SAYANG

SAYANG
Episode 187


__ADS_3

Karena rasa khawatirnya yang begitu sangat besar, Alex sampai mengemudikan mobilnya dengan membabi-buta. Pria itu menerobos lalu lintas bahkan sampai beberapa kali hendak menyerempet kendaraan lain serta para pejalan kaki.


Tidak ada sedikitpun rasa takut akan terjadi sesuatu pada dirinya sendiri pada Alex. Yang sedang dia pikirkan sekarang hanya bagaimana keadaan putranya sekarang. Alex takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Alex takut kehilangan putranya, Arkana.


Dalam waktu singkat Alex sudah sampai di apartemen nya. Dia langsung mencari putranya yang ternyata sedang menangis di gendongan bibi.


“Huaaa.. Mam mam mah... Mamah..” Tangis Arka yang terus saja menyebut nyebut nama mamah. Balita berbadan gembul itu bahkan terus meronta ronta dalam gendongan bibi dan menolak di berikan photo Sherin. Padahal biasanya jika sedang rewel, Arkana akan langsung anteng jika di beri photo Sherin.


Tidak tega melihat putranya yang menangis, Alex pun bergegas mendekat pada bibi. Dia dengan sigap mengambil alih Arkana dari gendongan bibi.


“Apa yang terjadi bi? Kenapa Arka bisa demam secara tiba tiba?” Tanya Alex sambil mengusap usap punggung Arka yang langsung bersandar di bahunya sembari menangis begitu pilu.


“Saya juga tidak tau tuan. Tiba tiba tuan muda menangis sambil terus memanggil manggil mamah. Badannya juga mendadak panas.” Jawab bibi menjelaskan.


Alex berdecak. Tanpa mengatakan apapun lagi, Alex pun akhirnya membawa Arkana berlalu dari hadapan bibi. Pria itu berniat membawa Arkana ke rumah sakit untuk di periksa. Karena memang badan Arkana sangat panas.


Alex mengemudikan mobilnya sambil menggendong Arkana yang kemudian terlelap. Beberapa kali Alex menghela napas tidak habis pikir dengan keadaan Arkana yang tiba tiba memburuk.


Tidak sampai setengah jam, Alex pun sampai di rumah sakit. Pikiran nya benar benar sangat kacau sekarang.


“Bagaimana dokter?” Tanya Alex setelah Arkana di periksa oleh dokter.


Dokter itu menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Alex mengenai keadaan Arkana.

__ADS_1


“Demamnya cukup tinggi tuan. Kalau boleh tau sejak kapan pasien demam?”


“Baru tadi pagi dokter.”


Dokter itu mengangguk. Dia paham dan mengerti dengan keadaan balita bertubuh gembul itu.


“Demi kebaikan pasien, saya menyarankan untuk sementara pasien rawat inap dulu. Setidaknya sampai demamnya turun tuan. Karena demam yang di derita anak anda cukup tinggi.” Saran dokter itu.


Alex menelan ludah. Dia benar benar tidak menyangka putranya akan mendadak demam bahkan sampai harus rawat inap di rumah sakit karena demamnya yang sangat tinggi. Dan mendengar saran dokter, Alex tidak punya pilihan selain menyetujui saja apa yang dokter tersebut sarankan.


Arkana pun akhirnya di rawat di rumah sakit yang juga membuat Alex tidak bisa bekerja hari ini. Alex terpaksa menyerahkan semua urusan perusahaan pada sekretaris nya. Alex bahkan sampai membatalkan pertemuan dengan beberapa rekan bisnisnya karena tidak mungkin jika Alex meninggalkan Arkana yang sedang sakit sendirian tanpa penjagaan.


“Hey.. Kamu tidak seharusnya memanggil manggil nama dia. Dia sudah tidak ada. Yang kamu punya hanya papah, Oma, dan opa. Kamu tidak perlu memikirkan yang lain lagi.” Gumam Alex sambil mengusap usap pipi gembul Arkana yang memerah karena demamnya. Balita itu terlelap dengan tenang diatas brankar. Bahkan saat dokter memeriksa keadaan nya Arkana juga tetap terlelap dengan tenang.


“Bagaimana keadaan cucu mamah?” Tanya nyonya besar Smith begitu sampai di samping brankar tempat Arkana berbaring. Wanita itu bahkan langsung mencium dan mengusap kening Arkana yang terasa sangat panas.


Alex hanya bisa menghela napas. Pria itu sendiri merasa bingung dengan keadaan putranya sekarang. Apa lagi saat Alex sampai di rumah juga Arkana menangis sambil memanggil manggil mamah yang artinya Arkana menginginkan kehadiran Sherin di sampingnya sekarang. Itu tentu saja tidak akan pernah bisa karena Sherin sudah tidak ada lagi di dunia ini.


“Huaa... Mam mam mam mah...” Karena sentuhan nyonya besar Smith, Arkana pun terusik dari tidur lelapnya. Balita itu langsung menangis menjerit. Wajahnya yang semula sudah tidak lagi memerah kini kembali memerah karena menangis. Arkana bahkan langsung berusaha bangkit dari berbaring nya dan hendak turun sendiri dari atas brankar jika saja Alex tidak dengan sigap langsung meraih tubuhnya.


“Sshhttt.. Jagoan papah.. Tenang ya sayang.. Papah disini..” Alex mulai berusaha menenangkan Arkana yang menangis di gendongan nya.


“Papah.. Mam mam mah..” Arkana terus menangis sambil menunjuk ke sudut ruangan. Air mata langsung membasahi wajah gembul nya.

__ADS_1


“Ya sayang.. Iya.. mamah mamah yah..”


Alex rasanya akan ikut menangis mendengar Kepiluan putranya yang terus saja memanggil manggil mamahnya yaitu Sherin. Pria itu sangat bingung sekarang. Arkana seperti sedang sangat membutuhkan sosok seorang ibu sekarang. Tapi itu sangat mustahil mengingat Sherin saja sudah tidak ada lagi di dunia ini.


Nyonya besar Smith yang juga merasa sangat tidak tega melihat cucunya yang menangis ikut meneteskan air matanya. Wanita itu merasa sangat tersentuh melihat Arkana yang menangis sambil terus menyebut mamah.


Tidak tau harus berbuat apa, nyonya besar Smith pun memilih untuk diam menunggu sampai Arkana tenang di gendongan Alex.


“Mam mam mamah pah.. Mamah.. Huaaaa..!!”


“Iya ya sayang.. Nanti kita ke mamah yah.. Jagoan nya papah nggak boleh nangis.. Cup cup cup.. Anak hebat harus kuat.. Oke..”


Alex terus berusaha menenangkan putranya yang kemudian langsung diam dan menatap Alex dengan wajah polosnya.


“Alex...” Lirih nyonya besar Smith dengan suara bergetar. Wanita itu bisa merasakan apa yang sedang di rasakan oleh cucunya sekarang. Karena memang seberapa keras pun usaha Alex selalu ada di samping Arkana, sosok yang sangat di butuhkan oleh balita itu tetap lah sosok seorang ibu.


Setelah hampir 20 menit menenangkan Arka, akhirnya balita itu pun kembali terlelap. Alex yang merasa tidak tega membaringkan putranya di atas brankar memutuskan memangku putranya yang sedang terlelap sementara dirinya duduk diatas sofa panjang yang berada di seberang brankar tempat Arkana tadi berbaring.


Nyonya Smith perlahan mendekat dan duduk tepat di samping Alex. Wanita itu menghela napas sembari menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya.


“Apa sebaiknya kamu menikah lagi saja? Mungkin Arkana membutuhkan sosok seorang ibu nak..”


Alex diam. Tidak ada sedikitpun niat dalam benaknya untuk menikah sekarang. Yang Alex pikirkan hanya bagaimana dirinya memberikan yang terbaik untuk putranya. Ada pun harapan nya bisa dekat kembali dengan Melisa tidak sampai ke tahap ingin menikahi wanita itu.

__ADS_1


“Sudahlah mah, tidak perlu membahas tentang pernikahan. Alex hanya ingin bahagia bersama Arkana. Itu saja.” Balasnya pelan.


__ADS_2