
Di tempat Wang Xi Rong,
"Kakak, apa yang kau pikir kan ? Ayo masuk, udara malam hari tidak baik untuk kesehatan mu."Ajak Nangong Ling sambil memakai kan nya sebuah syal.
"Terima kasih. " Dia tersenyum manis.
"Ya, sekarang ayo masuk. Tubuh mu sekarang dalam keadaan yang kurang baik, aku tahu apa yang kau butuh kan saat ini. " kata Nangong Ling.
"Benar kah ? Apa kau benar benar tahu apa yang ku ingin kan saat ini ?" tanya nya.
"Kau merindu kan guru kan ? Apa kah aku benar ?" tanya Nangong Ling dengan penuh selidik.
"Ha ha tidak meleset sedikit pun, apa kah wajah ku begitu menunjuk kan kalau aku sangat merindukan nya ?" Canda nya.
"Tidak , hanya saja aku adalah orang yang peka tentang perasaan orang di sekitar ku. Aku diam dan mengamati orang di sekitar ku, di tambah lagi dengan sikap pemalu ku. " Kata Nangong Ling dengan serius.
"Kau pemalu ya ? Aku juga tapi entah sejak kapan, kelakuan tidak tahu malu milik Zhang Wei menyebar ke pada ku. " Canda nya tapi sebenar nya itu kenyataan juga.
"Ha ha itu karena kau menyukai nya. "Nangong Ling tertawa lepas yang membuat nya terpesona tas keanggunan yang di miliki wanita di depan nya ini.
"Kau sangat cantik, aku jadi kurang percaya diri. "
"Tidak perlu kurang percaya diri, aku yakin guru juga akan menyukai mu. Kau harus percaya pada diri mu sendiri. Jika dia pulang cepat nyata kan perasaan mu atau nanti kau akan terlambat. " Kata Nangong Ling.
"Memang nya ia sudah akan pulang ke mari ?" tanya nya dengan lesu.
Nangong Ling tidak menjawab dan hanya tersenyum penuh makna. Di tempat Zhang Wei, mereka saat ini sedang memeluk guci arak masing masing.
"Bersulang !" Teriak nya dengan mabuk.
Pipi nya memerah dan dia juga tidak bisa berdiri dengan tegak. Guci arak yang di pegang nya, keluar sedikit sedikit.
"Henti kan minuman mu Zhang Wei, kau tidak boleh minum lagi. " kata Qing Yu dengan mabuk.
Mereka bertiga sudah mabuk semua karena telah menghabiskan hampir 50 guci arak dalam satu waktu.
Dia menurut dan memasuk kan guci arak nya ke dalam cincin ruang nya.
Duk
Dia terkejut saat melihat Qing Yu yang terjatuh ke dalam pelukan nya, dia menghela nafas berat saat melihat Qian Bei yang sudah tertidur.
"Lepas kan aku. " Kata nya dengan suara serak.
"Zhang Wei, aku mencintaimu. Jangan Pergi !" Qing Yu meracau dan memeluk nya dengan erat.
Dia mengangkat tubuh Qing Yu yang lumayan berat ke atas kasur nya, dia dengan paksa melepas kan pelukan Qing Yu dan melempar nya ke atas kasur.
Saat itu ia sudah tenang dan saat ingin berjalan keluar,
Grep
__ADS_1
Kaki nya di tarik oleh Qing Yu dan akhir nya ia jatuh tepat di atas Qing Yu.
"Huh, untung saja aku menahan. Kalau aku tidak memasang tangan maka mungkin kau akan patah tulang. " Umpat nya.
Dia berlari keluar dan masuk ke kamar mandi penginapan, karena ini tengah malam, kamar mandi penginapan sangat sepi.
Ia menyiram tubuh nya dengan air dingin dan menekan seluruh keinginan nya. Mandi menggunakan air yang sangat dingin membuat nya tidak mabuk lagi.
Dia tidak berani masuk ke kamar nya dan duduk di luar menemani Qian Bei yang sudah tertidur.
"Kakek Qian tidak perlu berpura pura lagi. Aku sudah tahu kalau kau tidak tidur. " Ujar nya sambil menghela nafas.
"He he maaf kan aku membohongi mu, hanya saja aku takut kau menyendiri seumur hidup jadi aku melihat kalau Qing Yu memiliki banyak kelebihan. " kata Qian Bei.
"Huh, seharus nya yang mengkhawatirkan itu adalah aku, aku khawatir kau akan kesepian di usia mu yang tua ini. Oh ya ini untuk mu saja, tidak ada guna nya di tempat ku. " Ucap nya sambil menyerah kan tanduk milik Envy.
Qian Bei menghela nafas berat melihat serpihan tubuh milik murid nya ini, meski pun mereka sudah saling menyerang dan menyakiti, secara otomatis, Envy masih lah murid Qian Bei.
"Seandai nya ia tidak pindah maka mungkin ia akan melakukan banyak hal baik. Hanya saja, mungkin itu memang jalan nya. " Kata Qian Bei sambil memeluk tanduk milik Envy.
Kembali ke masa Qian Bei bertemu dengan Envy dan adik nya, Lust atau Qing Yu.
Suatu hari, di mana Qian Bei masih muda. Dia pergi ke pasar yang ada di dimensi Dewa dan membeli beberapa perhiasan.
Ia melihat 1 anak perempuan yang di seret seorang penjaga toko perhiasan.
"Anda tidak boleh mengemis di dalam toko !" Kata penjaga itu tanpa belas kasihan.
"Aku mohon ! Lepas kan aku, kakak ku sedang sakit parah !" Kata anak perempuan itu menangis sambil memeluk kaki penjaga itu.
Penjaga itu dengan tega menendang anak perempuan yang mungkin baru berumur 5 atau 6 tahun.
Anak perempuan itu kembali merangkak ingin masuk ke dalam toko perhiasan, saat penjaga itu kembali ingin memukul anak itu, ia menahan penjaga itu.
Ia sudah tidak tahan lagi dengan sikap yang di beri kan oleh penjaga itu.
"Adik kecil, kata mu tadi kakak mu sakit kan ? Biar kan aku melihat nya, mungkin aku bisa membantu nya. "
"Terima kasih tuan. " Saat Qing Yu bersiap untuk bersujud di kaki nya, ia langsung menahan nya.
"Berterima kasih lah jika aku sudah berhasil menyembuh kan kakak mu. " Ujar nya dengan senyum.
Dia pun mengikuti Qing Yu kecil yang menunjuk kan rumah mereka, dan akhirnya sampai lah mereka ke sebuah gubuk kayu.
Dia menatap dengan serius gadis kecil yang terbaring lemah di ranjang dengan kulit yang sedikit menghitam.
Tumbuh 2 tanduk di dahi gadis kecil itu, dia menghela nafas karena merasa terlambat, anak kecil yang mengajak nya tadi langsung merasa cemas.
"Paman, apa kakak ku akan baik baik saja ?" tanya gadis itu hampir menangis.
"Ia akan baik baik saja, hanya saja tanduk itu tidak akan bisa hilang dari diri nya. "
__ADS_1
"Benar kah ? Itu tidak masalah kakak ku akan bisa menerima itu dengan baik. " kata Qing Yu kecil dengan selamat.
3 Jam berikut nya
Qian Bei memuntah kan seteguk darah hitam dan tidak berhenti di situ, darah juga mengalir dari hidung nya.
"Paman, paman ! " panggil Qing Yu panik dan memberikan nya kain.
"Jangan ganggu aku dulu, tunggu lah sampai kakak mu bangun. " Ucap nya dengan lemah, dia yang sudah kehabisan tenaga memaksa tubuh nya untuk menuju ke sudut ruangan.
"Begitu lah kenapa aku bisa bertemu dengan mereka. " kata Qian Bei sambil tersenyum tipis.
Zhang Wei yang mendengar itu berdecak kagum.
"Kakek Qian, apa kah ini berhubungan dengan luka dalam yang kau miliki ? Kau juga tidak bisa menambah kultivasi lagi kan karena luka ini ? Luka ini juga sangat sulit di sembuh kan karena sudah di biar kan selama ratusan ribu tahun. " Tanya nya dengan yakin.
"Kau memang tidak mengecewakan, kau bisa menebak luka ku dalam satu lirikan. "
"Kau tidak boleh minum arak lagi kakek Qian atau organ dalam mu akan semakin rusak !" Seru nya.
"Terkadang aku merasa sudah sangat lelah dengan dunia ini. Aku juga tahu kalau umur ku tidak panjang lagi. Apa salah nya menikmati sisa hari hari terakhir ku ?" kata Qian Bei.
"kau ! Kau berbohong pada ku ! Kau bilang kau abadi ! " Teriak nya dengan sedih.
"Itu dulu, sebelum menyembuh kan Xian Mu aku memang abadi, tapi belakangan ini kultivasi ku terus menurun. Ini hanya untuk mu, sebenar nya kultivasi yang ku tunjuk kan ini adalah kultivasi asli ku. Aku juga mungkin tidak bisa bertemu dengan nya untuk terakhir kali. " Kata Qian Bei tersenyum sedih.
Tanpa mereka sadari, Qing Yu yang sudah terbangun dari tidur nya mendengar kan semua pembicaraan mereka.
Qing Yu menangis sejadi jadi nya saat mendengar itu. Qing Yu merutuki kebodohan nya dulu karena sudah meminta tolong pada Qian Bei dan sudah meninggal kan guru nya, dia berjalan keluar dengan gontai.
Kembali ke sisi Zhang Wei,
"Apa maksud mu kakek Qian ? Kau tidak akan bertemu dengan siapa ?" tanya nya dengan panik.
"Jangan panik, berikan surat ini pada Xian Mu. Lucu juga ya mereka, mereka saudara kembar tapi marga mereka berbeda, satu mengikuti marga ayah dan yang satu lagi ibu. " Racau Qian Bei.
"Qing Yu kemari lah, biar kan aku memeluk mu." Panggil Qian Bei.
Qing Yu keluar dari tempat persembunyian nya dengan wajah sembab dan memeluk Qian Bei dengan erat.
"Kata kan pada kakak mu nanti kalau aku tidak pernah membanding banding kan nya dengan mu. Aku juga bukan pilih kasih mengurung nya terus di dalam kamar. Aku hanya ingin ia beristirahat karena tubuh nya masih lemah dan ternyata itu menyebabkan salah paham. Aku tahu sekali pembawaan nya yang ambisius pasti tidak akan berhenti berlatih bela diri, jadi aku terpaksa menggunakan cara itu. " Kata Qian Bei dengan sedih.
"Guru, hiks, kau harus memiliki umur panjang dan mengatakan nya sendiri pada kakak ku. " Ujar Qing Yu sambil terisak.
"Aku senang karena masa masa akhir ku bisa minum arak di temani kalian berdua yang begitu tulus, dengan begitu aku bisa pergi dengan tenang. Jangan menangisi aku. " Kata Qian Bei dan pelukan Qian Bei pada nya dan Qing Yu pun terlepas.
Air mata yang ia tahan sedari tadi menetes dengan deras, Qing Yu yang tadi nya hanya terisak pelan menangis histeris.
"Kakek Qian ! Jangan pergi ! Tunggu lah sebentar, aku akan menyembuh kan mu !!" Teriak nya sambil mengguncang guncang kan tubuh Qian Bei yang sudah tak bernyawa.
"Guru ! Kita baru berbaikan sebentar dan kau sudah tega untuk meninggalkan ku !" Raung Qing Yu tidak terima.
__ADS_1
Bonus : 1 / 2
Chapter ini lumayan sedih dan kemungkinan chapter selanjut nya juga akan mengandung bawang, jangan lupa untuk like ya !!