PEDANG JIWA NAGA ( Series 1 )

PEDANG JIWA NAGA ( Series 1 )
167. Mencari masalah


__ADS_3

"Jika aku mengikat nya di depan mu dan aku memberi mu pisau, apa yang akan kau lakukan pada nya ?" tanya nya.


"A.. aku akan membuang pisau itu dan memilih untuk memukul nya hingga lebam, aku akan melumpuh kan kultivasi nya. Dengan begitu kami imbas, ia tidak akan berbeda dengan manusia biasa." kata anak itu.


"Oh ? Kenapa kau tidak langsung membunuh nya ? Bukan kah begitu lebih baik, jika ia di biar kan hidup, maka dia akan memberi masalah baru bagi mu. "kata nya.


"Kau benar, apa sebaik nya aku memilih membunuh saja ? Tapi tidak ! Ayah ku bilang, kita tidak boleh saling membunuh. " kata anak itu.


"Aku awal nya sedikit tertarik pada mu tapi setelah mendengar jawaban mu aku menjadi ragu untuk membawa mu. Sifat mu tidak cocok menjadi seorang kultivator. Seorang kultivator sudah pasti harus saling membunuh untuk mencapai puncak. " kata nya sambil tersenyum.


"Tapi, untuk apa sampai ke puncak jika harus mengorbankan banyak nyawa orang lain ?" tanya anak itu.


"Karena... jika kau tidak berada di puncak maka kau akan selalu tertindas. Kau tidak akan memiliki kuasa untuk melindungi keluarga mu dan siapa pun yang dekat dengan mu. " kata nya dengan tenang.


"Ini, tebus lah ibu mu. Aku akan menemani mu, apa kau tahu ibu mu di jual ke rumah bordil yang mana ?" tanya Zhang Wei sambil menyerah kan satu tas kecil berisi koin emas dan kristal roh tingkat rendah.


"Aku tahu, ayo kita pergi." kata anak itu dengan ekspresi aneh.


"Ada apa dengan mu ? Kenapa wajah mu tidak bahagia ?" tanya nya.


"Karena aku tidak yakin kalau ibu ku masih mengingat ku. Karena terakhir kali aku ingin bertemu dengan nya, ia justru memaki ku dan mengatakan kalau kehidupan nya dengan melayani nafsu orang lebih baik dari pada kehidupan kami dulu. Dengan melayani nafsu orang ia bisa mendapat kan uang dengan mudah. Kakak sebaik nya kita tidak perlu pergi. " kata anak itu.

__ADS_1


"Kenapa ? Mungkin saja ibu mu sedang kesal atau apa ? Apa kau tidak merindukan nya. " tanya nya lagi.


"Aku tentu saja merindukan nya hanya saja aku sudah lama menganggap nya telah mati karena menurut ku tubuh nya saat ini hanya lah cangkang kosong dengan jiwa yang berbeda. " kata anak itu sambil tersenyum pahit.


"Baik, kalau begitu hidup lah dengan baik di sini. Aku akan mendatangi mu jika aku sudah menyelesaikan urusan ku. Jangan pernah berkata kepada siapa pun kalau kau bertemu dengan ku atau kau akan menyesal. " kata nya dan meninggal kan anak itu sendirian.


Ia tidak ingin anak itu berada dalam masalah jika ia membuat kekacauan.


"Huh, masih ada yang bangga dengan kondisi nya sebagai pemuas nafsu. Aku bahkan tidak dapat membayang kan itu akan di hitung sebagai rendah hati seperti Qian Bei atau harga diri seperti lucifer." gumam nya.


Dia terus berjalan hingga menemui sebuah pohon rindang, ia duduk dan mulai meniup seruling nya lagi.


"Kakak, apa kah aku boleh tahu nama mu ? Aku kebetulan membuat kan gelang ini untuk mu. " kata gadis manis itu.


"Ah tentu saja, nama ku Zhang Wei. Terima kasih atas gelang nya, ini sangat indah. Aku akan selalu menggunakan nya. " puji nya yang membuat gadis itu tersipu malu.


Gadis ini seperti nya berasal dari keluarga kaya di lihat dari baju yang ia gunakan memiliki ukiran dan kualitas kain yang baik.


"Ngomong ngomong, siapa nama mu ?" tanya nya dengan lembut.


"Aku Ming Yuan, -" Ucapan Ming Yuan terpotong oleh teriakan seseorang.

__ADS_1


"Ming Yuan ku ! Sebaik nya kau pergi, kau tidak layak untuk bersama Ming Yuan ku yang cantik !" kata pria yang baru datang.


"Apa apaan An Hao ! Aku bukan milik mu ! Kau tidak berhak untuk mengatur ku !" bentak Ming Yuan.


"Ming Yuan sayang, sebaik nya kau jangan dekat dekat dengan orang yang baru di kenal. Biar kan aku yang menjaga mu, dan kau, aku ingin kau mati atau kau memilih untuk merusak wajah mu sendiri ?" Tanya An Hao dengan penuh arogan.


Dia tidak menjawab melain kan menempel kan bibir nya di seruling bambu milik nya.


Alunan alunan mengerikan terdengar di telinga An Hao dan para pengikut nya. Sedang kan yang di dengar oleh Ming Yuan dan warga lain nya adalah alunan yang indah.


An Hao dan pengikut nya berusaha menutup telinga mereka dan berguling guling di lantai dengan teriakan kesakitan.


"Pendekar muda, tolong lepas kan tuan muda kami. Aku akan memberikan kompensasi untuk mu. " kata seorang pria tua yang tiba tiba muncul dari ruang hampa.


"Akhir nya kau menunjuk kan diri juga, aku pikir kau akan terus terusan membiar kan tuan muda kalian meraung raung kesakitan. Pergi lah, aku tidak ingin kompensasi dari kalian. " kata nya dengan dingin sebelum melanjut kan permainan seruling nya.


Tapi kali ini An Hao dan pengikut nya berhenti meraung raung.


bonus : 2/2


Maaf ya pendek banget karena hari ini author punya beberapa kegiatan, mohon pengertian nya.

__ADS_1


__ADS_2