
Moza berbaring dengan pikiran kembali mengingat kejadian di club malam. "Tidak mungkin. Dia sahabat aku sedari kecil. Tidak mungkin akan mencelakai aku." gumam Moza.
Kedua sudut bibir Moza terangkat ke atas. Mengingat kejadian di club malam, dirinya teringat akan Jevo yang menolongnya.
Padahal, saat itu tidak ada satupun yang berani menolongnya. Bahkan mereka menertawakan air mata serta suara minta tolong darinya.
"Astaga Moza, apa yang ada di dalam pikiran elo. Buang jauh-jauh." Sempat-sempatnya Moza membayangkan wajah tampan dari Jevo.
"Lebih baik aku segera memejamkan kedua mataku." tukas Moza.
Baru saja Moza, menarik selimut sampai di dada, suara ponsel mengurungkan niatnya untuk memejamkan mata.
Moza mengambil ponsel yang dia taruh di samping bantal. "Rani." gumam Moza, membaca nama ID yang tertera di layar ponselnya.
Moza melihat ke arah jam. "Tumben." gumam Moza, sebab malam sudah larut.
Moza menggeser gambar telepon yang berwarna hijau. "Hay Ran,,, ads apa?" tanya Moza setelah terhubung dengan Rani.
"Maaf, kemarin gue ada kepentingan. Jadi pulang lebih dulu. Sampai lupa nggak ngabarin elo." ucapnya di seberang ponsel.
"Astaga, gue kira ada apa. Okelah, lagian elo kan juga sudah kirim pesan buat gue." sahut Moza.
"Tapi tetap saja, gue nggak enak. Jika nggak langsung telepon elo." jelas Rani.
Moza tertawa mendengar penuturan Rani. Dia menyesal, sempat-sempatnya dia hampir termakan omongan Arya yang mengatakan untuk waspada terhadap Rani.
"Elo sudah tidur? Maaf ya, ganggu." cicit Rani.
"Belum, gue baru saja berbaring." jelas Moza, tidak ingin Rani merasa bersalah karena menelpon dirinya larut malam.
"Moza, sebagai permintaan maaf gue. Bagaimana kalau besok kita makan siang bersama. Setelah pulang sekolah." ajak Rani.
__ADS_1
"Boleh." jawab Moza dengan antusias.
"Oke, besok gue jemput elo di sekolah baru elo. See you, selamat malam, dan selamat tidur." ujar Rani.
"Sama-sama. Elo juga." tutur Moza, sebelum panggilan telepon mereka terputus.
Moza tertawa pelan. "Rani. Dia perempuan baik. Sejak dulu selalu ada buat gue. Sialan si Arya. Untung gue nggak kemakan omongannya." kesal Moza.
Di tempat lain. Tepatnya di rumah yang hanya berjarak dua rumah dari rumah Moza, seorang perempuan sepantaran dengan Moza tersenyum sinis.
"Moza. Gue nggak akan melepaskan elo." seringai Rani, dengan menggenggam erat telapak tangannya sebelah kanan.
Rini melihat ke arah nakas. Di mana ada sebuah foto di dalam bingkai yang dia letakkan di sana. "Kemanapun elo pergi, gue akan tetap jadi bayangan elo. Dan gue akan melepaskan elo, jika elo sudah berada di neraka."
Rani menatap foto Moza dengan pandangan penuh amarah. Entah apa yang sebenarnya terjadi. Moza mengagungkan persahabatan mereka. Hingga dirinya todak terima saat Arya mengingatkan dirinya untuk berhati-hati pada Rani.
Tapi sebaliknya. Rani menutupi kebusukannya dengan nama persahabatan di antara mereka.
Bulan mengangguk. "Apa perlu mbok siapkan sesuatu? Mungkin makanan?" tanya mbok Yem.
Bulan menggeleng. "Nggak perlu mbok. Bulan mau langsung tidur saja. Capek." cicit Bulan, bersedekap dada.
Sebab tangannya masih terasa ngilu jika dibiarkan terjatuh ke bawah. Bulan bersikap biasa. Dan masuk ke dalam kamar.
Tak lupa, Bulan mengunci pintunya dari dalam. Memastikan jendela terkunci semua. Dan menutup gorden jendela.
Rencananya, Bulan ingin pergi menemui Gara setelah bertemu dengan anak didiknya. Tapi semua rencananya tak berjalan mulus, karena ada kejadian yang membaut tangannya cidera.
Tanpa membersihkan badan, Bulan mematikan lampu. Bersiap untuk tidur. Kedua matanya seperti diberi bahan perekat. Mungkin karena efek dari obat pereda nyeri yang dia minum saat di hutan tadi.
Saat ingin memejamkan kedua matanya, Bulan baru teringat dengan benda yang dia ambil dari salah satu orang yang dia buang ke dasar jurang.
__ADS_1
Bulan merogoh saku celananya. "Mereka masih aktif. Gue harus mengingatkan Gara." cicit Bulan, dengan pasti mengetahui siapa yang menyerangnya.
"Kenapa mereka bisa ada di sana?" Bulan mencoba menebaknya. Tapi kedua matanya tak bisa di ajak untuk berkompromi.
Bulan memutuskan untuk segera tidur. Tapi sebelumnya, dia mengaktifkan sebuah alat yang dia pasang di pintu dan juga jendela.
Alat yang akan berbunyi jika ada pergerakan dari tamu tak diundang.
Di jalan, Jeno menghentikan mobilnya. Dia mengambil jaket Bulan yang berada di kursi belakang. Dimana jaket tersebut ada beberapa cipratan darah.
Jeno mengendus wangi dari jaket Bulan. "Yang wangi jaket ini, apa mobilnya." kekeh Jeno, teringat Bulan menyempatkan banyak minyak wangi saat di dalam mobil.
Jeno membuka dashboard. Mengambil parfum yang tadi di pakai oleh Bulan. "Wangi sekali." cicit Jeno, menghirup dalam-dalam wangi parfum di tangannya.
Jeno melepaskan jaket yang dia kenakan di tubuhnya. Lalu memakai jaket milik Bulan. Kemudian dia kembali memakai jaketnya lagi.
"Nggak kelihatan kalau gue double." cicitnya melihat ke badannya sendiri.
Jeno mengembalikan parfum Bulan ke dalam dashboard, dan kembali melajukan mobil Bulan yang dia pakai untuk pulang ke rumah.
"Mobil siapa Den?" tanya pak satpam, saat Jeno keluar dari dalam mobil.
Jeno tersenyum seperti biasa. Tampak ramah pada semua pekerja di rumahnya. "Teman pak."
"Oh iya pak, Jevo sudah pulang?" tanya Jeno menghentikan langkahnya.
"Sudah Den, kelihatannya diantar oleh temannya." jelasnya.
Dengan santai, Jeno masuk ke rumah dan menaiki anak tangga. Keadaan rumah sudah sepi. Kemungkinan semua penghuninya sudah berada di dalam kamar masing-masing.
Jeno membuka pintu kamarnya. "Tumben nggak dinyalakan." gumam Jeno, mencari tombol saklar, dam menyalakan lampunya.
__ADS_1
"Astaga...." seru Jeno melihat sesuatu di dalam kamarnya.