SAYANG

SAYANG
Cara Untuk Bersenang Senang


__ADS_3

Berjalan melewati koridor sekolah yang dipenuhi oleh orang-orang yang tak satu pun ku kenal, terlebih lagi mereka semua seakan memperhatikanku, membuatku kurang nyaman untuk berjalan.


Kami sampai di mading center yang ada di dekat ruang kepada sekolah. Di sini juga sangat banyak orang, kami berdesakan ketika ingin melihat pengumuman di mading. Beruntung madingnya sangat panjang sehingga bisa menampung lebih kurang 30 orang yang berdiri berjejer di depannya. Semua jenis kegiatan hari ini sudah terpasang di mading, kami tinggal melihatnya dan menentukan kegiatan apa yang ingin kami ikuti.


“Wah!” Mata Vicky tiba-tiba berbinar. “Ini benar-benar cocok untuk kita.” Katanya padaku. “Pantas saja banyak orang yang memakai kostum di festival kali ini.” Gumamnya.


Hah? Apa maksudnya? Bukankah tahun lalu dan tahun lalu dan tahun lalu dan lalu sebelumnya lalu orang-orang selalu memakai kostum saat festival? Juga, bukankah dia mengatakan dia tidak mengikuti festival sebelum ini, bagaimana dia mengetahuinya?


“Ternyata karena ada kontes kostum.” Teriaknya padaku.


Tidak, bukan karena itu. Tapi karena memang orang selalu bercosplay setiap tahunnya dan, kontes kostum memang selalu diadakan, kan?


“Kau lihat di sini.” Dia menunjuk sebuah poster. “Tunjukan cosplay terbaikmu. Datanglah ke ruang olah raga jam 7 pagi.” Bacanya.


“Makanya banyak orang memakai kostum?” Tanyaku pura-pura.


“Leva tidak mengetahuinya?”


“Tidak.”


“Lalu, kenapa kau bercosplay?”


“Karena kebetulan Lea yang memakaikannya padaku!”


“Begitu.”


“Bagaimana dengan Vicky?”


“Ini bukan kostum, ini hanya pakaian biasa. Hanya karena Leva menanyakan aku memakai kostum apa, jadi aku sembarangan menjawab.” Sebenarnya, “Pesertanya pasti banyak. Kesempatan menang sangat kecil.” Kata Vicky penuh sesal. “Tapi biarlah, kita ikut saja. Ayo Leva!” Katanya, dia menarik tanganku.


Kami menuju ruang olah raga. Di sana telah berkumpul bayak orang. Ruang olah raga yang luar biasa luasnya, kini hampir penuh. Semua berdiri menghadap panggung yang sudah dihiasi dengan indah, ruangan ini jadi seperti ruang konser. Seorang pemandu acara berteriak di atas panggung dan penonton menyahutnya dengan teriakan. Vicky menarik tanganku melewati desakan orang-orang menuju arah belakang panggung. Di sana, berdiri puluhan orang yang memakai beragam kostum, sebenarnya bukan puluhan tapi lebih dari seratus.


Wah! Kataku dalam hati. Aku tidak pernah sekagum ini ketika melihat banyak orang, ini benar-benar surga kostum. Aku bisa melihat banyak tokoh film di sini, mulai dari Spider-man, Super-man, Wonder Women, Saras 008, Panji Milinium, dan―Hulk, tidak ada di sini. Syukurlah. Aku tidak terlalu menyukai pahlawan yang berotot.


Aku dan Vicky berdiri di depan meja seorang perempuan gemuk yang berwajah kasar dan keras, dari kelihatannya.


“Kau ingin mendaftar?” Kata perempuan gemuk. Suaranya besar, meskipun dia punya mulut yang kecil. “Dengan kostum yang seperti ini?” Lanjutnya, dia menatap Vicky dengan tatapan licik.


Dulu, aku pernah menonton film barat dengan ayah, seorang perempuan gemuk yang berkerja sebagai petugas kebersihan di Mcdonald memiliki tatapan yang sama seperti perempuan gemuk yang duduk di depanku dan Vicky sekarang. Aku bertanya pada ayah, “kenapa cara menatapnya seperti itu?”, dia menjawab, “itu karena dia tidak menyukai orang yang dia tatap, atau mungkin dia meremehkan orang tersebut. Orang-orang menyebutnya tatapan licik!” Begitulah ayahku menjelaskan.


“Kau tidak akan mendapatkan satu poin pun dengan kostum seperti itu.” Kata perempuan gemuk itu lagi.


“Aku juga berpikir begitu! Makanya aku membawa seseorang yang mungkin bisa mendapatkan satu poin!” Kata Vicky, dia menarikku. Perhatian perempuan gemuk kini beralih kepadaku. Dalam seketika tatapannya berubah. Matanya berbinar.


“Wah! Dari mana kau mendapatkan kostumnya? Kau menata rambutmu dengan unik! Siapa yang melakukannya? Gayamu seperti ... Gadis Jepang.” Kagumnya.


“Lea menjahitkannya untukku!”


“Lea? Siapa dia? Di mana dia tinggal? Dia pasti penjahit yang sangat hebat, dia pasti terkenal. Meskipun aku belum pernah mendengarnya.”


“Lea adalah―”


“Leva, kau tidak perlu menjawabnya.” Potong Vicky. Aku diam. Perempuan gendut memandang Vicky dengan sinis. “Daftarkan saja dia,” kata Vicky lagi.


“Jadi, siapa namamu perempuan misterius?”


Apa yang mebuatnya berpikir kalau aku ini misterius?


“Quinzha Leva.” Jawabku.


“Quinzha Leva, namamu tidak asing. Wajahmu juga sepertinya pernah kulihat. Tapi di mana?”


“Kau tidak pernah melihatnya. Dia murid pindahan, baru tiga hari di sekolah ini.”


“Benarkah? Mungkinkah dari luar negeri?”


“Ya! Dia dari Prancis!” Kebohongannya sesuai dengan asal usul namaku.


“Ohhh, luar bisa. Pantas saja kau cantik. Mungkinkah Lea juga penjahit yang berasal dari Prancis? Makanya aku tidak pernah mendengarnya?”


“Benar sekali!” Kata Vicky.


Aku tidak mengerti kenapa dia berbohong. Aku juga sulit percaya, kalau perempuan gendut mempercayai semuanya dengan sangat mudah, bagaimana dia berpikir Lea dari Prancis sementara namanya sangat Indonesia?


“Kau dari kelas mana?” Tanya perempuan gendut.


“Kelas tambahan.” Jawabku. Raut wajah perempuan gendut berubah.


“Kelas tambahan? Bukankah di sana untuk orang-orang yang―”


“Dia tidak masuk sekolah selama enam minggu.” Kata Vicky cepat.


“Oh begitu. Kelas berapa?”


“Kelas dua.”


“Oke. Kelas dua. Quinzha Leva, nomor peserta 283!” Kata perempuan gendut, dia memberiku kertas bulat yang terdapat peniti di belakangnya. Tapi 283? Seberapa banyak sebenarnya pesertanya?


“Bisakah kau memberitahu kami ketika nomor sebelum ini akan segera tampil? Kami harus mengikuti perlombaan lain.” Kata Vicky.


“Tentu.” Jawab perempuan gendut, tersenyum ramah yang kurang tulus.


Kami pun keluar dari ruang olah raga yang penuh sesak. Sebelum itu, di atas panggung kulihat peserta nomor tiga yang sedang memperagakan kostumnya di depan para juri dan penonton. Penontonnya berasal dari berbagai kalangan, bukan hanya murid-murid di sini, malainkan banyak penonton yang dari kalangan umum dan sekolah lain. Dan saat ini baru jam 08.39 pagi, aku berpikir giliranku pasti sore nanti.


Aku dan Vicky meninggalkan ruang olah raga menuju kelas 2-IV. Di sana tidak seramai saat di ruang olah raga.


“Aku sangat jago dalam hal ini.” Kata Vicky padaku. “Kami dari kelas tambahan mendaftarkan diri untuk lomba merangkai bunga.”


“Sendiri?”


“Dua orang.”


“Dengan dia?”


“Ya!”


“Kostummu bagus.” Katanya padaku.


“Iya!” Jawabku menyetujui.


“Kau harus mengucapkan terimakasih ketika seseorang memujimu.” Bisik Vicky padaku.

__ADS_1


“Kenapa?”


“Untuk sopan santun!”


“Aku tidak perlu bersopan santun dengan orang yang tidak kukenal.”


“Woe.”


“Terimakasih!” Pada akhirnya aku mengucapkannya juga, tanpa ketulusan.


“Sama-sama!” Jawabnya sambil tersenyum, “Nama?” Katanya lagi.


“Victoria, dan dia Quinzha Leva.” Kata Vicky. Dia baru saja mendaftarkanku untuk merangkai bunga? Sama saja dia mendaftarkanku untuk kalah. Pesertanya semuanya perempuan. Ruangan ini indah, dihiasa dengan beberapa bunga yang sudah terangkai dengan lumayan bagus. Beberapa pengunjung yang kelihatan bukan pelajar menyebar keseluruh ruang sambil beberapa di antaranya memotret bunga-bunga yang dipajang diatas meja.


“Tiga puluh ribu untuk dua orang.” Kata perempuan kasir.


“Kau memungut biaya untuk merangkai bunga!?” Kata Vicky tidak percaya.


“Kau berharap aku mencabut semua bunga yang ada di sekolah ini untuk kalian rangkai?” Tanya perempuan kasir sinis.


“Kau menyebalkan.” Ucap Vicky, perempuan kasir tersenyum sinis.


Vicky mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan membanting uangnya diatas meja. “Aku tidak dapat mempercayainya. Mereka juga mengumpulkan poin dari penghasilan kegiatannya untuk menang. Sulit dipercaya. Pulau Komodonya menjadi semakin jauh saja!”


Jadi itu yang dia pikirkan?


“Pilihlah jenis-jenis bunga yang ingin kau rangkai.” Kata Vicky padaku setelah kami berada di depan meja yang dipenuhi tumpukan bunga yang belum dirangkai. Mejanya dijaga oleh seorang laki-laki kurus.


“Satu orang hanya boleh mengambil tiga jenis bunga.” Kata laki-laki kurus.


“Tapi kami sudah membayar untuk ini!” Vicky kesal.


“Ya! Uang kalian hanya cukup untuk tiga jenis bunga.”


“Dasar pelit. Tempat ini menyebalkan!” Gumam Vicky.


“Memilih banyak bunga sama saja dengan merusak lingkungan!”


Merusak lingkungan katanya? Bagaimana dengan mereka yang memotong banyak bunga untuk kegiatan ini? Bukankah mereka adalah penyebab awal dari kerusakan bunga-bunga?


“Leva, jangan memilih bunga yang sama denganku, kita akan menukarnya setelah ini.” Kata Vicky.


“Ya!” Jawabku. Kalau itu aku sudah tahu.


“Itu ide yang bagus.” Komentar laki-laki kurus. “Ngomong-ngomong, kau tidak ikut lomba kostum?” Tanyanya padaku.


“Ikut.”


“Pastikan kau melihatnya, peserta nomor 283.” Kata Vicky pada laki-laki kurus.


“Wow. Itu nomor urut yang panjang. Kudoakan kalian kalah.  Karena aku lebih berharap teman sekelasku yang menang. Aku juga ingin ke pulau Komodo!” Kata laki-laki kurus sambil tersenyum.


Kami meninggalkan dia dengan wajah cemberut, bergabung dengan para gadis yang sedang fokus merangkai bunga. Ucapannya barusan membuat kami kesal.


Vicky dengan lihainya mulai merangkai bunga, dia meletakan tangkai demi tangkai bunga dalam pot, aku hanya memperhatikan. Setelah itu, aku pun mulai merangkainya. Kulakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Vicky, tapi tidak persis seperti Vicky. Kulakukan sesuai dengan gayaku, dengan yang aku suka. Aku juga mematahkan bagian-bagiannya, kumasukan semua tangkainya ke dalam pot dan kubuang semua bunganya. Inilah gayaku. Aku menyelesaikannya lebih cepat dari pada Vicky, meskipun begitu aku sedikit menikmatinya. Vicky pun begitu.


Kami meletakan bunganya di atas meja yang bernomor sama dengan nomor yang kami pegang. Kemudian kami pergi. Kami mampir di kelas 3-V, di sana mereka menampilkan atraksi sulap. Di sekeliling pesulap mereka menjual kerajinan tangan, mulai dari sepeda kayu, tempat pensil dari kertas dan beragam kerajinan tangan lainnya. Mereka juga menyediakan kue apel, kue berbentuk apel yang terbuat dari beras kemudian dilumuri dengan sirup berwarna hijau dan ditusuk dengan kayu untuk pegangang. Aku dan Vicky membelinya dan memakannya sambil berjalan. Kebiasaan baru lagi, sial! Vicky membawa pengaruh buruk untukku.


“Ayo! Ayo! Ayo!” Semua orang bersorak untuk mereka berdua. Vicky juga ikut bergabung dalam keramaian.


Dengan mulut dipenuhi makanan, Adit berteriak, “Semuanyaaa! Jika kami berdua menang, jangan lupa untuk menonton film di kelas tambahan! Oke!?”


“OKEEEE!!” Sahut orang-orang yang sedang menontonnya.


Aku menghampiri Vicky.


“Vicky, kenapa mereka makan dengan cara seperti itu?” Tanyaku pada Vicky.


“Mereka sedang mengikuti lomba makan.”


“Bagaimana peraturannya?”


“Kau hanya perlu mengahabiskan makanannya lebih dan lebih cepat dari pada yang lain, maka kau akan menjadi pemenang.”


“Menurutmu mereka akan menang?”


“Kita lihat saja nanti!” Jawab Vicky, dia terdiam tiba-tiba. Kemudian dia menatapku heran, “Leva, tidak biasanya kau banyak bertanya ...”


“Oh! Benar!” Kataku, aku lebih kaget lagi.


Vicky tertawa begitu melihat reaksiku, alam bawah sadarku yang ingin tahu memaksaku bertanya. Apa ini hal yang baik? Atau buruk? Aku tidak tahu. “Ayo, kita akan cari bagian kita sendiri.” Ajak Vicky, dia menarik tanganku, aku mengikutinya.


Kami berhenti di sebuah ruangan yang bertuliskan ‘Rumah Hantu’.


“Apa kita akan mendapatkan poin di sini?” Tanyaku pada Vicky.


“Tentu saja tidak! Sebaliknya kita hanya akan menambah poin untuk mereka.”


“Lalu, kenapa?”


“Karena ini sepertinya menyenangkan. Ayolah Leva, jangan hanya memikirkan poin. Bersenang-senanglah!” Kata Vicky. Dia menarik tanganku.


“Lima puluh ribu untuk dua orang!” Kata penjaga kasir.


“Kau menarik biaya untuk ini?”


“Menurutmu bagaimana?”


“Oh Tuhan! Tidak adakah yang gratis?!” Kata Vicky.


“Udara, gratis!”


Wow! Setelah dipikir dan dipikir lagi, semua yang menjaga meja hari ini rata-rata bermulut tajam.


“Apa kau takut hantu?” Tanya Vicky setelah membayar pada penjaga kasir.


“Tidak!” Kataku tegas.


“Bohong!”


Aku bukan orang yang biasa berbohong, aku tidak punya alasan untuk berbohong karena berbohong adalah kebisaan manusia normal, seperti Vicky. Lagi pula hantu adalah kesukaanku. Dia masih belum mengenalku, sebenarnya aku orang yang menyukai segala sesuatu yang kejam.

__ADS_1


“Ayo masuk!” Ajak Vicky, dia memegang tanganku erat.


“Apa kau takut?” Tanyaku.


“Tidak biasanya kau banyak bertanya,  Leva!”


“Makanya, sepertinya aku sakit.”


“Kau tidak sakit, tapi mulai sembuh!”


Kami berjalan pelan memasuki ruangan yang mereka sebut dengan rumah hantu. Ngomong-ngomong rumah hantu ini adalah ruangan terbesar kedua setelah aula sekolah. Aura di ruangan ini sangat suram, cahaya remang-remang dari satu lilin yang menghiasi jalan utama, dindingnya ditutupi dengan kain hitam gelap, lantainya ditaburi dengan tanah dan beberapa ranting kayu di atasnya membuat tempat ini menjadi agak suram. Siapa yang punya ide konyol seperti ini? Menurutnya orang-orang akan takut dengan tanah dan ranting?


“Leva, sejauh ini tidak terjadi apa-apa, apa menurutmu akan terus seperti ini?” Tanya Vicky setelah dua menit kami berjalan, aku bisa merasakan tangannya yang gemetar.


“Tidak tahu!”Aku tidak tahu apa yang membuat gadis ini takut. Padahal dia tahu dengan jelas dindingnya hanya ditutupi dengan kain hitam.


“Apa kau tidak takut?” Bisik Vicky.


“Tidak!” Jawabku. Menit berikutnya―


Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!  Vicky berteriak, dia membuatku hampir tuli. Sial, ini hanya kepala sapi yang muncul tiba-tiba dari atas dan melayang tanpa tali. “Leva! Kau baru saja berteriak!” Kata Vicky setelah beberapa detik menenangkan perasaannya.


“Itu kau!” Bantahku kesal.


“Tidak. Itu kau!” Vicky ngotot.


“Itu kau, Vicky!”


“Baiklah, aku menyerah. Itu kita berdua.”


Apanya yang menyerah?


Kini Vicky semakin menempel padaku. Kami kembali berjalan dan belok ke kiri di ujung lorong, kemudian ke kanan. Lalu, kami belok ke kanan lagi, di belokan ketiga kami bertemu dengan gadis bertubuh kecil yang sedang menangis menghadap tembok.


Aku dan Vicky mendekatinya dan berdiri di belakangnya. “Kenapa kau menangis?” Tanya Vicky.


“Aku berpisah dengan ibu!” Jawab gadis itu pelan, suaranya lembut dan halus. Dia tersedu.


“Di-di mana kau kehilangan ibumu?” Tanya Vicky lagi.


“Aku berpisah dengan ibu!” Kata gadis itu lagi.


“Ya aku tahu kau berpisah dengan ibumu, tapi di mana?”


“Aku berpisah dengan ibu.”


“Kenapa dia terus mengatakan itu?” Tanya Vicky padaku.


“Tidak tahu! Mungkin dia hanya bisa mengatakan kata-kata itu.” Jawabku enteng.


“Tidak mungkin, itu akan jadi mungkin jika itu adalah kau.”


Apa maksudnya?


“Aku berpisah dengan ibu. Aku berpisah dengan ibu. Aku berpisah dengan ibu.” Gadis itu terus mengulang-ulang kata yang sama, lama kelamaan nada bicaranya semakin cepat dan cepat. “Aku berpisah dengan ibu. Aku berpisah dengan ibu. Aku berpisah dengan ibu. Aku berpisah dengan ibu...”


“Vicky. Sepertinya dia sakit.” Kataku pada Vicky.


“Kurasa tidak seperti itu.” Kata Vicky pelan padaku. “Leva, aku mulai merinding.”


“Kenapa?”


“Karena―”


Gadis itu secara perlahan memutar kepalanya dan―AAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!


Serentak kami berdua berteriak. Sekarang aku mengerti hantu yang ada di layar televisi itu berbeda dengan hantu yang ada di depan tembok. Sekarang aku juga sudah bisa memastikan, dia bukan gadis kecil atau pun gadis dewasa, tapi gadis tanpa wajah. Datar. Dia bahkan tidak punya hidung, mata dan mulut. Lalu bagaimana cara dia berbicara?


Refleks kami berdua lari meninggalkan gadis tanpa wajah, kami lari lurus ke depan dan menabrak laki-laki berjubah hitam yang sangat tinggi. Kami berdua berhenti tiba-tiba, melihat ke atas. Tingginya tidak wajar. Dia terlalu tinggi untuk ukuran manusia, empat kali tinggi dari tingginya aku dan Vicky. Bukan tingginya yang menjadi pusat perhatianku, tapi posisi kepalanya. Kepalanya ada di leher dan lehernya malah menyentuh langit-langit ruangan? Mulut. hidung dan matanya juga mengahadap ke atas, merinding. Kakiku tidak mampu bergerak, aku hanya berdiri mematung. Sementara Vicky sudah menghilang entah kemana. Aku sempat membayangkan tubuh ramping Vicky yang lari terbirit-birit, lalu−“Hahahaha.” Aku tertawa terbahak-bahak tanpa memikirkan apapun lagi. Ternyata pikiran tentang Vicky bisa menghilangkan ketakutanku. Setelah itu, kulirik sosok tinggi di depanku, “Kenapa kepalamu bisa terbalik? Apa kau tidak apa-apa?”


“Tidak apa-apa!” Jawabnya, suaranya terdengar seperti tidak muncul dari mulutnya.


“Kau juga sangat tinggi, apa yang kau makan?”


“Telur!”


“Kenapa?”


“Karena banyak kalsiumnya!”


“Aku tidak suka telur.”


“Makanya kau tidak tinggi!”


“Aku tidak ingin tinggi sepertimu, pasti akan merepotkan.”


“Lalu kenapa kau bertanya?”


“Karena aku kagum. Aku tidak pernah melihat orang setinggi dirimu.”


“Aneh! Pergilah cepat susul temanmu. Kuharap dia tidak kencing di celana.” Katanya.


“Baiklah ‘tuan yang tinggi dan berkepala terbalik’!” Kataku sambil berjalan meninggalkannya. Lalu kemana perginya Vicky?


“Leddaaaaaaaaaaaaa!”


Siapa itu Ledda? Kulihat kearah kananku, Vicky berlari menghampiriku. Dia menangis. Dia … menangis. Kupikir sebelumnya dia mengatakan, “Bersenang-senanglah!” Jadi ini yang dia maksud bersenang-senang, menangis karena ketakutan.


“Leva, ayo kita keluar dari sini.” Ajaknya dengan nada yang tersedu-sedu. Dia memegang tanganku erat.


“Kau menangis.” Komentarku.


“Siapa yang peduli. Pokoknya ayo kita keluar dari sini.” Kami kembali ke jalan yang kami lewati tadi untuk bisa keluar dari rumah hantu. “Begitu sampai di satu belokan lagi, kita harus lari sekencang mungkin. Paham?”


“Hmmm!” Satu belokan lagi adalah tempat laki-laki yang tinggi dan berkepala terbalik berada. Dan, dia pun menarik tanganku, kemudian berlari sekencang-kencangnya. Ketika mendekati gadis tanpa wajah, hal yang sama dia lakukan. Begitu pula saat sampai di kepala sapi hingga kami berhasil keluar dari rumah hantu.


“Aku tidak akan pernah masuk di tempat itu lagi.” Kata Vicky.


“Terimakasih untuk kunjungannya.” Kata perempuan penjaga kasir, “Dan datanglah lagi!”


“Apa kau tidak dengar? Aku mengatakan tidak akan pernah datang ke tempat itu lagi.” Teriak Vicky pada perempuan penjaga kasir. Kami berdua pergi meninggalkan rumah hantu. Setelah itu Vicky mendapat sms dari perempuan gendut yang ada di ruang olah raga dan kami menuju ruang olah raga untuk mengikuti lomba kostum.

__ADS_1


__ADS_2