
Pak Bimo mengumpulkan semua bukti kejahatan rekannya yang sudah dia kumpulkan jauh-jauh hari, dimana dirinya ingin mengakhiri semuanya. Meski dirinya juga terlibat dalam kejahatan tersebut.
Dilihatnya letak brangkas yang terhalang oleh sebuah lukisan. Dimana beliau menyimpan semua bukti tersebut di dalamnya.
Dan setelah beliau merasa ada yang janggal. Yakni saat dirinya memutuskan untuk keluar sebagai anggota. Tapi ditentang oleh semuanya. Alhasil, keluarganya selalu terancam bahaya.
Di saat itulah pak Bimo tak pernah lagi membuka berangkas tersebut. Terlebih ada kamera CCTV di ruang kerjanya. Dan pasti mereka akan mengetahui, jika dirinya menyimpan sesuatu di tempat tersebut.
Kecuali rekaman video, yang telah dia serahkan pada Bulan. "Aku harus bertemu anak dan istriku dulu. Tidak mungkin, tiba-tiba aku menyerahkan diri ke kantor polisi. Mereka juga harus mengetahui rencanaku." batin Pak Bimo yang sudah bertekad mengakhiri semuanya, segera.
Sekarang, beliau bisa bernafas lega. Keamanan dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya sudah terjamin. "Aku percaya, Bulan akan pasti akan menjaga mereka." batinnya.
"Mereka terlalu banyak memakan korban nyawa orang tak bersalah. Aku tidak bisa terus berada di dalam lingkaran setan ini. Apapun dan bagaimana yang terjadi di belakang, aku tetap harus menghentikannya. Apalagi, Bulan sudah berjuang sejauh ini." lanjutnya lagi dalam hati.
Pak Bimo sama sekali tidak berpikir tentang konsekuensi yang akan dia terima jika mengungkap semua, serta menyerahkan diri ke pihak berwajib. Apapun yang akan terjadi padanya, akan dia terima. Karena beliau sadar, apa yang selama ini dia lakukan adalah kesalahan.
Pak Bimo menengadahkan kepalanya ke atas. Keputusan bertemu anak dan istrinya memang sangat beresiko. Apalagi dirinya sadar, jika ada banyak pasang mata yang selalu mengawasinya. Entah di rumah, di kantor, ataupun dimana saja dirinya berada.
Dan yang dia tahu, rekan-rekannya di dunia hitam belum mengetahui jika anak dan istrinya berada si rumah pak Darto. "Bulan memang cerdik. Entah apa maksudnya meletakkan mereka berdua di sana. Tapi aku harus percaya dengannya." batin pak Bimo.
"Bulan menaruh mereka di sana, pasti bukan tanpa alasan. Sebaiknya aku memberitahu Bulan, jangan sampai tindakanku malah membuat semua rencana Bulan berantakan." batinnya, tak ingin semua hancur karena dirinya bertindak tanpa berpikir matang.
Dilihatnya ponsel yang berada di atas meja, tepat di depannya. Tapi beliau tahu, tak mungkin jika dia menggunakan ponsel tersebut untuk menghubungi Bulan atau sang istri. Sebab ponsel tersebut telah disadap oleh rekan kejahatannya.
Sehingga siapapun yang pak Bimo hubungi akan bisa mereka ketahui dengan mudah. Bahkan pembicaraannya dengan orang tersebut pasti akan di dengar mereka juga.
Pak Bimo memijat kepalanya, memejamkan kedua matanya sembari berpikir. Mencari cara untuk menghubungi Bulan. "Telepon rumah, tidak bisa." lirihnya, karena dia tahu jika telepon rumah mengalami hal yang sama seperti ponsel miliknya.
Kedua mata pak Bimo terbuka lebar. "Benar. Mungkin mereka tidak akan kepikiran." cicitnya.
Pak Bimo memanggil seorang pembantu. Pembantu yang sudah mengabdi dan bekerja pada keluarganya semenjak dirinya masih remaja. Dan dari dia juga, pak Bimo mengetahui jika ada orang di dalam rumah yang selalu mengawasi setiap gerak-geriknya.
Beliau beralasan, jika ingin di buatkan secangkir kopi. Segera pak Bimo menulis di atas kertas. Saat sang pembantu masuk, dan menurunkan gelasnya di atas meja, saat itulah tangan pak Bimo dengan cekatan memberikan kertas yang sudah dia lipat kecil-kecil di bawah nampan pada sang pembantu. Sehingga apa yang dia lakukan tidak terekam kamera CCTV.
Tanpa berbicara apapun, sang pembantu keluar dari ruang kerja pak Bimo. Seolah tidak terjadi apapun di dalam ruang kerja majikannya. "Sungguh ironis, padahal di dalam rumah sendiri. Tapi Tuan tidak bisa bertindak seperti keinginannya." batin sang pembantu, menyembunyikan lipatan kertas tersebut di dalam sakunya.
Tapi sang pembantu tidak mengetahui jika istri dan anak pak Bimo sedang berada di dalam bahaya. Yang dia tahu, keduanya tengah berada di luar negeri. Sengaja disembunyikan oleh pak Bimo, supaya tidak berada dalam bahaya.
Sang pembantu mengatakan pada rekannya sesama pembantu untuk ke kamar mandi. Dirinya beralasan jika perutnya sakit karena ingin buang air besar.
Hanya kamar mandi, yang menjadi teman aman. Sebab di sana tidak ada kamera CCTV. Segera di bukanya lembar kertas yang diberikan oleh majikannya.
Namun tak lupa, dia mengunci pintunya dari dalam. Keamanan adalah harga mutlak.
BELIKAN PONSEL BARU YANG MURAH, SERTA KARTU PERDANA. SEGERA.
Setelah kertas tersebut dia baca, dirobeknya kecil-kecil. Dimasukkan ke dalam kloset. Lalu dia siram menggunakan air yang banyak. Supaya bisa larut ke dalam, dam tidak meninggalkan jejak.
"Aku harus bisa keluar dari rumah. Tapi, bagaimana caranya." cicit sang pembantu, sebab tak semudah dulu untuknya masuk dan keluar rumah.
Di apartemen Mikel, semua sedang memikirkan cara lain untuk menolong Nyonya Irawan dan Sapna. "Biar gue saja yang melakukannya. Gue mau menjadi kekasih pura-pura Sapna. Asal Sapna juga mau." celetuk Jevo.
Semua mata memandang ke arah pemilik suara, dimana dia sebelumnya menolak jika harus menjadi kekasih pura-pura Sapna. Tapi sekarang Jevo sendiri yang mengajukan diri.
Tentunya mereka bertanya-tanya. Kenapa Jevo berubah pikiran dengan sangat cepat. "Kamu yakin? Jangan asal iya saja, pikirkan dengan baik-baik dampak apa yang akan kamu terima. Karena, aku akan menyebar luaskan hubungan kamu dan Sapna." jelas Bulan, yang menginginkan semua orang tahu.
Dengan begitu, musuh yang dihadapi Bulan akan berpikir dua kali jika ingin mencelakai mereka berdua. "Yakin." jawab Jevo dengan matang. Semua terdiam. Entah apa yang ada dalam benak masing-masing.
Jeno langsung memeluk saudara kembarnya. "Terimakasih." tukas Jeno, merasa Jevo datang sebagai penyelamat mereka.
"Apa tidak bahaya untuk Sapna. Claudia terlalu brutal." tukas Mikel mengingatkan. Jeno yang awalnya merasa senang dengan keputusan saudara kembarnya mengangguk pelan. Sebab apa yang dikatakan Mikel benar adanya.
Bukan tanpa alasan Jevo melakukannya. Saat Bulan mengatakan jika dia sendiri yang akan bertindak, tanpa melibatkan semua. Pandangan Jevo langsung tertuju pada Jeno.
Seakan Jevo tahu apa yang ada di dalam hati Jeno. Dan sebelum Jeno mengatakannya, Jevo berucap terlebih dahulu.
__ADS_1
Ya.... Jevo menebak, jika Jeno akan dengan terpaksa melakoni sandiwara sebagai kekasih pura-pura Sapna. Pastinya Jeno tidak ingin Bulan berada di dalam bahaya lagi. Bagi Jeno, keselamatan Bulan adalah yang utama.
Instingnya sebagai saudara kembar, membuat Jevo mengambil keputusan tersebut. Jevo berpikir panjang. Jika Jeno melakukan peran tersebut, bagaimana dengan Bulan.
Yang ada hubungan mereka malah akan kandas. Karena hingga saat ini, hubungan mereka masih disembunyikan dari khalayak umum. Dirinya tahu, bagaimana kuatnya kata cinta diantara Jeno dan Bulan.
Sebagai saudara, Jevo tentu saja tidak menginginkan dirinya melihat saudara kembarnya terpuruk karena patah hati. Dam merasakan sakitnya saat merasakan patah hati.
Dan alasan kedua Jevo adalah, hubungan Jeno dan Bulan sudah diketahui bahkan sudah disetujui oleh kedua orang tuanya. Pastinya mama dan papanya akan kecewa jika Jeno malah berpura-pura mempunyai hubungan dengan Sapna.
Itulah alasan Jevo mau mengambil misi ini. Berperan sebagai kekasih pura-pura dari Sapna. Dirinya ingin menjaga hati dan perasaan semua orang. Jeno dan Bulan, serta papa dan mamanya.
"Elo nggak usah khawatir. Biar gue yang mengurus semuanya." tukas Jevo, tak ingin mereka malah berpikir jauh.
"Mikel,,, kenapa nggak elo saja. Elokan nggak punya kekasih. Orang tua elo juga nggak seperti orang tua gue." celetuk Arya.
Mikel terdiam. Memikirkan apa yang Arya katakan. "Jangan memaksa. Jika Mikel tidak bisa, biar gue saja." timpal Jevo.
Sejenak, keadaan hening. Mereka kembali berpikir. Juga dengan Bulan. Dengan Jevo mengatakan jika dirinya akan mengambil misi ini, tak lantas membuat Bulan lega. Dirinya harus memastikan supaya semua berjalan dengan sempurna tanpa hambatan.
Terlebih jika Jevo terpaksa mengambil misi ini. Bulan hanya takut, jika Jevo dan Sapna tidak bisa bersandiwara dengan natural.
"Kita cari cara lain saja." tukas Bulan membuat semua kaget. Padahal Jevo sudah setuju untuk melakukan misi ini.
"Kenapa? Bukankah Jevo mengatakan kalau dia mau?" tanya Gara, bingung dengan Bulan yang tiba-tiba membatalkan rencananya.
Bulan menatap intens ke arah Jevo. "Pertama, aku tidak ingin ada tekanan dalam menjalankan misi. Tidak ada keraguan, ataupun paksaan. Yang aku inginkan, siapapun yang akan mengambil peran dalam misi ini, mempunyai satu tujuan. Menyelamatkan Nyonya Irawan dan Sapna. Sehingga dia benar-benar melakukannya dengan serius. Dan kedua, aku tidak ingin menimbulkan masalah baru. Karena ada rencana lain, yang akan aku jalankan. Dibalik rencana ini. Rencana ini, hanyalah sekedar pengalihan konsentrasi mereka. Sehingga pikiran mereka akan bercabang." jelas Bulan panjang lebar.
Bulan menghela nafas panjang. Terpaksa dia menceritakan dan menjelaskan rencana yang akan dia jalankan pada semuanya.
"Jika Sapna dan Nyonya Irawan sudah mempunyai pelindung. Aku akan segera menyuruh Gara menyebarkan apa yang saat ini ada di tangan Gara. Pastinya mereka akan kalang kabut. Jika tebakanku benar, Pak Bimo akan menjadi tameng mereka. Dan sebelum itu terjadi, aku akan mengambil rekaman yang ada di tangan Narendra. Bersamaan dengan itu, pak Bimo harus menyerahkan diri ke pihak berwajib." jelas Bulan.
Sekarang mereka benar-benar takjub dengan otak Bulan yang memang bisa merencanakan sesuatu dengan jeli. Termasuk Jeno. Ada rasa bangga sekaligus minder dalam hatinya.
"Tenang saja, itu akan menjadi tugasku." ujar Jeno dengan yakin.
Semua merasa terkejut dengan apa gang dikatakan Bulan dan Jeno. Tapi tidak dengan Gara. "Maksud bu Bulan,,,, apa selama ini ada musuh yang bekerja di sekolah,,, begitu?" tanya Arya merasa tak percaya.
Bulan mengangguk untuk menyahuti pertanyaan Arya. "Siapa?" tanya Arya, yang memang tidak tahu.
Arya menatap Jevo dan Mikel bergantian. "Kalian tahu?" tanya Arya, yang mendapat gelengan dari Jevo dan Mikel.
"Sebaiknya kalian tidak perlu tahu, supaya kita lebih fokus pada tugas masing-masing." ujar Jeno.
"Baiklah. Tuan Darto dan Tuan Zain. Keduanya papa dari Claudia dan Sella. Sungguh suatu kebetulan yang luar biasa. Mereka mewariskan sifatnya pada putri mereka." celetuk Arya.
"Jangan lupakan satu nama lagi. Tuan Tene. Dia papa dari Revan." timpal Jeno.
"Benar juga. Tidak bapak, tidak anak. Benar-benar komplotan setan dan iblis." ujar Arya menghela nafas panjang.
Semua tersenyum melihat ekspresi Arya yang menurut mereka sangatlah lucu. "Buah memang tidak jauh jatuh dari pohonnya." ujar Arya.
"Bisa saja jauh. Jika buah itu diambil burung atau hewan lain saat masih berada di pohon. Lalu di bawa pergi jauh dari pohon." ucap Mikel tersenyum, menggoda Arya.
"Ckk,,,, tapi perumpamaan yang gue katakan itu yang benar." kekeh Arya dengan kesal.
"Oke,, kita kembali ke pembicaraan awal." ujar Gara membuat suasana kembali sedikit tegang. "Bagaimana Bulan, apa kita lanjut rencana kamu, atau kita ganti rencana?" tanya Gara.
"Rencana awal saja. Biar gue yang melakukannya. Benar kata Arya, hanya gue yang bebas. Kedua orang tua gue juga nggak akan mencampuri urusan pribadi gue. Jadi, gue bisa fokus ke Nyonya Irawan dan Sapna." sahut Mikel.
"Kami yakin? Saya tidak mau kamu mengambil keputusan karena rasa terpaksa?" tanya Bulan.
"Tenang saja bu. Pantang bagi Mikel menjilat ludahnya sendiri." tegas Mikel.
"Baik, saya akan segera menghubungi Sapna. Dan kalian berdua harus berbicara, apa yang harus kalian lakukan. Bukan saya, paham." tekan Bulan, menginginkan antara Mikel dan Sapna mengatur semua sandiwaranya sendiri.
__ADS_1
"Tenang saja bu, meski saya belum pernah berpacaran, setidaknya saya tidak terlalu bodoh." canda Mikel tertawa pelan.
"Baguslah. Saya percaya dengan kamu." ujar Bulan merasa lega.
Sebenarnya, ada perkataan Mikel yang menggelitik relung hati Bulan. Di mana saat Mikel mengatakan jika kedua orang tuanya tidak akan mencampuri urusan pribadinya. Tapi Bulan tahu batasan. Dan dia tidak akan bertanya tentang masalah pribadi Mikel.
"Jevo,,, jika bisa, kamu masuk ke rumah Tuan Zain. Ada sesuatu yang dia sembunyikan di ruang kerjanya. Saya yakin itu." tukas Bulan, mengganti tugas Jevo.
"Oke. Tugas mudah. Tenang saja. Saya akan melakukannya sesegera mungkin." sahut Jevo dengan tenang. Dirinya yakin, jika bisa menjalankan apa uang diinginkan Bulan dengan mudah.
"Mikel menjaga Sapna. Jeno mengatasi masalah di sekolah. Jevo masuk ke rumah Claudia. Terus tugas saya apa?" tanya Arya merasa disisihkan.
"Elo temani gue. Akan ada banyak tugas menanti elo di depan layar laptop. Sedikit saja elo melakukan kesalahan, semua usaha mereka akan sia-sia." ucap Gara menjelaskan pada Arya, bukan Bulan.
"Menakutkan sekali." tukas Arya.
Bulan hanya bisa tersenyum sembari menggeleng, melihat sikap dam sifat Arya, yang membuat suasana bisa menjadi tidak terlalu serius dan tegang.
"Cantiknya pacarku,,, jika tersenyum." puji Jeno, menatap lekat wajah Bulan dari samping.
Langsung senyum di bibir Bulan lenyap entah kemana. "Kamu...."
Cup....
Tanpa sengaja Bulan mencium pipi Jeno, karena wajah Jeno tepat berada di sebelah wajah Bulan. Sehingga, saat Bulan menoleh ke samping, dia akan langsung berhadapan dengan wajah Jeno.
Jeno seakan tahu jika Bulan akan menoleh, sehingga Jeno memutuskan untuk menempatkan pipinya di sebelah Bulan. Bukan bibirnya. Jeno tidak mau Bulan malu karena mencium bibirnya.
Arya meletakkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya. Seakan dirinya tak mau melihat keuwuan pasangan kekasih di depannya.
"Kalian,,,,!! Astaga,,,, lihat...!! Ada banyak anak kecil di sini...!" seru Arya dengan nada menggemaskan.
Sedangkan Mikel dan Jevo, serta Gara hanya tersenyum sembari menggeleng.
Plak... Bulan memukul lengan Jeno berulang kali. "Jeno...! Kenapa sih dari tadi kamu menyebalkan....!!" geram Bulan.
Bulan beranjak dari duduknya. Masuk ke salah satu kamar yang ada di apartemen Mikel. Tentunya Bulan tidak mau ada yang melihat rona merah di kedua pipinya.
Benar-benar memalukan bagi Bulan, jika sampai yang lain melihat Bulan sedang malu-malu kucing. "Sayang,,,, itu kamar Mikel lohhh...!" teriak Jeno dengan senyum sempurna di bibirnya.
Blam...
Bulan menutup pintu kamar dengan keras. "Huuuhhhh.... Untung pintunya kuat." seloroh Arya, melihat Bulan menutup pintu kamar.
"Dasar." Gara menoyor pelan kepala Arya.
Mikel tersenyum licik, entah apa yang ada di otak kecilnya. Tapi sepertinya, dia mempunyai sesuatu yang akan membuat senyum Jeno lenyap seketika saat mendengarkan apa yang akan dia katakan.
"Gue dengar Rio selesai menjalankan operasi mata. Dan berhasil. Dia busa melihat seperti dahulu." ucap Mikel tiba-tiba.
Benar tebakan Mikel. Tawa Jeno langsung mereda tanpa hitungan begitu mendengar apa yang dia katakan.
Semua menahan senyum melihat ekspresi Jeno yang tampak kesal dengan menatap tajam ke arah Mikel.
"Wihhh.... Semakin gencar dong mama Rio menjodohkan putra tunggalnya dengan bu Bulan." timpal Arya membuat kobaran panas di dada Jeno semakin bertambah.
Gara mengambil makanan di atas meja. "Sebaiknya gue makan saja. Mubazir jika tidak ada yang memakannya." cicit Gara menahan senyum.
Juga dengan Jevo, yang mengikuti apa yang dilakukan Gara. "Benar. Gue juga lapar. Bukankah sebentar lagi jam makan siang." Jevo tahu, pasti Jeno sedang terbakar cemburu mendengar kabar Rio.
"Kita haru menambah energi. Setelah ini kita akan bekerja keras." tukas Mikel juga mengambil makanan di atas meja.
Padahal Mikel lah orang yang pertama mematik api di hati Jeno. Tapi seolah dirinya merasa baik-baik saja. Tak peduli dengan tatapan yang di berikan Jeno pada dirinya.
"Panas.... Gue butuh air yang banyak untuk membuat tenggorokan gue dingin...." celetuk Arya, meminum sekaleng minuman seolah dirinya benar-benar kehausan.
__ADS_1