SAYANG

SAYANG
Menginap di Rumah Vicky - bag. I


__ADS_3

Kediaman Vicky sangat bagus dan besar. Dia punya halaman yang luas. Saaaaangat luas‒yang sempat aku kira lapangan bola saat pertama melihatnya. Selain itu, lingkungan tempat tinggal mereka juga sangat tenang, surga, menurutku.


Vicky tidak punya saudara, anak tunggal. Ayahnya bekerja di salah satu bank swasta, ibunya  adalah seorang yang ramah, dia pecinta tanaman.


Saat kami berdua turun dari angkot, ibunya sedang merapikan bunga-bunganya. Dia menyambut kami berdua dan menyuguhiku beberapa potong brownis vanila dan segelas jus jeruk, hmmm segarnya!


“Bunganya cantik!” Gumamku sambil melihat keluar ruangan.


“Sebenarnya sejak kami pindah ke sini, bunga-bunga itu sudah ada.”


“Pindah?”


“Ya ...” Vicky terdiam sejenak. “Leva, sebenarnya ... aku pernah tinggal di New York.”


Oooh!


“Aku pernah tinggal di New York!” Ulangnya, dengan penekanan.


Kenapa dia mengulangnya?


“Kau tidak kaget?”


Jadi, itu maksudnya!


“BENARKAH?” Tanyaku berlebihan, pura-pura kaget.


Vicky memicingkan matanya, dia menatapku kesal.


“Saat di sana, aku tetanggaan dengan Tysha.”


Uhhuk! Aku menumpahkan minuman di mulutku. Ini baru mengejutkan. Benarkah itu?


“Tapi kami tidak akur, dia menyebalkan. Ayo kita ke kamarku sakarang!”


Ternyata Vicky jahat, bagaimana bisa dia memisahkanku dengan sepotong brownis terakhirku?


“Jangan sungkan, anggap seperti rumahmu sendiri.”


Masa? Itu tidak mungkin, kan? Karena meskipun mereka mengatakan ‘anggap seperti rumahmu sendiri’, mereka akan tetap kesal jika aku benar-benar menganggapnya seperti rumah sendiri. Aku sering mengalami perasaan itu sebagai tuan rumah.


“Well! Ini kamarku!” Kata Vicky. Kami berada di lantai dua dan memasuki ruangan yang paling ujung. Memasuki kamarnya Vicky.


Dan, mataku terbuka lebar. Apa dia sedang menyindir? Kamarnya dua kali lebih besar dari kamarku. Itu menyebalkan.


Dia punya semuanya‒semua benda-benda membosankan. Tidak ada satupun yang menarik perhatian. Kesal jadinya. Tapi ada sesuatu yang sangat menarik perhatian, bukan di kamarnya tapi pemandangan di luar kamarnya‒di belakang rumah mereka. Padang ilalang. Wow!


“Keren, bukan?”


“Hmmm.”


“Ini adalah tanah sengketa. Belum dipastikan siapa pemiliknya, tidak ada yang boleh mengelolanya dengan cara apapun. Makanya hanya tumbuhan liar yang tumbuh di sini.”


“Sengketa itu ... apa?”


“Ha!?” Vicky menatapku, dia menahan tawa. “Ngomong-ngomong, Leva. Sebenarnya aku datang ke Indonesia baru sekitar enam bulan yang lalu saat semester pertama di mulai. Tapi ... hahahaha.”


Apanya yang lucu?


“Tapi, saat aku baru satu minggu di sekolah, terjadi masalah yang cukup berpengaruh di hidupku dan reputasiku … kau tidak mendengar gosip tentangku?”

__ADS_1


Di koran mana, selebritys ngaku-ngaku!?


“Tidak.” Jawabku lirih.


“Aku tinggal di New York saat aku SMP kelas satu, aku berteman dengan Tysha karena kebetulan dia tinggal di sebelah rumahku. Kami juga sekolah di tempat yang sama dan berangkat sekolah bersama, tapi semuanya hanya berlangsung hanya beberapa waktu karena ... ada seorang pria yang kami berdua sukai dan, di beberapa kesempatan Tysha mengungkapkan semua kejelekanku kepada Jason, aku tidak bisa menerimanya. Karena aku berpikir seharusnya kami berdua bersaing secara sehat. Tapi ternyata tidak. Sehingga aku menjadi marah. Bukan karena Jason menatapku dengan tatapan jijik, tapi lebih karena Tysha yang sebagai seorang teman … bisakah teman menjelekkan temannya sendiri?” Ceritanya.


Vicky menatapku, dia sangat tidak cocok bercerita tentang kisah sedih, wajahnya tetap saja terlihat lucu. Ditahan Leva, jangan tertawa.


“Saat di sekolah, aku mencari Tysha. Saat itulah semuanya dimulai. Aku tidak begitu ingat apa yang aku lakukan, tapi saat itu aku melihat Tysha berlumuran darah dan aku yang melakukannya, semua orang menatapku, tatapan mengerikan itu … Tysha dibawa ke rumah sakit, dia tidak sadarkan diri. Dia koma, sampai di rumah sakit, dia segera dioperasi.”


Wow! Vicky lebih sadis dari pada Qarima. Kau keren!


“Aku hampir membunuhnya … sekolah mengeluarkanku! Aku bebas hukum karena aku masih di bawah umur, tapi sayangnya aku tidak bebas dari hukum sosial …”


“Hukum sosial?”


“Yah. Hukum yang berlaku di masyarakat, hukum tidak tertulis. Esok harinya, wajahku terpajang di koran lokal halaman pertama, hampir seluruh masyarakat New York mengetahuinya! Aku tidak diterima di sekolah mana pun, orang-orang di sekitarku menjauh dariku, akhirnya aku jadi anak manis yang hanya tinggal di rumah. Aku melanjutkan pendidikanku di rumah, homeschooling. Mengesalkan, bukan? Apa lagi saat melihat musuhku Tysha pulang pergi ke sekolah dengan nyaman dan melemparkan senyuman menyebalkan padaku, kau tahu senyum yang ada unsur licik di dalamnya …”


“Senyum jahat?”


“Ya! Benar sekali. Sepertinya dia sangat puas setiap kali melihatku dalam kurungan. Itu sangat menyebalkan, aku … aku sangat membencinya! Meskipun aku tahu aku salah, aku keterlaluan karena hampir membunuhnya. Tapi tetap saja ... kau takut padaku?”


“Tidak!”


“Oh, syukurlah!”


Dia seharusnya tidak menceritakan masa lalunya jika dia tidak ingin aku takut padanya, karena suatu saat nanti aku juga tidak akan bertanya meski dia tidak memberitahuku sekarang. Lagi pula, aku takut padanya? Itu tidak akan mungkin, aku punya saudara yang sama sadisnya dengannya.


“Tentunya aku tidak akan melakukan itu lagi.”


Maksudnya!?


“Dan ketika aku pindah ke sini, karena telah lama tidak bergaul dengan masyarakat normal ... aku melakukan banyak kesalahan!”


“Ya! Hari pertama masuk sekolah aku menaruh tikus di dalam tas teman-teman sekelasku.”


Kurasa Vicky lebih sadis dari Qarima.


“Itu adalah tradisi SMP ku dulu saat aku di New York. Aku lupa, pada saat itu aku juga dibohongi. Jadi aku melakukan hal yang sama saat sampai di sini! Padahal aku hanya ingin membuat kesan pertama yang menarik. Tapi nyatanya teman-temanku mulai mengatakanku ‘nggak beres!’”


Memang benar, kan?


“Hari kedua,”


Masih ada hari kedua?


“Hari kedua aku melempari wali kelasku dengan kue coklat.”


Dia bodoh, kan?


“Dia sedang ulang tahun, tapi kue coklatku membuat dia marah. Padahal aku ingin memberinya kejutan!”


Padahal dia baru dua hari di sekolah, bagaimana dia tahu tentang hari ulang tahun wali kelasnya?


“Wali kelasku mengatakan, ‘apa kau punya masalah psikologi?’ Dia kejam sekali. Dia juga mengatakan ‘kau butuh Psikiater. Jika kau melakukannya saat aku ulang tahun mungkin aku tidak akan semarah ini, tapi oooh kau membuat bajuku kotor,’ katanya.”


Hahahaha. Jadi ulang tahun itu hanya dugaannya.


“Aku hanya ingin membuat kesan yang baik. Tapi semuanya menjadi semakin kacau, karena pada hari ketiga …”

__ADS_1


Sebenarnya sampai hari keberapa?


“Semua orang tidak mengindahkanku lagi, mereka tidak menganggapku ada.”


Kupikir masih ada kejadian menarik lainnya. Padahal aku tidak sabar mendengarkan.


“Tapi aku bertemu denganmu di kelas tambahan. Saat itu, aku sudah belajar banyak tentang kehidupan normal masyarakat. Aku bergaul dengan baik dengan semuanya, hingga aku tahu ternyata ada yang lebih tidak normal di sana. Hahahahaha.”


Vicky, ucapkan selamat tinggal pada matahari terbenam. Aku akan mengakhirimu saat ini juga.


“Tapi aku bahagia dengan ketidak-normalanmu, itu sangat menyenangkan.”


Vicky tersenyum, itu membuat hatiku bergetar dan bergerak maju. Aku ... memiliki teman.


“Kau adalah teman pertamaku. Aku menerimamu apa adanya, kau pun harus begitu.” Ucapku tanpa sadar.


Dan, wow! Aku baru saja mengucapkan kalimat terbijaksana yang pernah terlontar dari mulutku.


Vicky hanya tersenyum sambil mengangguk.


“Tapi, terimakasih. Quinzha Leva.” Komentarnya kemudian.


Ya, tentu saja. Sama-sama.


***


Orang ini, dia selalu membangunkanku. Padahal, sekali-sekali aku berencana akulah yang membangunkannya.


“Leva bangunlah. Ini sudah jam lima pagi”.


Makanya aku masih tidur.


“Kau tidak boleh melewatkan hawa sejuknya pagi, kau juga harus melihat matahari terbit.”


Ada yang istimewa dengan matahari terbit?


Dia membuka jendela, Tuhan, dinginnya. Tidakkah dia menyadari bahwa rumahnya ada di dataran yang tinggi?


Aku menyelimuti diriku, lagi.


“Leva!”


Dia mengguncang-guncang tubuhku, sungguh tragis untuk orang yang bermalam dengan Vicky.


“Leva! Aku akan menghabiskan semua kuenya!”


Ya! Itu berhasil.


“Kue?” Kataku, mataku masih sayu mencari-cari kue, aku tidak bisa merasakan aromanya. Apa aku sedang flu?


“Itu berhasil!” Gumamnya, sulit dipercaya. “Luar bisa, itu berhasil. Padahal aku hanya asal mencoba!”


Dia berbohong?


“Kuenya …”


“Kau harus bangun dulu baru makan kue, jika tidak aku akan menghabiskan semuanya sendirian.”


Maka aku akan berdoa lebih banyak lagi agar kau sakit perut. Tapi itu cukup efektif untuk membuatku ke kamar mandi, jika aku ke kamar mandi maka aku akan sepenuhnya bangun.

__ADS_1


“Ayo kita lari pagi!” Katanya. Dia menarikku paksa. Dengan perasaan malas dan terpaksa, aku mengikutinya.


Kami berlari di sekitar padang ilalang. Sepatu pun basah, embun masih bergelantungan di atas dedaunan. Membuat kesal. Tapi syukurlah, dia tidak berbohong mengenai kue.


__ADS_2