
Hari ini melelahkan tapi juga menyenangkan, berkumpul dan membahas segala hal mengenai film. Ide yang dipaparkan oleh Fairel juga benar-benar berhasil membuat kami semua mengatakan ‘ya’ untuk diloloskan. Cukup menarik, meskipun aku tidak begitu menyukai cerita misteri. Tapi ya sudahlah.
Sekarang aku sudah di rumah. Aku mencium aroma yang sangat kusukai ketika memasuki rumah. Lea memasak sesuatu yang enak.
“Aku pulang!” Kataku lesu.
“Quinzha, tidak biasanya.” Komentar Lea begitu melihatku berlari menaiki tangga.
“Dia cukup bersemangat.” Ayah ikut berkomentar.
Aku turun beberapa menit kemudian menghampiri ayah dan Lea di ruang keluarga.
“Kau melihat Qarima dan Qhaza di sekolah?” Tanya Lea. Aku menggeleng.
“Tidak biasanya mereka pulang terlambat. Kau tidak tahu apa yang terjadi, Leva?”
“Mungkin, festival?” Jawabku ragu.
“Festival? Benar juga, Qharima kan anggota osis, tentu saja dia sibuk.” Komentar ayah. “Bagaimana denganmu? Kau tidak ikut berpartisipasi dalam festival?”
“Ikut!”
“HAAAA!!???” Mereka berdua berseru kaget.
“Benarkah? Festival pertamamu?”
Aku mengangguk.
“Akhirnya putriku sayang,” Ayahku terlalu berlebihan.
“Akhirnya, kau sudah dewasa Quinzha,” Lea juga ikutan.
“Jadi apa yang kalian lakukan?” Tanya ayahku kemudian setelah melepasku.
“Kami membuat film.”
“Fillllmmmm?”
Aku mengangguk.
“MAKSUDNYA KAU JADI PEMAINNYA!?” Teriak mereka berdua bersamaan, bersemangat?
“Hmmm. Dan teman-teman yang lain di kelas tambahan juga.” Jelasku.
“Kelas tambahan? Jadi terpisah?”
Aku mengangguk.
“Apa butuh pemain lagi? Ayah siap jadi aktornya, tidak dibayar juga tidak masalah.”
“Orang tua tidak dilibatkan!”
“Eh!? Leva, kau sungguh kejam! Mengatakan orang tuamu sendiri ‘tua’! Apa yang terjadi dengan harga diriku sebagai orang tua?” Ratap ayahku pelan, sungguh kasihan. Padahal, dia sendiri mengatakan dirinya ‘orang tua’.
“Nah Lea, apa yang kau masak? Baunya sangat enak!” Tanya ayah lagi, setelah ratapan singkatnya.
Kami bertiga menuju dapur dan makan siang bersama. Kelelahan hari ini terbayar dengan santapan siang yang menyegarkan dan lezat. Aku tidak tahu apa namanya, resep baru. Ini juga hasil percobaan Lea yang kesekian kalinya, tapi tidak seperti biasanya. Meskipun berisi campuran bahan-bahan yang aneh, tapi menghasilkan rasa yang menakjubkan.
Aku tertidur setelah memakannya dan tidak pernah bangun lagi. Maksudku, sepertinya aku tidak terbangun sampai aku dibawa ke rumah sakit, bersamaan dengan Lea dan ayah. Kenapa? Apa yang terjadi padaku, pada ayah dan pada Lea?
“Selamat malam Levann!”
Qharima? Juga Qhaza. Juga Gin. Tiwa, pak ABDUL? ADIT? ABI? ONO? VICKY? DAN FAIREL! KENAPA MEREKA SEMUA ADA DI SINIIIII?
“Aku pikir kau akan tertidur selamanya!” Komentar Qhaza setelah melihatku terbangun.
“Aku tertidur?” Tanyaku bingung. “Ini sudah malam?”
“Tepatnya malam kedua setelah kau tertidur kemarin.Yah bukan tertidur, lebih tepatnya, pingsan!” Jelas Qharima.
“Pingsan? Ini di rumah sakit?” Tanyaku heran, benar-benar heran.
“Benar. Pingsan, ayah dan Lea ada di ruangan lain. Mereka berdua tidak begitu parah jadi ditempatkan di ruangan terpisah denganmu. Mereka sudah sadar sejak kemarin malam.”
“Maksudmu mereka juga?”
“Benar!”
“Kenapa?”
__ADS_1
“Ke-ra-cu-nan!” Jawab Qhaza sambil menahan tawa.
“Maksudmu …” Tanyaku sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan tertentu.
“Benar! Makanan yang dimasak oleh Lea kemarin siang.”
Sulit untuk berkomentar! Aku sudah menduganya sejak dahulu kala, hal ini pasti akan terjadi suatu saat nanti. Sekarang aku benar-benar di rumah sakit karena keracunan makanan. Meskipun benar-benar lezat. Tapi kuperingatkan, jangan pernah tertipu oleh aroma dan kelezatan, periksa baik-baik apa yang akan kalian makan jika tidak ingin berada di tempat yang sama sepertiku atau mungkin tempat yang lebih mengerikan lagi.
Tapi kenapa aku yang lebih parah? Apa karena aku memakan terlalu banyak? Jadi itu salahku?
“Kami mendengar tentangmu dari ibu Tiwa.” Kata Vicky menjelaskan. Padahal aku tidak bertanya.
“Benar, ketika pulang sekolah tadi kami langsung ke sini.” Tambah Ono. Maksudnya mereka melihat caraku tidur? Posisiku yang seperti ini dan seperti itu, mereka melihatnya?
“Kau tidur dengan normal, lebih seperti mayat yang sama sekali tidak bergerak.” Kata Qharima, mengejutkanku.
“Kau membaca pikiranku?” Tanyaku kesal.
“Tidak! Aku mengingat kenangan.”
Mengingat kenangan? He-he-he. Perempuan ini benar-benar iblis yang murni.
“Memangnya apa yang terjadi?” Tanya Fairel, kenapa dia harus bertanya?
“Tidak ada, maksudku bukan sesuatu yang perlu kalian ketahui.” Itu artinya dia mengakui kalau benar-benar terjadi sesuatu.
“Aku benar-benar kaget Leva!” Kata Vicky kemudian.
“Tentang apa?”
“Tentu saja tentang kau, Qharima dan Qhaza yang bersaudara.”
“Aku juga,” Fajar, Ono , Adit dan Abi mengucapkannya serentak.
“Bahkan tentang kau yang bertetanggaan dengan ibu Tiwa.”
“Padahal jika kau memberitahu soal Qharima dan Qhaza aku pasti akan memperlakukanmu dengan istimewa.”
Secara tidak langsung dia mengatakan kalau aku bukan apa-apa tanpa Qharima dan Qhaza?
“Benar-benar keajaiban kalian bertiga adalah saudara, kepribadian kalian benar-benar berbeda! Padahal Qharima dan Qhaza sangat terang, bersinar dan penuh cahaya!”
“Kenapa kalian merahasiakannya?”
“Kami tidak merahasiakannya!” Bantah Qharima tegas. “Hanya sedikit kebetulan menjadi seperti itu.”
“Kami tidak pernah berangkat ke sekolah bersama,” tambah Qhaza, “Itu karena kami memiliki aktivitas yang berbeda di pagi hari, di sekolah juga kami jarang berkomunikasi karena kesibukan masing-masing. Kak Rima sibuk di osis, aku sendiri kapten basket dan kak Leva, dia sendiri orang yang jarang berkomunikasi.”
“Oh .... begitu!” Kata mereka serentak.
“Ngomong-ngomong kami harus pulang. Banyak hal yang harus dipersiapkan untuk besok. Semoga cepat sembuh dan bergabung lagi dengan kami, Leva!” Kata Vicky. “Juga, jangan sampai keracunan lagi.”
Yah aku benar-benar berharap tidak keracunan lagi.
“Aku tetap di sini untuk sementara waktu.” Kata Fairel.
“Kenapa?” Tanyaku tidak bergairah.
“Karena aku ingin.” Jawab Fairel tegas. ‘Dia ingin’?
“Ka-kalau begitu kami duluan.” Kata Fajar pamitan.
Mereka semua keluar dari ruanganku, Qhaza pun ikut keluar, dia pergi ke kamar ayah dan Lea dirawat. Tinggal aku, Qharima dan Fairel.
“Aku lapar.” Kataku kemudian setelah beberapa saat dalam kesunyian.
“Ka-kau lapar? Benar juga, aku akan mencari sesuatu yang bisa dimakan.” Kata Qarima.
Tapi, ‘Akan mencari sesuatu yang bisa dimakan?’. Memangnya ini hutan belantara?
“Tunggu sebentar, ya.” Qarima keluar. Dia terlihat gugup dan, anehnya, dia sangat penurut.Kenapa?
“Dia sangat manis.” Gumam Fairel kemudian.
“Manis? Qarima?” Tanyaku keberatan. Si Iblis itu?
“Ya!” Jawabnya pelan. “Tapi kau lebih manis! Hahaha,” katanya lagi diikuti tawa. Itu sudah pasti, kan?
“Leva.” Panggil Fairel.
__ADS_1
“Hmmm?”
“Apa kau tahu? Akhir-akhir ini aku sering memperhatikanmu, tapi ada beberapa hal yang terasa berbeda. Entah kenapa aku merasa ... hhmmm, ngomong-ngomong Leva, apa keberadaanku membuatmu terganggu?”
“Ya!” Jawabku polos.
Aku orang yang jujur. Tapi, apa jawabanku sudah benar? Tidak menyakitinya, kan? Entah kenapa aku punya firasat buruk soal ini, karena dia terdiam dalam waktu yang cukup lama. Dan kenapa pula aku harus peduli dengan
perasaannya? ada yang aneh denganku.
“Oh ... jadi begitu.” Katanya kemudian. “Kurasa aku harus pulang sekarang Leva. Aku harus mengerjakan tugas sekolah,” katanya sambil tersenyum.
Aku mengangguk mengiyakan.
“Cepat sembuh ya.” Katanya kemudian sambil berlalu. Tidak lama setelah dia pergi, Qarima datang dengan membawa tiga kotak makanan.
“Fairel, di mana dia?” Tanyanya.
“Pulang,” jawabku.
“Pulang? Kenapa?” Qarima terlihat kesal.
“Karena ... dia mengatakan akan mengerjakan tugas sekolah.”
“Hanya karena dia ingin mengerjakan tugas makanya dia pulang secepat ini? Tidak mungkin!” Dia menatap keluar pintu, “Leva!” Qarima memanggilku dengan kasar. “Apa yang kau katakan padanya?”
“Aku? Tidak ada.” Merepotkan, apa aku harus menjelaskannya? Berbicara itu ... Merepotkan.
“Bohong!”
“Aku tidak!”
“Lalu kenapa dia pulang?”
“Sudah kukatakan, kan? Dia harus mengerjakan tugas. Ada apa denganmu?”
“Soalnya, kau sepertinya tidak jujur.”
“Merepotkannya ... sebenarnya, tadi dia memang bertanya padaku. ‘apa keberandaanku membuatmu terganggu?’ dan aku menjawab ya. Lalu dia pamit untuk pulang, katanya harus mengerjakan tugas. Itu sudah cukup?”
“APAAAAA!?” Qarima berteriak dengan sangat kencang. Meskipun ini rumah sakit, itu tidak membuatnya peduli.
Aku terus bertanya, ada apa dengan orang ini?
“Kenapa dia harus bertanya seperti itu padamu?” Tanyanya kesal.
“Tidak tahu.”
“Kau tidak perlu menjawabnya!” Teriaknya lagi. “Apa mungkin Fairel―aaaah tidak mungkin!” Qarima bercerutu sendiri menghadap tembok. “Tunggu, tunggu tunggu! Sejak kapan Leva mulai mengenalnya? Di mana? Di kelas tambahan? Tidak mungkin. Lalu kenapa Fairel ada di kelas tambahan? Dia cukup pintar untuk ke sana, atau karena Leva ada di sana? Aku tidak bisa berpikir dengan baik. Tidak mungkin aku kalah dengan Leva. Aku bersaing dengan adikku sendiri si kutu buku. Tidak! Dia bahkan bukan kutu apa-apa!”
Siapa yang disebutnya kutu? Ini tidak menyenangkan. Juga, keadaan yang sama masih terus berlanjut. Qarima bicara ini dan itu dengan tembok. Bodoh sekali.
“Qarima, sekarang berikan makanannya!” Kataku kesal.
“JANGAN MENGGANGGUKU!” Bentaknya, “Aku sedang bicara dengan diriku sendiri. Jangan memotong.”
Dia manusia yang sibuk.
“Tadi sampai di mana?” Katanya lagi, yang benar saja. “Ya, di kutu buku. Leva, kenapa kau harus bersaing denganku? Kenapa kau harus merayu Fairel, bagaimana kau merayunya?” Katanya. Jelas kalimat terakhir itu ditujukan untukku.
“Apa yang kau bicarakan?”
“Saingan cinta!” Teriaknya. Gadis ini semakin aneh saja.
“Aku tidak mengerti yang kau bicarakan!”
“Benar juga. Dia tidak mengerti! Artinya … aku kalah pada orang yang bahkan tidak berkompetisi? Oh, apa yang terjadi dengan harga diriku sebagai selebritis sekolah?” Kata Qarima dengan penuh penyesalan. Jelas ini ditujukan untuk dirinya sendiri.
“Qarima, aku sangat lapar!” Kataku lagi.
“Ambil saja sendiri. Kau hanya perlu turun dari tempat tidurmu.”
“Tapi aku sedang sakit.”
“Kau baik-baik saja. Kau sudah sembuh, percayalah. Jangan jadikan sakit sebagai alasan untuk bermalas-malasan”
“Aku sakit!”
“Cerewet!”
__ADS_1
Dia membanting makanan yang ada di tangannya di atas meja. Qarima sudah tidak waras, itu yang aku pikirkan saat ini. Kami mengakhiri hari ini dengan kebisingan, Qarima tidak henti-hentinya berceloteh bla bla bla bla.