SAYANG

SAYANG
Episode 1 - aku, sekolah dan rumah


__ADS_3

Upacara penerimaan siswa baru tampaknya telah dimulai sejak satu jam yang lalu. Aku terlambat, lagi. Bukan berarti aku benar-benar khawatir hanya karena aku terlambat, tapi lebih karena aku kesulitan mencari barisan kelasku, karena aku tak mengenal seorang pun di antara mereka, kecuali ketua kelas seorang. Setelah bersusah payah akhirnya ketemu. Aku meluncur begitu saja ke dalam barisan, tatapan tajam dari ketua kelas mengikuti langkah kakiku yang secara perlahan meluruskan tubuh dengan siswa yang berdiri di depanku, sebelum akhirnya ketua kelas kembali memperhatikan kepala sekolah yang sedang berkoar-koar di atas mimbar, ‘berkotbah’ sepatah dua kata kepada kami semua. Kepala sekolah adalah orang yang cukup familiar di kalangan anak-anak pecinta kartun, termasuk aku. Soalnya, setiap kali melihatnya aku selalu teringat pada Shegy salah satu toko di film kartun Scooby Doo. Dia bertubuh kurus dan bengkok, serta tingginya yang lebih dari dua meter dan sedikit jenggot di wajahnya, ditambah lagi dengan bentuk wajahnya yang langsing dengan suara serak yang hampir sama dengan Shegy. Ini tahun kedua aku di sekolah, yang berarti aku sudah punya adik kelas, horeee. Tidak harus selalu memanggil kakak tapi sekarang ada juga yang memanggilku kakak. Yah, meskipun aku tidak pernah memanggil kakak pada siapa pun, sih


Ngomong-ngomong, menurut kalian sekolah itu apa sih? Kalau menurutku ya ... sekolah itu tempat di mana semua hal yang membosankan berkumpul. Orang yang membosankan ada di sana, kegiatan yang membosankan dilaksanakan, begitu pula dengan benda-benda membosankan lainnya. Seperti buku, pulpen, papan tulis, meja dan kursi ... meskipun di tempat lain juga ada benda-benda seperti itu, tapi rasanya beda deh kalau berada di sekolah. Tapi ada satu hal lagi yang paling membosankan selain sekolah, yaitu aku. Bukan aku yang mengatakannya, lho. Tapi orang-orang di sekitarku. Orang-orang di sekitarku, siapa saja ya?


Oh iya, namaku Quinzha Leva. Mau tahu kenapa orang tuaku memberiku nama yang begitu indah itu? Nama yang saat ini dikenal oleh ... entah berapa orang. Soalnya begini, ayahku adalah penggemar berat masakan Prancis, setiap akhir pekan dia menyaksikan acara di televisi yang memperkenalkan segala jenis masakan Prancis, dia terobsesi dengan masakan Prancis. Berbicara tentang masakan Prancis hampir setiap saat dan selalu memuji-muji betapa enaknya masakan Prancis. Ah, tapi sebenarnya dia tidak pernah mencicipi masakan Prancis jenis apapun! Secara, di Bima nggak ada gitu lho orang yang jual masakan Prancis. Bahan-bahannya saja aneh, susah bangat didapat. Makanya untuk membuatnya sendiri pun ... ibuku menyerah sebelum mencoba. Jadi, untuk membendung air liur ayah yang tak tertahankan, ibuku mengunduh artikel-artikel tentang masakan Prancis di internet dan menyuruh dia mencicipi gambarnya yang sudah di printout dan, ketika aku lahir, untuk mengobati rasa frustasinya dia akhirnya menamaiku dengan Quinzha Leva! Quin yang berarti ratu (sebenarnya Queen, tapi ayahku suka seenaknya memplesetkan kata), dan ‘Leva’ yang menurutnya itu berasal dari bahasa Prancis yang berarti ‘masakan Prancis’. Jadi arti namaku adalah (menurut ayah) ‘ratu masakan Prancis’. Huffffff. Diterima saja.


Setelah upacara penerimaan murid baru, kami semua masuk ke dalam kelas. Guru matematika memasuki kelas dan aku tidur sepanjang pelajaran berlangsung─karena kursiku ada di pojok kelas; paling belakang, sendirian tidak dikenal (mungkin) dan tidak mengenal siapa pun (pasti!)─kepala sekolah, wali kelas dan ketua kelas adalah pengecualian─cukup banyak. Tidur adalah cara terbaik mengatasi kebosanan. IQ-ku dibawah 50 jika menyangkut pejaran matematika, aku hampir tidak mengerti apapun yang guru itu katakan. Jadi, aku menyerah di hari pertama aku belajar matematika saat kelas 1 SD. Menurutku di dunia ini kelompok orang yang menyukai pelajaran matematika hanyalah orang-orang berkacamata dan berambut kuncir dua, serta kemeja longgar yang dimasukan ke dalam rok atau celana mereka−atau, gadis cantik yang pintar? Setelah pelajaran matematika berakhir, guru bahasa inggris masuk di jam kedua. Dua jam kemudian, lonceng sekolah berbunyi, aku menyebut bell sekolah dengan lonceng, karena bunyinya terdengar seperti lonceng gereja yang ada di samping rumahku.


“Kau terlambat 1 jam 8 menit hari ini.” Ketua kelas selalu muncul tiba-tiba di dekatku, selalu membuat kaget. “Lain kali jangan diulang!” Lanjutnya. Itulah kenapa dia termasuk dalam daftar orang-orang yang mampu kuingat wajahnya.


“Aku mengerti!” Jawabku sambil menatap keluar jendela. Aku mengerti tapi bukan berarti aku tidak akan terlambat lagi. Ketua kelas meninggalkanku, sepuluh menit lagi pelajaran sejarah, pelajaran membosankan selanjutnya.


Guru sejarah memasuki ruangan, suara sepatunya yang menyentuh lantai menyerupai suara kaki kuda yang berjalan pelan di jalan bersapal. Warna bajunya yang merah mencolok dengan rok pendek selutut berwarna ungu, dari tubuhnya menyebar aroma kuburan. Wajahnya bulat dan matanya pun bulat, memakai kacamata bulat nan besar. Warna lipsticknya merah menyala, rambutnya yang dicukur laki serta poni yang menutupi seluruh alisnya membuat dia terlihat seperti, entahlah. Tapi dia memiliki kulit putih dan tubuh langsing yang indah. Suatu anugrah. Dan aku sangat yakin dia berasal dari zaman pra-kemerdekaan karena sepatu dan tasnya yang luar biasa kunonya, warnanya pudar dan tidak menggairahkan.


“Selamat siang murid-murid.” Sapanya ramah tapi kaku. Dia masih punya masalah dalam penyesuaian diri dengan zaman ini.


“Selamat pagi Bu guru!” Ini memang masih pagi, 11.30 masuk dalam kategori pagi, kan? Guru baru itu tersipu malu dan menutupi wajahnya dengan tas─dia benar-benar punya masalah penyesuain diri.


“Namaku Tiwa!” Pengendalian dirinya cukup bagus.


“HAHAHAHAHA!” Dan tiba-tiba seisi kelas tertawa, apanya yang lucu? Mereka semua terbahak-bahak. Keterlaluan, melihat guru baru itu rasanya sangat kasihan, dia memandangi teman sekelasku dengan mata berkaca-kaca, jelas sekali kalau itu adalah mata orang yang hendak menangis. Namun mereka semua masih tertawa tanpa menghiraukannya. Ini adalah salah satu kasus di mana orang dewasa menyebutnya ‘tidak punya hati’.


“Aku … Tiwa Macdugs” Kata guru baru itu lagi seakan berbisik. Tiwa Macdugs!? Terdengar seperti nama Anjing. Kalau seperti ini akupun akan tertawa, tapi sayang sekali itu bukan hobiku. Karena tertawa membutuhkan energi yang cukup besar. Dan lagi, suara tawa mereka semua semakin kencang saja.


DIAAAAAMMMM!!!!


Akhirnya ada yang melerai. Itu ketua kelas. Seketika kelas menjadi hening, dengan gagah dan penuh percaya diri dia berdiri dan meletakan kedua telapak tangannya di atas meja−seperti dalam drama. “Kalian semua, minta maaf pada ibu Tiwa!” Kata ketua kelas tegas, “Maafkan kami Bu,” lanjutnya lagi sambil menundukan kepala penuh khidmat. Pada akhirnya hanya dia sendiri yang melakukannya. Setidaknya kelas menjadi tenang dan aku bisa keluar dari kebisingan yang mengganggu. Tiwa tersenyum. Wajah terharunya terlihat sangat aneh, seperti sepotong hamburger.


Dua jam berlalu, lonceng terakhir berbunyi. Tiwa mengajar sejarah dengan baik, meskipun beberapa kali dia menjatuhkan spidol di tangannya karena gemetaran. Tapi di akhir pertemuan dia memberikan kami tugas─sial! Padahal aku baru saja memujinya.


“Dan …” Katanya lagi sebelum meninggalkan kelas. “Quinzha Leva ...!”


Dia memanggilku! Pura-pura tidak dengar saja. “Quinzha Leva!” Lagi, ngotot sekali. Kenapa?


“Kau memanggilku?” Tanyaku pura-pura tidak tahu.


“Ya! Aku memanggilmu. Bisakah kau membantuku membawakan buku-bukuku ke ruang guru?” Jawab Tiwa. Kupikir dia baru saja membuat sebuah permintaan padaku, padahal baru bertemu.


“Tidak mau!” Yah kau juga bisa mempertanyakan sedikit tentang kepribadianku. Tapi kenapa dia meminta bantuan padahal saat masuk tadi dia membawa buku-bukunya sendiri. Dia mampu melakukannya meskipun tanpa bantuanku, aneh.


“Ke-kenapa kau tidak mau?” Wajahnya Tiwa membulat.


“Entahlah ...”


“Tapi aku ingin kau membantuku!” Katanya, dia memaksa.


“Kenapa memaksa?”


“Tidak tahu!”


Hah? Apa dia bodoh atau semacamnya? Merepotkan. Tatapan tajam dari semua orang tertuju padaku, mau tidak mau aku pun harus bergerak, kadang-kadang hal seperti itu bisa membuatku risih. “Baiklah!” Aku mengangguk pelan. Lalu kami berjalan berdampingan menuju ruang guru. Aku meletakan buku-bukunya Tiwa di atas meja. Aku bisa mencium aroma parfumnya yang benar-benar tajam, kenapa harus bau kuburan? Mungkinkah ... oh jadi begitu. Jangan-jangan, dia adalah Zombie!


“Terimakasih sudah membawakan buku-bukuku!”


“Ya!” Jawabku sambil mundur beberapa langkah kebelakang dan bersiap-siap untuk kabur. Perempuan dari zaman pra-kemerdekaan, saat dia meninggal mayatnya diawetkan terlebih dahulu lalu beberapa waktu yang lalu seseorang melakukan ritual pembangkitan. Kepala sekolah, dia pasti pelaku utamanya. Dia putus asa mencari guru sejarah pengganti.


“Apa setelah ini kau akan langsung pulang?” Pertanyaan yang mencurigakan. Ini seperti pertanyaan yang diajukan oleh para germo dalam siasat menculik sang gadis yang sedang sendirian di jalan pulang. Aku menggelengkan kepalaku. “Apa yang Leva lakukan setelah ini?”


Dia tahu namaku. Dia zombie sungguh─ah, tentu saja dia tahu. “Belajar!” Jawabku singkat ingin cepat-cepat pergi. Nyawaku dalam bahaya.


“Belajar? Kelompok?”


“Tidak!”


“Lalu … apa?”


“Di kelas tambahan.” Jawabku jujur. Aku mengungkapkan apa saja yang ada di pikiranku ketika orang lain bertanya. Itu karena pikiranku hanya dipenuhi dengan kata ‘ya dan tidak’ dan beberapa kata-kata lainnya yang diperlukan untuk menjawab.


“Kelas tambahan? Kau masuk kelas tambahan?”

__ADS_1


“Ya!”


“Jadi begitu ... pantas saja kau sering terlambat pulang.” Hah? Apa maksudnya? “Kalau begitu aku akan menunggumu!” Katanya sambil tersenyum, senyum yang mencurigakan. Juga, aku tidak mengerti apa yang dia maksud dengan ‘aku akan menunggumu’. Tapi ini benar-benar membuatku semakin curiga. Dia berniat menjadikanku Zombie!


“Ke-kenapa?”


“Tidak apa-apa!” Dia tersenyum lagi. Dasar psikopat. Apa dia tidak memperhatikan perubahan ekspresi takut di wajahku?


“Aku pergi!” Kataku sambil berjalan keluar meninggalkan ruang guru.


“Sampai jumpa!” Aku bisa melihat Tiwa melambaikan tangannya lewat kaca jendela. Aku selamat, tapi tidak aman. Lalu aku kembali ke kelas mengambil tasku.


“Sikapmu, bisakah lebih sopan lagi?” Ketua kelas menghadangku.


“Hmmm?”


“Kau kasar dan tidak punya budi pekerti!” Katanya menceramahiku. Lalu bagaimana dengan yang lainnya yang menertawakan Tiwa? Mereka disebut apa? Dengan wajah polos tak berdosa aku meninggalkan ketua kelas yang dalam keadaan kesal. Orang seperti dia, diabaikan saja. Lalu aku berjalan di koridor sekolah melewati kelas-kelas lain yang mulai kosong menuju ruangan di mana aku akan mendapatkan pelajaran tambahanku. Seorang guru yang belum pernah kulihat berdiri di depan ruang kelas tambahan. Kurasa dia menungguku. Ya ... kelas tambahan adalah kelas di mana orang-orang yang tidak pintar ditempatkan.


“Quinzha Leva?” Sapa sang guru sesaat setelah aku sampai di depan kelas, aku masuk ke dalam kelas dan dia mengikutiku.


“Ya!” Jawabku sambil menaruh tasku di atas meja.


“Kau kesulitan menemukan ruangan ini?” Tanyanya lagi.


“Tidak!” Jawabku.


“Lalu apa kau punya alasan untuk membiarkan kami menunggumu?”


“Aku tidak menyuruh kalian menungguku!”


“Ha ha ha.” Mereka semua menertawai pernyataanku.


“Maksudku … Tiwa menyuruhku membawa buku-bukunya ke ruang guru!” Jelasku. Merepotkan.


“Tiwa?” Tanyanya lagi dan lagi. Dan sepertinya aku harus menjelaskannya. Penjelasanku membutuhkan penjelasan lagi, ini melelahkan.


“Ohhh, panggilan yang bagus!”


“Itu namanya!”


“Ha ha ha.” Mereka tertawa lagi.


“Ooooh!” Kata guru itu singkat, “Aku juga berpikir kau mungkin kesulitan menemukan kelas ini karena tadi aku juga sempat tersesat. Kau tahu ruang ini sedikit terpisah dari ruangan yang lain─dan terpencil!”


“Tidak! Karena tahun lalu aku juga masuk di ruangan ini!”


“HA HA HA HA!” Kali ini mereka tertawa terbahak-bahak, bahkan guru itu pun ikut tertawa. Ada tiga ruangan yang digunakan untuk kelas tambahan di sekolah ini, tapi semuanya terpisah jarak yang cukup jauh satu sama lain, untuk kelas satu, kelas dua dan kelas tiga. Setiap tahunnya kelas yang digunakan berbeda. Hanya kebetulan saja kelas tambahan untuk kelas dua ada di ruangan ini. Kelas yang sama seperti satu tahun yang lalu.


“Oke, kalian bisa tenang sekarang! Kita mulai dengan perkenalan. Namaku Abdul, kalian bisa memanggilku dengan pak Abdul. Bukan ‘Abdul’ nona Leva, tapi ‘pak Abdul’. Aku mengajar Biologi sekaligus sebagai wali kelas kalian di sini. Jadi, kita akan sering bertemu. Mohon kerja samanya!”


Itulah perkenalan singkat dari pak Abdul. Dia mulai mengabsen. Sekarang aku berada dalam kelas tambahan yang pernah ku ikuti tahun lalu, karena beberapa alasan. Kelas ini hanya diikuti oleh murid-murid dengan IQ rendah dan sering absen, yang intinya mereka yang mendapatkan banyak nilai merah di raportnya diwajibkan berada di sini. Sekolahku punya cara lain untuk menangani murid-murid yang kurang pintar─bahasa kasarnya ‘bodoh’. Bukan dengan membuat mereka tertinggal kelas tapi mengikuti kelas tambahan setelah selesai dengan kelas regular. Tentunya hanya sampai nilainya membaik. Setiap tiga bulan sekali diadakan ujian untuk mengukur kemajuan murid-murid di kelas tambahan, yang mendapat nilai di atas 65% sudah tidak diwajibkan lagi untuk mengikuti kelas tambahan, dan sisanya harus tetap di sini sampai benar-benar pintar. Dan aku adalah sejarah baru di sekolah─dua tahun berturut-turut mengikuti kelas tambahan.


Sialnya lagi, sepulang sekolah Tiwa benar-benar menungguku di depan gerbang. Semua mata tertuju padaku. Tepatnya bukan aku yang diperhatikan, tapi Tiwa. Berkat dia, kini aku berada di dalam gejolak masa muda yang tak mudah diatasi, pasalnya aku tidak suka jadi pusat perhatian. Terlebih lagi Tiwa terus berteriak pada dunia sebatas area parkiran sekolah dan gerbang sekolah ‘lihatlah aku’ dengan penampilannya. Dia menghampiriku, aku bersamanya, dari semua orang yang ada di dunia ini kenapa harus aku?


Yang membuatku semakin tidak mengerti adalah kenapa sekarang tubuhku yang sedang lapar ini berada di dalam mobilnya, dalam mobil perempuan zombie yang menjelajahi waktu, “Tiwa Macdugs”. Mungkin karena tadi dia menarik tanganku dan mendorongku masuk ke dalam mobilnya, bukankah itu seperti penculikan? Tapi tidak ada yang menolong meskipun tadi banyak yang memperhatikan, sebagian dari mereka malah tertawa dan menyengir, menyengir yang kumaksud adalah tersenyum karena bingung. Dia membawaku ke mana, aku tidak tahu. Jelasnya dia menyetir mobilnya ke arah rumahku. Kebetulan yang bagus, aku hanya perlu meloncat keluar dari mobil ketika berada di depan rumah, seandainya dia  tidak membawa pistol untuk disodorkan ke kepalaku─atau jika dia tidak mulai memperlihatkan taring penghisap darahnya. Apa zombie punya taring? Ngomong-ngomong, dia tidak berhenti bicara sejak tadi.


“Bahkan anak kecil pun tahu kalau makan nasi itu bisa membuat perut kenyang. Hahaha!” Aahhh. Aku akan gila. “Aku juga suka hompimpa, karena itu permainan yang menyenangkan. Waktu kecil aku sering memainkannya dengan temanku Lia, kami sering ke sungai dan sawah untuk memancing dan kadang-kadang berenang. Apalagi kue donat yang dijual di depan stasiun itu sangat enak, membuatku ingin memakannya saat ini juga. Aku jadi sangat lapar. Dan …” dan bla bla bla bla ... aku tidak mengerti. Sungguh tidak mengerti. Apa sih yang dia bicarakan? Setelah hompimpa─sungai─kue donatdan─MENYEBALKAN!


Setelah sekitar lima menit kami berjalan, mobilnya tiba-tiba berhenti. Ajaibnya, berhenti tepat di depan rumahku. Rencana untuk melompat keluar dari mobil tidak jadi dijalankan, cara aman adalah keluar dengan cara normal. “Kita sampai!” Gumamnya setelah berhenti sejenak bercerita. Dan apa maksudnya ‘kita sampai’? Bukankah dia seharusnya mengatakan ‘kau sudah sampai’ atau ‘apa ini rumahmu?’ atau ‘sebenarnya aku adalah orang yang sangat pandai menebak, jadi ini pasti rumahmu!’ atau ... ‘aku adalah zombie yang punya kekuatan paranormal!’ Dan aku terlalu banyak mengatakan kata ‘atau’.


“Leva, turunlah!” Katanya ramah, aku tidak jadi dimakan?


“Ya!” Jawabku bingung. Aku turun dengan bingung.


“Oke, kalau begitu sampai bertemu lagi!” Katanya. Tiwa mulai menyetir kembali. Meninggalkan halaman rumahku, kemudian mobilnya memasuki pekarangan rumah yang ada di sebelah rumahku dan berhenti di dalam garasi. Tiwa turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah. Mungkinkah ... dia telah membunuh tetanggaku? Aku merasa seluruh bulu kudukku merinding, gawat! Aku dalam bahaya. Buru-buru saja aku masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat.


“Aku pulang!” Sapaku pada ayahku yang sedang menonton TV di ruang tamu.


“Oh Quin, bagaimana harimu?” Tanyanya sekedar menyapa.

__ADS_1


“Seperti biasa!” Jawabku lesu sambil menaiki tangga menuju kamarku. “Quin lagi ...” Protesku.


“Quin itu adalah ratu−”


“Berisik!” Bisikku sambil berlari menaiki tangga meninggalkan ayahku yang masih menjelaskan arti dari Quin, seperti biasanya. Aku membuka pintu kamarku, aku bisa istrahat di duniaku yang tenang sekarang. Tapi, apa-apaan ini? Kamarku benar-benar berantakan. Aku tidak ingat kalau aku meninggalkannya dalam keadaan seperti ini tadi pagi.


“Oh Levann, kau sudah pulang?”


“Kak Leva mau bergabung? Kami sedang−”


“Keluar dari kamarku sekarang!” Kataku tegas. Meskipun terdengar lesu, tapi itu nada tertegas yang kumilki.


“Yakin tidak menyesal?”


“Tidak.”


“Ini penawaran terbatas lho.”


“Keluar.”


“Baik baik. Ayo Qhaza kita tinggalkan biksu kecil ini untuk menyendiri!”


“Membosankan!” Keluh Qhaza sambil melempar bantal di tangannya ke arah jendela. Bersyukur jendelanya tertutup jika tidak aku harus turun dan mengambilnya karena itu bantal yang cukup murah, pasti akan cepat rusak jika dilempar jatuh sejauh tujuh meter ke bawah. Dan dua orang yang barusan ku usir keluar dari kamarku tadi adalah Qarima dan Qhaza. Mereka berdua anak ayah dan ibuku, Lea. Qarima Lavega, dia satu tahun lebih tua dariku. Kami masuk sekolah di tahun yang sama dan ditempatkan di kelas yang sama dan pergi sekolah bersama. Itu hanya terjadi saat kami di sekolah dasar. Tapi sudah tidak lagi.


Saat SD kelas satu, Qarima adalah bunga sedangkan aku adalah rumput, rumput yang diinjak dan diduduki ketika melihat bunga. Dia adalah bunga matahari yang mekar dengan indah, bersinar. Semua menyukainya, dia memiliki banyak teman, dia pintar dan selalu berada di peringkat pertama dan guru-guru memujinya. Qarima sangat populer. Di tengah kepopulerannya aku menjadi semakin tidak populer dan lama kelamaan menghilang. Kemudian di sekolah kami mulai terpisah jarak, jarak dibatasi oleh teman-temannya, dengan sifat kesendirian yang melekat pada diriku yang tidak peduli ketika itu terjadi dan kami mulai jarang ke sekolah bersama sampai akhirnya itu tidak pernah terjadi lagi. Sampai saat ini. Saat ini dia ada di kelas unggulan. Meskipun ceritanya seperti itu, bukan berarti kami tidak akur─kami hanya jarang bicara. Itu terjadi sekian lama, bukan salah siapa pun. Aku tidak suka bicara, sepertinya sejak aku dilahirkan. Dan Qarima punya panggilannya sendiri untukku ‘Levann’ dan kadang-kadang memanggilku ‘biksu’.


Aku masih punya saudara yang lain, Qhaza Dzulfikar. Dia dua tahun lebih muda dariku, ayah mengatakan Qhaza adalah adikku dan Qharima adalah kakakku. Begitu cara orang membaca struktur dalam keluarga, kan? Qhaza orang yang cukup sensitif dengan beberapa hal, dia mudah marah ketika aku menyinggung tentang beberapa barang yang dia sembunyikan. Dia menyimpan banyak majalah perempuan tak berpakaian di dalam kamarnya. Aku mengetahui tentang majalahnya sekitar delapan bulan yang lalu saat aku mencari DVD-ku yang dia pinjam di dalam kamarnya. Hal itu membuatnya cukup kaget, manusia panik ketika dia tersudut. Pikirnya akan menjadi masalah besar jika ibu mengetahuinya. Yang sebenarnya ibu yang pertama kali menemukannya, di bawah tempat tidur. Dan entah kenapa manusia punya kebisaan untuk menyimpan sesuatu yang berharga di tempat yang berada di ‘bawah’.


Qhaza masuk sekolah satu tahun lebih awal, sama sepertiku. Tahun ini dia kelas satu SMA, sementara aku dan Qarima ada di kelas dua. Bedanya, dia juga populer seperti Qarima. Qhaza seorang kapten basket di sekolah, dia mencintai basket sama seperti kecintaannya pada majalah yang ada di kamarnya. Hanya saja dia mencintai basket sejak dia di sekolah dasar dan mencintai majalah sejak dia SMP. Dia cukup pintar seperti Qarima tapi tidak benar-benar pintar seperti Qarima, berada di peringkat kedua dan ketiga setiap tahunnya membuatku menyebutnya ‘cukup pintar’.


Tentang kami yang bersaudara, di sekolah hanya beberapa orang yang tahu. Bukan karena kami menyembunyikannya, hanya saja kami tidak harus mengumumkannya. Bukan hal yang penting dan menarik untuk mengetahui rahasia orang lain, karena sifat dasar manusia adalah hanya tentang dirinya sendiri. Selain itu, kami tidak pernah berangkat bersama ke sekolah juga tidak pernah pulang bersama, itulah kenapa hampir tidak ada seorang pun yang tahu. Kecuali beberapa teman akrabnya Qarima yang berkunjung setiap dua kali dalam satu bulan dan beberapa orang teman setianya Qhaza yang datang hanya untuk bermain games, meskipun aku tidak pernah ingat wajah dan nama mereka seperti apa.


Kembali ke waktu sekarang. Aku tertidur setelah Qhaza dan Qarima keluar dari kamarku tadi siang. Aku tidur hingga jam 6 sore. Dari arah dapur ku cium bau yang sulit dijelaskan, seperti bawang dan biskuit yang dicampur dalam satu wadah. Perempuan itu, kali ini apa lagi yang dia lakukan? Ketika perutku terasa lapar, aku meninggalkan kamar dan berlari menuju dapur. Dan kulihat seluruh anggota keluarga sedang berkumpul di ruang makan.


“Quinzha, kau terbangun?” Apa maksudnya ‘terbangun’? “Kupikir kau akan tidur panjang! Seperti putri tidur!” Kata Ayah. “Duduklah, kurasa kau sedang lapar.”


“Ya,” jawabku sambil duduk di kursi disamping Qhaza.


“Lea hari ini mencoba sesuatu lagi,” bisik Qhaza di telingaku. Aku diam saja menunggu Lea menyajikan makanan di atas meja. Kami memanggil ibu dengan Lea, karena ayah juga memanggilnya Lea.


Setelah dua menit menunggu, Lea akhirnya meletakan masakan yang disebutnya makanan di atas meja. Kami semua menatapnya dengan tatapan kosong yang mengerikan. “Lea, kali ini kau menyebutnya apa?” Ayahku bertanya seperti biasanya.


“Sayur bayam sup biskuit!” Jawabnya dengan bangga sambil tersenyum manis. Bagaimana bisa sayur dan sup berada dalam satu wadah, itu harus menjadi salah satunya sayur ataukah sup. Dan juga, dia baru saja menyebut biskuit yang dijadikan sup?


“Bau bawang,” kataku dengan nada datar.


“SALAH!” Bantahnya tegas. “Itu kulit bawang!”


Woe! Woe! Jelas terdengar yang lainnya dengan serentak bertanya, “KULIT BAWANG!?”


“Hmmm.” Jawabnya dengan anggukan.


“Lalu kenapa warnanya ungu?” Tanya Qarima, karena yang dia sebut sayur dan sup ini berwarna ungu gelap, serta ada beberapa batang tumbuhan yang tak kukenal sedang berenang di dalamnya.


“Tadi pagi di televisi, reporternya mengatakan bunga tulip memiliki manfaat yang bagus untuk kulit. Karena kebetulan kita memilikinya di taman−”


“Lalu kau memasukannya?” Potong Qarima. Jelas warnanya ungu, itu adalah tulip.


“Tentu saja. Bukankah aku jenius?” Sekarang dia menyebut dirinya jenius. Aku percaya kejeniusan Qarima dan Qhaza berasal darinya dan ayah, tapi jeniusnya sedikit berbeda dengan jeniusnya Qharima dan Qhaza.


“He he he!” Qarima tertawa terbata-bata, “Lea berharap kami memakannya? Sudah dicicipi? Bagaimana rasanya?” Tanyanya sinis.


“Hmm.” Lea menimbang-nimbang jawaban.


“Bagaimana rasanya?” Tanya Qhaza antusias.


“Sulit dijelaskan. Tapi setelah mencicipinya, tiba-tiba saja aku ingin muntah! Aneh bukan?” Aneh? Seharusnya dia bersyukur karena tidak mengeluarkan busa di dalam mulutnya. Sial. Pada akhirnya kami hanya memakan nasi dengan saus, tidak ada apa pun yang tersisa di dalam kulkas, kosong. Karena memakan masakannya tidak mungkin, aku khawatir kami sekeluarga akan masuk berita utama besok pagi karena mati akibat keracunan bunga tulip. Itu tidak keren, sama sekali tidak keren.


Hal ini sudah sangat biasa terjadi, Lea seenaknya menciptakan racun baru yang disebutnya ‘resep baru’. Cukup baik jika dia melakukannya siang hari atau malam hari―kami punya cukup waktu untuk menyiapkan makanan yang lain. Sayangnya itu lebih sering terjadi di pagi hari, akan membuat kami terlambat jika menghabiskan waktu untuk mencari makanan yang lain, dan akhirnya kami lebih sering pergi ke sekolah dengan perut kosong. Kesehatan dan kenyamanan keluarga adalah prioritas utama baginya, aku menghargai itu. Tapi yang lebih sering dia lakukan adalah sebaliknya. Seperti saat dia mamasukan racun serangga di kolam air, kolam ikan sehingga ikan-ikan saat itu terkapar menjadi mayat. Juga mencampurkannya di dalam makanan, aku hampir memakannya. Tapi Qhaza menyelamatkanku. “STOP! Jangan memakannya jika tidak ingin berakhir di rumah sakit!” Kurasa bukan di rumah sakit, tapi aku akan berakhir di tanah. Tentu saja niatnya hanya untuk membasmi serangga tapi berakhir menjadi membasmi ‘segala jenis serangga’.

__ADS_1


__ADS_2