
“Ya sudah kalau begitu.” Sherin menutup sambungan telepon nya setelah mengetahui apa yang selama seminggu ini Alex sembunyikan darinya juga kedua orang tuanya. Sherin meminta bantuan pada orang yang dia bayar untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Alex sebenarnya. Dan berkat orang tersebut kini Sherin tau yang terjadi sebenarnya.
“Melisa lagi, Melisa lagi. Lagi lagi dia. Memang apa sih hebatnya si Melisa itu? Kenapa Alex bahkan sampai rela babak belur hanya demi perempuan seperti itu?” Marah Melisa setelah tau bahwa Alex babak belur karena Alvin yang memukulinya dengan membabi buta.
“Sepertinya memang aku harus menemui Alvin dan meminta agar dia segera menikahi Melisa. Dengan begitu Alex pasti tidak akan lagi mengharapkan Melisa.” Gumam Sherin dengan helaan napas kasar.
Sherin tidak tau apa lagi yang harus dia lakukan agar Alex mau menganggapnya ada. Padahal Sherin sudah sangat mencintai Alex, namun sedikitpun Alex tidak pernah mau memperhatikan nya. Jangan kan memperhatikan nya, menatapnya saja Alex sepertinya enggan. Padahal Sherin merasa dirinya lebih cantik dari Lena juga Melisa.
“Alex.. Aku nggak akan berhenti berusaha. Aku yakin kamu hanya milikku. Aku yakin kita memang di ditakdirkan bersama oleh Tuhan.” Sherin membatin dengan penuh keyakinan. Wanita itu benar benar sangat keras kepala. Bahkan kenyataan bahwa Alex tidak menginginkan nya pun masih tidak juga membuat nya sadar.
Ketika Sherin berniat bangkit dari duduknya di tepi ranjang, tiba tiba ponsel di genggaman nya berdering. Sherin menunduk menatap layar ponselnya yang menyala. Kedua mata nya melebar ketika mendapati nama kontak yang tidak pernah menghubungi nya juga tidak pernah sekalipun dia hubungi sejak Sherin memutuskan menikah dengan Alex.
“Ayah...” Gumamnya pelan. Ya, ayah Sherin menelepon untuk yang pertama kalinya selama Sherin hidup bersama dengan Alex.
Sherin menelan ludah. Dia sudah lama tidak bertemu dengan keluarganya. Bahkan dia juga sama sekali tidak tau bagaimana kabar keluarganya sekarang.
__ADS_1
Mendadak rasa rindu akan kehangatan keluarga yang dulu selalu Sherin rasakan kembali menghampiri nya. Sherin merindukan kedua orang tuanya. Sherin juga merindukan adik laki lakinya yang selalu bersikap manja padanya. Sherin merindukan keluarganya yang dia tinggalkan demi bisa hidup bersama seorang Alexander yang tidak menaruh sedikitpun perasaan padanya.
Sherin menarik napas dalam dalam sebelum mengangkat telepon dari sang ayah.
“Sherina...” Suara berat itu langsung terdengar begitu sangat menyentuh di indra pendengaran bahkan langsung masuk ke dalam relung hati Sherin yang paling dalam. Bayangan senyuman manis pria yang tidak lain adalah pahlawan dalam hidupnya itu langsung memenuhi penglihatan Sherin. Tanpa sadar bahkan Sherin sampai meneteskan air matanya.
Sherin membuka mulutnya hendak mengucapkan sesuatu, namun Sherin tidak kuasa menahan tangis sehingga suaranya kembali tertelan bersamaan dengan rasa sesak yang Sherin rasakan di dadanya.
“Kamu apa kabar nak? Apa kamu tidak ingin pulang nak? Apa kamu tidak merindukan ayah dan bunda mu?” Pertanyaan dengan nada sedih itu terdengar sangat menyayat hati Sherin. Selama ini memang Sherin tidak pernah mengingat keluarga nya sendiri. Semua itu karena Sherin sibuk memikirkan cara agar Alex mau menatap dan menganggapnya ada sehingga tanpa sadar Sherin mengabaikan orang orang yang sangat menyayanginya, yaitu keluarganya sendiri.
Sherin memejamkan kedua matanya. Kepalanya menggeleng tidak kuasa menahan perasaan yang begitu membuncah di dadanya. Perasaan sedih yang selama ini tidak pernah mencuat ke permukaan. Perasaan yang selalu Sherin abaikan karena kesibukan Sherin memikirkan Alex yang sampai sekarang masih belum juga bisa dia raih.
“Kalau kamu berkenan, datanglah kerumah nak. Bunda mu sangat merindukan kamu. Dia selalu menangis setiap melihat photo kamu. Bunda kamu sangat mengharapkan kamu datang menjenguknya nak.” Ayah Sherin kembali menambahkan. Nada suaranya begitu penuh harapan dan kesakitan yang bisa Sherin pahami.
Kilasan kebersamaan mereka saat itu juga langsung memenuhi benak Sherin. Mulai dari saat dirinya bermain bersama sang ayah waktu dirinya masih kecil sampai kebersamaan saat mereka melakukan segala hal bersama. Saat liburan bersama bahkan sampai kebersamaan moment sederhana mereka seperti sarapan pagi dan makan siang ataupun malam bersama yang selalu di hiasi dengan tawa dan canda.
__ADS_1
Air mata Sherin sudah tidak bisa lagi di bendung. Tubuhnya bergetar hebat sampai pada akhirnya Sherin merasa tidak sanggup lagi mendengar suara sang ayah. Karena tubuhnya yang bergetar begitu hebat, ponsel yang berada di genggaman Sherin sampai terjatuh mumbul ke kasur yang kemudian mendarat dengan keras di lantai membuat ponsel Sherin mati yang artinya sambungan telepon itu terputus begitu saja.
Kedua orang tuanya juga adiknya adalah keluarga yang Sherin miliki. Mereka selalu ada dan mendukung Sherin sejak dulu. Tidak terkecuali keputusan Sherin untuk menikah dengan Alex. Dan keputusan itulah yang akhirnya membuat sang ayah murka sehingga memilih untuk buta dengan apa yang Sherin lakukan. Tapi sekarang tiba tiba pria itu menghubunginya dan berkata dengan penuh harap juga sakit agar Sherin datang menemui sang bunda yang sedang sakit sakitan karena kepergian nya.
“Bunda... Sherin kangen sama bunda. Maafin Sherin bunda.. Maafin Sherin..” Tangis Sherin disertai isakan yang begitu menyayat hati.
Sherin tidak pernah menyangka kerinduan yang tidak pernah di sadarinya itu terhadap keluarganya akan mencuat begitu sangat menyakitkan. Apa lagi mendengar bunda nya yang katanya sering sakit semenjak kepergian nya. Sherin merasa sangat tidak tega sekaligus merasa sangat bersalah.
Dari luar kamar Sherin, Alex yang saat itu baru saja selesai membasahi kerongkongan nya yang terasa kering dengan segelas air putih mengeryit mendengar suara Isak tangis memilukan dari kamar Sherin. Karena merasa penasaran, Alex pun berlahan melangkah mendekat pada pintu kamar Sherin yang sedikit terbuka.
Alex mendorong sedikit pintu bercat coklat gelap itu agar tau apa yang sedang terjadi di kamar istrinya itu. Begitu pintu dia dorong sedikit, Alex mendapati Sherin yang sedang menangis terisak sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan nya. Suara tangisan itu terdengar sangat menyayat hati bahkan sampai menyentuh hati Alex yang begitu keras.
Alex terus menatap Sherin yang sama sekali tidak menyadari kehadiran nya. Pria itu merasa bingung dengan apa yang terjadi pada Sherin. Padahal sejak dirinya keluar dari rumah sakit mereka berdua sama sekali tidak berdebat apapun. Sherin juga tidak mencari gara gara padanya dengan banyak bertanya yang di sertai tuntutan. Dan Alex, tentu saja dia tidak akan berulah jika Sherin tidak memancingnya lebih dulu.
Tapi sekarang Sherin menangis begitu sangat kesakitan. Hal itu membuat Alex bertanya tanya dalam hati tentang apa yang terjadi pada Sherin sebenarnya. Namun kemudian Alex menghela napas kasar dan berdecak. Alex merasa tidak perlu memperdulikan Sherin.
__ADS_1
“Sudahlah, apapun yang terjadi pada perempuan itu bukan urusanku.” Batin Alex yang kemudian berlalu begitu saja dari pintu kamar Sherin.