PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PAS 89


__ADS_3

Mikel dan Gara, keduanya masih terjaga. Menunggu kedatangan Bulan untuk kembali ke markas. Mikel melihat Gara yang nampak sibuk dengan laptopnya.


Merasa di abaikan, Mikel menggeser kursinya untuk lebih dekat dengan tempat duduk Gara. "Apa gue boleh tahu?" tanya Mikel tanpa menjelaskan lebih detail. Mikel yakin, jika Gara tahu arti pertanyaannya.


"Gue sedang mencari keberadaan keluarga atasan Bulan. Dan anehnya, sekarang gue nggak bisa mengakses keberadaan atasan Bulan. Padahal beberapa menit lalu gue masih bisa mengetahui apa yang sedang dia lakukan." jelas Gara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


"Tunggu." pinta Mikel, merasa familiar dengan gambar foto seseorang di layar laptop.


"Coba elo geser sebelum ini." pinta Mikel.


Gara melakukan apa yang Mikel minta. "Stop." seru Mikel dengan nada rendah. Saat layar laptop menampilkan foto seorang laki-laki.


"Elo kenal?" tanya Gara.


Mikel tak segera menjawab. Dia memandang lamat ke arah layar. Dirinya akan memastikan terlebih dahulu, dari pada salah mengatakannya.


"Dia,,, laki-laki ini seperti papanya Claudia." Mikel menatap ke arah Gara.


"Claudia." timpal Gara, seperti sedang memastikan.


Mikel mengeluarkan ponselnya. "Sebentar." dia memfoto layar laptop di depannya. Dimana dia menduga lelaki tersebut papa dari Claudia.


"Untuk apa, elo foto dia?"


"Gue mau memastikan. Claudia itu kekasihnya Jevo. Lebih tepatnya koleksinya Jevo yang kesekian kali." cicit Mikel dengan pandangan fokus ke arah layar ponselnya.


Gara hanya mengangguk pelan. Dirinya tak begitu terkejut, Mikel mengatakan hal seperti itu tentang Jevo. Pasalnya, wajah Jevo sangat imbang dengan kekayaan yang dimiliki keluarganya.


Jevo dan Jeno. Keduanya bagai paket lengkap. Wajah tampan. Tubuh proporsional. Berasal dari keluarga kaya raya. Pasti di luar sana, banyak perempuan yang rela antri untuk menjadi kekasih mereka.


Di rumahnya, tepatnya di dalam kamar, Jevo yang sedang memainkan ponselnya mengerutkan keningnya mendapatkan pesan bergambar dari Mikel. "Ngapain Mikel menanyakan papanya Claudia?" tanya Jevo pada dirinya sendiri.


Jevo membalas pesan dari Mikel, tanpa bertanya lebih lanjut. Dirinya lalu melanjutkan bermain game di ponsel.


"Benar, dia papanya Claudia." jelas Mikel, setelah mendapat jawaban pasti dari Jevo.


Sebenarnya Mikel juga tahu jika gambar tersebut adalah papanya Claudia, hanya saja dirinya kurang yakin. Dan lebih memilih bertanya pada Jevo yang pasti tahu.


"Ada apa dengan papanya Claudia?" tanya Mikel, kerasa penasaran. Apalagi, yang dia dengar papanya Claudia termasuk pengusaha yang sombong dan tidak memilih-milih rekan dalam bekerja.


Gara masih terdiam. Tampak jelas Gara berpikir, memberitahu Mikel atau tidak. Jika lelaki tersebut papa dari kekasihnya Jevo, bisa jadi Mikel akan berpihak pada dia.


"Tenang saja, Jevo sama sekali tidak mencintai Claudia. Dia perempuan gesrek. Ya,,, bukan gadis baik-baik." jelas Mikel, melihat raut wajah Gara yang ragu.


"Meski Claudia kekasihnya Jevo, gue yakin. Jevo akan tetap berada di pihak kita. Dan gue, elo nggak perlu mempertanyakan kesetiaan gue." tegas Mikel.


"Sorry, bukan gue nggak percaya sama kalian, apalagi sama elo. Tapi, semua ini masalah Bulan. Bukan gue. Gue nggak mau Bulan kecewa sama gue." jelas Gara.


Mikel menepuk pundak Gara dengan pelan. Meski berbeda umur, Gara dan keempat remaja tersebut bersikap layaknya mereka sepantaran. Tentu saja untuk menghilangkan kecanggungan mereka.


"Gue paham. Tapi siapa tahu, gue dan teman-teman gue bisa membantu." ujar Mikel dengan sungguh-sungguh.


"Satu lagi, Claudia memang kekasih Jevo. Dia hanya akan tetap menjadi kekasih. Bahkan mantan kekasih. Elo tahulah, kedua orang tua Jevo sama sekali tidak menyukai Claudia. Sampai kapanpun, Claudia tidak akan bisa masuk ke dalama keluarga Jevo." ungkap Mikel.


"Memang kenapa?" tanya Gara. Padahal, Claudia berasal dari keluarga kaya. Dan pantas menjadi bagian dari keluarga Jevo.


"Bukankah keluarga kaya biasanya akan mencarikan anak mereka keluarga kaya juga." papar Gara, mengatakan apa yang dia tahu.


Mikel mengangguk. "Memang benar, tapi pengecualian. Kedua orang tua Jevo tidak menyukai Claudia, jiga kedua orang tua Claudia. Mereka terlalu sombong dan angkuh."


Gara mengangguk. "Dan satu lagi, meski Jevo play, dia lelaki yang jahat. Dia mau mencari pasangan yang masih ya,,,, virgin." ungkap Jevo.


Gara tertawa pelan. "Dasar lelaki. Dia sendiri nakal. Tapi mencari istri yang baik-baik." papar Gara.


"Cckk,,, kenapa kita malah membicarakan Jevo." decak Mikel.


"Oke. Gue dan Bulan curiga, jika papanya Claudia menjadi salah satu orang yang menerima uang hasil penjualan barang-barang ilegal dan selundupan. Termasuk jual beli organ manusia, dan jual beli manusia itu sendiri." ungkap Gara.


Menyalakan laptop untuk diperlihatkan pada Mikel. Dengan seksama, Mikel membaca setiap kata di layar laptop. Dan melihat gambarnya dengan teliti. Siapa tahu, dia mengenali lagi orang yang ada di foto tersebut.


"Tunggu. Wajahnya sangat familiar. Gue,,,, seperti pernah melihatnya." tukas Mikel, melihat beberapa foto di layar laptop.


Gara memandang Mikel dengan intens. "Elo yakin. Dimana?" tanya Gara.


"Mereka. Gue pernah melihat mereka datang ke sekolah gue. Benar. Mereka. Iya,,,, benar. Mereka." tukas Mikel dengan yakin.


Gara dan Mikel saking pandang. "Kepala sekolah." ucap Gara dan Mikel bersamaan.


Mikel segera berdiri dengan ekspresi kaget bercampur cemas. "Ada apa?" tanya Gara.


Mikel menggeleng. "Tidak." Mikel kembali duduk. Raut wajahnya seperti orang kebingungan.


"Kenapa?" tanya Gara.


"Papa Jevo sangat dekat dengan kepala sekolah. Jangan-jangan...." ucap Mikel menggantung, ada rasa takut menjalar di dalam hatinya.

__ADS_1


Gara berdecak. "Tidak. Beliau bersih. Gue sudah menyelidikinya sedetail mungkin." ungkap Gara.


"Benar?" tanya Mikel memastikan. Gara mengangguk. "Syukurlah." Mikel bernafas lega, mengelus dadanya dengan perasaan lega.


"Jangan ceritakan ini pada yang lain dulu. Kita fokus dulu pada masalah Timo. Biar Bulan yang memutuskannya. Melibatkan kalian, atau tidak." ujar Gara.


Mikel mengangguk. Keduanya saling pandang, mendengar deru mesin yang berhenti. "Pasti itu bu Bulan." tebak Mikel.


"Gue ke belakang dulu. Buatkan minuman hangat." tukas Mikel yang mendapat anggukan dari Gara.


Bulan masuk, dan langsung melepas helmnya, menaruhnya di atas meja. Dilepaskannya jaket serta sarung tangan di badannya. Dan ditaruhnya di atas kursi.


Bulan duduk seraya meregangkan otot leher. "Bagaimana?" tanya Gara mendekat ke arah Bulan.


"Mana Mikel? Sudah tidur?" bukannya menjawab pertanyaan Gara, Bulan malah balik bertanya, karena tak melihat sosok Mikel.


"Dibelakang, buatkan minum buat elo." ujar Gara.


Bulan mengambil satu persatu senjata yang ada di saku celananya. Juga yang berada di balik jaketnya. Dan yang terikat di kaki. Ditaruhnya di atas meja dengan rapi.


"Sama sekali tidak elo pakai?" tanya Gara, karena semua senjata tersebut terlihat bersih.


Bulan menggeleng. Mikel datang membawa nampan berisi minuman hangat. "Silahkan bu." ujar Mikel menurunkan tiga gelas di atas meja.


"Terimakasih."


"Thanks." ucap Bulan dan Gara bersamaan.


Mikel duduk di kursi kosong dekat Gara. "Bagaimana bu, semuanya berjalan lancar?" tanya Mikel penasaran, kedua matanya menatap ke meja. Dimana semua senjata Bulan berada di sana.


"Dua hari lagi aku akan ke sana. Kita lihat saja nanti." ujar Bulan, tidak menjelaskan secara terperinci.


"Maksud elo?" tanya Gara.


"Besok malam, kita akan menolong Rio. Mengeluarkan dia dari rumah itu." jelas Bulan.


"Besok malam?" tanya Mikel.


Bulan mengangguk. "Dan saya mengatakan semuanya pada kakek Timo." ungkap Bulan.


"Kenapa bu? Bagaimana jika dia mengatakannya pada Timo?" tanya Mikel khawatir.


"Karena itulah Bulan mengatakannya pada kakek Timo." ujar Gara.


"Jika dia tidak ada di pihak kita, Timo akan tahu. Dan rencana kita akan berhenti. Tapi sebaliknya. Jika rencana kita berjalan lancar, kakek berada dalam pihak kita. Dan busa saja, dia malah membantu kita." ungkap Gara.


Bagaimana Mikel tidak merasa cemas. Mereka sudah berjalan sejauh ini, dan hanya tinggal mengambil hasilnya.


"Ada suatu kejadian. Dimana saya sedang berada dalam masalah bersama dua orang gadis. Dan kakek Timo menolong kami." ucap Bulan, tanpa menjelaskan kejadian yang dia alami.


Gara dan Mikel hanya memandang Bulan, tanpa bertanya. Mereka menebak, jika kejadian tersebut melibatkan Timo.


Karenanya, Bulan berani mengambil keputusan sebesar itu. "Dan satu lagi, dia yang membuat semua topeng yang dipakai Timo." ungkap Bulan.


"Apa...!!" seru Mikel dan Gara bersamaan. Keduanya terkejut.


"Apa elo tahu, bagaimana cara membuatnya?" tanya Gara.


"Gara,,,!! Tujuan gue bukan itu." geram Bulan, dirinya bisa menebak jika itulah pertanyaan yang akan dipertanyakan Gara pertama kali saat mengetahui hal tersebut.


Mikel masih terdiam. Ada banyak pertanyaan berputar di dalam benaknya. Tapi dirinya tidak bisa bertanya secara detail.


Dirinya tahu, jika saat ini mereka harus fokus untuk menyelesaikan masalah Timo. Bukan malah menyelidiki yang lainnya.


Bulan merentangkan kedua tangannya, untuk meregangkan ototnya. "Jangan pernah mendatangi tempat itu. Di saja penuh dengan jebakan." tukas Bulan.


Bulan meneguk semua minuman yang di buatkan oleh Mikel. Mengambil semua senjata di atas meja. "Gue tidur dulu." ujar Bulan, meninggalkan meja, untuk pergi ke dalam kamar.


"Bersihkan badan elo dulu." seru Gara. Bulan hanya mengangkat tangannya tanpa membalikkan badan.


"Tidurlah, besok elo juga harus sekolah." ujar Gara pada Mikel.


Mikel mengangguk. "Tinggalkan saja. Biarkan di situ." ucap Gara, saat Mikel ingin mengembalikan gelasnya ke belakang.


"Terimakasih." ucap Mikel.


Gara menikmati minumannya seorang diri, pikirannya tentu saja fokus pada perkataan Bulan yang menyita seluruh perhatiannya.


"Sial, bagaimana dia bisa membuat topeng seperti itu." geram Gara, mengingat topeng wajah yang dipakai Timo.


Tentu saja Gara sangat amat penasaran. "Aaa..!!" serunya dengan suara tertahan. "Jika saja kaki gue normal. Gue akan menyelidikinya sendiri." lirihnya.


Dapat dipastikan, jika malam ini Gara pasti tidak bisa tidur. Pikirannya hanya berputar ke masalah topeng yang sangat mirip dengan wajah. Tanpa cacat.


Tanpa Gara sadari, Bulan yang keluar dari kamar mandi melihat raut wajahnya yang sangat memelas. "Dasar." gumam Bulan.

__ADS_1


"Sebaiknya elo tidur. Nanti gue akan cari tahu." tukas Bulan.


Gara memutar kursi rodanya, menatap Bulan yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. "Benarkah?"


Terlihat raut wajah Gara berubah seketika. "Bulan, benarkan?" tanya Gara menyakinkan dirinya sendiri dengan ekspresi senang.


"Iya." sahut Bulan, berjalan ke kamarnya.


"Jangan lupa, janji adalah hutang." seru Gara, menatap tubuh Bulan yang menghilang di balik pintu kamar.


Gara mendorong roda kursi rodanya ke dalam kamar dengan ekspresi senang. "Tidur ah...." ujarnya dengan tenang.


Keesokan harinya, Bulan bangun terlebih dulu. Dilihatnya Gara dan Mikel masih tidur di atas ranjang kecilnya. Bulan bisa melihatnya, karena pintu kamar mereka memang tidak ditutup, dibiarkan terbuka.


Bulan menanak nasi, dan menghangatkan lauk pauk yang dibawahnya dari desa. "Heeemmm,,, enak sekali." cicit Bulan, mencium harum wangi lauk yang dia panaskan.


"Mandi dulu." tegur Bulan, saat Mikel dan Gara sudah duduk di kursi meja makan.


"Baik." keduanya seperti anak kecil yang patuh pada ibunya.


Bulan hanya menggeleng. Saat menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga, seketika Bulan teringat pertanyaan mama dari Jeno.


Bulan tersenyum samar. Mengingat jika mama Jeno juga tidak bisa memasak. "Seandainya gue bisa memasak. Pasti akan terlihat hebat." cicit Bulan.


Padahal, tanpa Bulan tahu, dirinya sudah terlihat sebagai perempuan hebat di mata kedua orang tua Jeno. Apalagi jika bukan karena pekerjaan Bulan.


Ketiganya makan bersama dengan lauk pauk seadanya. Tapi terasa sangat nikmat. "Hemm,,, enak sekali." cicit Mikel disela makan.


Gara dan Bulan hanya tersenyum mendengar dan melihat Mikel bahkan sampai tambah nasi. "Bu, jika bu Bulan pulang kampung. Saya ikut." ujar Mikel tanpa melihat ke arah Bulan.


Bulan dan Mikel berangkat ke sekolah dengan kendaraan masing-masing. Meski mereka berangkat dari tempat yang sama.


Tentu saja karena mereka tidak ingin ada gosip yang akan tersebar jika berangkat menggunakan satu kendaraan. Dan bagi Mikel, dirinya tidak ingin Jeno salah paham.


Mikel mengendarai mobilnya tepat di belakang motor Bulan. Mikel tersenyum saat mereka berhenti di pertigaan jalan karena lampu lalu lintas berwarna merah.


Mikel melihat beberapa pengguna jalan yang kebanyakan kaum adam menatap penuh minat kepada Bulan. "Gila, padahal bu Bulan memakai helm full face. Coba kalau dia tidak memakai helm, pasti akan terjadi kecelakaan." tukas Mikel tertawa sembari menggelengkan kepalanya.


Mereka kembali menjalankan kendaraan mereka saat lampu lalu lintas berwarna hijau.


Di sekolah, Jeno sengaja datang lebih awal. Hanya untuk melihat kedatangan sang pujaan hati. "Ckk,,, kenapa Bulan belum juga datang." ujar Jeno dengan kesal.


Bahkan saat duduk, pantat Jeno terasa tidak nyaman. Raut wajahnya berubah, manakala melihat sebuah motor memasuki area parkir.


Bersamaan dengan Bulan yang menghentikan motornya, Jeno juga keluar dari mobilnya. Tanpa berpikir panjang, Jeno hendak menghampiri Bulan. Tapi gagal, karena terdengar suara yang memanggil namanya.


"Jeno..." panggil Sella, menghentikan langkah Jeno.


"****... Kenapa gadis abal-abal itu meski datang." geram Jeno dalam hati.


Jeno membalikkan badannya dengan rasa malas. Mikel yang melihatnya tersenyum sempurna. "Pasti tadi Jeno ingin menghampiri bu Bulan." kekeh Mikel.


Sementara Bulan, dia tersenyum melihat ke arah Jeno. Dirinya juga melihat dari kaca mobil di sampingnya, saat Jeno berjalan ke arahnya. Tapi terhenti karena suara panggilan dari Sella.


Bulan berjalan santai melewati Jeno dan Sella. Saat di dekat mereka, Bulan menyempatkan diri menatap ke arah Jeno sekilas, lalu mengedipkan sebelah matanya, menggoda Jeno.


"****..." umpat Jeno dalam hati, melihat punggung Bulan yang menjauh darinya.


"Kamu baru datang?" tanya Sella dengan raut wajah yang dibuat semanis mungkin.


"Hemm." sahut Jeno melangkahkan kaki melewati Sella.


Sella segera mengikuti langkah kaki Jeno, berjalan tepat di sampingnya. Keduanya mendengar suara bisik-bisik dari para murid, yang mencemooh keduanya.


"Apa Sella buta, maunya jalan dengan si cupu dan dingin itu."


"Jeno beruntung sekali, gadis secantik Sella mau dengan dirinya."


"Meski dia kembaran Jevo, tapi sangat berbeda."


Dan masih banyak lagi cuitan dari para murid. Namun Jeno sama sekali tak menggubrisnya. Dia tetap melangkahkan kaki dengan tenang ke arah kelasnya.


Berbeda dengan Sella, dia tersenyum samar. Dalam otak kecilnya sudah terbesit sebuah rencana untuk membuat Jeno melihat ke arahnya.


"Siapa tahu, dengan gue membelanya, Jeno akan merasa tertarik dan menjadi perhatian pada gue." batinnya.


Sella menghampiri segerombolan murid yang mengatai Jeno. "Elo tadi bilang apa..?! Katakan, ayo. Katakan lagi...!!" tantang Sella, sembari melirik ke arah Jeno.


Bukannya menghentikan langkah kakinya, Jeno malah tetap berjalan dengan santai meninggalkan Sella. Seakan dia acuh dengan apa yang dilakukan Sella.


"Jeno..." geram Sella.


Beberapa murid menertawakan tindakan Sella. "Kasihan sekali sih elo, nggak dianggap."


"Kalau gue sih malu nggak ketulungan."

__ADS_1


Sella menatap kesal ke arah mereka, dan segera pergi. "Jeno sialan. Berani sekali dia tidak menganggap gue. Padahal gue sedang membela dia."


__ADS_2