya tidak akan elo lupakan." cicit Rani sembari bersiul.


Sembari menyetir, Rani merogoh ke dalam tasnya. Mengambil ponsel milik Moza yang dia ambil tanpa sepengetahuan pemiliknya.


"Aaiiisshhh,,,, ckkk..." decak Rani, dimana ponsel Moza malah terjatuh.


Dengan kondisi menyetir, tangan kiri Rani mengambil dan meraba ponsel milik Moza yang jatuh di bawahnya. Sementara tangan kanannya tetap berada di stir.


Bahkan Rani juga melepas sabuk pengamannya. Agar leluasa mengambil ponsel milik Moza. "Mana sih." gerutu Rani, sambil melihat ke depan, juga beberapa kali melihat ke bawahnya.


Ketemu. Rani memastikan jika tak ada kendaraan di depannya. Sehingga dia dengan berani menundukkan badannya dan mengambil ponsel milik Moza yang terjatuh tanpa berhenti.


Memang, di depan mobil Rani tidak ada mobil lain. Tapi, di saat dia menyetir menggunakan satu tangan dan tidak terlalu fokus saat melihat ke bawah, tanpa Rani sadari, mobilnya tidak melaju ke depan. Melainkan ke samping.


Kecelakaanpun tak dapat dia hindari. Sebuah mobil melaju dari arah berlawanan, dengan kecepatan tinggi. Langsung menabrak mobil yang dikendarai Rani yang melintang di tengah jalan.


"Aaaa....!!!!" teriak Rani, saat merasakan mobilnya tiba-tiba berguling-guling beberapa kali hingga ke tempat yang jauh.


Karma yang instan, dibayar lunas. Baru saja dia merencanakan hal yang keji terhadap seseorang yang selama ini berlaku baik terhadapnya.


Dan sekarang, dia malah mengalami kecelakaan yang pasti akan membuatnya terluka parah. Melihat bagaimana keadaan mobil Rini ditambah Rini yang tidak memakai sabuk pengaman.


Tanpa dia tahu. Jika orang yang dia ingin celakai berhasil lolos dari rencana jahatnya. Dan sekarang, dirinya malah dilarikan ke rumah sakit karena kecelakaan.


Moza tersenyum melihat punggung Jevo. Segera dia masuk ke dalam. Membersihkan diri dan mengambil pakaian Jevo yang dapat dia pakai.


Selesai membersihkan diri, Moza duduk di pinggir ranjang. Dia menggunakan kaos panjang beserta celana olah raga panjang milik Moza.


Baju yang Moza pakai sangat kebesaran di tubuh Moza. Bahkan, jika dilihat, Moza tampak masuk ke dalam baju tersebut.


Moza mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk, dengan pikiran kembali teringat kejadian yang baru saja dia alami.


Moza memejamkan kedua matanya sebentar. "Beruntung Jevo datang tepat waktu." cicitnya.


Ini kedua kalinya Jevo datang dan menyelamatkan dirinya dari bahaya. "Rani, bagaimana dengan Rani?" gumam Moza, masih memikirkan keadaan Rani.


"Semoga Rani baik-baik saja. Aku harus menanyakan keadaan Rani pada Jevo." lanjut Moza.


Sama seperti Moza, Jevo juga membersihkan diri di dalam kamar. "Sudah lama sekali gue nggak ke sini." tukas Jevo.


Meski apartemen ini tidak dia tinggali, tapi beberapa hari sekali ada petugas kebersihan yang membersihkan apartemen ini.


Bukannya Jevo tidak ingin tinggal di sini. Hanya saja, kedua orang tuanya tidak memperbolehkan kedua anak mereka untuk tinggal di tempat lain.


Jevo dan Jeno menuruti apa yang diinginkan kedua orang tuanya. Mereka berpikir, semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya.


Meski keduanya bisa hidup bebas jika tinggal terpisah dari orang tua mereka. Tapi mereka tidak melakukannya. Mereka tetap patuh dan menuruti keinginan sang mama dan papa.


Jevo mengambil ponsel, memesan makanan. Sebab di apartemennya, sama sekali tidak ada bahan makanan yang bisa di masak, apalagi makanan cepat saji.


Hanya ada beberapa kaleng minuman dingin di dalam kulkas. Tanpa roti, camilan, ataupun buah.


Pintunya diketuk dari luar, membuat Jevo bangun dan membukanya. "Ada apa?" tanya Jevo. Yang pasti Moza yang mengetuk pintu kamarnya.


Sebab, hanya ada dirinya dan Moza di dalam apartemen ini. "Bisa kita bicara sebentar." pinta Moza.


Jevo berjalan ke ruang tengah. Dengan ponsel di tangannya. Duduk di kursi ruang tengah dengan gaya angkuh. "Katakan?"


Perlahan, Moza mendaratkan pantatnya di kursi yang berada di sebelah kanan Jevo. "Apa kamu melihat seorang perempuan sepantaranku. Saat kamu datang menolongku?"


Jevo tahu siapa yang dimaksud Moza. Tanpa mengucapkan apapun, Jevo memberikan ponselnya. Yang sudah memperlihatkan rekaman di mana Rini tertawa dengan senang dan meninggalkan tempat tersebut tanpa beban.


Moza tak segera mengambil ponsel yang disodorkan Jevo. Tentu saja Moza heran dan bingung. Dirinya bertanya tentang Rani, dan Jevo malah memberikannya ponsel.


"Ambil dan lihat." ucap Jevo, saat Moza hanya melihatnya, tanpa ingin mengambil ponsel di tangannya.


Jevo memandang Moza yang tengah melihat rekaman video yang memang sengaja Jevo ambil saat di tempat kejadian.


Jevo tahu bagaimana karakter dari Moza. Pastinya Moza tidak akan percaya jika mulutnya yang bercerita. Lebih baik merekam tindakan Rani, dan langsung memperlihatkan pada Moza.


Moza memandang sebentar ke arah Jevo. Lalu kembali fokus pada video di layar ponsel Jevo. Moza bahkan beberapa kali mengulang video tersebut.

__ADS_1


Bibir Moza tersenyum tidak ingin percaya, serta menggeleng. "Ini bohongkan?" tanya Moza masih tidak ingin percaya.


Jevo mengambil ponsel yang masih berada di tangan Moza. "Terserah apa yang elo dapat tangkap dari video itu. Bohong atau tidaknya, elo sendiri yang bisa memutuskan."


Jevo juga tidak ingin menyakinkan Moza atas video yang telah dia ambil sendiri. Dirinya bukan tipe pemaksa.


Kedua mata Moza mulai buram. Kedua kelopak matanya mulai penuh dengan air mata. "Kenapa....??? Apa salahku...??" cicit Moza dalam tangisnya.


Moza duduk dengan menangis sesegukan. Dirinya benar-benar tidak menyangka. Rani, seorang yang sudah dia anggap lebih dari sekedar sahabat, tega melakukan semua ini padanya.


Moza terus menangis. "Ckkk,,, ini yang gue benci. Perempuan cengeng." decak Jevo, yang bingung bagaimana caranya menenangkan Moza, agar tidak menangis lagi


"Lagian apa yang ditangisi. Dia masih perawan." celetuk Jevo, mendekat ke tempat duduk Moza.


Belum sempat Jevo melakukan apapun, Moza sudah terlebih dahulu memeluk tubuhnya dengan erat. Menaruh wajahnya di dada Jevo.


Kedua tangan Jevo masih terangkat ke atas. Perlahan, dengan gaya kaku, Jevo menurunkan kedua tangannya. Menepuk punggung Moza serta mengelus rambut Moza dengan pelan.


Moza masih memeluk Jevo dengan erat. Meski sudah tidak terdengar suara tangis lagi. Jevo merasa tubuhnya kesemutan. "Sampai kapan, dia akan memeluk gue." keluh Jevo dalam hati.


Jevo tersenyum samar. "Jika Bulan, gue rela dipeluk lama. Sehari juga gue jabanin." ucapnya dalam hati.


Suara bel pintu membuat Moza melepaskan pelukannya. "Sebentar." Jevo berdiri dan membuka pintu. "Pasti makanannya sudah datang." tebak Jevo.


Moza menyeka air mata di kedua pipinya. "Rani." cicitnya. Sungguh, Moza sangat terpukul.


Jevo datang dengan sebuah kantong plastik berwarna putih di tangannya. "Kita makan dulu." Jevo menurunkannya di atas meja. Mengeluarkan makanan dari dalam plastik.


Moza baru sadar, jika wajah Jevo terluka." Jevo wajah kamu." cicit Moza dengan khawatir.


Dirinya terlalu bersedih dan memikirkan dirinya sendiri. Tanpa sadar telah mengacuhkan keadaan orang yang sudah menolongnya.


Jevo meraba pelipisnya. "Luka ringan." ucap Jevo cuek.


Jevo menyodorkan makanan pada Moza. "Kita makan dulu."


"Gue harus segera pergi. Ada urusan yang harus gue kerjakan." ucap Jevo disela makan.


Moza mengangguk. "Iya. Biar aku nanti naik taksi."


Moza kembali mengangguk. "Baik."


Moza terdiam. Menatap makanan di tangannya. "Bagaimana bisa Rani melakukan semua itu padaku. Aku dan dia adalah tetangga. Kami kenal sejak kecil. Selalu bersama. Bahkan, kita sekolah di tempat yang sama."


Jevo diam, sambil terus menyantap makanannya, dia mendengar perkataan Moza. Dapat Jevo lihat dari sorot mata Moza, ada rasa kecewa yang mendalam.


"Aku selalu menganggap Rani seperti saudara. Bahkan, jika aku membeli sesuatu, aku juga pasti akan membelikan dia juga." ucap Moza, menjeda kalimatnya.


Moza mengaduk makanan yang ada di tangannya. "Kedua orang tuaku bahkan sangat menyayangi Rani. Sama seperti mereka menyayangi aku." lanjut Moza.


Jevo hanya diam. Dia mungkin belum pernah merasakan apa yang Moza rasakan. Tapi yang pasti, Jevo tahu, jika sudah pasti akan terasa sakit, saat orang yang kita percaya dan selalu berada di samping kita ternyata menusuk kita dari belakang dengan cara keji.


"Kelihatannya elo harus berteman dengan orang macam Bulan." gumam Jevo.


Moza menatap Jevo. "Apa?" tanya Moza, merasa jika Jevo berkata sesuatu. Tapi dirinya tidak mendengar begitu jelas.


"Khemm,,, bisakah kita pergi sekarang. Teman-teman gue sudah menunggu." pinta Jevo.


Moza mengangguk. "Jadi Jevo ingin pergi bersama kedua temannya. Atau, Claudia." tebak Moza dalam hati.


Di tengah perjalanan menuju rumah Moza, tidak ada percakapan dama sekali antara Moza dan Jevo. Beberapa kali Moza melirik ke arah Jevo dengan tatapan ragu.


"Apa gue bilang ke Jevo. Bagaimana kelakuan Claudia selama ini." batin Moza.


Tapi Moza takut, Jevo tidak akan percaya. Melihat bagaimana Jevo dengan begitu lembut memperlakukan Claudia.


Dan juga, Moza tidak mempunyai bukti. Jika Claudia menjalin hubungan dengan Revan di belakang Jevo. Bahkan Moza pernah melihat mereka berdua berhubungan intim di ruangan salah satu sekolah.


Juga Moza pernah melihat mereka berdua masuk ke dalam hotel. "Moza... Sudah sampai." tutur Jevo, saat Moza terlihat melamun.


"Ehh.. baik. Terimakasih." cicit Moza.


Gerakan tangan Moza yang hendak membuka pintu mobil terhenti, saat Jevo mengeluarkan suaranya kembali.


"Rani. Kamu tidak perlu merasa bersalah atau merasa kecewa. Setiap orang punya kepribadian masing-masing. Orang yang berhati iblis, akan selamanya mempunyai hati iblis. Dan jangan pernah menggunakan hati, saat berhadapan dengan orang seperti mereka." ujar Jevo panjang lebar, tanpa menatap ke arah Moza.

__ADS_1


Moza tersenyum. "Baik. Aku akan selalu mengingat ucapan kamu."


Entah kenapa, hanya mendengar ucapan dari Jevo, mampu membuat suasana hati Moza seketika menjadi tenang.


Tak aada lagi kegundahan dan rasa bersalah terhadap dirinya sendiri.


Segera Jevo, melajukan mobilnya menuju ke markas baru mereka. Beberapa kali Bulan melihat ke arah pergelangan tangannya. "Jika Jevo tidak segera datang. Aku akan memulai jalannya rencana kita."


Jeno dan Mikel, serta Arya hanya diam. Mereka tidak menyalahkan Bulan. Tapi juga tidak menyalahkan Jevo. Sebab memang mereka memburu waktu. Terlebih hari mulai menjelang petang.


Begitu juga Jevo. Mereka tidak menyalahkan Jevo, lantaran Jevo terlambat karena menolong seseorang.


"Saya akan memulainya sekarang. Membagi tugas dari kalian."


Belum Bulan memulai, Jevo datang berjalan dari arah luar. "Maaf, terlambat." Jevo segera mengambil kursi dan duduk di sana.


"Baik, semua sudah datang. Saya akan membagi tugas kalian." tutur Bulan.


Bulan melepas jaketnya, sebelum memulai. Dirinya merasa gerah berada di ruangan ini. Karena memang ruangan ini tidak dilengkapi pendingin.


Semua mata tertuju ke arah lengan Bulan yang terbalut kasa. Padahal setahu mereka, kemarin malam lengan Bulan dalam keadaan baik-baik saja. Tentu saja kecuali Jeno yang tahu apa yang terjadi.


Bulan membagi tugas mereka dengan teliti. Seakan Bulan bisa melihat dan menebak dengan benar, keahlian dari masing-masing anggota.


"Ingat satu hal. Jangan bertindak. Apapun yang terjadi. Meski kalian tahu, jika lelaki tersebut adalah pelakunya. Kita memerlukan bukti yang nyata dan konkrit."


"Baik."


"Arya, kamu harus tetap memantau layar ini. Jangan lengah. Sedikit saja kamu salah memberi informasi. Bisa jadi nyawa rekan kamu dalam bahaya." tekan Bulan.


"Baik bu." tegas Arya.


"Dan kamu, Jevo. Kamu hanya perlu mengintai. Apa yang terjadi di dalam rumah dokter tersebut. Apapun yang terjadi. Kamu jangan bertindak. Mata kamu harus jeli. Kenali musuh, meski dia berubah bentuk sekalipun."


"Baik." sahut Bulan.


"Dan kamu, siapapun yang keluar dari rumah. Buntuti dia dengan hati-hati. Jangan sampai dia curiga."


"Baik bu." sahut Mikel.


"Sementara kamu, selidiki setiap detail jalan masuk ke rumah Serra. Jangan sampai ada yang terlewat. Cari jalan terbaik. Agar besok kita bisa masuk tanpa ketahuan."


"Baik bu." sahut Jeno.


Bulan memberikan beberapa alat dengan bentuk kecil pada Jeno. "Ini kamera tersembunyi, yang sudah tersambung dengan layar di sini. Letakkan di tempat yang sekiranya bisa dilihat secara jelas oleh Arya."


"Bu, apa tidak sebaiknya Arya membantu Jeno." tanya Mikel, merasa tugas untuk Jeno begitu berat.


Masuk sendiri ke dalam rumah orang. Bukan hanya mengintai seperti Jevo. Tapi harus mengetahui seluk beluk dan setiap jalan di rumah Serra.


Itupun, Jeno masih harus memasang alat yang diberikan oleh Bulan. "Jika kamu mau, kamu bisa bertukar tempat." ujar Bulan.


"Maaf." cicit Mikel, tahu jika Bulan tidak suka dengan sarannya.


"Bu, lalu bu Bulan tugasnya apa?" tanya Arya dengan polos.


Bulan tersenyum miring. "Saya mempunyai pekerjaan untuk malam ini. Dan itu tidak bisa ditinggalkan. Saya harap, kalian tidak mengecewakan saya."


"Baik."


Mereka berempat saling pandang. Ingin rasanya mereka bertanya pada guru cantik mereka, pekerjaan apa yang hendak dilakukan Bulan pada malam hari.


Bulan berjalan menuju kamarnya. Mengambil sebuah ransel yang tadi dia bawa ke tempat ini. Semua Bulan lakukan untuk menghemat waktu.


Dirinya tidak ingin kembali lagi ke tempat Gara berada. Mata mereka tertuju pada ransel yang ditenteng santai oleh Bulan.


Bulan membuka ransel untuk mengambil jaket dan juga penutup wajah serta kepala. Tanpa sengaja, Mikel melihat sebuah bahan peledak di dalam ransel tersebut.


Mikel menelan ludahnya dengan kasar. "Apa yang dilakukan bu Bulan dengan alat tersebut?" tanya Mikel dalam hati, takut bercampur penasaran.


"Ingat, pakai pakaian yang aman dan bisa menyamarkan wajah serta penampilan kalian."


"Baik bu."


"Setelah tugas saya selesai, saya akan menyusul kalian." cicit Bulan.

__ADS_1


__ADS_2