
“Kakak baik baik saja kan?”
Melisa berhenti mengunyah nasi goreng dalam mulutnya ketika David bertanya padanya. Wanita itu kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Ya.. Kakak nggak papa.” Jawab Melisa dengan senyuman. Melisa berbohong sebenarnya. Karena pagi ini sebenarnya Melisa sedang merasa tidak baik baik saja. Hatinya dan terluka dan pikirannya tidak tenang. Tubuhnya pun terasa pegal pegal akibat dari pemaksaan yang Alex lakukan semalam padanya.
“Kakak selalu mengajarkan pada David dan Farid bahwa berbohong itu tidak baik. Sejak TK bu guru juga mengatakan itu. Kita harus selalu jujur apapun alasannya.” Ujar David yang berhasil membuat Melisa merasa tersindir. Tapi Melisa tidak akan marah karena memang yang adiknya katakan itu benar. Melisa selalu mengajarkan tentang kejujuran pada kedua adik laki lakinya. Tapi Melisa sendiri berbohong sekarang bahkan sering. Dan semua itu Melisa lakukan agar mereka berdua tidak tau apa yang Melisa alami dan rasakan karena Alex, atasannya.
“David harap kakak juga selalu menerapkan apa yang kakak ajarkan pada David dan Farid.” Lanjut David.
Melisa hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Melisa tidak tau harus berkata apa sekarang.
“Lebih baik sekarang kalian habiskan sarapan kalian nanti kalian telat ke sekolah.”
“Ya kak..” Sahut David dan Farid kompak. Mereka berdua pun kembali menyantap nasi goreng di piringnya.
Sedangkan Melisa, dia hanya bisa tersenyum kecut. Terlalu banyak sudah kebohongan yang dia lakukan pada kedua adiknya. Melisa hanya bisa berharap semoga kedua adiknya akan mengerti dirinya.
Selesai sarapan, mereka bertiga pun saling berpamitan. Melisa yang akan berangkat bekerja dan kedua adiknya yang akan berangkat ke sekolah.
Di dalam taksi dalam perjalanan menuju kantor Melisa terus saja memikirkan apa yang harus dia lakukan. Melisa ingin sekali berlari menjauh dari Alex, tapi itu tidak mungkin. Alex pasti tidak akan melepaskannya begitu saja.
Deringan ponsel yang ada di dalam tas kecil Melisa membuat segala apa yang sedang Melisa pikirkan buyar seketika. Melisa segera merogoh tasnya mengeluarkan benda pipih berkesing ke emasan itu.
Melisa mengeryit. Tidak ada kontak nama pada nomor yang saat itu terpampang di layar ponselnya.
“Siapa yah?” Gumam Melisa bingung. Karena penasaran, Melisa pun segera mengangkat telepon tersebut.
“Haloo..”
__ADS_1
“Ya.. Saya Sherin. Temui saya siang ini. Saya akan kirim alamatnya nanti.” Sahut seorang di seberang telepon yang ternyata adalah Sherin, istri dari atasannya Alexander.
“Tapi nyonya saya...”
Tut tut tut...
Belum selesai Melisa berbicara, Sherin sudah lebih dulu menutup telepon. Itu sebagai tanda bahwa Sherin sama sekali tidak mau menerima penolakan dari Melisa untuk bertemu.
Melisa menghela napas. Dia sudah bisa menebak apa yang ingin Sherin bicarakan padanya. Tentu saja itu tidak jauh jauh dari apa yang Alex lakukan padanya semalam.
Melisa kemudian membuang pandangannya ke jalanan ramai yang sedang di lewatinya pagi ini. Melisa tidak pernah menginginkan sedikitpun mempunyai sangkutan dengan Alex maupun Sherin jika itu tidak berhubungan dengan pekerjaan. Tapi apa yang Alex lakukan padanya membuat Melisa tidak bisa lepas begitu saja dengan mudah. Apa lagi Alex juga selalu saja mengancamnya. Ancaman yang tidak tanggung tanggung yaitu memecat Melisa dengan sangat tidak hormat. Dan akibatnya pasti akan sangat fatal. Melisa akan susah mencari pekerjaan dimanapun.
“Ya Tuhan... Kenapa semua ini harus terjadi pada hamba..” Batin Melisa memejamkan kedua matanya merasa sangat frustasi sendiri.
Akibat terus memikirkan apa yang di alaminya, Melisa pun menjadi tidak semangat bekerja. Bahkan Melisa beberapa kali marah marah pada office boy yang tidak sengaja membuat kesalahan sedikit. Beruntungnya Alex sedang tidak ada di tempat sehingga Melisa tidak perlu bertemu dengan pria brengsek yang sudah merenggut kehormatannya secara paksa itu.
Melisa berdecak pelan. Melisa sangat yakin apapun yang akan di jelaskannya nanti pasti tidak akan bisa di terima oleh Sherin. Istri dari bosnya itu pasti akan tetap menganggap Melisa sebagai wanita tidak tau diri yang mau saja di ajak melakukan hal yang tidak seharusnya dengan Alex.
Tidak mau membuat Sherin semakin marah dan salah paham padanya, Melisa pun bergegas menuju tempat yang sudah di beritahu Sherin dengan menggunakan taksi online.
Begitu tiba di restoran mewah tempat Sherin menunggu, Melisa melihat Sherin yang sudah duduk di meja yang letaknya berada di tengah tengah pengunjung yang lain. Melisa menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskannya sebelum akhirnya mendekat pada Sherin dan duduk tepat di depan Sherin.
“Selamat siang nyonya. Maaf sudah membuat nyonya menunggu.” Melisa menyapa dengan ramah bersikap seolah tidak tau apa yang akan Sherin bicarakan padanya.
Sherin tersenyum sinis. Wanita itu menatap penampilan Melisa yang memang terbilang cukup menggoda. Tidak heran jika seorang Alexander yang hobi nya bermain wanita itu sampai tergoda.
“Saya yakin kamu sudah tau maksud saya meminta kamu untuk menemui saya disini Melisa.” Ujar Sherin dengan tenang.
Melisa hanya diam mendengarkan. Melisa tau bagaimana perasaan Sherin. Istri mana yang tidak sakit hati dan kecewa melihat suaminya bercinta dengan wanita lain di kamar mereka. Sherin pasti merasa sangat di hina dan di rendahkan, begitu pikir Melisa sekarang.
__ADS_1
“Saya mau kamu mengundurkan diri dari perusahaan suami saya. Saya akan bayar berapapun yang kamu mau Melisa. Asal kamu jauhi suami saya.”
Melisa menelan ludah. Jika saja semuanya bisa dia lakukan semudah itu, sudah dari dulu Melisa mengundurkan diri.
“Saya ini istri Alex, Melisa. Saya tidak mau suami saya terus terusan kamu goda. Saya bahkan rela menyerahkan apa saja yang saya punya, asalkan kamu tinggalkan suami saya.”
Melisa tersenyum miris. Sudah dia duga, Sherin pasti akan menganggap Melisa yang sengaja menggoda Alex. Padahal pada kenyatannya Alex lah yang selalu melakukan itu pada Melisa dengan paksaan di sertai ancaman.
“Nyonya, saya bekerja bukan untuk saya sendiri. Tapi untuk adik adik saya. Untuk membiayai sekolah mereka. Saya berjuang untuk masa depan adik adik saya nyonya. Saya...”
“Saya tidak perduli dengan apapun alasan kamu bekerja. Yang saya mau kamu pergi jauh dari suami saya. Jangan menggoda suami saya lagi.” Sela Sherin tegas.
Melisa menggelengkan kepalanya pelan tidak menyangka dengan kerasnya hati Sherin.
“Sebutkan saja nominal yang kamu mau Melisa. Saya akan berikan sekarang juga.” Lanjut Sherin dengan sombongnya.
Karena kesombongan Sherin munculah sisi buruk Melisa. Melisa tersenyum miring menatap Sherin.
“Nyonya, mungkin anda kurang menarik sehingga pak Alex merasa bosan dan akhirnya mencari hiburan di luar.”
Kedua mata Sherin mendelik mendengarnya. Dia tidak menyangka Melisa berani berkata seperti itu padanya.
“Kamu..”
“Kalau saya mau uang, saya yakin saya akan mendapat yang lebih banyak kalau saya terus bisa memuaskan pak Alex.” Sela Melisa tersenyum meledek pada Sherin.
Sherin mengepalkan kedua tanganya. Ingin sekali rasanya dia melayangkan tamparan keras di wajah cantik Melisa sekarang.
“Jangan anda pikir uang anda bisa memperbudak saya nyonya. Saya permisi.” Lanjut Melisa yang kemudian berlalu meninggalkan Sherin yang di sudah di kuasai amarah.
__ADS_1