SAYANG

SAYANG
Episode 109


__ADS_3

Besok paginya, Erlan benar benar mengajak Lena untuk memeriksakan kesehatan nya kerumah sakit. Lena sudah menolak namun Erlan tetap meyakinkan Lena bahwa dirinya tidak apa apa melakukan pemeriksaan kesehatan itu.


“Erlan, kita tidak perlu memeriksakan keadaan kamu. Sungguh aku tidak bermaksud apa apa memeriksakan keadaanku kemarin Erlan. Aku...”


“Nggak papa sayang.. Kan biar adil, kamu periksa aku juga harus periksa. Kan kalau sudah jelas bagaimana keadaan nya kita bisa sama sama cari solusi yang terbaik. Bukan begitu?” Sela Erlan berkata dengan lembut pada Lena.


Lena menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin jika sampai Erlan benar benar memeriksakan keadaan nya.


“Tapi aku..”


“Sayang..” Erlan kembali menyela ucapan Lena dengan sangat lembut. Kali ini Erlan juga meraih tangan Lena dan menggenggamnya lembut berusaha untuk menenangkan Lena.


Lena menelan ludah. Saat ini mereka masih di dalam mobil namun sudah berada di depan rumah sakit tempat Erlan berniat memeriksakan dirinya.


“Aku nggak papa... Ini semua aku lakukan atas kemauan aku sendiri oke? Kamu tidak perlu seperti ini. Aku akan tetap memeriksakan diri aku sayang..”


Lena menggeleng. Erlan benar benar sangat keras kepala sekarang. Pria itu sama sekali tidak goyah dengan keinginan nya meski Lena sudah memasang wajah memelas.


Merasa kesal karena Erlan yang tidak mau mendengarkan nya, Lena pun melepaskan genggaman tangan Erlan dengan sedikit kasar. Dan hal itu membuat Erlan terkejut. Namun Erlan tetap diam dengan tenang.


“Kamu kenapa sih nggak mau dengerin aku? Aku itu nggak mau kamu memeriksakan kesehatan kamu. Aku percaya kamu baik baik saja. Aku akan dengan sabar menunggu kehamilan aku. Aku sadar apa yang aku lakukan kemarin itu salah. Aku sudah nggak sabar. Aku terlalu menuruti ego aku..” Marah Lena dengan kedua mata berkaca kaca.

__ADS_1


Erlan menghela napas. Erlan tidak sedikitpun merasa terpaksa dengan apa yang akan dia lakukan. Justru dengan apa yang sudah Lena lakukan itu membuatnya sadar. Erlan seharusnya melakukan itu sejak dulu.


“Sayang aku..”


“Nggak, aku nggak mau dengerin apapun yang kamu katakan Erlan. Pokonya aku mau kita pulang sekarang. Atau aku marah dan nggak mau ngomong sama kamu.” Erlan menggeleng keras menyela apa yang ingin Erlan katakan. Lena benar benar tidak ingin Erlan membantah nya kali ini. Lena ingin mereka kembali pulang kerumah dan Erlan mengurungkan niatnya untuk melakukan apa yang memang tidak seharusnya Erlan lakukan menurut Lena.


Erlan kembali mengukir senyuman manis di bibirnya. Semenjak mereka hidup bersama ini kali pertama Lena menberontak padanya. Padahal saat pertama membuka mata di atas ranjangnya saja Lena masih bisa tenang meski dalam hati yang sangat ketakutan. Tapi sekarang Lena begitu sangat emosi dan tidak bisa sedikitpun menahan nya. Dan itu Erlan anggap sebagai kemajuan pesat dalam hubungan nya dengan Lena yang semakin hari memang semakin dekat dan intim.


“Ya sudah kalau memang kamu maunya begitu. Kita pulang sekarang. Tapi kamu jangan marah marah yah.. Kamu harus tenang. Oke?” Erlan pun memilih untuk menuruti kemauan keras Lena untuk kembali pulang. Erlan juga tidak mau jika sampai hubungan nya dan Lena menjadi tidak baik hanya karena Erlan menuruti egonya sendiri.


Erlan kembali meraih tangan Lena. Lena tidak menolak. Bahkan dia hanya diam saat Erlan mengecup lembut punggung tangan nya.


“Kita pulang yah..” Senyum Erlan kemudian menghidupkan kembali mesin mobilnya. Erlan melajukan mobil mewahnya berlalu dari parkiran rumah sakit. Erlan tidak mau Lena benar benar merajuk padanya.


Dalam waktu yang cukup singkat mobil Erlan sampai di depan kediaman mewahnya. Pria itu segera mengajak Lena turun. Karena Lena yang sedang dalam keadaan hati yang tidak baik, Erlan pun akhirnya memutuskan untuk tinggal dan menemani Lena. Namun seperti biasanya, Erlan menghubungi Kenzie untuk memberitahu tangan kanan nya itu perihal tentang dirinya yang tidak bisa lebih dulu ke perusahaan. Erlan juga menyerahkan sepenuhnya segala urusan pekerjaan pada Kenzie hari ini.


Kini mereka sudah berada di atas ranjang. Berbaring bersama dengan Lena yang berada di dalam dekapan hangat Erlan. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir keduanya. Erlan yang terus mengusap usap lembut punggung Lena, sedang Lena yang fokus mendengarkan irama detak jantung suaminya.


Lena menghela napas pelan. Rasa bersalah itu masih merayapi hati Lena karena apa yang sudah dia lakukan kemarin bersama Sasha. Andai saja Lena bisa lebih bersabar dan menahan diri, mungkin Erlan tidak akan begitu ngotot ingin memeriksakan dirinya ke dokter.


Mendadak apa yang Sasha katakan dengan panjang lebar padanya di rumah sakit kembali terngiang di telinga Lena. Semua yang Sasha katakan kemarin seakan menampar Lena dengan keras. Padahal selama ini Lena sangat ahli dalam menguasai dirinya sendiri. Lena selalu bisa menahan amarah dan tentunya bisa sabar dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi padanya. Tetapi kemarin Lena gagal melakukan itu. Lena bahkan tidak terpikir untuk sabar. Yang Lena pikirkan hanya kenapa dirinya sampai tidak kunjung hamil padahal sudah menikah cukup lama dengan Erlan. Hubungan mereka memang sempat dingin dengan tidak adanya kontak fisik layaknya suami istri. Tapi itu hanya sebentar karena tidak lama Lena pun luluh dan jatuh cinta pada Erlan karena sikap lemah lembut pria itu.

__ADS_1


Lena kemudian melepaskan diri dari pelukan hangat Erlan dengan sangat pelan. Dia menatap tepat pada kedua mata Erlan yang juga menatapnya.


“Kenapa sayang?” Tanya Erlan penuh perhatian.


Mendengar suara lembut suaminya kedua mata Lena terasa memanas. Air mata sudah menggenang disana yang jika Lena menggerakan sedikit saja matanya tetesan bening itu pasti akan meluncur dengan bebas.


“Aku minta maaf..” Lirih Lena dengan suara bergetar.


Erlan tersenyum sembari menghembuskan napasnya pelan. Pria itu tidak menganggap salah apa yang sudah Lena lakukan. Khawatir karena tidak kunjung hamil di usia pernikahan yang sudah cukup lama itu adalah hal yang sangat lumrah. Erlan yakin bukan hanya Lena wanita yang merasa was was, tapi juga wanita di luar sana. Bahkan sekarang Erlan juga ikut merasa was was khawatir jika ternyata dirinya lah yang menjadi kendala sehingga sampai sekarang Lena belum juga kunjung hamil.


“Kamu nggak salah sayang. Kamu nggak perlu minta maaf. Aku paham dan aku juga maklum dengan apa yang kamu lakukan.”


Jeda sejenak. Erlan mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat bibir Lena yang terasa panas.


“Kita hanya harus lebih giat berusaha dan berdo'a. Tuhan pasti akan mendengarkan do'a kita. Kamu akan hamil dan kita akan menjadi sepasang orang tua yang bahagia. Oke?” Lanjut Erlan.


Lena tersenyum haru. Erlan selalu bersikap tenang dalam menyikapi segala sesuatu. Bahkan saat dirinya marah tadi Erlan juga tetap tenang dan tetap tersenyum begitu manis padanya.


“Aku.. aku...”


Cup

__ADS_1


Sekali lagi Erlan mengecup lembut bibir Lena. Namun kali ini bukan hanya menempel saja. Erlan memperdalam ciuman nya dengan lembut yang membuat Lena hanya bisa pasrah saja menerima ciuman nya.


“Sshhtt... Jangan menyalahkan diri sendiri sayang..” Ujar Erlan melepaskan ciuman nya sebentar kemudian kembali memagut bibir Lena.


__ADS_2