SAYANG

SAYANG
Episode 171


__ADS_3

Erlan baru saja memejamkan kedua matanya di sofa di seberang brankar tempat Lena berbaring saat tiba tiba terdengar suara tangisan putranya. Pria itu langsung membuka kedua matanya dengan cepat lalu bergegas mendekat pada box bayi dimana putranya ternyata terbangun dari tidur lelapnya.


Tidak memejamkan kedua matanya sejak Lena membangunkan nya untuk minta ditemani pipis menjelang kelahiran putra mereka membuat rasa kantuk hebat menyerang Erlan. Namun karena terlalu cemas dan khawatir jika membiarkan Lena kesepian sendiri, Erlan pun berusaha untuk menahan kantuknya. Bahkan Erlan sampai meminta di belikan kopi oleh si mbok agar bisa menghilangkan kantuk hebat yang di rasakan nya. Dan sekarang begitu Lena juga terlelap dan Erlan ingin sejenak mengistirahatkan tubuhnya, putranya justru terbangun dan langsung menangis begitu sangat kencang.


“Hey.. Jagoan nya Daddy sama mommy bangun.. Cup cup cup.. Jagoan Daddy nggak boleh nangis.. Sshhh...” Dengan sangat pelan dan hati hati Erlan mencoba mengangkat tubuh putranya. Pria itu kemudian mengayun nya lembut sambil memberikan dot susu yang langsung dengan semangat di lahap oleh bayinya. Erlan tidak ingin membangunkan istrinya yang baru saja telelap sehingga lebih memilih memberikan susu di botol dot bayi milik putranya yang sebelumnya memang sudah di siapkan oleh si mbok sebelum pulang ke kediaman mewah Harrison.


Ya, Erlan memang sengaja menyuruh si mbok pulang agar dirinya bisa mengahandle semua kepengurusan Lena dan putranya. Erlan ingin merasakan sendiri bagaimana rasanya mengurus istrinya yang baru saja melahirkan dan putranya yang baru di lahirkan.


Erlan melirik pada Lena yang masih terlelap dengan tenang. Pria itu menghela napas lega karena tangisan putranya ternyata tidak mengganggu tidur istrinya.


Erlan kemudian beralih kembali menatap pada putranya yang begitu semangat menyusu. Pria itu terkekeh geli. Putranya begitu sangat tampan dan menggemaskan, dan Erlan mengakui itu. Bola matanya berwarna coklat terang sama seperti dengan bola mata Erlan. Kulitnya pun putih kemerahan dengan hidung mancung yang benar benar sama persis dengan bentuk hidung Erlan. Rasanya Erlan seperti melihat dirinya sendiri.


“Jagoan Daddy... Di masa depan nanti dan seumur hidup kamu, kamu harus menyayangi mommy ya.. Dia sudah bertaruh nyawa melahirkan kamu. Dan Daddy lah saksinya. Daddy melihat secara langsung bagaimana hebatnya mommy melahirkan kamu..” Gumam Erlan pelan sembari terus menatap wajah putranya yang pelan pelan kembali memejamkan kedua matanya.


Dan karena menatap wajah menggemaskan nan tampan putranya, rasa kantuk yang Erlan rasakan pun menghilang begitu saja.


Erlan merasa apa yang di saksikan nya seperti mimpi. Lena mengerang dan merintih kesakitan dalam proses persalinan itu. Dan mengingat semua itu membuat rasa takut Erlan kembali menghampiri.


Tanpa Erlan sadari Kenzie ternyata melihat semua itu. Kenzie tersenyum merasa sangat kagum pada atasan nya yang tidak sungkan turun tangan sendiri dalam mengurus istri dan putranya. Bahkan dari yang Kenzie lihat Erlan sedikitpun tidak merasa marah meski tidurnya harus terganggu oleh tangisan putranya. Bahkan sebaliknya, Erlan tampak sangat panik sampai melompat dari sofa dan berlari menghampiri putranya yang berada di box bayinya.

__ADS_1


Kenzie menghela napas pelan. Niatnya datang ke rumah sakit adalah untuk memberitahukan Erlan bahwa Lena sudah bisa dibawa pulang karena Kenzie juga sudah selesai mengurus semua administrasi rumah sakitnya. Namun karena melihat hal menakjubkan di depan matanya, Kenzie pun memilih mengurungkan niatnya. Kenzie berpikir dirinya akan kembali nanti saja. Apa lagi sekarang Lena juga sedang beristirahat.


Dengan langkah lebar, Kenzie pun berlalu dari ruang rawat Lena. Pria itu berencana akan mengerjakan dulu pekerjaan nya sebelum kembali untuk memberitahu Erlan tentang administrasi rumah sakit yang sudah dia selesaikan.


Sekitar 3 jam tertidur, Lena pun akhirnya pelan pelan membuka kedua matanya. Proses persalinan yang tidak sebentar itu lumayan menguras tenaga nya sehingga Lena merasa lemas juga lelah. Dan begitu kedua matanya terbuka dengan sempurna, pemandangan pertama yang Lena saksikan adalah Erlan yang tertidur di sofa dengan box bayi tempat putranya berada itu tepat berada di depan sofa tersebut.


Lena mengeryit kemudian tertawa. Lena yakin itu pasti memang sengaja Erlan lakukan dengan mendekatkan box bayi ke sofa tempatnya terlelap sekarang.


Lena menghela napas pelan. Senyuman manis menghiasi bibir tak berlipstiknya. Lena kembali menyaksikan bagaimana mengagumkan nya seorang Erlan Dallin Harrison, suaminya. Pria itu benar benar sangat telaten. Bahkan meski banyak orang yang bisa dia perintahkan, Erlan justru memilih untuk turun tangan sendiri menjaga putranya. Erlan juga menyuruh si mbok pulang dengan alasan banyak yang harus si mbok kerjakan di rumah. Dan itu tentu saja tidak bisa di bantah oleh si mbok.


Karena tidak tega melihat suaminya yang tampak kelelahan, Lena pun memutuskan untuk pelan pelan turun dari brankarnya. Tubuhnya sudah tidak lagi lelah dan lemas seperti beberapa jam yang lalu. Mungkin karena hari ini dirinya banyak tidur.


Lena tersenyum menatap wajah putranya yang begitu sangat mirip dengan suaminya. Bahkan wajah keduanya bak pinang dibelah dua. Hanya bedanya wajah putranya bulat dan Erlan tidak.


Lena menghela napas pelan kemudian dengan sangat penuh kehati-hatian meraih tubuh putranya. Setelah tubuh putranya berada di dalam gendongan nya, Lena pun membawanya melangkah menuju brankarnya. Wanita itu mendudukkan dirinya di tepi brankar karena tidak ingin mengusik tidur lelap suaminya jika duduk di dekat Erlan. Lena yakin suaminya pasti sangat kelelahan karena terus sigap menjaga nya dan putra mereka.


“Hey sayangnya mommy.. Mommy seneng banget akhirnya bisa menatap kamu, menggendong kamu seperti ini. Kamu benar benar sangat menggemaskan. Kamu mirip dengan Daddy kamu. Sama sama tampan.” Gumam Lena tersenyum.


Lena membelai lembut pipi gembul putranya. Rasanya benar benar sangat luar biasa bisa menatap dan menggendong putranya sendiri.

__ADS_1


“Sayang.. Ya Tuhan..”


Lena menoleh ketika mendengar suara Erlan. Lena tersenyum menatap suaminya yang begitu sangat terburu-buru bangun dari berbaring nya di sofa kemudian melangkah mendekat pada Lena yang duduk di tepi brankar sambil menggendong bayi tampan nya.


“Apa jagoan ku bangun sayang? Ya ampun.. Maaf maaf aku ketiduran tadi.” Ujar Erlan dengan ekspresi sendunya.


Lena menggeleng dengan senyuman yang menghiasi bibir nya. Lena benar benar tidak ingin suaminya merasa lalai hanya karena Lena menggendong sendiri bayinya.


“Enggak kok.. Tadi aku bangun. Terus aku lihat seperti nya kamu sangat capek. Aku turun dari brankar pelan pelan kemudian mendekat ke arah baby box milik anak kita. Aku ingin menggendong nya makanya aku ambil anak kita pelan pelan supaya nggak mengusik tidur lelapnya juga tidur lelap kamu.” Kata Lena pelan.


“Hhhh.. Kamu ini ngomong apa sih sayang.. Apa yang aku lakukan yang memang kewajiban aku sebagai suami kamu, sebagai Daddy yang baik buat anak kita.”


Lena mengangguk mengerti. Suaminya memang pria yang penuh tanggung jawab.


“Dia sangat tampan. Sama seperti kamu.” Senyum Lena yang membuat Erlan merasa sangat tersanjung.


“Sejak kapan sih istrinya aku suka ngegombal Hem?” Tanya Erlan menoel gemas ujung hidung mancung Lena.


Lena hanya tertawa saja. Entah kenapa Lena sendiri merasa dirinya tidak bisa menahan diri untuk memuji suaminya.

__ADS_1


__ADS_2