
Melisa menunggu dengan cemas kedatangan Lena dan Erlan. Sebenarnya Melisa merasa ragu dan tidak yakin akan bertemu secara langsung dengan Lena bahkan mengajak Lena untuk sama sama membuat kue lapis legit yang memang menjadi favorit para pelanggan nya. Namun karena Erlan sendiri yang datang dan memohon padanya Melisa pun menjadi bingung sehingga tanpa sadar mengiyakan apa yang menjadi keinginan Lena.
Berkali kali Melisa menghela napas karena merasa tidak tenang. Bertemu dengan Lena adalah suatu yang sangat dia hindari. Bukan karena merasa iri dengan kebahagiaan yang saat ini Lena miliki karena mendapatkan suami seperti Erlan yang sangat mencintainya, namun karena Melisa merasa malu jika harus bertemu dengan orang orang yang bersangkutan dengan masa lalu kelamnya. Apa lagi mengingat Lena yang dulu adalah kekasih dari Alex, mantan bosnya.
“Kakak kenapa?” Tanya David yang baru selesai membersihkan dirinya. David memang bangun agak siang hari ini dengan alasan hari libur. Remaja itu bahkan sudah meminta izin pada Melisa dirinya akan pergi siang ini bersama teman nya.
Mendengar pertanyaan David, Melisa pun tersentak karena kaget. Dia kemudian menghela napas kasar. Hanya karena akan kedatangan Lena dan Erlan saja dirinya begitu sangat deg degan.
“Nggak papa kok. Kakak hanya sedang bingung saja.” Jawab Melisa.
David mengeryit merasa lebih bingung.
“Bingung kenapa kak?” Tanya David dengan rasa penasaran yang begitu tinggi.
Melisa baru saja membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaan adiknya saat tiba tiba pintu utama rumahnya ada yang mengetuk. Dan suara ketukan pintu tersebut berhasil mengalihkan perhatian David dari Melisa.
“Ya Tuhan.. Bahkan di hari libur begini masih saja ada yang mau membeli kue. Kayanya kakak harus memperbarui jadwal buka toko kue kakak yang sebentar lagi akan memiliki ruko sendiri itu menjadi Sabtu dan Minggu tutup.” Ujar David sembari menggelengkan kepalanya.
Namun Melisa sama sekali tidak menghiraukan ucapan adiknya itu. Jantungnya berdetak semakin cepat setelah mendengar bunyi ketukan pintu tersebut. Melisa yakin seseorang di balik pintu utama kediaman sederhana nya itu adalah Erlan dan Lena. Karena sebelumnya Erlan juga sudah mengirim pesan padanya bahwa dirinya dan Lena sudah akan jalan menuju tempat nya.
“Biar David yang buka pintu nya kak.” Kata David yang langsung berlalu begitu saja dari hadapan sang kakak.
__ADS_1
“Ya Tuhan... Bagaimana ini? Aku benar benar tidak siap jika harus bertemu dengan Lena.” Gumam Melisa setelah David berlalu untuk membuka pintu.
Sedangkan David, dia melangkah dengan santai dari meja makan menuju pintu utama untuk membukanya. David sama sekali tidak berpikir bahwa yang ada di balik pintu utama rumahnya adalah sosok yang sangat David segani karena pencapaian nya.
David meraih handle pintu memutarnya kemudian menariknya membuka pintu bercat coklat itu. Alangkah terkejutnya David begitu tau siapa yang sekarang berdiri berhadapan dengan nya.
David menelan ludah. Tubuhnya terpaku di tempatnya berdiri menatap sosok yang sangat tidak dia duga duga. Sosok tinggi tegap berwibawa yang bersanding dengan sosok cantik yang begitu sederhana namun tetap terlihat elegan. Mereka adalah Erlan dan Lena, sepasang suami istri yang sangat ingin bisa David temui. Dan sekarang kedua sosok itu ada di depan matanya. Berdiri begitu dekat dengan nya bahkan melempar senyuman ramah padanya.
Lena yang melihat ekspresi David yang seperti orang bodoh mengeryit dengan senyuman heran nya. Lena tau siapa David, namun Lena tidak tau siapa nama David. Yang Lena tau hanya David adalah adik Melisa.
“Selamat pagi.. Maaf, apa mbak Melnya ada?” Sapa Lena dengan ramah sembari menanyakan tentang Melisa pada David.
Erlan yang melihat ekspresi bodoh David tertawa geli. Erlan tidak tau kenapa David ber ekspresi seperti itu. Namun menurutnya ekspresi David sangatlah lucu. Apa mengingat remaja di depannya itu adalah calon pria dewasa yang tampan menurut Erlan.
Melisa yang merasa tidak tenang di meja makan pun memutuskan untuk bangkit dari duduknya. Dia melangkah berniat menghampiri David untuk menyambut kedatangan Erlan dan Lena. Namun baru beberapa langkah Melisa berhenti saat mendapati adiknya yang sudah berhadapan langsung dengan Erlan dan Lena. Melisa sudah bisa menebak David pasti akan sangat terkejut dengan kedatangan Erlan yang sangat dia kagumi. Itu semua karena Melisa memang tidak memberitahu David tentang Erlan yang akan datang hari ini.
“Nyonya, tuan...” Ujar pelan Melisa.
David yang mendengar suara pelan kakaknya menoleh pelan dan masih dengan mulut yang terbuka namun tidak bisa di gerakan untuk mengatakan apapun.
Sementara Erlan dan Lena, mereka berdua saling menatap sesaat saat Melisa menyapanya sebelum akhirnya sama sama tersenyum dan mengangguk pelan pada Melisa. Lena sebenarnya merasa canggung saat bertatapan dengan Melisa, namun sebisa mungkin dia bersikap biasa saja.
__ADS_1
“Selamat pagi mbak Mel, eum.. Maksud saya kak Melisa.” Sapa balik Lena yang memilih untuk memanggil Melisa dengan panggilan yang sama seperti dulu.
Melisa merasa canggung, malu, sekaligus risih dengan kedatangan keduanya. Rasanya benar benar sangat campur aduk. Rasanya Melisa ingin sekali berlari menjauh dari hadapan Erlan dan Lena.
“Ya.. Selamat pagi nyonya. Silahkan masuk.” Melisa berusaha sangat keras untuk bersikap baik pada Lena dan Erlan meski sebenarnya dia sangat merasa tidak nyaman.
“Terimakasih..” Senyum manis Lena.
Lena kemudian masuk ke dalam rumah Melisa lebih dulu dari Erlan. Sementara David, remaja itu masih ber ekspresi dengan sangat bodoh tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun.
Melisa menghela napas sebelum mendekat pada Lena. Perasaan yang begitu campur aduk di dalam hatinya membuat tubuhnya sedikit bergetar. Kakinya bahkan sampai terasa sangat berat saat Melisa melangkah menghampiri Lena yang masih berdiri di samping sofa ruang tamu.
“Apa kabar kak?” Tanya Lena lebih dulu begitu Melisa sampai di depan nya. Lena bersikap sangat hangat dan langsung memeluk Melisa yang di buat terkejut dengan sikap Lena yang tidak berubah sejak dulu.
“Ah ya.. Kabar saya baik nyonya. Sangat baik.” Balas Melisa tergagap. Semua itu benar benar di luar dugaan Melisa. Melisa pikir Lena akan sangat angkuh dan menghina nya dengan keadaan yang seperti sekarang. Tapi nyatanya, Lena masih sama seperti dulu. Begitu ramah dan selalu tersenyum manis pada siapapun yang dia hormati.
Setelah berpelukkan menanyakan tentang kabar, Melisa kembali merasa canggung hingga dia lupa mempersilahkan untuk Lena dan Erlan duduk.
“Ah ya.. Silahkan, silahkan duduk dulu nyonya, tuan. Saya akan mengambilkan minuman.” Buru buru Melisa meraih lengan David dan menariknya menuju dapur. Melisa tidak mau David mempermalukan dirinya sendiri dengan ekspresi bodohnya itu.
Erlan yang menyadari itu hanya tersenyum geli saja. Erlan tau apa yang Lena juga Melisa rasakan sekarang. Pasti rasanya memang sangat aneh jika harus bertemu dengan orang yang dikenal namun tidak akrab dalam keadaan yang tidak sama. Dan ke canggungan itu jelas sekali terlihat di antara istrinya juga Melisa.
__ADS_1