
"Tidak apa apa saudara Yu." kali ini yang menyahut adalah Qiu Long yang memilih lebih banyak diam selama perjamuan makan.
"Zhang Wei, apa kau yakin untuk tetap menolak putri ku ?" tanya Kaisar Yu Mingfeng.
"Maaf Yang Mulia, tapi aku memiliki 3 hati yang harus ku jaga." kata nya dengan senyum tipis.
"Pak tua, jika kau masih terus menerus memaksa nya untuk menikahi anak mu, maka jangan salah kan aku mematahkan leher mu !" kata Qing Yu dengan berapi api.
"Qing Yu." kata nya dengan pelan sambil mengelus kepala wanita itu.
Kaisar Yu sedikit tersinggung dengan kata kata yang di berikan oleh Qing Yu tapi membatalkan niat nya saat melihat tatapan dingin Qing Yu.
"Yang Mulia, aku akan pulang ke sekte ku terlebih dahulu." kata nya menunduk di hadapan Kaisar.
"Zhang Wei, kau tidak perlu pergi ke sana lagi. Kau akan di pindah kan ke Sekte Embun Salju utama dan kita akan membicarakan tentang anak ku." kata Ju Liantao.
"Baik." kata nya dengan santai.
Dia duduk di tempat duduk yang sudah kosong sambil mendengar pembicaraan mereka dengan malas, Zhang Luo sudah kembali ke dimensi Furong.
Pria itu sudah tidak tahan lagi untuk bertemu burung burung kesayangan nya. Karena kebanyakan , burung burung itu di rawat dari bayi oleh Zhang Luo.
Zhang Wei sendiri tidak ikut campur, karena biasa nya burung tersebut mati seminggu sekali jika di hitung dengan waktu dunia nyata.
Tidak lama pria dengan jubah hitam keluar dari tubuh Zhang Wei, itu tidak lain adalah Han Liu Liang.
"Apa yang kau lakukan ? Kenapa kau keluar ? Bukan kah kata mu kau takut kulit mu terbakar ?" tanya nya setengah mengejek sikap Han Liu Liang yang takut dengan sinar matahari.
"Haih, itu bawaan lahir bodoh. Aku juga tidak ingin takut dengan matahari, tapi ya mau bagaimana lagi. Matahari pernah membakar ayah ku sampai setengah mati kau tahu ? Sejak itu lah aku takut dengan sinar matahari." kata Han Liu Liang mengelak.
"Jadi kau punya ayah juga ? Apa kau pernah jadi manusia ?" tanya nya dengan suara pelan.
Pletak
Kepala nya di pukul oleh Han Liu Liang .
"Dasar bodoh, tentu saja pernah !" kata Han Liu Liang dengan emosi sekaligus geram dengan sikap Zhang Wei.
"biasa saja , aku ini kan tidak tahu. Kalau aku tahu maka aku tidak akan bertanya dengan mu. Lagi pula aku tuan mu, kau tidak bisa memukul ku sembarangan." kata nya setengah bercanda.
"Sini, mau ku pukul lagi? Mau di bagian mana ?" tanya Han Liu Liang dengan nada geram.
"Tidak tidak mau, kau tidak boleh melakukan kekerasan terhadap tuan mu yang imut ini." kata nya dengan datar , berusaha untuk menunjuk kan wajah tegas nya.
"Berhenti lah berpura-pura tegas itu menjijik kan, lebih baik kau seperti biasa." kata Han Liu Liang.
"Senyum mu itu sangat cerah bahkan lebih cerah dari pada matahari, senyum mu itu sangat lebar , lebih lebar dari samudera, senyum mu itu sangat mahal, lebih mahal di bandingkan emas." kata Han Liu Liang seolah olah sedang membaca puisi.
"Hentikan ,apa kah kau mengejek ku ? Bukan kah kau bilang kau tidak menyukai matahari ?" tanya nya tersinggung meski pun itu hanya main main.
"Dasar bodoh, aku memuji mu !" kata Han Liu Liang kembali mengejek nya.
"Ck.... kau sudah mengejek ku dua kali. Aku akan mengadukan mu pada Han Long Chun. " kata nya sambil berdecak karena kesal.
"Jangan marah, aku tidak mau di adu kan kepada senior Han." kata Han Liu Liang dengan tatapan memelas.
__ADS_1
"Baik lah , kalau begitu jangan ejek aku lagi. Aku ini tidak bodoh, hanya sedikit lambat saja." kata nya sambil menahan tawa.
"apa beda nya bodoh ?!" Kata Han Liu Liang sambil tertawa terbahak bahak tapi langsung diam saat di tatap tajam oleh nya.
Setelah beberapa jam, dia pulang ke Sekte Embun Salju. Seperti nama paviliun sebelum nya, nama Paviliun ini adalah Paviliun Murong.
Sudah ada Ju Liantao dan istri nya, mereka menatap Zhang Wei dengan tatapan intimidasi. Tapi karena yang di tatap benar benar tidak tahu malu, jadi dia tidak merasakan.
Zhang Wei sibuk makan kacang kacang yang di sedia kan oleh Ju Liantao.
"Jadi..... apa kau akan segera menikahi putri ku ?" tanya Ju Liantao.
"Ya , kalau bisa hari ini maka hari ini juga. Aku terserah dengan kalian." kata nya sambil tersenyum ringan.
Ju Jiangniang hampir tidak bisa menahan tawa melihat ekspresi ayah nya yang tegas terpanah saat mendengar jawaban santai dari Zhang Wei.
"Apa kau tidak memiliki pekerjaan tetap ? Apa kau sanggup untuk menghidupi anak ku ? Apa kau memiliki rumah sendiri ?" tanya Ju Liantao.
"Aku tidak memiliki pekerjaan tetap, sanggup atau tidak itu tergantung dengan gaya hidup nya. Untuk rumah sendiri, aku sendiri tidak yakin." kata nya.
"Apa maksud mu tidak yakin ? Apa kau tidak mempunyai rumah sendiri ?" Tanya Ju Liantao dengan ekspresi marah , pemuda di depan nya ini tidak memiliki rumah tapi berniat untuk menikahi putri nya yang berharga.
"Apa kah yang anda lihat hanya lah uang seseorang ? Uang mudah di cari dan di dapat, tapi apa kah kebahagiaan bisa di dapat dari uang ?" tanya Zhang Wei merendahkan.
"Tanpa uang, kau tidak bisa makan dan tidak bisa hidup. Apa kau akan membiarkan anak ku tidur di jalan bersama dengan mu ?" tanya Ju Liantao dengan nada yang meninggi sebelum kembali di tenangkan oleh istri nya.
"Ada baik nya untuk tidak banyak marah marah di umur mu yang sudah tua, apa lagi tenaga dalam mu yang sudah banyak berkurang. Selama bertahun tahun makan pil untuk menyamarkan hal tersebut, efek samping pil sudah menumpuk di hati yang akan sangat sulit untuk di sembuh kan." kata nya dengan dingin.
Ju Liantao tampak terkejut dan terduduk tanpa daya saat seluruh rahasia nya di bongkar oleh Zhang Wei di hadapan istri dan anak nya.
"Ayah mu sudah lama kehilangan setengah kultivasi nya karena luka dalam, mungkin dari sekitar 2 sampai 3 tahun lalu. Tapi demi menutupi nya dia memakan pil yang memiliki efek samping, seluruh racun sisa dari pil yang tidak di buat dengan sempurna menumpuk di hati. Kemungkinan besar pil itu di makan 3 sampai 7 hari sekali sehingga efek samping yang di timbulkan lebih lama baru nampak." kata nya sambil menatap tajam Ju Liantao yang sudah pucat pasi.
"Efek samping dari racun yang menumpuk di hati adalah lebih mudah lelah, sulit berjalan, kesulitan bernafas dan banyak hal lain nya yang bisa terjadi. Aku sendiri tidak bisa menyembuhkan nya. Tapi bukan berarti tidak bisa di sembuhkan." lanjut nya.
"Kenapa kau bisa tahu semua nya ?" tanya Ju Liantao.
"Karena..... aku melihat wajah mu yang pucat dan tangan mu sedikit gemetaran. Belum lagi titik hijau yang sangat samar di leher mu." kata nya dengan santai.
"Apa ?! Titik hijau samar ?" tanya Ju Liantao terkejut sebelum mengambil cermin tembaga.
Pria tua itu mengamati leher nya sendiri sebelum menyadari ada bintik hijau kecil di bagian leher nya.
Ju Jiangnianh hampir menangis saat mendengar seluruh gejala yang di alami oleh ayah nya.
"Hidup mu tidak akan lama lagi jika kau masih menggunakan pil itu, mungkin 2 atau 3 tahun lagi." kata nya dengan jujur.
"Tidak apa apa, selama 2 atau 3 tahun , itu adalah waktu yang cukup untuk membuat Jiangniang menjadi kuat dan sanggup melindungi sekte." kata Ju Liantao tetap pada pendirian nya.
"Lebih baik kau pertimbangkan lagi, kemungkinan besar 1 tahun ke terakhir mu kau hanya akan terbaring di tempat tidur. Lebih baik berhenti sebelum lebih parah dan tak memiliki jalan kembali lagi." kata nya memperingatkan.
"Jangan mencampuri urusan ku !" Kata Ju Liantao sebelum memilih pergi .
"Ayah !" Teriak Ju Jiangniang yang langsung berdiri bersama ibu nya untuk mengejar Ju Liantao.
Grep
__ADS_1
Dia menahan tangan Ju Jiangniang, wanita itu menatap nya dengan bulir bulir air mata yang siap menetes.
"Sebaik nya kau bujuk ayah mu untuk berhenti menggunakan obat itu, aku akan berusaha untuk menyembuhkan nya." kata nya dengan raut wajah serius.
"Terima kasih Zhang Wei karena telah memberi tahu kami soal ini, maaf tidak bisa menemani mu hari ini."kata Ju Jiangniang dengan raut wajah bersalah.
"Tidak apa apa, pergi lah dan susul ayah mu. Dia lebih penting, aku akan berada di dimensi ku selama beberapa waktu." kata nya sambil tersenyum tipis dan melepaskan genggaman tangan nya pada tangan halus wanita itu.
Jiangniang langsung berlari mengejar ayah nya, sedang kan Zhang Wei hanya menghela nafas berat karena melihat hal baru.
Begitu banyak orang yang bersedia untuk hidup lebih lama dengan mengorbankan orang orang terdekat mereka.
Tetapi Ju Liantao ini berbeda , pria tua itu rela untuk merusak diri sendiri demi melindungi keluarga dan sekte nya.
Ju Liantao bersedia untuk menahan rasa sakit nya dan bersikap seperti biasa demi menunggu Ju Jiangniang kuat dan sanggup untuk menjaga Sekte Embun Salju.
Sangat jarang ada orang yang memiliki pemikiran luas seperti Ju Liantao, memikirkan ini membuat nya memikirkan diri nya sendiri.
Dia mungkin juga akan memilih jalan ini jika dia berada di posisi Ju Liantao. Karena bagi nya, orang terdekat nya adalah yang paling penting.
Oleh karena itu, ia merasa kalau pemikiran Ju Liantao ini bisa ia pahami. Sangat sulit untuk membujuk seseorang dengan tekad yang kuat seperti pria tua itu.
"Selalu ada orang baik di antara orang orang licik. Sangat di sayang kan , seseorang yang setia seperti Ju Liantao bekerja di bawah perintah Kekaisaran yang penuh dengan intrik. " Gumam nya sambil menghela nafas.
Dia memindahkan kesadaran nya ke dimensi milik nya , di sana dia melihat kedua murid nya itu sedang bermain dengan gembira.
Dia berjalan menuju bangunan bertingkat dua yang terlihat sederhana sebelum mulai duduk di dekat pintu sambil mengambil satu buah buku tebal.
Ini adalah seluruh temuan nya yang pernah di dengar nya selama ini tentang pengobatan. Dia akan mencoba untuk mencari tentang cara mengobati Ju Liantao.
Di dunia nyata, Ju Jiangniang yang pulang ke paviliun Murong melihat Zhang Wei sedang duduk dengan tatapan kosong di tempat mereka berkumpul tadi.
Karena tidak tega , dia membantu Zhang Wei untuk berjalan ke dalam. Dia sendiri tahu kalau dimensi Zhang Wei memiliki perbedaan waktu yang cukup jauh.
Setelah membantu tubuh Zhang Wei beristirahat di kamar pria itu , dia pun duduk sebentar sebelum membisik kan sesuatu.
"Terima kasih, dan jangan bekerja terlalu keras." Bisik Ju jiangniang sebelum berjalan ke kamar nya sendiri dengan lelah.
seluruh tubuh nya lelah , termasuk pikiran nya yang terbebani oleh kondisi ayah nya yang menolak mentah mentah bujukan nya.
Flashback
Ju Jiangniang dan ibu nya berlari sambil menahan Ju Liantao yang masih belum terlalu jauh.
"Ayah, kau harus berhenti menggunakan obat itu !" Kata nya dengan derai air mata.
Dia menganggam tangan ayah nya yang tak terlalu hangat untuk menahan langkah pria tua itu. Ayah nya menghempas kan tangan nya .
"Jangan mencampuri urusan ku, kau hanya perlu berlatih." kata Ju Liantao dengan dingin.
"Ayah ! Aku bisa melindungi sekte ini ! Zhang Wei juga bisa melindungi sekte ini !" kata Ju Jiangniang.
"Apa kau ingin mempermalukan nama leluhur mu ? Sampai sampai harus meminta bantuan orang luar ?" tanya Ju Liantao dengan sinis.
Nada yang di gunakan oleh ayah nya kali ini secara tidak langsung melukai perasaan nya yang lembut.
__ADS_1