
Keesokan hari nya, ia berangkat meninggal kan gua persembunyian nya. Kultivasi nya sudah naik jauh di banding kan kemarin.
Kultivasi nya saat ini sudah berada di tingkat 2 Puncak Qi Surgawi dan dengan sedikit dorongan lagi sudah dapat di pasti kan kalau ia akan menerobos.
Setelah ini mungkin ia akan pergi mengasingkan diri untuk menambah pengetahuan nya karena belakangan ini kenaikan kultivasi nya sedikit melambat.
Dia berjalan menggunakan topi jerami untuk menyamar kan wajah nya. Dia dengan mudah berbaur dengan orang orang yang ada di pasar.
"Permisi, boleh kah aku bertanya ? Di mana Bukit Hua ?" tanya nya pada seorang pria yang berpapasan dengan nya.
"Kau bisa menuju Bukit Hua dalam waktu 1 jam perjalanan darat dari sini, kau hanya perlu lurus dan akhir nya menemukan Bukit Hua. Hanya saja belakangan ini, Bukit Hua mengalami tanah longsor sehingga memiliki akses naik yang sulit. " kata pria itu.
"Ah terima kasih atas informasi nya paman. " kata nya sambil menyelipkan 5 kristal roh tingkat rendah di saku celana pria itu.
Pria itu menatap nya dengan penuh rasa terima kasih. Dia langsung berlari dan menuju Bukit Hua.
Ternyata memang benar apa yang di kata kan oleh pria itu, perjalanan untuk naik ke atas bukit sangat berbahaya dan mudah tergelincir.
"Seperti nya ini sangat menantang. " Ucap nya dengan semangat sebelum menarik tanyakan rambat yang ada di sekitar Bukit.
Dia menarik Tanaman Rambat itu dengan kuat dan mulai memanjat naik, saat melihat tanaman rambat itu siap untuk putus.
Ia langsung melepas kan tanaman rambat itu dan melompat ke tanaman rambat yang lain, terus saja begitu hingga akhir nya berhasil naik ke atas.
"Aku harus mencari ilmu meringankan tubuh yang baik setelah ini selesai. " Gumam nya sambil memukul pelan pundak nya yang terasa pegal.
Dia duduk di pinggir Bukit dan mengambil arak nya, lalu meminum nya dengan rakus.
"Ha !! Pemandangan di sini sangat indah, tapi aku tidak boleh lupa dengan tujuan utama ku datang kemari. " Dia mengeluarkan Pedang Jiwa Naga dari cincin ruang.
Pedang ini begitu indah jika di lihat dengan teliti. Dia mengalung kan pedang nya di punggung lalu berjalan menyusuri Bukit.
Sebenar nya bukan nya tidak ada pegangan hanya saja beban yang di miliki oleh Pedang Jiwa Naga tidak main main.
Pedang itu membawa beban lebih dari 200 kilogram sehingga tidak semua orang bisa menggunakan nya.
Pedang ini juga tidak dapat di kata kan sebagai pedang besar, pedang ini berbentuk dan memiliki ukuran yang sama dengan pedang pada umum nya.
Hanya saja mungkin bahan yang di gunakan adalah bahan bagus sehingga pedang sangat berat tapi memiliki ketahanan yang sangat bagus.
' Aku senang kau memuji ku, bocah ingusan. ' Kata suara yang ada di dalam. pikiran nya.
'Ha ha bagus lah kalau kau senang, ngomong ngomong aku belum tahu nama mu. ' kata nya.
'Long Chun. ' kata suara berwibawa itu.
'Eh Long ? bukan nya kau leluhur Tu Long ? Kenapa marga mu berbeda dengan milik Tu Long ?' tanya nya penasaran.
__ADS_1
'Ah itu cerita yang sangat panjang, aku akan menceritakan mu nanti. Bukan kah kau sedang mencari seseorang ?' tanya Long Chun.
'Oh iya, aku melupakan itu. Senior Long aku akan menutup pembicaraan kita kali ini. ' Ucap nya sebelum memutus kan sambungan pembicaraan mereka.
Dia menjadi lebih sopan pada Long Chun karena naga tua itu sudah membantu nya melawan Xian Mu (Envy).
Dia menyusuri Bukit yang sangat luas hingga berjam jam. Hingga akhir nya ia menemukan pondok jerami yang sederhana, di dalam nya ada Qi Lun yang sedang merajut syal.
"Kau sudah datang kenapa masih bersembunyi ?" tanya Qi Lun dengan suara lantang, ia tertawa kecil dan keluar dari tempat persembunyian nya.
"Salam senior, harus nya anda Qi Lun kan ? Qi Lun, Pendekar Kejam. " Ucap nya, memang Qi Lun termasuk salah satu ahli teratas di dimensi ini sehingga ia mendapat kan julukan atas kekejaman nya.
"Jika kau sudah tahu, kenapa masih bertanya ?" tanya Qi Lun tanpa menoleh sama sekali.
"Entah lah, mungkin hanya untuk memastikan ? Senior Qi, aku membutuh kan bantuan mu untuk tinggal sebentar dengan ku. " kata nya tanpa basa basi lagi.
"Tinggal dengan mu ?" Qi Lun menatap nya dengan alis naik turun.
"Ya, aku memiliki sedikit masalah dengan guru mu. Aku ingin dia kehilangan murid nya untuk sementara waktu. "
"Kemari dan duduk lah, mari kita bicara kan sambil duduk. " Ajak Qi Lun.
Qi Lun menyajikan teh dan menyuruh nya untuk segera minum.
"Terima kasih atas penyambutan senior Qi yang ramah. " kata nya berpura pura tersenyum dan meminum teh itu.
Racun itu berguna untuk melemah kan tubuh seseorang.
"Jadi, ceritakan masalah mu dengan guru ku. " kata Qi Lun berpura pura ramah.
Di dalam hati dia berterima kasih banyak pada Qi Lun karena racun yang di berikan pada nya adalah racun yang kuat dan berharga.
Ini membuat nya naik tingkat menjadi tingkat 3 Qi Surgawi, sungguh keberuntungan dalam bencana.
"Jadi, guru senior ingin mengambil suatu harta pada ku. Dia memasang gambar wajah ku di seluruh penjuru kota dan memberi harga atas nyawa ku. Aku ingin membuat nya menderita karena telah melakukan itu. " kata nya dengan polos.
"Aku mendapat harta kuno saat di dalam dimensi monster, harta itu berguna untuk meningkat kan kultivasi hingga ke puncak, karena aku percaya pada mu, aku akan memberi tahu mu posisi aku menyimpan nya. " kata nya, dia tersenyum dalam hati melihat serakah yang mulai muncul di mata Qi Lun.
"Ah aku senang kau percaya, apa tidak masalah jika kau memberi tahu letak nya pada ku ?" tanya Qi Lun ingin mencoba untuk menyembunyikan rasa serakah nya.
"Tidak mungkin senior Qi melakukan itu, aku percaya pada mu. Letak nya ada di cincin ruang ku yang ini." Dia menunjuk cincin ruang yang ada di jari manis tangan kanan nya.
Dia sudah mengira ini akan terjadi di lihat dari reputasi yang di miliki oleh Qi Lun. Jadi dia mempersiapkan sebuah cincin ruang kosong.
Dia memegang dada nya dan mulai bernafas dengan lemah.
"Apa kau tidak apa apa ?" tanya Qi Lun dengan panik.
__ADS_1
"A.. aku sangat lemah. Apa yang terjadi pada diri ku ?" tanya nya dengan khawatir .
"Ha ha ha , akhir nya racun yang ku beri kan bereaksi. " kata Qi Lun dengan bangga dan membelakangi nya.
Dia tersenyum miring dan langsung menusuk punggung Qi Lun dengan pedang. Tapi karena reaksi Qi Lun yang sangat cepat, pedang nya tidak tertusuk melainkan hanya menggores punggung Qi Lun.
"Kau ! Bagai mana kau masih bisa menyerang ?! Racun Lun yang ku buat 10 tahun terakhir berhasil membunuh ribuan orang ! Kenapa kau baik baik saja ?!" Teriak Qi Lun dengan waspada.
"Aku sebenar nya harus berterima kasih pada mu, atas racun yang kau berikan, aku menjadi lebih kuat. " kata nya sambil tertawa.
"Kau ingin harta bukan ? Ini ambil. " Dia melempar kan cincin ruang nya yang segera di tangkap oleh Qi Lun.
"Apa apaan ini ?! Isi nya kosong !" Teriak Qi Lun marah.
"Ya, sebenar nya masalah harta kuno. adalah karangan ku. Aku hanya ingin menilai sikap mu, sikap mu adalah penentu tindakan ku selanjut nya."
"Memang nya kau bisa apa ? Aku tidak percaya kau bisa bertahan dari racun Lun !" Kata Qi Lun tidak ingin mengalah.
"Itu terserah pada mu, kau mau bilang tidak percaya, apa lah. Tidak ada hubungan nya dengan diri ku. " Ucap nya sambil menaik kan bahu.
"Baik lah , kalau sudah begini tidak ada jalan untuk kembali. " kata Qi Lun sambil menahan sakit yang menusuk di punggung yang tergores oleh pedang Zhang Wei.
"Bukan kah kau bilang ingin bertarung ? kenapa kau belum juga bergerak ? Atau jangan jangan kau hanya menggertak ku padahal asli nya kau ini tidak memiliki ilmu bela diri sama sekali. " tanya nya sambil menyeringai.
"Kau ! Baik lah !" Qi Lun berusaha untuk menutupi rasa sakit dan rasa terbakar yang ada di punggung nya.
Qi Lun mengeluar kan pedang nya dan berusaha untuk menebas kaki nya, dia melompat dengan lincah bagaikan seekor monyet.
"Kau bahkan tidak dapat menyentuh ujung pakaian ku, apa kah ini layak untuk mendapat kan sebuah gelar ?" Ejek nya.
Qi Lun semakin marah sebelum akhir nya jatuh berlutut dan muntah darah. Dia memberikan racun di pedang nya.
Dia mengambil paksa Pedang Qi Lun dan menatap dengan sedikit kagum.
"Pedang seindah ini jatuh di tangan yang salah, seseorang yang ber kultivasi tinggi tapi terlalu percaya diri. " Dia berjalan memutari Qi Lun.
"Kau menyambut ku dengan racun dan aku memberi mu salam perpisahan dengan racun, bukan kah kita imbas ? Dan tidak saling berutang ?"Tanya nya sambil mencengkram dagu Qi Lun.
"Dasar Sialan ! Sebentar lagi orang suruhan guru ku akan datang. " Umpat Qi Lun.
"Wah ! Bukan kah itu lebih menakjubkan?! Aku ingin melihat ekspresi nya saat melihat mu mati di sini. " Dia menebas kepala Qi Lun sebelum tertawa ringan.
"Kultivasi yang tinggi hanya di jadikan hiasan. Padahal, jika dia berhati hati maka sudah dapat di pastikan dia bisa selamat dari racun yang ku buat, dasar bodoh. " Dia duduk dengan santai dan menatap kepala Qi Lun yang terlihat terkejut.
"Nasib yang malang, berhubungan dengan ku adalah sama seperti berhubungan dengan kaca. Aku akan mengembalikan apa yang kalian berikan pada ku. " Gumam nya dengan pelan. Tidak lama kemudian, dia bangkit dari duduk nya dengan ekspresi yang ceria.
Bonus : 1 / 2
__ADS_1