SAYANG

SAYANG
Episode 70


__ADS_3

Malamnya Melisa di buat tidak bisa tidur karena terus memikirkan apa yang Alex lakukan untuknya. Bagaimana tidak? Alex yang notabene nya adalah pria yang tidak pernah perduli pada siapapun tiba tiba begitu sangat perduli padanya bahkan sampai tidak sungkan mengeluarkan uang yang tidak sedikit agar David tidak di tuntut oleh keluarga dari Bagas, teman sekelas yang dia pukuli karena sudah menghina dan merendahkan Melisa.


Melisa menghela napas kasar kemudian bangkit posisi berbaringnya. Wanita itu benar benar tidak bisa berhenti memikirkan apa yang Alex lakukan untuknya dan David hari ini. Yang lebih membuat Melisa bingung lagi adalah Alex yang mengantarnya dan David pulang. Bahkan Alex memberi izin secara langsung pada Melisa pulang lebih cepat karena dirinya sendiri yang mengantarkan.


“Ya Tuhan.. Semoga saja tidak akan ada masalah baru yang muncul setelah ini. Hamba benar benar tidak mau jika harus berhadapan dengan orang orang seperti keluarga pak Alex yang sangat kaya raya.” Melisa bergumam dalam hati. Melisa tidak ingin sedikitpun berurusan dengan keluarga Alex.


“Aku akan cicil semua uang yang sudah pak Alex keluarkan untuk membiayai bagas. Aku akan menggantinya. Aku nggak ingin berhutang begitu banyak pada pak Alex.. Karena nyonya Sherin pasti akan salah paham dan menuduh aku yang tidak tidak. Dia sangat membenciku dan mengira aku berniat merebut pak Alex darinya.”


Melisa kembali menghela napas namun kali ini dengan perlahan. Melisa masih tidak habis pikir dengan sikap baik Alex hari ini. Bukan tidak berterimakasih. Melisa hanya takut apa yang terjadi hari ini adalah akar dari segala masalah yang akan menghampirinya.


Krekeet...


Suara pintu yang di buka dengan pelan membuat Melisa langsung menoleh. Bayangan tinggi tegap David terlihat dengan jelas di ambang pintu karena sorotan lampu dari ruang tengah.


“Kak.. Kakak belum tidur?” Tanya David pelan.


Melisa tersenyum meskipun David tidak bisa melihatnya karena memang Melisa sudah mematikan lampu di kamarnya. Melisa kemudian menurunkan kedua kakinya dan bangkit dari ranjang melangkah menghampiri David yang dia yakini masih merasa sangat menyesal dengan apa yang sudah terjadi hari ini.


“Ada apa? Kamu sendiri kenapa belum tidur hem? Ini sudah malam. Besok kamu harus sekolah.” Senyum Melisa menatap wajah sendu David.

__ADS_1


David menggelengkan kepalanya.


“Aku nggak bisa tidur kak. Aku khawatir sama kakak.. Aku takut mamah sama papahnya Bagas nuntut kakak karena apa yang sudah aku lakukan.”


Melisa menghela napas kemudian berdecak pelan. Adiknya melakukan itu karena kalap dan tidak bisa menahan emosi. David membela harga diri Melisa sebagai kakak yang sangat di sayanginya. Dan Melisa sangat terharu dengan apa yang David lakukan untuknya.


“Sudah nggak papa.. Yang penting kamu jangan mengulangi lagi ya.. Semuanya sudah beres. Mamah papahnya Bagas begitu baik sama kita. Dia nggak menuntut kita. Lebih baik sekarang kamu istirahat dan tenangkan pikiran kamu. Cuma satu yang kakak minta sama kamu David. Belajarlah untuk mengontrol emosi kamu. Jangan gegabah dalam melakukan sesuatu dan belajar yang serius yah.. Supaya kamu bisa sukses di kemudian hari.” Ujar Melisa membelai lembut pipi tirus David.


David tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan mantap.


“David janji kak. David akan menjadi orang yang sukses suatu hari nanti. David akan membuat kakak bangga.” Balasnya.


“Ya kak.. Selamat malam juga.”


Setelah membalas ucapan selamat malam dari Melisa, David pun memutar tubuhnya kemudian berlalu menjauh dari Melisa yang hanya bisa tersenyum menatap punggung David di ambang pintu kamarnya.


Setelah memastikan David masuk ke dalam kamarnya, Melisa pun kembali masuk juga ke dalam kamarnya lalu menutup pintu. Melisa juga berniat istirahat dan melupakan apa yang terjadi hari ini. Melisa merasa dirinya harus fokus dan lebih giat lagi bekerja agar secepatnya bisa melunasi uang yang Alex keluarkan untuk keluarga Bagas juga biaya ruman sakit Bagas. Tidak perduli seberapa pun besarnya. Melisa yakin dirinya bisa mengembalikan uang itu meski dengan cara di cicil.


-----------

__ADS_1


Di kediaman mewah Erlan, tuan besar Harrison sedang memperhatikan Erlan dan Lena dari balkon kamarnya dan Natasha. Siapapun tau tanpa harus mencari tahu dan cukup dengan melihat saja bahwa Erlan begitu sangat mencintai Lena. Tidak heran jika Erlan bahkan berani melawannya dan Natasha dan tetap nekat menikahi Lena yang menurut tuan besar Harrison juga Natasha tidak jelas asal usulnya. Mereka berdua menganggap Lena hanya wanita tidak punya apa apa yang haus akan tahta dan harta dan berniat menguasai harta Erlan. Namun setelah diam diam tuan besar Harrison selalu mengawasi Lena, perlahan pemikiran buruk tentang Lena berubah. Tuan besar Harrison bahkan sekarang yakin bahwa Lena sama sekali tidak tertarik dengan tahta yang Erlan miliki. Hal itu terlihat jelas dari bagaimana Lena bersikap baik saat ada Erlan atau tidak ada Erlan. Lena juga selalu bersikap apa adanya bahkan tidak sungkan membuatkannya dan Natasha suguhan meski Natasha selalu bersikap ketus dan kasar padanya.


Tuan Harrison menghela napas pelan. Erlan memang keras kepala semenjak tumbuh dewasa. Namun itu juga karena kekangan Natasha yang ingin selalu Erlan menuruti apa yang Natasha mau.


Mendadak tuan Harrison ingin melihat Natasha dan Lena kompak. Karena meskipun mereka berdua berasal dari asal yang berbeda namun tuan besar Harrison yakin keduanya sama sama memiliki hati yang tulus dalam mencintai pasangannya.


Sambil terus memperhatikan Erlan dan Lena yang sedang bersenda gurau di tepi kolam tenang dengan begitu mesra, tuan besar Harrison pun mencoba memutar otak mencari cara bagaimana agar Lena dan Natasha bisa akrab seperti apa yang dia bayangkan.


“Apa pemikiran kita sama kali ini?”


Suara Natasha membuat pemikiran tuan besar Harrison buyar. Pria itu menoleh menatap istrinya yang tiba tiba sudah berada di sampingnya.


“Tentang apa?” Tanya tuan Harrison mengeryit bingung.


“Tentang istri tercinta anak kamu. Aku yakin Lena itu hanya pura pura baik. Dia hanya pura pura polos. Karena sebenarnya yang dia inginkan hanya harta Erlan.” Jawab Natasha membalas tatapan bingung suaminya, tuan besar Harrison.


“Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu tentang Lena?” Tuan besar Harrison kembali bertanya.


“Karena Lena adalah perempuan yang tidak jelas bibit bobotnya. Bahkan dia tidak punya keluarga satupun. Aku yakin semua ini adalah bagian dari rencana liciknya. Erlan memang keras kepala. Dia bahkan berani melawan kita berdua hanya karena perempuan itu.”

__ADS_1


Tuan besar Harrison hanya diam saja. Seperti biasanya, istrinya memang selalu bisa mengatakan sesuatu disertai dengan alasan yang menurutnya selalu benar. Biasanya tuan Harrison akan diam dan mengiyakan saja. Tapi tidak untuk kali ini karena pemikiran pria itu tentang Lena mulai berubah.


__ADS_2