
Malam ini Erlan kembali mengajak Lena untuk makan malam diluar. Pria itu memang selalu ingin bisa memberikan yang spesial untuk istrinya. Erlan ingin selalu bisa membuat Lena tersenyum.
“Kita mau kemana?” Tanya Lena saat mereka sudah dalam perjalanan menuju tempat yang ingin Erlan tuju.
“Eum.. Kita makan steak ya sayang. Aku lagi pengin makan steak.” Jawab Erlan yang kali ini sudah menentukan tempat yang akan mereka tuju.
Lena mengangguk pelan. Lena bukan penyuka daging sebenarnya. Apa lagi jika itu adalah steak. Tapi Lena juga tidak mungkin menolak ajakan suaminya. Selama daging tersebut tidak membuatnya merasakan sesuatu yang tidak nyaman Lena tidak keberatan memakan nya. Asal dengan porsi yang tidak terlalu berlebihan.
“Atau mungkin kamu sedang ingin makan yang lain sayang? Aku nggak papa kok kalau memang kamu pengin makan yang lain sayang. Aku ikutin mau kamu.” Senyum Erlan yang enggan memaksakan kehendaknya pada Lena.
Lena tertawa mendengarnya. Suaminya benar benar bukan tipe pria pemaksa. Dia lebih mementingkan perasaan Lena dari pada dirinya sendiri.
“Aku sedang nggak ingin makan sesuatu. Jadi aku yang ikutin apa yang ingin kamu makan. Steak bukan menu yang buruk juga untuk malam ini.” Katanya.
Erlan ikut tertawa. Bersama Lena adalah impian nya sejak dulu. Maka dari itu Erlan akan menjaga dengan baik Lena yang sekarang sudah benar benar menjadi miliknya. Apa lagi Lena juga sudah membalas cintanya. Kehidupan mereka sudah benar benar layaknya suami istri yang saling mencintai dan saling membutuhkan satu sama lain.
“Oke kalau begitu.”
Erlan menambah kecepatan laju mobilnya saat jalanan sudah mulai lenggang. Sesekali dia melirik Lena yang begitu tenang duduk di samping kemudinya. Lena selalu cantik dengan tampilan apapun menurutnya. Apa lagi jika sudah berdandan, kecantikan Lena benar benar bertambah berlipat lipat. Dan itu membuat Erlan rasanya tidak ingin memalingkan pandangan nya. Menatap wajah cantik dan polos istrinya membuat Erlan merasa tenang. Bahkan sejak memiliki Lena, Erlan juga merasa lebih dekat dengan Tuhan. Erlan selalu merasa sangat bersyukur dalam keadaan apapun.
Tidak lama kemudian mereka sampai di restoran yang sebelumnya juga pernah mereka datangi.
Erlan turun lebih dulu dari mobil kemudian membukakan pintu mobil untuk Lena.
“Silahkan tuan putri..” Canda romantis Erlan tersenyum manis pada Lena.
Lena tertawa merasa geli dengan candaan suaminya. Dia menerima uluran tangan Erlan dan turun dari mobil mewah Erlan dengan sangat percaya diri. Jika dulu pernah ada yang berkomentar pedas tentang penampilan sederhananya, kali ini Lena yakin itu tidak akan terjadi lagi. Karena sudah berusaha berpenampilan sebagaimana layaknya istri seorang pengusaha kaya raya seperti Erlan.
__ADS_1
“Kita masuk sekarang sayang?” Tanya Erlan.
“Oke..” Angguk Lena yang kemudian melingkarkan tangan nya di lengan Erlan. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam restoran yang begitu banyak pengunjung malam ini.
Erlan memilih tempat duduk yang berada di tengah para pengunjung lain. Mereka berdua duduk berhadapan dengan Erlan yang seolah tidak bisa memalingkan wajahnya dari Lena.
Lena yang terus di tatap oleh Erlan menjadi salah tingkah. Wanita itu diam diam memperhatikan penampilan nya sendiri khawatir jika ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Lena tidak ingin membuat Erlan malu lagi. Dia ingin bisa berpenampilan selayaknya istri seorang Erlan Dallin Harrison yang terkenal kaya itu.
Erlan yang menyadari gerak gerik Lena tertawa geli. Pria itu meraih tangan Lena dan menggenggamnya lembut.
“Nggak ada yang salah sama penampilan kamu sayang. Kamu cantik bahkan sangat. Itu sebabnya aku nggak ingin menoleh kearah manapun sekarang.” Ujar Erlan menatap Lena dengan penuh perhatian.
Lena tersipu malu mendengarnya. Erlan selalu berlebihan jika memujinya.
“Jangan bikin aku besar kepala kenapa sih?” Lirih Lena malu.
Lena melengos dengan senyuman yang dia tahan. Di puji setiap saat oleh Erlan membuatnya merasa terbang.
Tidak ingin membuat istrinya semakin salah tingkah, Erlan pun memilih untuk memanggil pelayan di restoran itu kemudian memesan steak untuk dirinya dan Lena.
Selama menunggu pesanan mereka datang, mereka berdua tidak mengobrol apapun. Erlan asik sendiri dengan dunianya menatap memuja pada Lena. Sedangkan Lena, dia berusaha bersikap tenang meski Erlan terus saja menatapnya.
“Pesanan nya tuan, nyonya..” Seorang pelayan datang dan menaruh dengan sopan santun pesanan Erlan di atas meja. Dan kedatangan pelayan yang mengantar pesanan Erlan membuat Lena merasa sangat terselamatkan dari tatapan keterlaluan suaminya.
“Selamat makan..” Senyum Lena.
“Selamat makan sayang...” Balas Erlan tersenyum.
__ADS_1
Mereka berdua kemudian menikmati makan malam mereka dengan Erlan yang sesekali memperhatikan Lena.
“Erlan, bisa tidak kamu berhenti menatapku seperti itu? Aku seperti seorang tersangka disini.” Ujar Lena yang lama lama merasa gerah karena terus terusan di tatap oleh Erlan.
“Ya kamu memang seorang tersangka sayang.. Kamu bahkan pernah menjadi buronan hatiku selama bertahun tahun. Dan sekarang kamu tidak akan pernah bisa keluar lagi dari penjara di hatiku untuk selamanya. Aku akan menguncinya dan memastikan kamu selalu aman di hatiku.”
Lena menahan senyum mendengarnya. Mulut Erlan sangat manis. Pria itu sangat pandai berkata romantis setiap saat.
“Dasar tukang gombal.” Cibir Lena pelan.
Erlan hanya tertawa saja. Pria itu kembali menyantap makanan nya dan tetap memperhatikan Lena sesekali.
Karena terus di perhatikan oleh Erlan, waktu makan Lena pun menjadi lebih lambat. Lena merasa sedang di kuliti karena tatapan memuja suaminya. Sudah berkali kali protes tapi Erlan tetap saja menatapnya seperti itu yang akhirnya membuat Lena pasrah saja. Yah.. Suaminya memang lumayan bandel.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Erlan pun mengajak Lena untuk pergi dari restoran tersebut. Namun Erlan tidak langsung mengajak Lena untuk pulang. Pria itu mengajak istrinya ke taman lebih dulu. Taman yang memang sangat sepi karena hanya ada mereka berdua disana.
“Erlan, kenapa disini sepi sekali?” Tanya Lena sambil menatap ke sekitar. Lena juga menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri memastikan apakah di taman itu ada orang lain atau memang benar hanya ada dirinya dan Erlan saja.
Erlan meraih pinggang Lena dan menariknya dengan lembut sehingga tubuh mereka saling menempel.
Lena yang terkejut dengan apa yang suaminya lakukan pun langsung menatap tepat kedua mata Erlan yang menatapnya.
“Kamu takut hem?” Tanya Erlan menatap Lena dalam.
Lena menelan ludahnya. Tatapan Erlan selalu berhasil menembus ke bagian paling kecil dalam hatinya. Hal itu yang selalu membuat Lena tidak bisa menolak pesona tampan suaminya.
Sesaat mereka saling terdiam dan menatap satu sama lain. Lena yang harus sedikit mendongak menatap Erlan, sedang Erlan yang harus sedikit menunduk untuk menatap wajah cantik istri yang sangat di cintainya.
__ADS_1