
7 bulan kemudian.
Tidak terasa waktu begitu saja berlalu. Lena kembali menjalani kehidupan nya dengan bahagia bersama Erlan. Selama itu pula banyak suka suka yang Erlan rasakan dalam menghadapi Lena yang sedang mengandung anaknya. Lena terkadang sangat manja padanya. Tapi terkadang juga Lena sangat ketus dan sensitif terhadap nya. Namun Erlan selalu berhasil menghadapinya dengan sabar. Meski terkadang Erlan juga merasa setres sendiri. Namun Erlan selalu berpegang teguh pada cinta dan kasih nya yang begitu besar pada Lena. Erlan juga selalu mewanti wanti dirinya sendiri bahwa Lena bersikap seperti itu juga karena Lena sedang berjuang untuk memberinya gelar seorang ayah. Perjuangan yang pasti tidak akan bisa Erlan balas seumur hidupnya.
“Erlan.. Bangun.. Erlan iiihhh... Bangun..” Seperti saat ini misalnya. Erlan baru saja memejamkan kedua matanya namun Lena sudah merengek sembari menggoyangkan bahu Erlan membangunkan pria itu.
Erlan membuka kedua matanya perlahan. Rasa kantuk sudah benar-benar menguasai dirinya sehingga untuk membuka kedua matanya saja rasanya sangat berat. Apa lagi jika dirinya harus bangkit dari berbaring nya saat ini.
“Hem.. Ya sayang, ada apa?” Erlan bertanya dengan suara serak khas orang yang sudah mengantuk. Pria itu merasa sekujur badannya terasa pegal dan ngilu akibat dari aktivitasnya yang tiada henti karena permintaan ajaib Lena yang tidak mungkin dia tolak.
“Aku mau pipis..” Ujar Lena manja.
Erlan menghela napas. Lena sepertinya memang tidak bisa membiarkan nya beristirahat dengan tenang. Bahkan untuk sekedar buang air kecil ke kamar mandi saja Erlan harus menemaninya.
“Temenin..” Rengeknya yang membuat Erlan tidak bisa untuk berkata tidak.
Dengan sangat pelan Erlan pun bangun dari berbaring nya. Pria itu menguap dan mengucek kedua matanya sebelum menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuhnya sampai batas pinggang. Erlan kemudian turun lebih dulu dari ranjang. Dia mengitari bagian depan ranjang nya dan Lena mendekat pada Lena yang sedang menanti uluran tangan suaminya itu.
Ya, Lena memang sedikit kesusahan jika harus bangkit dari ranjang karena perutnya yang besar. Hal itu juga yang membuat Erlan tidak tega jika harus meninggalkan Lena di rumah hanya dengan para pelayan saja. Erlan pun akhirnya memutuskan untuk mengerjakan semua pekerjaan nya dari rumah. Kalaupun memang ada pertemuan dengan client Erlan menyuruh mereka untuk datang sendiri ke kediaman nya agar dirinya tetap bisa berada di rumah menemani istri tercintanya.
“Pelan pelan sayang...” Titah Erlan saat menuntun Lena menuju kamar mandi.
“Iyaaa.. Ini udah pelan pelan banget kok.” Balas Lena dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
Lena sangat bahagia karena di usia kehamilan nya yang sudah tua Erlan selalu ada di samping nya setiap waktu. Erlan juga selalu sabar menghadapi mood nya yang berubah ubah.
__ADS_1
Begitu sampai di kamar mandi, Erlan pun berdiri di ambang pintu yang sengaja di biarkan terbuka, menunggu Lena yang sedang pipis.
Tidak ada rasa malu di pikiran Lena sejak hamil. Terkadang Lena bahkan meminta Erlan memandikan nya.
“Sudah?” Tanya Erlan dengan sabar.
Lena tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Namun saat Erlan melangkah mendekat untuk membantunya bangkit dari duduknya di kloset, tiba tiba ekspresinya berubah. Lena meringis merasakan sesuatu yang sangat asing di perutnya.
“Kenapa sayang?” Tanya Erlan yang langsung panik melihat ekspresi Lena yang mendadak berubah.
“Ssshhh.. Aduhh.. Erlan.. Perut aku.. Sshh..” Lena meringis dan mengaduh sembari memegangi perutnya.
“Ya Tuhan.. Sayang kamu kenapa? Apanya yang sakit sayang?” Erlan yang panik pun heboh sendiri. Erlan tidak tau jika Lena akan segera melahirkan. Pria itu benar benar tidak berpengalaman.
“Aawwhh.. Erlan sakit...”
Para pelayan yang memang selalu sigap termasuk si mbok langsung terbangun dan berlarian panik mendengar teriakan membahana Erlan begitu juga dengan para bodyguard yang sampai ada yang bertabrakan saking kalang kabutnya.
“Siapkan mobil sekarang juga.” Perintah Erlan dengan sangat tegas.
Jantung Erlan berdetak sangat cepat dengan napas memburu karena kondisi Lena yang mendadak kesakitan setelah buang air kecil. Terlebih Lena yang juga terus mengaduh kesakitan di gendongan nya.
Si mbok yang melihat itu berinisiatif menyuruh pelayan lain untuk menyiapkan segala keperluan yang pasti akan sangat di perlukan oleh Lena nantinya. Sementara dirinya memberanikan diri mendekat pada Erlan yang sedang menunggu mobil di teras depan rumah.
“Mohon maaf sebelumnya tuan, mengingat usia kandungan nyonya sekarang sepertinya nyonya akan segera melahirkan.” Ujar si mbok yang langsung membuat Erlan menoleh padanya.
__ADS_1
“Apa?” Lirih Erlan terkejut.
“Ya tuan.. Anda harus tenang. Semuanya pasti akan baik baik saja.” Senyum si mbok dengan sedikit anggukan kepalanya.
Erlan menelan ludah kemudian menatap pada Lena yang sudah bermandikan keringat dan mengaduh kesakitan di gendongan nya. Itu artinya Lena akan memulai perjuangan intinya yaitu bertaruh nyawa untuk melahirkan putra pertama mereka.
Rasa takut itu semakin membesar mengingat perjuangan Lena yang pasti tidak akan mudah. Apa lagi nyawa Lena lah yang akan menjadi taruhannya.
“Apa yang harus aku lakukan..” Gumam Erlan tanpa sadar.
Si mbok yang mendengar itu tersenyum. Wanita tua itu tahu apa yang sedang Erlan rasakan sekarang.
“Tuan harus tenang dan terus temani nyonya. Tuan harus menyemangati nyonya. Yakin dan percayalah tuan semuanya akan baik baik saja.” Kata si mbok memberi pencerahan pada Erlan yang sedang takut juga bingung secara bersamaan.
Erlan menghela napas kemudian menganggukkan kepalanya. Erlan merasa dirinya tidak seharusnya lemah apa lagi merasa takut. Justru sebaliknya, Erlan harus semangat untuk menyambut kelahiran putranya ke dunia.
Begitu mobil sudah siap, Erlan pun segera membawa Lena masuk ke dalam. Tidak lupa Erlan berpesan pada si mbok agar menyusul dan membawakan semua yang pasti akan sangat di butuhkan nantinya dalam proses persalinan.
“Ssshhh... Sakit...” Ringis Lena dalam dekapan Erlan di dalam mobil.
“Iya sayang.. Kamu tenang yah.. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan anak kita. Kamu semangat ya sayang.. Kamu pasti bisa. Aku yakin itu...” Bisik Erlan lembut. Erlan sebenarnya sedang sangat panik. Namun dia berusaha untuk tenang untuk menyemangati istrinya.
“Ap pppahh?” Lirih Lena sembari menahan sakit yang menderanya.
“Ya sayang.. Anak kita akan segera lahir. Kamu semangat yah.. Aku yakin kamu bisa. Kamu hebat. Dan aku percaya sama kamu..” Senyum Erlan dengan matanya yang sudah berair.
__ADS_1
Lena yang mendengarnya menganggukkan kepalanya. Dia ikut tersenyum bahagia di tengah kesakitan nya karena sebentar lagi putranya akan lahir kedunia ini.