
Sejak kunjungannya yang kemarin, Gin terus membicarakan betapa menyenangkannya keluargaku. Dia terus menggangguku, ini sudah masuk tindak serius karena hari-hari tenangku mulai menghilang. Aku tahu seharusnya aku tidak pernah mengijinkannya ke sana. Dia bahkan menungguku di gerbang sekolah, kami keruangan bersama, dia menghampiriku ketika ada waktu di sela pelajaran kemudian bercerita apa saja dan bertanya banyak hal. Terimakasih untuk Gin, karena berkat dia lingkungan sosialku di sekolah mulai berubah, teman sekelasku mulai melirikku dan memperhatikanku. Membuat risih.
Ketika lonceng sekolah berbunyi, Gin menghampiriku lagi.
“Leva, ayo pulang bersama.” Ajaknya.
“Tidak mau!”
“Kenapa? Aku ingin ke rumahmu!” Wow. Karena dia ingin, aku harus mengabulkan keinginannya? “Lalu ayo kita berangkat bersama.”
“Tidak bisa!”
“Kenapa tidak?”
“Ada kelas tambahan.”
“Ohhh, benar juga. Padahal aku ada janji dengan Qarima. Kami akan belajar bersama.” Kenapa semuanya harus bersama?“Ngomong-ngomong Leva, kau setiap hari ke kelas tambahan. Memangnya ada berapa pelajaran yang harus kau ulang?”
“Semuanya!”
“Haaa?” Aku meninggalkannya yang masih melongo sendirian. Dan inilah dugaanku tentang apa yang dia pikirkan: “Qarima sangat pintar, bagaimana Leva sangat tidak pintar?” Aku menuju kelas tambahan, dari jauh kulihat sosok Fairel yang berjalan membelakangiku. Dia berhenti, sepertinya mendengar langkah kakiku.
“Quinzha Leva.”
“Ya?”
“Ingin ke kelas tambahan?” Aku mengangguk.
Kami menuju kelas tambahan bersama. Aku diam sepanjang jalan, melewati kelas-kelas yang telah kosong. Di sampingku, Fairel berjalan begitu tenang, pandangannya lurus ke depan. Langkah kakinya begitu teratur dan ringan. Sesekali kuperhatikan dia, sudut matanya yang tajam sangat menarik. Tanpa kusadari kami telah sampai di kelas tambahan. Teman-teman di kelas tambahan langsung menghampiriku. Dan, itu aneh.
“Leva, siapa yang akan mendapatkan coklat valentinemu?” Salah seorang dari mereka menanyaiku.
“Coklat?” Aku mengulang pertanyaannya.
“Ya! Untuk valentine?” Valentine lagi, dia sungguh populer.
“Tidak ada. Tidak ada coklat,” jawabku. Kenapa aku harus repot-repot menghabiskan uangku untuk orang lain?
“Tidak ada?” Fairel ikut bertanya. “Bagaimana dengan anak yang menunggumu selama dua jam kemarin? Tidakkah kau memberinya setidaknya sepotong coklat?”
“Oh dia ... itu mustahil. Dia itu pengerat!”
“Tikus?”
“Bukan tikus, tapi pengerat!”
“Sama saja, kan? Jadi maksudmu, kau akan memberikan keju pada si Pengerat?” Orang aneh lainnya lagi, siapa sih dia? Ucapannya juga sangat aneh. Kenapa pula aku harus memberi keju pada Gin?
“Kau juga tidak punya alasan untuk memberiku coklat?” Tanya Fairel ikut menghampiriku.
“Tidak! Aku tidak punya coklat!” Jawabku bingung. Guru bahasa Inggris telah datang, mereka semua bubar mengerumuniku dan aku pun segera duduk di kursiku. Hari ini pak Abdul dan Tiwa tidak ada di sini. Horeee!
\* \* \*
Ketika jam bahasa Inggris berakhir, aku bersiap-siap untuk pulang. Tiba-tiba seorang gadis mendekatiku, aku tidak mengenalnya. Kemudian dia bertanya padaku. “Leva, kau sudah ingin pulang?” Dia bertanya dengan nada yang lembut, yang lainnya memperhatikan. Mereka tidak beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
“Ya,” jawabku tanpa memperhatikannya dan sibuk memasukan buku-buku ke dalam tas.
“Tidak ingin tinggal untuk beberapa saat?” Tanyanya lagi. Kenapa harus?
“Tidak.”
“Tinggallah sebentar, denganku!” Memangnya kau ini siapa?
“Denganmu? Kamu, siapa?” Hening. Cukup lama. Tidak ada suara. “Kita di kelas yang sama ya?” Tanyaku kemudian. Aku tahu kami di kelas yang sama, tapi aku hanya ingin mempersingkat pembicaraan ini dengan pura-pura tidak tahu.
“Yaaa.” Jawabnya pelan. Dia terlihat menyesal karena aku tidak mengenalnya. “Nasibku!” Ucapnya sambil memukul keningnya dengan pelan. Mereka semua tertawa kecil.
“Aku akan pulang.” Kataku mengangkat tasku.
“Tunggu dulu. Kenapa kau sangat buru-buru? Ada yang ingin kau lakukan?” Tanyanya mencegatku, “Kau sibuk?” Aku mengangguk. “Sibuk apa?” Tanyanya lagi.
“Nonton film!”
“Nonton film kau anggap kesibukan?” Tanyanya sinis.
“Hu-um!”
“Yang benar saja.” Dia memegang keningnya lagi. “Guys!” Teriaknya pada yang lain “Leva akan ikut!” Ikut? Apa maksudnya ikut? Aku tidak mengatakan akan ikut.
“Kalau begitu ayo berangkat sekarang!” Kata seorang dari mereka. Gadis cantik itu menarik tanganku begitu saja, meskipun dia tidak secantik Qarima. Kami bertujuh berjalan bersama menuju tempat parkir. Aku masih diam, sudah kukatakan sebelumnya, tidak ada yang namanya protes atau penolakan selama itu tidak punya alasan yang kuat seperti kerugian secara finansial. Salah satu dari mereka menaiki mobil berbentuk ambulans berwarna putih yang ada di area parkir kemudian mengemudikannya. Gadis tadi mendorongku masuk, ini lebih seperti penculikan. Dengan mobil yang cukup panjang, aku dan gadis yang tadi duduk di kursi paling belakang. Fairel duduk tepat di depanku membelakangiku, entah kenapa aku merasa cukup tenang meskipun berada satu mobil dengan orang yang belum ku kenali.
“Kau tidak bertanya?” Tanya gadis yang tadi ketika kami dalam perjalanan.
“Aku harus bertanya? Tentang apa?” Tanyaku bingung.
“Aku diculik!?” Tanyaku kaget. Psikopat! Mereka semua punya kelainan.
“Benar. Kau sedang diculik, dalam penculikan yang sebenarnya!” Tambah Fairel sambil tertawa. Heh? Kalau begitu aku sedang dalam bahaya sekarang. Di saat seperti ini apa yang pertama kali harus kulakukan. Berteriak.
“A─”
“Percuma berteriak! Tidak ada orang yang akan mendengarmu!” Padahal aku belum melakukannya. Hanya baru mau. Sial. Kupikir hal seperti ini hanya akan terjadi pada orang lain. Dalam penculikan yang sebenarnya ... bukankah ini saatnya untuk panik. Lalu kenapa aku hanya tenang-tenang saja? Apa sih maunya mereka? Meminta uang tebusan pada Lea? Tapi Lea tidak punya uang banyak. Kalaupun dia punya, tidak mungkin dia mau mengeluarkannya hanya untuk menebusku. Lea lebih memilih uang dari pada aku.
“Leva,” Panggil gadis tadi. “Kau terlihat pucat!” Katanya. Sudah pasti, kan?
“Hei kami hanya bercanda! Kau memikirkannya dengan serius!” Kata Fairel kemudian. Hanya bercanda katanya? Ap─MENYEBALKAN. Jika punya kesempatan, aku akan menghajar mereka semua. Pasti! “Maaf ya.” Katanya sambil mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya dengan jengkel sambil membuang muka keluar jendela. “Aku diabaikan.” Gumam Fairel kemudian.
“Kau tidak bertanya kita akan ke mana?” Kata gadis itu lagi.
“Memangnya kita mau kemana?” Tanyaku setelah lebih tenang.
“Akhirnya bertanya juga!” Katanya sambil menghembuskan nafasnya. Jadi sejak tadi dia menungguku bertanya? “Sebelum itu. Aku ingin kau tahu namaku, aku Victoria!”
“Victoria?” Namanya seperti nama sebuah kereta api yang dioperasikan di Spanyol. “Ya,salam kenal ya.” Katanya sambil tersenyum manis. Aku mengangguk. “Kau bisa memanggilku Vicky!”
“Vicky?” Vicky terdengar seperti fiki, dalam bahasa Bima fiki berarti sipit. Apa aku benar-benar harus memanggilnya Vicky? Kurasa kereta api lebih baik. “Jadi, kita akan kemana, Fi─Vicky?”
“Mol!” Aku tidak ingat kalau di Bima ada mol. Kecuali jika mereka ingin ke kota Mataram atau semacamnya.
“Mol?”
__ADS_1
“Ya. Mol terbesar di dunia!” Tuhan! Selamatkan aku dari orang-orang gila ini.
“Kau tidak tahu kalau di Bima-lah mol terbesar di dunia berada?” Tanyanya kaget. Dia benar-benar kaget, lho.
“Tidak tahu.” Jawabku sambil memicingkan mata. Seseorang dari mereka yang sedang menyetir tiba-tiba menghentikan mobilnya. Mereka terlalu menikmati perannya. Bukankah ini sudah keterlaluan, berakting hingga segitunya?
“Ya ampun, hampir saja aku menabrak nenek-nenek!”
Ah! Aku salah paham.
“Kau yakin benar-benar tidak tahu?”
“Y-Ya!” Sungguh? Kenapa aku mulai ragu. Mereka semua menatap serius. Apa mol terbesar di dunia itu benar-benar ada di Bima?
“Oh! Selamat datang di dunia nyata, sayang!” Kata Vicky dengan nada penuh penyesalan. Memangnya selama ini aku ada di mana? “Well, Zeizhi market adalah nama pasar terbesar yang ada di kota ini.” Zeizhi market? Apa lagi itu? Kenapa dia menjelaskan hal lain untuk pernyataan yang lain? “Di sana ada pasar tradisional, ada mol, ada games centre, ada pesulap, ada penjual ikan, penjual ice cream, ada restaurant, ada pedagang eceran, ada butik, ada salon, ada pencuri, ada pencopet dan banyak lagi hal lainnya!” Kupikir dia baru saja mengatakan pencuri dan pencopet dengan nada yang terdengar bangga. “puluhan tahun lalu, ada seorang saudagar Jepang yang datang ke kota ini. Dia mulai menjajakan dagangannya yang terdiri dari berbagai jenis, kain, emas, keramik dan banyak hal menarik lainnya. Dagangannya mulai tersebar luas di seluruh negeri dan akhirnya dia mendirikan beberapa toko, pedagang-pedagang Jepang lain pun mulai berdatangan dan mengikuti jejaknya. Bukan hanya dari Jepang tapi juga orang-orang lokal mulai mendirikan usahanya di sana. Dinamakan lah Zeizhi market, karena pedagang Jepang yang pertama kali datang itu bernama Zeizhi!” Jelas Vicky panjang. Sekarang aku seratus persen yakin kalau dia sakit jiwa.
Aku harus mencari cara untuk keluar dari mobil ini sebelum tertular. Aku punya tiga rencana. Rencana pertama, melarikan diri dengan meloncat dari jendela. Rencana kedua, melarikan diri dengan keluar lewat atap mobil. Rencana ketiga melarikan diri dengan menghilang. Rencana kedua dan ketiga kita coret saja, karena itu mustahil. Kalau begitu gunakan rencana─“Juga,” lanjutnya mengagetkanku. “Kita akan membeli hadiah valentine di sana.” Vicky bersorak. “Kita akan membeli masing-masing enam hadiah untuk kita tukarkan besok di hari valentine!” Lagi lagi valentine.
“Adit yang punya ide tentang ini.”
“Adit?” Tanyaku.
“Oh, itu aku!” Seseorang yang duduk di samping Fairel menunjuk dirinya. Adit berambut ikal dengan postur tubuh kurus dan tinggi, dia memiliki mata yang sipit dan berkulit putih langsat.
“Kalau Aku Abi,” seorang lainnya memperkenalkan dirinya padaku, dapatkah aku mengingatnya? Dan kenapa mereka berdua harus memiliki nama yang terdengar mirip?
“Kalau aku, kau pasti kenalkan?” Dia menunjuk dirinya dengan bangga, sungguh aku tidak mengenalnya.
“Tidak!” Jawabku.
“Ah! Yang benar saja. Aku Sutarsono!” Dia menyebut namanya dengan bangga,“Menurutmu, apakah aku mirip dengan seseorang?” Katanya lagi.
“Ya.” Jawabku singkat.
“Siapa?”
“Kepala sekolah!”
“Benar sekali.” Dia nyengir. “Aku adalah anaknya!” Katanya bangga.
“Wah! Luar biasa, ya!” Kataku pura-pura kagum.
“Sekarang saatnya memperhatikanku. Aku Fajar! Salam kenal. Kau harus berhati-hati padaku, karena aku …”
Karena dia? “Karena aku suka mencuri hati wanita!” Kalimatnya seperti syair lagu. Apa dia seorang penyanyi?
“Kau masih ingat namaku, bukan?” Sekarang giliran Fairel. Aku mengangguk. Dia hanya tersenyum. Ono memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan mereka semua turun tanpa instruksi dari siapa pun. Aku melihat sekeliling. SIAAAL! Gadis kereta api ini menipuku. Padahal aku sudah berharap akan melihat mol terbesar di dunia, atau setidaknya Jazzhi−zizzhi−suzzhi market atau semacamnya itu. Tapi ini hanya pasar biasa, pasar tradisional yang biasa kudatangi bersama Lea dan Qarima. Perempuan sinting ini benar-benar pandai bercerita. Aku membuang nafas kesal.
“Kita akan berpisah di sini,” kata Vicky. Seketika mereka membubarkan diri. Tunggu! Jadi, aku ditinggalkan ... sendirian. AKU PASTI AKAN MENGHAJAR MEREKA SEMUA. DAN FIKI, AKU AKAN MEMBEKUKANNYA MENJADI ES JAJAN. Kini aku benar-benar sendirian. Aku memang selalu sendirian, tapi tidak pernah semenyebalkan ini. Aku benci keramaian. Aku takut keramaian. Tanpa seorang pun yang kukenal ada bersamaku, aku takut. Berada di sekitar orang asing sebanyak ini adalah hal yang tidak bisa kuterima. Bagaimana ini? Aku punya trauma, yang membuatku cukup gila untuk mengingatnya.
Nafasku mulai tak searah, seluruh tubuhku gemetar, aku lemas. Kepalaku sakit, dunia seperti berputar keluar dari porosnya, gravitasinya pun mulai berantakan. Banyak hal yang bertabrakan hingga aku tidak bisa menahannya. Rasanya pandanganku mulai kabur. Jantungku berdebar tidak teratur, seluruh tubuhku memanas dan kupikir aku akan segera menangis, sebelum, akhirnya kulihat Fairel yang tergesa-gesa menghampiriku. Raut wajahnya yang terlihat sangat khawatir entah kenapa membuatku tenang, tatapan tajamnya berubah sayu penuh sesal. Dia menghampiriku dan tanpa ragu meraih tanganku.
“Aku lupa. Aku benar-benar lupa, sungguh aku benar-benar lupa!” Katanya dengan nafas terengah-engah. Dia menatapku dalam, “Aku … maaf. Benar-benar maaf!” Katanya, aku tidak tahu harus mengatakan apa di situasi seperti ini. Tapi rasa takutku berangsur menghilang. Setelah itu, aku mengikutinya kemana pun dia pergi. Fairel tidak mengatakan apapun setelahnya. Hanya diam.
\* \* \*
__ADS_1
Ono mengantar kami kembali ke sekolah, kami berpisah di sana. Pukul enam sore, aku berjalan dengan terburu-buru ke rumahku. Lea pasti khawatir. Aku belum pernah pulang sesore ini sebelumnya, tanpa pemberitahuan.