SAYANG

SAYANG
Episode 60


__ADS_3

Si mbok sengaja keluar dari dalam rumah dan bersembunyi di pos satpam agar nyonya dan tuan besar Harrison tidak tau dirinya sedang menghubungi Erlan. Si mbok benar benar tidak tega jika harus membiarkan Lena di tindas oleh Natasha.


Sementara di kantornya, Erlan baru saja masuk ke dalam ruangannya setelah selesai meeting. Erlan juga berniat untuk pulang mengingat sebentar lagi waktu makan siang tiba. Erlan ingin mengajak Lena untuk makan siang di luar setelah itu mengajaknya jalan jalan agar Lena tidak merasa jenuh karena terus terusan berada di dalam rumah.


Sebenarnya Erlan membebaskan Lena jika Lena ingin pergi karena di rumah sudah ada body guard yang Erlan suruh untuk siaga mengantar kemana saja Lena mau.


Deringan ponsel yang Erlan taruh di atas meja di samping laptop miliknya membuat perhatian Erlan langsung terpusat pada benda pipih itu. Erlan mengeryit ketika mendapati nama kontak si mbok yang tertera di layar ponselnya yang menyala.


“Si mbok...” Gumam Erlan pelan. Mendadak Erlan merasa khawatir pada Lena. Erlan berpikir sesuatu telah terjadi sehingga tiba tiba si mbok menghubunginya.


Penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya, Erlan pun segera meraih ponselnya dan mengangkat telepon dari si mbok.


“Halo mbok.. Ada apa?” Tanpa basa basi Erlan langsung bertanya kenapa si mbok tiba tiba menghubunginya.


Dan lewat sambungan telepon itu si mbok memberitahukan semuanya. Tentang kedatangan kedua orang tua Erlan yang sangat tiba tiba juga tentang perlakuan Natasha pada Lena.


Kedua mata Erlan membulat mendengarnya. Erlan tidak menyangka jika kedua orang tuanya akan datang ke indonesia.


“Ya sudah mbok.. Mbok tolong bantu istri saya ya.. Saya akan segera pulang sekarang.” Setelah berkata, Erlan pun menutup sambungan teleponnya. Pria itu kemudian bergegas bangkit dari duduknya dan melangkah lebar serta cepat keluar dari ruangannya. Erlan tidak ingin jika Lena sampai mendapatkan perlakuan buruk dari mommy nya. Karena Erlan tau bagaimana sikap mommy sambungnya itu.

__ADS_1


Karena sangat buru buru Erlan bahkan sampai tidak mengatakan apapun pada Kenzie. Hal itu membuat Kenzie merasa kebingungan namun kemudian Kenzie berkesimpulan sendiri bahwa mungkin ada suatu hal yang mendesak yang tidak bisa Erlan tunda barang sedetikpun.


Dalam perjalanan menuju pulang, Erlan beberapa kali mengumpat kesal karena jalanan yang macet. Saking tidak sabarnya bahkan Erlan beberapa kali membunyikan klakson mendesak kendaraan di depannya untuk segera melaju. Dan siang ini untuk pertama kalinya Erlan merasa jarak dari perusahaan kerumahnya begitu sangat jauh. Dan semua itu karena rasa khawatir serta tidak sabar Erlan yang ingin segera sampai di rumahnya untuk memastikan sendiri bahwa istrinya baik baik saja.


Setelah jalanan sedikit lenggang, Erlan pun menambah kecepatan laju mobilnya. Yang saat ini berada di pikirannya benar benar hanya Lena dan Lena. Erlan takut Lena di perlakukan semena mena oleh mommy sambungnya, Natasha Lauren.


Begitu mobilnya berhenti tepat di depan teras rumahnya, Erlan pun bergegas keluar dari mobilnya. Pria itu bahkan sedikit berlari saat melangkah masuk ke dalam rumah. Erlan juga mengabaikan sapaan pelayan yang sedang mengelap kaca di depan rumah.


Begitu sampai di meja makan, Erlan melihat sendiri dengan mata kepalanya Lena yang sedang meladeni kedua orang tuanya. Rahang Erlan mengeras dengan kedua tangan mengepal erat melihat itu, istrinya di perlakukan seperti pelayan oleh kedua orang tuanya di rumahnya sendiri.


“Apa apaan ini?!” Tegas Erlan sembari melangkah mendekat ke arah meja makan.


Erlan langsung meraih lengan Lena dan menariknya pelan menjauh dari meja makan. Erlan tidak bisa menerima begitu saja perlakuan kedua orang tuanya pada Lena. Apa lagi si mbok juga sudah mengatakan apa yang Natasha lakukan pada Lena. Dan Erlan percaya dengan apa yang si mbok katakan. Erlan yakin si mbok tidak mungkin berani membohonginya.


“Apa maksud kalian memperlakukan istriku seperti ini?!” Tanya Erlan penuh penekanan menatap bergantian pada nyonya dan tuan besar Harrison marah.


Tuan besar Harrison hanya menghela napas saja. Sementara Natasha, wanita itu bangkit dari duduknya dan tersenyum santai membalas tatapan marah Erlan padanya.


“Memangnya apa yang salah Erlan? Bukankah sudah seharusnya seorang menantu bersikap hormat dan melayani mertuanya yang baru datang dari perjalanan yang cukup jauh? Kami berdua tidak melakukan apa apa. Kamu bisa tanyakan pada istri kamu. Iya kan Lena?”

__ADS_1


Lena hanya diam saja. Lena tidak mungkin mengadukan apa yang perlakuan angkuh Natasha padanya. Lena takut itu justru akan menjadi bumerang untuknya sendiri.


Erlan tersenyum sinis. Sejak Erlan tumbuh dewasa, Natasha memang mulai memperlihatkan sikap aslinya. Wanita itu bersikap seolah dirinya selalu benar dan paling bijak dalam mengambil keputusan. Terlebih tuan besar Harrison juga sangat mempercayainya dan seolah memasrahkan segalanya pada istri keduanya itu.


“Aku bukan lagi anak kecil yang bisa mommy bodohi. Kalau mommy sama daddy nggak bisa bersikap baik pada istriku, lebih baik kalian berdua angkat kaki dari rumah ini.” Tegas Erlan.


Ekspresi Natasha langsung berubah mendengar apa yang Erlan katakan. Wanita itu tidak menyangka Erlan bahkan berani mengusirnya juga suaminya yang notabene nya adalah daddy dari Erlan sendiri.


Setelah berkata demikian, Erlan pun mengajak Lena berlalu dari hadapan keduanya. Erlan menggandeng lembut tangan Lena dan membawanya menuju lantai dua dimana kamar mereka berada.


Lena hanya menurut saja. Lena masih sangat terkejut dengan kemarahan Erlan pada kedua orang tuanya. Padahal selama ini Erlan selalu memperlihatkan sikap lemah lembut dan penuh cintanya. Aura dingin dan kejam bahkan langsung terasa menguasai pria itu membuat Lena menelan ludah merasa takut. Apa lagi yang Erlan hadapi adalah nyonya dan tuan besar Harrison, kedua orang tuanya sendiri.


“Kamu lihat itu anak kamu.. Saya sudah capek mengurusnya sejak kecil. Tapi ini balasannya. Dia bahkan berani mengusir kita berdua hanya karena istrinya yang tidak sepadan dengan kita itu.”


Lena memejamkan sesaat kedua matanya begitu mendengar suara Natasha yang begitu lantang penuh amarah. Suara itu menggema sampai ke lantai dua rumah mewah itu.


Lena merasa ini tidak benar. Erlan tidak seharusnya mengusir kedua orang tuanya. Mereka baru sampai dan pasti masih sangat lelah. Lena tidak keberatan membuat masakan dan melayani mereka tadi. Meski memang sikap Natasha memang sangat angkuh padanya.


Erlan membuka pintu kamarnya mengajak Lena masuk kemudian kembali menutup pintu kamar dan menguncinya. Pria itu menghela napas kasar sebelum akhirnya memusatkan perhatiannya pada Lena yang tampak diam dan ketakutan karena sikap tegasnya.

__ADS_1


“Kamu nggak papa kan sayang?”


__ADS_2