PEDANG JIWA NAGA ( Series 1 )

PEDANG JIWA NAGA ( Series 1 )
Chapter 176 - Selamat Ulang Tahun


__ADS_3

Xi Rong tersenyum malu, ia mengelap air mata nya dan menatap Zhang Wei dengan serius.


"Maaf kan aku membuat baju bagus mu menjadi basah. " Canda nya.


"Tapi tenang saja kau masih tampan kok, meski pun kau menggunakan baju robek robek pun ketampanan mu tidak akan berkurang sedikit pun." Puji nya.


"Tidak masalah kakak Xi, apa sih yang tidak untuk mu ?" Goda Zhang Wei.


Dia merasa kan pipi nya menjadi hangat dan memerah.


"Ayo buka hadiah dari ku, kau harus membuka nya satu persatu. Aku harap kau menyukai hadiah dari ku, kakak Xi. " Kata Zhang Wei yang masih menggoda nya.


Dengan cara memanggil nya ' kakak'. Ia berusaha untuk membiasakan diri dengan rasa kecewa yang ada di hati nya.


Ia ingin jujur pada Zhang Wei soal perasaan nya tapi ia takut kalau Zhang Wei akan menolak dan membuat hubungan mereka berdua menjadi canggung.


Hingga akhir nya pria itu memilih untuk meninggal kan nya. Ia tidak mau hal buruk itu sampai terjadi.


Di bohongi oleh Zhang Wei dan Zhang Wei yang bersikap dingin pada nya saja sudah cukup untuk membuat nya kalang kabut.


Tapi untung lah kalau itu semua hanya lah kerjaan Zhang Wei semata. Ia tidak akan sanggup jika Zhang Wei benar benar memutus kan untuk pergi dari nya.


Di tinggal di rumah sendirian saja sudah membuat nya kesepian. Hati nya yang selalu kesepian dan sendirian kembali menghangat saat berada di dekat pria itu.


Zhang Wei memasak untuk nya, menyiapkan nya sarapan. Mengobati luka nya, mengajak nya bercocok tanam dan banyak hal lain yang sangat menarik untuk di ingat.


"Kakak, kenapa kau melamun ? Apa kau tidak senang ?" tanya Zhang Wei yang ternyata berada tepat di hadapan nya.


"Ah ! Tidak, tidak. Aku senang hanya saja karena terlalu senang aku menjadi mengingat masa lalu atau tepat nya saat aku baru pertama kali bertemu dengan mu. " Jujur nya.


"Ah itu, sebenar nya aku sudah curiga, mana mungkin hanya seorang pegawai memiliki kecantikan yang sangat menarik. Tapi aku memilih untuk tidak mencari tahu lebih lanjut. " kata Zhang Wei.


"Terima kasih karena secara tidak langsung kau bilang aku cantik. " Ujar nya percaya diri.


"Ha ha bukan kah kau memang cantik ? Cintai dirimu sendiri. Di dunia ini semua nya cantik dan tampan. Itu semua tergantung , apa kah mereka bangga dengan wajah mereka sendiri atau tidak. " Nasehat Zhang Wei yang membuat nya tersenyum manis.


"Terima kasih, aku menyukai ini. " kata nya sambil menunjuk baju.


Beberapa Jam kemudian, mereka berdua tertidur pulas bersama karena kelelahan.


"Hei bangun, aku sudah membelikan mu sarapan. Ayo sarapan bersama. " Panggil nya pada Zhang Wei.


"Enggh, baik lah beri aku waktu 5 menit untuk ganti baju. " kata Zhang Wei.


"Baik, jika lebih dari 5 menit maka kau harus mencium ku seperti semalam. " kata nya dengan tegas.


Tiba tiba ia terdiam saat ada benda kenyal dan hangat di pipi nya. Tubuh nya membeku dan seluruh tubuh nya menjadi kau untuk di gerak kan.


" Kata kan saja kalau kau memang menyukai ciuman ku kakak Xi !" Teriak Zhang Wei sambil berlari ke kamar mandi untuk menghindari kemarahan nya .


Dia memegang pipi nya.


' Astaga, aku tidak akan bertahan lama jika begini. Aku rasa nya seperti melayang ke angkasa sebelum di jatuh kan ke dalam jurang lagi. ' Keluh nya dalam hati.


Ia berjalan menuju ruang makan yang ada di kamar penginapan nya, tanpa melepas kan pegangan di pipi nya.


Dia mengambil piring yang di sedia kan dan mulai membagi nasi dan lauk pauk yang di beli nya sama rata.


Tidak lama keluar lah Zhang Wei dengan rambut yang masih basah.


" Kering kan rambut mu, aku tidak ingin lantai menjadi basah semua karena kelakuan mu. " Perintah nya sambil melempar kan handuk.


"Baik, aku juga tidak ingin terpeleset setelah membantah kata kata orang yang lebih tua. " ledek Zhang Wei.


"Meski pun aku lebih tua dari mu, aku masih jauh lebih muda dari pada teman teman mu. " balas nya lagi.

__ADS_1


"Tentu saja, kecuali Hu Yin dan Nangong Ling. " Lanjut nya dengan buru buru.


Dia duduk di meja tepat di hadapan pria yang di sukai nya.


"Selamat makan. " Ucap mereka bersamaan.


Zhang Wei menatap wanita di depan nya yang memakan makanan dengan sangat serius. Ia tidak tahu apa yang di lakukan nya.


Baru kali ini ia memberi kan hadiah pada seseorang kecuali Ayah Angkat nya. Saat ayah angkat nya berulang tahun, ia sempat menitip kan uang, Seni bela diri, dan senjata.


Ia memakan makanan nya dengan lahap sambil memandangi wanita cantik di depan nya. Ia merasa ada yang aneh dengan Xi Rong.


Kalau ia tidak salah, ia melihat ada sedikit kekecewaan saat ia memanggil Xi Rong kakak. Tapi menurutnya panggilan itu membuat nya menjadi lebih dekat.


Ia juga bingung atau itu hanya perasaan nya saja karena itu sangat sekilas dan Xi Rong juga tidak memberi kan protes sedikit pun.


Belakangan ini ia memanggil wanita itu kakak bukan berarti ia ingin menggoda nya hanya saja ia penasaran apa kah penglihatan nya benar atau tidak.


Ternyata tidak karena ia tidak melihat ekspresi kekecewaan lagi.


"Zhang Wei, aku akan memasuki latihan tertutup untuk 1 minggu ini. Apa kau akan melakukan hal yang sama ?" tanya Xi Rong.


"Ya, aku rasa begitu. Aku akan melakukan nya juga agar tidak terlalu merepotkan mu nanti. " balas nya tanpa menoleh.


Dia memasuki kamar dan ber kultivasi dengan tenang.


1 Minggu Kemudian


Sudah saat nya untuk mereka pergi berperang, seluruh sekte sudah berupaya untuk menyingkir kan warga ke tempat yang aman dari pertarungan.


Hanya saja ada beberapa warga yang memanasi warga lain nya dan berkata kalau sekte sekte ingin mengambil rumah mereka.


Padahal jelas jelas mereka ingin berperang bukan mengambil tanah orang. Karena muncul nya berita ini, konflik yang sebelum nya tidak ada pun menjadi ada.


Para warga bertengkar satu sama lain dan mengutuk para sekte yang menyuruh pindah.


Salah satu kelompok membawa karung dan tas serta berbagai macam barang lagi. Sedang kan yang kelompok satu lagi membawa palu atau senjata yang lain.


"Kalian pasti ingin merebut tanah kami !"


"Kalian pasti ingin mengambil harta kami !"


"Kami bersedia untuk ikut dengan tuan !"


"Dasar bodoh ! Mereka ingin perang bukan mengambil tanah !"


"Kau pasti memaksa kami untuk pindah kan ?" tanya anak kecil perempuan yang membawa tas.


Dia berjongkok untuk menyamai tinggi nya dengan anak anak itu.


"Aku tidak pernah memaksa kalian. Jika kalian percaya pada ku maka tinggal lah di tempat yang kami sedia kan untuk sementara waktu tapi jika tidak kalian bisa tetap tinggal di rumah kalian. Tapi jika terjadi kematian maka jangan salah kan kami. " kata nya.


"Aku percaya pada mu kakak, aku akan pindah sementara dengan nenek. " kata anak kecil itu sambil menggandeng tangan seorang nenek tua.


"Tuan Zhang ! Apa yang kau lakukan ?! Di sini tidak ada yang boleh tinggal di sini untuk sementara. " Tanya Huan Li tidak mengerti.


"Kau tidak mengerti, jika mereka memang ingin pindah maka mereka sudah pindah. Tapi karena mereka begitu ingin menjadi korban maka tidak ada salah nya bukan ?" tanya nya balik dengan santai.


"Tanya nya sekali lagi, ini menyangkut nyawa ratusan orang. " desak Huan Li lagi.


"Kenapa tidak kau saja yang menanyakan nya langsung ? Kenapa kau takut dengan orang orang ini ?" tanya nya dengan jengkel.


Sudah bisa di pasti kan orang orang ini termakan omongan penyebar berita palsu, jika di paksa maka mereka akan merasa kalau berita itu adalah kebenaran dan yang sudah berniat pergi akan menjadi ragu juga.


Jika mereka sudah merasakan dampak ringan dari perang baru lah mereka bisa merasa kan kalau yang mereka katakan adalah kebenaran.

__ADS_1


Percuma membuang waktu dan memaksa untuk hal yang tidak berguna seperti ini, Xi Rong bahkan sudha memutus kan untuk pergi.


Ia mengikuti langkah Xi Rong meninggal kan para ketua sekte yang berusaha membujuk orang yang memilih tinggal.


Alhasil, seperti yang di perkirakan nya, ada beberapa orang yang sebelum nya memilih untuk pergi menjadi memilih untuk tinggal dan melawan utusan sekte.


Tidak lama Huan Li kembali menghampiri nya dengan muka lesu.


"Tidak berhasil, bahkan menjadi lebih buruk. " kata Huan Li.


"Sudah ku katakan untuk tidak melakukan nya tapi kau memaksa. " Balas nya dengan tenang.


"Kau begitu tenang, apa kau sudah tahu ini semua akan terjadi ? " tanya Huan Li.


"Ya."


"Kalau kau sudah tahu, kenapa tidak memberi tahu nya kepada ku ?" tanya Huan Li sedikit emosi.


"Kau tidak akan percaya, lagi pula hidup ini di penuhi dengan pilihan jika kau bahkan tidak dapat memilih pilihan yang benar untuk hal sekecil ini maka kau tidak layak. Kau akan sadar kalau pilihan mu salah ketika kenyataan menampar mu dan memaksa mu untuk bangun dari mimpi. "


Huan Li terdiam mendengar kata kata nya sebelum memilih untuk pergi dan merenung kan kata kata nya.


Dia berdiri, berjalan menuju Huan Li dan yang lain nya. Mereka tampak nya sedang berusaha menggunakan cara yang lain.


"Apa kah kalian sudah ? Ayo pergi, kita tidak punya waktu terlalu lama. " ajak nya.


"Tapi hanya ada 1.320 orang yang ikut dengan kita dan 821 orang memilih untuk tinggal. " kata Kuo Li Ming.


"Bawa orang yang percaya dengan kita yang tidak percaya silakan untuk tinggal. Yang ragu ragu harap segera memutus kan. " kata nya dengan dingin.


Suara nya seperti perintah langit yang tak dapat di tolak, dengan begitu ada sekitar 50 orang lagi yang memilih untuk tinggal.


"Bagus, dengan begitu mereka tidak akan menyebabkan masalah. Mereka terlalu ragu ragu, bahkan jika menyangkut nyawa mereka, mereka masih mementingkan harta. " kata nya.


Yang lain tampak ingin menolak tapi langsung di tahan oleh Huan Li. Kali ini Huan Li tahu kalau apa saja yang di putus kan oleh Zhang Wei adalah kebenaran.


Zhang Wei selalu memutus kan sesuatu dengan penuh pertimbangan dan hati hati. Ia memikir kan kemungkinan terburuk dan kemungkinan terbaik.


Hanya memikir kan kemungkinan terbaik memang bisa membuat mu menjadi lebih tenang atau optimis , tapi jika ternyata yang terjadi adalah hal buruk maka itu akan membuat mu kecewa jauh lebih besar dari pada mempertimbangkan hal buruk yang akan terjadi dari awal.


Tentu saja bukan berarti ia mendoa kan hal buruk yang akan terjadi hanya saja ia tidak ingin menaruh harapan terlalu tinggi atau jika itu gagal maka akan sangat menyakitkan bagi nya.


Ia adalah tipe orang yang suka menyembunyikan perasaan sedih nya dari orang lain, sehingga jika kecewa berlebihan akan membuat nya kewalahan.


"Kuo Li Ming, kau pandu mereka ke tempat aman dan kami langsung menuju Sekte Pedang Surgawi. An Ming, kau juga ikut lah bawa prajurit ke Sekte Pedang Surgawi. "


"Ming Lang, Huan Li, dan aku akan membuat kelompok. Sisa nya akan membuat satu kelompok lagi, apa kah ada yang keberatan ?" tanya nya.


Xi Rong adalah satu satu nya wanita yang ada. Tapi tidak ada yang berani mendekati nya karena ia mematahkan kaki Huan Li dengan mudah sebelum mengobati nya.


Setelah di obati ia mematahkan nya lagi dan terus begitu hingga Huan Li pingsan. Hal itu cukup untuk membuat yang lain takut untuk berdekatan dengan Xi Rong.


"Tidak !" Jawab mereka serempak.


"Baik tim ku akan menyerang terlebih dahulu, sebaik nya kalian membantu kami untuk melawan leluhur Sekte Pedang Surgawi, Xi Rong mengetahui tempat persembunyian para tengkorak tua itu. Setelah ke sana kembali lah kemari dan bantu kami. " kata nya.


"Leluhur Sekte Pedang Surgawi ? 12 Pedang Surgawi ?" Dahi Huan Li mengerut saat mengatakan itu.


"Oh mereka memiliki nama tersendiri ya ? mereka adalah orang yang memulai untuk bergantung pada iblis, lagi pula yang ku lihat mereka hanya lah tengkorak yang rapuh. Siap untuk di bawa ke neraka bertemu dengan tuan nya. " gumam nya.


Tentu saja tidak semudah itu , kalau tidak mana mungkin ia membuat tim Xi Rong lebih banyak 1 orang di banding kan tim nya.


Sekte Pedang Surgawi mungkin berjumlah lebih banyak tapi mereka semua sangat dangkal dan ia ahli dalam hal itu.


Dengan pengalaman nya yang sudah menghancur kan berbagai macam sekte. Cabut lah rumput hingga ke akar nya, jangan biar kan ia tumbuh atau rumput itu akan membuat ku terganggu.

__ADS_1


Paling tidak itu lah yang ia pelajari selama ia hidup di muka bumi ini, kadang orang yang kita anggap lemah akan menemui suatu keberuntungan yang akan menjadi masalah baru bagi nya di masa depan.


__ADS_2