
Tiga hari berlalu.
Kondisi Sherin berangsur angsur membaik. Apa lagi Alex juga menjadi sering menemani Sherin di rumah sakit. Walaupun Alex tidak pernah memperlihatkan wajah sumringahnya namun itu tidak masalah bagi seorang Sherin. Karena dengan Alex selalu menyempatkan waktu untuk menemaninya saja Sherin sudah merasa sangat bahagia. Dan hari ini Sherin sudah di perbolehkan pulang oleh dokter karena memang kondisinya sudah pulih seperti semula.
“Alex..” Panggil Sherin pelan. Saat ini mereka berdua sudah berada di dalam mobil dengan bibi yang duduk di kursi belakang.
Alex hanya menatap sebentar pada Sherin sebelum akhirnya mulai menghidupkan mesin mobilnya dan perlahan berlalu dari parkiran depan rumah sakit.
“Aku makasih banget ya karena kamu sudah mau nyempetin waktu buat nemenin aku tiga hari ini. Aku seneng banget.” Ujar Sherin.
Alex hanya diam saja. Pria itu fokus menatap ke jalan yang sedang di lalui oleh kendaraan beroda empatnya. Sebenarnya pikiran Alex sedang tertuju pada Melisa yang sudah tiga hari ini pula tidak masuk kerja. Wanita itu hanya meminta izin lewat pesan singkat padanya bahwa dirinya sedang kurang enak badan. Saat Alex bertanya balik Melisa sama sekali tidak membalas bahkan tidak membuka pesan darinya.
“Ah ya, aku tiba tiba pengin banget makan bakso di pinggiran jalan. Boleh tidak?” Sherin berusaha semanis mungkin menarik perhatian Alex yang sedang fokus memikirkan Melisa. Dan itu berhasil membuat Alex semakin merasa jengah. Tapi apa daya, Alex sudah berjanji akan berubah pada mamahnya yang menangis pilu dua hari yang lalu saat Alex menemui dan meminta maaf padanya atas semua yang sudah Alex perbuat. Alex juga sudah berjanji akan menjadi suami dan papah yang baik untuk Sherin juga calon anaknya.
“Ya...” Angguk Alex singkat.
Sherin dengan sangat manja menunjukan tempat yang dia sukai saat makan bakso. Dan tempat itu ternyata berada tidak jauh dari kediaman sederhana Melisa. Hal itu membuat Alex semakin memikirkan bagaimana keadaan Melisa sekarang. Bahkan sempat terbesit juga dalam pikiran Alex untuk mampir ke rumah Melisa, namun itu sangat tidak mungkin karena dirinya sedang bersama Sherin juga bibi.
“Alex boleh aku makan pakai sambel? Aku sangat tidak bisa makan yang berkuah jika tidak ada sambelnya..” Sherin menatap memelas pada Alex yang sebenarnya tidak perduli dengan apapun yang ingin Sherin makan. Wanita itu berusaha memperlihatkan sikap manis manjanya pada Alex yang justru membuat Alex merasa risih.
“Boleh ya..” Sherin mengerjapkan beberapa kali kedua matanya menatap Alex dengan tatapan penuh harap.
__ADS_1
Alex melengos dengan helaan napas pelan.
“Terserah kamu saja.” Jawab Alex dingin.
Ekspresi Sherin langsung berubah mendengar jawaban dingin Alex. Tangannya mengepal erat merasa sangat kesal karena Alex seperti tidak perduli padanya. Namun Sherin berusaha untuk menahannya. Sherin tidak mau membuat Alex murka. Sherin juga tidak ingin kehilangan kesempatan membuat Alex merubah pandangan pada dirinya. Sherin ingin Alex melihatnya sebagai wanita terbaik dengan segala tingkah manis dan manja Sherin.
“Kamu harus sabar Sherin.. Alex sudah mulai perhatian sama kamu. Kamu harus bisa memanfaatkan itu.” Batin Sherin tersenyum penuh makna.
Selama mereka makan bakso, Sherin terus saja berceloteh. Sherin juga berpura pura kepedesan yang mau tidak mau membuat Alex harus mengambilkan minuman untuk Sherin.
“Terimakasih.. Ya Tuhan.. Aku tidak menyangka sambalnya sepedas ini..” Sherin tertawa setelah menenggak segelas kecil air putih yang di sodorkan oleh Alex.
Alex hanya diam saja. Kedua matanya sesekali menatap kearah jalanan. Entah kenapa Alex berharap akan ada Melisa yang melintas disana. Namun itu hanyalah harapan Alex saja karena pada kenyataannya Melisa sama sekali tidak terlihat.
“Tiga ya mang. Saos sama sambalnya pisah saja. Yang satu nggak usah pakai sayur.” Katanya.
“Siap neng. Tunggu sebentar ya..” Sahut si mamang tukang bakso.
“Oke mang.” Angguk Melisa yang kemudian memilih untuk duduk di kursi kosong yang tepat berada di belakang Alex.
Sejenak Melisa terdiam hingga akhirnya dia memutuskan untuk memainkan ponselnya sembari menunggu bakso pesanan nya di racik oleh si penjual.
__ADS_1
Posisi Alex dan Melisa benar benar sangat dekat sekarang. Mereka duduk saling membelakangi dan tidak menyadari keberadaan satu sama lain. Melisa yang fokus dengan ponselnya, sedang Alex fokus dengan pikiran dan harapannya melihat Melisa sembari terus menatap jalanan di depannya. Alex bahkan sama sekali tidak menyicipi baksonya dan hanya mengaduk aduknya saja tanpa berselera.
“Kamu kenapa? Baksonya nggak enak ya?” Tanya Sherin pada Alex karena melihat bakso di mangkok Alex yang masih utuh.
Alex menoleh menatap pada Sherin dengan ekspresi datarnya. Malas sekali rasanya jika harus menjawab pertanyaan tidak penting Sherin.
Alex kemudian mengeluarkan uang seratus ribuan dua lembar dari dompetnya. Dia meletakkannya di bawah mangkok berisi baksonya yang masih utuh.
“Kita pulang sekarang.” Katanya dingin. Alex bahkan bangkit begitu saja kemudian berlalu menuju mobilnya.
Sherin yang melihat itu hanya bisa menghela napas. Sherin tau memang tidak mudah membuat Alex menatapnya. Tapi Sherin yakin tidak ada yang tidak mungkin selama dirinya mau berusaha. Dan Sherin akan melakukan apapun demi Alex mau menatapnya lagi seperti dulu.
“Ya udah bi kita pulang sekarang.” Ajak Sherin pada bibi.
“Baik nyonya..” Angguk bibi. Wanita tua itu membantu Sherin bangkit dari duduknya kemudian mengikuti Sherin melangkah menyusul Alex menuju mobilnya.
Begitu Sherin dan bibi masuk ke dalam mobilnya, Alex pun segera melajukan nya dengan kecepatan sedang. Dan tepat setelah mobil Alex berlalu, Melisa pun menoleh. Wanita itu mengedarkan pandangan nya ke segala arah namun tidak mendapati apapun.
“Sepertinya tadi aku mendengar suara pak Alex dan nyonya Sherin.” Gumam Melisa pelan.
Melisa tampak berpikir. Dia kemudian menghela napas pelan. Sudah tiga hari ini dirinya tidak masuk kerja. Melisa sibuk berjualan kue yang kebetulan langsung banjir pesanan. Hal itu juga membuat Melisa mulai menimbang nimbang apa yang David katakan yaitu tentang Melisa yang lebih baik berhenti dari pekerjaannya.
__ADS_1
“Sudahlah, mungkin itu hanya perasaanku saja.” Melisa kembali memainkan ponselnya. Dia tersenyum saat mendapati beberapa pesan dari orang orang yang memesan kue darinya. Apa lagi mereka juga memberikan komentar bagus tentang rasa kue buatan Melisa.
“Syukurlah kalau mereka semua senang dengan kue buatanku.” Batin Melisa merasa sangat bersyukur.