PEDANG JIWA NAGA ( Series 1 )

PEDANG JIWA NAGA ( Series 1 )
199. Kematian Qian Bei


__ADS_3

"Guru jangan pergi !" Teriak Qing Yu yang ingin memukul Qian Bei.


Dia langsung menahan nya dan mendorong tubuh Qing Yu.


"Apa yang kau lakukan ?! Guru ! Guru ! Bangun lah aku tahu kau bercanda kan ?!" Teriak Qing Yu marah yang kembali merangkak menuju Qian Bei.


Dia menahan tubuh Qing Yu dan juga menahan air mata nya.


"Sadar lah ! Kakek Qian juga tidak akan senang melihat reaksi mu saat ini ! " Teriak nya.


Qing Yu duduk dan tatapan nya sangat kosong.


"Ayo pergi ke dimensi Qilin Api dan mengubur kan kakek Qian. Di sana ia bisa beristirahat dengan tenang. " Ajak nya sambil menangis.


Air mata terus menerus menetes dari sudut mata nya.


"Aku tidak mau pergi ! Guru ! Jangan bercanda lagi ini tidak lucu !" Teriak Qing Yu.


Dia menarik kerah baju Qing Yu.


"Sadar lah ! Kakek Qian sudah tenang ! Apa kau pikir hanya diri mu yang sedih ! Semua orang sedih. " Ucap nya sambil menahan rasa sesak yang memenuhi dada nya.


Setelah beberapa saat menenangkan Qing Yu.


"Lupa kan semua nya dan jadi lah orang baik, itu lah yang di ingin kan kakek Qian. Selesai kan urusan mu di dimensi ini dan kata kan pada mereka kalau aku mengundur kan diri. Aku akan mengurus peti dan yang lain nya. " kata nya sambil membersihkan wajah nya.


Ia membaringkan tubuh kaku dan dingin milik Qian Bei di kasur nya. Dia melindungi sekitar kasur dengan berbagai macam segel sehingga hanya ia dan Qing Yu yang bisa berjalan mendekati Qian Bei.


Qing Yu mengangguk dan berjalan keluar dengan sedih , dia menatap Qian Bei dengan sendu sebelum meloncat keluar lewat jendela.


"Aku membeli 3 keping kayu. "


"Aku membeli 3 bunga ini. "


1 Jam kemudian setelah membeli banyak barang ia meracik sebuah ramuan dan menyisipkan nya ke tubuh Qian Bei.


"Dengan begini, tubuh kakek Qian tidak akan membusuk sampai 1 minggu ke depan. "


Dia mengambil pedang nya dan mulai menempa peti mati yang pas untuk tubuh Qian Bei, ia tidak ingin membeli yang sudah jadi.


Dalam sekejap saja sudah ada peti mati kayu yang sangat cocok untuk tubuh Qian Bei. Dia menabur kan bunga bunga indah yang sudah di beli nya di dalam peti.


Dia menyimpan pedang nya dan mencabut tusuk rambut nya, dengan ujung tusuk rambut nya yang runcing, ia mengukir gambar di bagian luar peti.


2 jam berikut nya


Di tempat Qing Yu, ia sudah selesai mengundur kan diri dari posisi nya saat ini sebagai Dosa Nafsu dan yang lain nya.


"Kakek Qian aku akan menjadi orang yang kau ingin kan meski pun terlambat. " Sebelum pulang ke penginapan, ia pergi ke sebuah kantor pos.


"Silakan datang, ingin mengantar kemana ?" tanya wanita yang berjaga dengan ramah.


"Dimensi Qilin Api. Kapan akan sampai ?" tanya nya tanpa semangat hidup.

__ADS_1


"1 jam lagi akan sampai, silakan tulis kan pesan mu dengan harga 500 kristal roh tingkat rendah. " Dia melempar kan satu kantung berisi kristal roh.


Dia tidak menulis banyak huruf.


' Qian Bei sudah pergi, kami akan pergi ke sana besok. Kami akan mengkremasi nya di sana. '


"Kirim kan ini secepat yang kalian bisa, uang yang ku berikan lebih jadi usahakan untuk lebih cepat. " Ucap nya sebelum keluar.


Wanita yang menjaga toko Merpati Pengantar surat itu langsung mengangguk dan segera mendahulukan milik Qing Yu.


Sesampai nya di tempat Zhang Wei , ia terkejut melihat peti berwarna putih, emas ,merah, dan biru.


Putih adalah warna dasar peti, di tambah dengan gambar phoenix api dan es yang bersama, Naga Emas yang terlihat sangat agung dan mendominasi.


"Ini melambangkan perasaan cinta nya yang tulus dan luas. Sedang kan Naga ini melambangkan tentang keperkasaan nya dan keberanian nya. " Jelas Zhang Wei tanpa menoleh.


Zhang Wei menutup peti itu dengan tak rela.


"Apa kau sudah menyelesaikan semua nya ? kapan kita akan pergi ? hari ini ? besok ? Aku sudah membuat mayat kakek Qian aman hingga minggu depan. " ucap nya dengan lelah.


Qing Yu menatap nya dengan perasaan campur aduk, perasaan kalut, tidak percaya, sedih, rasa bersalah, prihatin.


"Tidur lah dulu, besok baru kita pergi. Aku sudah memberi surat ke Xi Rong. "


Tanpa butuh waktu lama mereka berdua tidur dengan mata yang bengkak.


Di tempat Xi Rong.


"Wah, lihat lah ada yang mengirim mu pesan merpati kakak Xi Rong !" Teriak Nangong Ling.


"Ayo masuk dan lihat isi surat nya. " kata Hu Yin dengan antusias,


Dia menganggukkan kepala nya dan berjalan ke dalam, dia membuka surat dan tiba tiba tubuh nya jatuh ke lantai dengan lemas.


"Kakak apa yang terjadi ?!" Teriak kedua murid Zhang Wei itu dengan panik.


"Kalian.... baca sendiri. " kata Xi Rong dengan tatapan kosong.


"Guru...... " panggil Xi Rong dengan pelan.


Tidak lama Hu Yin dan Nangong Ling jatuh berlutut, mereka menangis sejadi jadi nya karena bagi mereka Qian Bei sudah mirip dengan guru mereka.


Xi Rong adalah murid Qian Bei yang baru Qian Bei angkat 5 tahun lalu.


"Guru !!Tidak mungkin kan ini benar ?!" Teriak Xi Rong membanting vas vas indah yang ada di rumah nya.


"Tidak mungkin !!" Teriak nya dengan histeris bahkan menarik narik rambut nya sendiri.


"Kakak Xi Rong tenang lah, aku tidak menyangka kalau Kakek Qian akan pergi. Hiks. " kata Hu Yin sambil menahan tangan Xi Rong yang menggila.


"Kakek Qian..... Kau tidak mungkin pergi kan ? Kau berjanji akan mengajari ku, dan akan membawa ku pergi ke dimensi Dewa jika aku berhasil mencapai target yang kau berikan. Tidak mungkin kau mengingkari janji mu, kakek Qian." Tangis Nangong Ling.


Untuk pertama kali nya Nangong Ling menangisi seseorang dalam hidup nya. Orang yang menyelamat kan nyawa nya bersama guru nya, Zhang Wei.

__ADS_1


Orang yang membuat hari nya menjadi ceria sudah hilang dan hanya menyisakan Zhang Wei. Bagi nya Zhang Wei dan Qian Bei adalah guru nya.


3 Hari berikut nya, sudah saat nya untuk pengkremasian Qian Bei, mereka menyiram kan arak si sekitar peti mati dan berdoa.


5 orang mengelilingi peti mati yang sudah berada di atas kayu bakar, masing masing membawa ember berisi bunga.


Di belakang mereka sudah ada 5 orang lain nya, yang tidak lain adalah 5 Dewa Besar kecuali Qian Xun yang tidak tahu keadaan dunia luar.


Halaman belakang yang di beli oleh Xi Rong, yang awal nya ingin ia bangun tempat bermain agar menjadi tempat penuh dengan keceriaan menjadi tempat yang di penuhi dengan rasa sedih.


Bahkan 5 Dewa yang telah hidup lebih dari 500 tahun tidak bisa menahan isak tangis mereka.


"Saudara Qian aku tidak tahu kau memiliki dendam yang begitu besar pada ku sampai sampai kau meninggal kan ku secepat ini. "


"Senior Qian, aku rela kau hukum dan di jemur di tengah lapangan karena ketahuan mencuri persik milik mu. Aku merindukan masa itu, apa kau juga berpikiran sama dengan ku ?" tanya Patience.


Isak tangis memenuhi lahan itu dan mereka bergantian untuk menabur kan bunga. Setelah itu Zhang Wei dan yang lain nya melempar kan segumpal api.


"Kakek Qian, aku pasti akan mengingat kebaikan mu. " kata Zhang Wei dengan tekad yang kuat, air mata nya sudah mengering.


Perlahan lahan api mulai melahap peti mati milik Qian Bei, tangisan terdengar lebih kencang hingga membuat nya tak berdaya.


Setelah 6 jam, semua nya sisa abu. Zhang Wei dan yang lain nya memasukkan abu Qian Bei ke dalam sebuah guci.


Guci itu di taruh di tanah belakang rumah Xi Rong. Guci itu di lindungi banyak pelindung dan hanya orang yang berhati bersih bisa mendekati guci itu.


Orang yang berniat jahat terhadap guci itu akan terlempar jauh dan pelindung ini sangat sulit di hancur kan berkat kerja sama dari 10 orang ini.


"Semua nya, terima kasih karena telah memberi kami pesan ini. Kami akan pergi dan jika ada sesuatu kata kan pada kami. "kata Patience dengan sembab.


"Baik, hati hati senior. " Jawab nya dengan pelan.


Suara nya habis , mata nya bengkak, hidung nya memerah, sangat cocok untuk di kata kan sebagai badut.


Dia sudah tidak makan dan minum 3 hari belakangan ini, seluruh nafsu makan nya hilang. Ia berlutut di depan guci yang berisi abu Qian Bei.


Di sebelah kiri nya ada Nangong Ling dan di sebelah kanan nya ada Qing Yu. Sedang kan Hu Yin membawa Xi Rong masuk karena kondisi kesehatan wanita itu yang sedang memburuk.


Hujan mulai turun dan membasahi tubuh mereka bertiga tapi hujan tidak membasahi guci sama sekali karena pelindung yang mereka buat.


Mereka bertiga tidak berbicara sepatah kata pun, mereka bertiga sibuk dengan pikiran dan dunia mereka sendiri.


Air hujan mulai membasahi tubuh mereka yang bercampur dengan air mata.


"Guru, seandainya aku tidak bertemu dengan mu. Seandainya aku tidak memaksa untuk masuk ke dalam toko perhiasan itu maka mungkin kau akan menjadi Dewa paling kuat. Seandainya aku tahu hal ini akan terjadi, aku tidak akan pergi dari sisi mu. " Ujar Qing Yu dengan penuh penyesalan.


"Seandai nya waktu bisa berputar, aku akan menghabis kan waktu lebih banyak dengan mu kakek Qian. " Ujar Zhang Wei yang mewakili Nangong Ling juga.


Zhang Wei melepas kan syal nya dan memasang nya di Qing Yu karena Qing Yu menggunakan baju tipis dan terbuka sedang kan Nangong Ling menggunakan baju yang tebal dan tertutup.


"Ayo masuk, aku yakin kakek Qian akan sedih jika melihat kalian sakit karena menangisi nya seperti ini. " Hibur nya dan tanpa kata kedua orang itu mengikuti nya.


bonus : 2 / 2

__ADS_1


note : kesedihan Zhang Wei tidak berhenti sampai di sini saja, chapter selanjut nya akan menjadi pukulan yang berat untuk Zhang Wei.


__ADS_2