PACARKU Anak SMA

PACARKU Anak SMA
PaS 50


__ADS_3

Pak Cipto duduk dengan seorang lelaki di sampingnya. Keduanya duduk saling berhadapan di sebuah gubuk yang pak Cipto dirikan di tengah-tengah kebun miliknya. Yang terbuat dari kayu.


"Silahkan dimakan. Ini hasil dari kebun sendiri." tutur pak Cipto, dengan mengambil sepotong singkong rebus. Selain singkong, ada juga ubi rebus dan jagung rebus. Tak lupa ada sebuah botol berisi teh hangat.


Semua pak Cipto bawa sebagai bekal dari rumah. "Terimakasih pak." cicitnya, seraya mengambil sepotong jagung rebus.


Pak Cipto tahu, jika lelaki yang duduk di depannya. Berpura-pura melamar pekerjaan untuk tenaga tambahan di kebunnya adalah orang suruhan sang putri, untuk menjaga keluarga mereka.


Pak Cipto memandang jauh ke depan. Dimana hanya ada berbagai tanaman di sana. "Apa keadaannya sangat mengkhawatirkan. Hingga Bulan menyuruh orang untuk menjaga kami?" tanya pak Cipto langsung ke inti.


Pak Cipto berusaha menahan perasaan. Manahan diri untuk tidak bertanya perihal sang putri. Tapi, sebagai seorang ayah. Tentu saja beliau tetap merasa tak sanggup menahannya.


"Uhukk... uhuk..." lelaki berperawakan besar dan tinggi tersebut langsung tersedak.


"Pelan-pelan kalau makan." ucap pak Cipto seraya menyodorkan air minum di dalam botol.


"Terimakasih pak." cicitnya menerima air minum tersebut. Meneguknya beberapa teguk. Dan kembali menutupnya.


"Apa yang bapak tanyakan. Saya tidak mengerti." timpalnya, berlagak sok polos.


"Saya tahu semuanya. Kamu tidak perlu menutup-nutupinya." jelas pak Cipto.


"Apa Bulan yang mengatakannya?" tanyanya dengan jujur. Tak lagi ingin menyimpan rahasia. Terlebih ternyata ayah dari Bulan sudah mengetahui semuanya.


Pak Cipto menghela nafas panjang. "Tidak. Mana mungkin dia bercerita. Bulan selalu mengatakan semua baik-baik saja." jelasnya.


"Saya sendiri juga tidak terlalu paham dan tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, melihat dari bagaimana Bulan melakukan semuanya, tampaknya Bulan sedang dalam misi yang berbahaya."


Pak Cipto menoleh, memandang ke arah lelaki tersebut. "Bulan. Dia adalah salah satu anggota keamanan dengan tingkat keahlian di atas rata-rata. Mungkin karena itulah, dia selalu mendapat tugas penting dan berbahaya."


"Apa kamu dapat di percaya?" Pak Cipto menatapnya dengan tatapan menelisik. Beliau tidak ingin sang anak salah mengenali kawan atau malah ternyata lawan.


Lelaki tersebut tidak marah atas tuduhan yang diberikan ayah dari Bulan pada dirinya. Dia mengerti, kenapa pak Cipto merasa harus waspada terhadapnya.


"Saya orang yang tahu balas budi dan berterimakasih pak. Apa saya akan membunuh orang yang bahkan rela mengorbankan nyawanya berkali-kali hanya untuk menolong saya." ucapnya dengan serius.


Dia teringat dimana Bulan bahkan rela menolongnya. Di saat ada banyak rentetan senjata api mengarah padanya. Dimana Bulan dengan suka rela, mau menjadi tameng istrinya yang sedang hamil besar pada saat itu.


"Saya percaya. Tapi jangan pernah merusak kepercayaan saya."


"Tidak akan pernah pak. Lagi pula, jika saya berani berkhianat, pasti putri bapak tidak akan segan-segan menarik pelatuknya ke arah saya."


Pak Cipto terkekeh pelan. "Apa Bulan sekejam itu?"


"Jika Bulan tidak kejam, dia sekarang pasti sudah tinggal nama pak." tegasnya.


Senyum di wajah pak Cipto perlahan menghilang. "Sebenarnya saya dulu enggan mengabulkan permintaan Bulan untuk menjadi abdi negara. Tapi mau bagaimana lagi. Saya sebagai orang tua hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak saya."


"Saya mengerti pak."


"Jawab dengan jujur. Sebelumnya, Bulan tidak pernah menyuruh orang untuk mengawasi kami. Tapi kenapa sekarang dia melakukannya?"


Lelaki suruhan Bulan tersenyum. Dia berpikir. Jika saja pak Cipto mau menjadi abdi negara, pasti keahlian beliau, jiga pangkatnya akan berada di atas Bulan.


Sebagai seorang petani biasa, dia mempunyai tingkat kepekaan dan waspada yang lumayan tinggi dan hebat. Tak salah, jika Bulan juga memiliki hal yang sama.


"Sepertinya, kasus yang diselidiki Bulan, membawa nama-nama orang yang berkuasa di kota tempat Bulan berada. Bahkan, mungkin orang berkuasa di negara kita."


"Tapi, apa mungkin, mereka sampai nekat datang ke sini?" tanya pak Cipto merasa sedikit ragu.


"Pasti pak. Mereka orang-orang ambisius. Demi uang serta jabatan dan kehormatan agar tetap berada di tangan mereka, mereka akan mempu melajukan apapun. Bahkan melenyapkan nyawa orang yang tak bersalah."


"Semoga Bulan di sana baik-baik saja." gumam pak Cipto, dengan raut wajah sendu.


"Bapak tenang saja. Bulan bukan perempuan yang mudah disentuh. Selama keluarganya dalam keadaan aman. Berarti Bulan dalam keadaan baik-baik saja." jelasnya.


Sekarang pak Cipto mengerti. Kelemahan sang putri berada pada dirinya dan sang istri beserta sang adik. Oleh karena itu, Bulan sampai menyuruh seseorang untuk terus mengawasi mereka. Dan memastikan keadaan mereka agar tetap aman.

__ADS_1


"Jangan katakan pada Bulan, jika saya tahu semua itu. Anggap saja, pembicaraan kita ini tidak pernah terjadi." pinta pak Cipto.


"Baik pak, saya mengerti."


"Kamu boleh bekerja di kebun saya. Dan juga tinggal di rumah saya. Jika ada yang tanya, katakan saja jika kamu saudara saya dari jauh." jelas pak Cipto memutuskan.


"Apa bapak percaya dengan semua perkataan saya?" tanyanya, sebab dengan mudah pak Cipto menerima dirinya hanya dengan sekali bertemu.


"Jika kamu adalah musuh yang menyamar. Bukankah lebih baik aku persilahkan secara baik untuk bertamu. Jika bisa, sekalian aku ikat kamu. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk kami mengawasi gerak-gerik kamu." tukas Pak Cipto.


Lelaki tersebut tersenyum sembari mengangguk. Mengerti arti dari perkataan pak Cipto. "Menjadikan musuh sebagai teman. Untuk menghabisi dia. Cara yang tepat, asal apa yang dilakukan juga tepat sasaran." ucapnya menatap pak Cipto.


Sejak saat itu, dia tinggal di kediaman pak Cipto. Tak ingin menyimpan rahasia ini sendirian. Pak Cipto menceritakan pada sang istri. Dan juga adik dari Bulan, Bintang.


Beliau bukannya ingin membuat khawatir sang istri dan sang putra. Tapi alangkah lebih baik, jika semua keluarga tahu apa yang terjadi.


Sehingga, jika ada kejadian yang tidak diinginkan ke depannya. Mereka sudah bisa berpikir dan berencana akan bertindak bagaimana.


Di kota, Jevo dan Mikel. Mereka menghentikan mobil mereka di tepi jalan yang tak jauh dari tempat dimana pelaku menitipkan mobilnya.


"Elo yakin, dia belum keluar dari tempat itu?" tanya Jevo, pasalnya mereka sudah empat puluh menit berada di dalam mobil. Memantau keadaan dari sana.


Mikel melihat jam di layar ponselnya. "Kita tunggu lima belas menit lagi. Jika dia belum datang, kita masuk ke sana. Mencari tahu dengan cara kita."


"Apa kita perlu memberitahu Bulan, jika kita merubah rencana?"


Mikel mengangguk. "Tentu saja, siapa tahu bu Bulan mempunyai rencana lain."


"Benar."


"Dan elo,, Jevo,,, perbaiki panggilan elo dengan benar. Bu Bulan. Bukan cuma Bulan." tegur Mikel.


Jevo hanya acuh dan malah fokus ke depan tanpa menyahuti perkataan Mikel barusan. Membuat Mikel menghela nafas kesal.


Sepuluh menit berlalu. Dan lelaki yang diincar mereka belum menunjukkan batang hidungnya. "Kita telepon Bulan saja, katana jika lelaki itu udah nggak ada."


Merasa di acuhkan, dan tidak di balas ucapannya oleh Mikel, Jevo menengok ke samping. "Apa sih elo..?!"


"Nggak ada orangnya juga, santai saja." sahut Jevo selengekan.


Mikel memilih diam. Percuma berdebat dengan Jevo. Mikel pasti akan kalah. "Itu dia." seru Jevo, menatap ke arah depan.


Mikel segera mengalihkan pandangannya ke depan. Menatap lamat-lamat seorang lelaki yang berjalan dengan senyum di bibirnya.


"Gila, siapa yang akan menyangka, jika dia orang yang selama ini dicari banyak orang." ujar Mikel.


"Benar. Siapapun tidak akan pernah percaya. Jika dia adalah orang yang kejam dan mempunyai sifat iblis." timpal Jevo.


"Pasti wajahnya sama dengan dengan kelakuannya." sinis Mikel dengan tersenyum miring.


Jevo baru menyadari, jika wajah tersebut bukanlah wajah asli dari lelaki yang dilihatnya bisa melenyapkan seseorang dengan santai dan tenang. Seakan dia sedang memotong ayam.


"Jika kita tangkap dia, dan kita bawa ke kantor polisi, apa mereka akan percaya?"


"Itu kenapa bu Bulan merencanakan semuanya dengan baik. Jika kita menangkapnya hanya karena kasus pembunuhan dokter, gue yakin. Dia akan dihukum ringan. Dan musuhnya hanya kelurga sang dokter." ucap Jevo, menjeda kalimatnya.


"Jika dia pelaku pembunuhan berantai yang menewaskan banyak siswa, juga banyak orang lainnya. Maka musuhnya adalah semua orang. Dan gue yakin, dia akan mati mengenaskan di balik jeruji besi." lanjut Jevo, menebak apa yang akan terjadi.


Mikel menyalakan mesin. "Ayo,,, kita akan kehilangan dia." seru Jevo, sebab Mikel terlihat santai.


"Tenang. Jaga jarak aman. Dan jangan sampai dia mencium bau kita." ucap Mikel, yang malam itu beraksi bersama Bulan.


Sehingga dirinya sedikit tahu, bagaimana cara mengintai musuh tanpa takut ketahuan. "Tapi, lihat... Di depan kita ada mobil yang menghalangi." seru Jevo dengan tidak sabar.


"Sabar Jevo, itu lebih baik. Jadi dia tidak akan melihat nomor kendaraan milik kita. Orang seperti itu, biasanya lebih peka dan waspada pada sekitar." jelas Mikel.


"Pasang mata kamu dengan jeli. Jadi kita tetap bisa melihat ke mana dia akan pergi." tutur Mikel.

__ADS_1


Dengan santai Mikel mengikuti dia. Apalagi, dia menjalankan mobil tidak terlalu kencang, sebab di depan lelaki tersebut juga ada beberapa kendaraan.


Tak ada perbincangan di dalam mobil. Baik Jevo ataupun Mikel fokus pada mobil yang mereka buntuti.


Saat mobil tersebut belok, Mikel juga berbelok. "Bukankah kita terlalu jauh?" tanya Jevo.


"Tidak. Kita harus tetap menjaga jarak aman." tukas Mikel.


Saat mobil yang dikendarai lelaki tersebut berbelok dan memasuki sebuah rumah megah, Mikel terus melajukan mobilnya. "Elo lihat. Dan perhatikan."


Jevo mengambil ponsel. Merekam rumah tersebut. Sedangkan Mikel mengendarai mobilnya perlahan. Segera mereka berbelok arah, saat berada jauh dari rumah tersebut.


"Gila. Siapa sebenarnya dia." tukas Mikel merasa heran.


"Bukan siapa dia. Tapi wajah-wajah yang dipergunakan olehnya." ujar Jevo.


Keduanya kembali ke markas. Setelah tahu kemana perginya lelaki tersebut. "Sumpah, gue penasaran. Bagaimana rupa wajahnya yang asli." ucap Jevo.


"Sama. Gue juga."


Sementara Bulan, dia pergi ke rumah mbok Yem, yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Bulan tidak melewati pintu belakang, atau melewati atap, seperti saat dirinya masuk ke dalam rumah.


Dirinya bertindak seolah dirinya tidak tahu jika mbok Yem adalah salah satu dari musuh. Tentu saja, kepergian Bulan membuat orang yang mengawasinya dengan cepat melaporkan pada atasannya, jika Bulan mencari mbok Yem.


"Sebentar lagi pasti ada yang menghubungi gue." gumam Bulan berjalan dengan santai seraya tersenyum samar.


Seperti tebakan Bulan, belum genap satu menit, ponselnya sudah berbunyi. Bulan tetap berjalan, dengan tangan memegang ponsel.


Membaca pesan yang dikirim oleh mbok Yem. Mengatakan jika dirinya tidak bisa bekerja lagi. Lantara dia harus pulang ke kampung. Dan akan menetap di sana.


Bulan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya. "Elo pikir gue nggak tahu." ucap Bulan. Bulan menduga jika ponsel mbok Yem sudah berpindah tangan. Bukan mbok Yem sendiri yang mengiriminya pesan tersebut. Tapi rekannya.


"Bisa jadi, mbok Yem juga mereka singkirkan. Karena sama sekali tidak berguna." tebak Bulan, atas hilangnya mbok Yem.


"Gue tunggu, siapa lagi yang akan kalian kirimkan, untuk berada di samping gue." tukas Bulan.


Segera Bulan masuk ke dalam rumah. Melihat mobil yang parkir tak jauh dari rumahnya lewat kamera CCTV yang dia pasang di samping gerbang.


Sebenarnya Bulan ingin segera pergi ke tempat Gara. Tapi dia yakin, jika akan ada seseorang yang akan datang ke rumahnya.


"Menjemukkan." keluh Bulan membaringkan badannya di atas ranjang.


Bulan tersenyum. Dia memiliki rencana untuk bisa keluar dari rumah, tanpa harus melewati atap lagi. Segera Bulan mengambil jaketnya.


"Jika gue nggak ada, pasti mereka juga nggak akan kirim pengganti mbok Yem sekarang." ucap Bulan.


Bulan mengeluarkan mobilnya, dari garasi. Melajukan ke perpustakaan yang berada di pusat kota. Dari sana, Bulan dengan mudah mengecoh orang yang selalu membuntutinya.


Entah kenapa, Bulan teringat wajah Jeno saat sedang fokus menyetir. "Apa sih Bulan. Jangan gila. Bisa-bisanya pikiran elo penuh dengan wajah anak kecil itu." ucap Bulan pada dirinya sendiri.


Bulan tersenyum miring. "Astaga. Jangan sampai gue beneran suka sama dia." gumam Bulan.


Jevo dan Mikel tiba di markas. Keduanya terdiam setelah masuk ke ruangan, dan menutup pintu dari dalam. "Apa-apaan ini?!" seru Mikel dengan nada keras.


Melihat apa yang ada di depan mata mereka. Jevo dan Mikel saling pandang. Lalu mereka memandang ke depan. "Arya....!!!!" teriak Jevo dan Mikel bersamaan. Seolah tahu, ulah siapa yang ada di depan mata mereka.


Sampai-sampai, Jeno yamg berada di lantai atas terkejut dengan suara mereka berdua, yang bagai halilintar.


"Apa yang sudah Arya lakukan?" geram Jeno merasa latihannya terganggu. Jeno yakin, Arya telah melakukan sesuatu. Sehingga Jevo dan Mikel sampai berteriak lantang mengeluarkan kodam mereka.


Jeno yang merasa penasaran segera turun ke bawah. Dia berlari kecil menaiki anak tangga. "Astagaaa...!!!" seru Jeno berhenti di tengah tangga. Tak percaya apa yang dia lihat.


Jeno melihat ke arah Jevo dan Mikel yang masih berdiri terdiam, dengan memasang wajah kesal mereka. "Arya...!!" kini Jeno yang bersuara.


Sementara orang yang dipanggil tidak menyahuti panggilan mereka. "Mobilnya tidak ada. Berati dia keluar lagi." tebak Mikel.


Bagaimana ketiga lelaki tersebut tidak merasa kesal. Ruangan bawah penuh dengan perkakas rumah tangga.

__ADS_1


Dari kasur beserta perlengkapannya. Seperti bantal, guling, selimut, dan seprei. Bukan hanya satu. Tapi lima untuk tiap-tiap barang.


Ada juga almari kecil. Dan juga peralatan lainnya. Uang memenuhi lantai bawah. Ketiganya hanya saling pandang. "Sepertinya kita akan kerja bakti." ucap Mikel.


__ADS_2