SAYANG

SAYANG
Episode 86


__ADS_3

Di rumah sakit, Sherin terus saja terdiam seorang diri. Bahkan saat orang orang di luar sana berbondong bondong mendo'akan agar dirinya cepat sembuh meski hanya lewat sosial media, satu pun keluarganya tidak ada yang datang untuk menengoknya. Begitu juga dengan Alex yang tidak terlihat sejak Sherin membuka mata dan menyadari dirinya sedang berada di rumah sakit. Itu benar benar sangat membuatnya merasa tersakiti. Bayangkan saja, saat dirinya butuh support dari orang orang terdekatnya mereka justru semakin menjauh dan seakan sedang memperlihatkan bahwa sedikitpun mereka tidak perduli dengan keadaan Sherin sekarang.


Kedua orang tua Alex memang datang bahkan sempat menemaninya. Namun mereka sama sekali tidak mengajak Sherin berbicara. Mereka hanya diam dan mengobrol sendiri. Mereka berdua juga menganggap Sherin tidak ada.


Sherin memejamkan kedua matanya dan saat itulah air matanya menetes melewati dua sudut matanya. Sherin merasa sangat putus asa sekarang. Dirinya merasa tidak punya lagi pegangan untuk bertahan. Alex yang seharusnya selalu ada di sampingnya di saat seperti ini justru menghilang seperti di telan bumi. Tidak ada kabar sama sekali.


Ceklek


Suara pintu yang di buka kemudian di tutup kembali dengan sangat pelan tidak membuat Sherin tertarik untuk membuka kedua matanya. Sherin sudah tau siapa yang datang. Siapa lagi kalau bukan bibi. Karena memang hanya wanita tua itu yang setia menemani dan memperhatikan nya.


“Selamat malam nyonya...”


Suara lembut dan pelan seorang wanita membuat Sherin mengeryit. Suara yang begitu familiar namun tidak Sherin tau siapa pemiliknya.


Merasa penasaran, Sherin pun pelan pelan membuka kedua matanya lalu menoleh. Saat itulah pandangannya bertemu dengan Melisa yang sudah berdiri di samping kiri brankarnya dengan membawa parsel buah serta sebuket bunga di tangannya.


“Kamu...” Sherin terkejut karena kehadiran Melisa. Padahal dia pikir tadi yang masuk ke dalam ruangannya adalah bibi, bukan wanita yang sama sekali tidak dia harapkan kedatangannya. Wanita yang juga adalah penyebab utama dirinya masuk ke dalam rumah sakit.


“Ngapain kamu kesini? Belum puas kamu melihat saya begini hah?! Belum puas kamu menghancurkan perasaan dan hati saya hah?!” Sherin memekik tidak bisa menahan kekesalan nya begitu melihat sosok Melisa.

__ADS_1


“Belum puas kamu menghancurkan harga diri saya sebagai istri Alex?! Belum puas kamu membuat rumah tangga saya hancur hah?!” Sherin menangis meraung karena tidak bisa menahan kesedihan di hatinya. Melihat Melisa berdiri di depannya membuat Sherin merasa semakin di rendahkan.


Melisa menunduk. Dadanya ikut terasa sesak mendengar tangisan Sherin. Melisa juga tidak ingin semua itu terjadi. Tapi Melisa tidak berdaya. Melisa tidak mungkin membantah Alex karena takut kehilangan pekerjaannya. Karena bagaimanapun juga masa depan kedua adik laki lakinya berada di tangannya. Mereka akan putus sekolah jika sampai Melisa tidak bekerja.


“Maaf nyonya.. Maaf..” Lirih Melisa dengan suara bergetar. Melisa sadar dirinya salah. Melisa juga sadar apa yang dia lakukan dengan menyetujui ajakan Alex pergi ke pesta yang di adakan keluarga Gilbert sudah sangat menyakiti Sherin.


“Saya.. Saya...” Melisa tidak bisa lagi membendung air matanya. Nalurinya sebagai seorang wanita juga ikut merasakan apa yang Sherin rasakan. Tapi sekali lagi, Melisa tidak mungkin mempertaruhkan masa depan kedua adiknya.


“Apa?! Kamu mau ngomong apa?! Apa kamu pikir maaf saja cukup untuk mengobati luka hati saya?! Apa kamu pikir maaf kamu bisa membuat Alex kembali mencintai saya hah?!”


Melisa menggeleng dengan kepala terus tertunduk. Wanita itu tidak tau harus bagaimana sekarang. Melisa tau juga sadar dirinya sudah menorehkan luka di hati Sherin begitu dalam.


Melisa hanya bisa diam dan menangis. Dia mencoba memahami bagaimana perasaan Sherin sekarang.


“Pergi !!” Histeris Sherin sambil terus menangis.


Bibi yang mendengar pekikan itu langsung masuk ke dalam ruang rawat Sherin. Dia terkejut melihat Melisa yang menangis terjatuh di lantai. Sedang Sherin, dia terus berteriak marah dan sesekali terisak mengusir Melisa yang hanya diam menangis terduduk di lantai.


Sejenak bibi merasa di lema antara menenangkan Sherin atau menolong Melisa yang terduduk di lantai. Apa lagi keduanya sama sama menangis sekarang. Hanya bedanya Sherin menangis terisak begitu keras, sedang Melisa hanya menangis dalam diam.

__ADS_1


“Kakak...” David yang malam itu memang mengantar Melisa untuk menjenguk Sherin terkejut melihat kakaknya tersungkur di lantai. Remaja itu langsung menubruk dan membantu Melisa bangkit berdiri dari lantai.


“Ayo kak... Kita pulang saja ya..” Lirih David merasa tidak tega melihat kakaknya di perlakukan begitu kasar oleh istri dari atasannya.


“Pergi kamu !! Pergi !! Saya nggak mau melihat wajah kamu !!” Sherin kembali berteriak sambil melempar apa saja yang dapat di raihnya pada Melisa. Hal itu membuat bibi bergegas mendekat pada Sherin dan berusaha untuk menenangkan nya. Sedangkan David, dia segera membawa kakaknya keluar dari ruang rawat Sherin. David tidak bisa menyalahkan Sherin untuk membela kakaknya. Tapi yang David yakin, kakaknya pasti punya alasan kenapa sampai mau menyetujui ajakan Alex untuk menghadiri pesta yang di adakan keluarga Gilbert.


Saat sudah berada di luar ruang rawat Sherin, tangisan Melisa mulai terdengar. Wanita itu terisak merasa sangat sedih juga merasa bersalah karena sudah membuat Sherin seperti sekarang.


Tidak tega mendengar tangisan kakaknya, David pun langsung merengkuh tubuh Melisa ke dalam pelukan nya. David benar benar bingung harus bagaimana sekarang. Karena memang bagaimanapun juga apa yang Melisa lakukan memang salah. Istri mana yang tidak sakit hati melihat suaminya pergi menghadiri pesta dengan wanita lain. Sedang istrinya sendiri di abaikan dan di anggap tidak ada.


“Kakak yang salah Vid.. Kakak jahat.. Kakak yang membuat nyonya Sherin masuk rumah sakit..” Tangis Melisa meracau dalam pelukan adik laki laki nya.


David hanya bisa diam saja. Dia mengusap usap lembut punggung bergetar Melisa berusaha untuk menenangkan kakaknya. David yakin kakaknya punya alasan melakukan itu. David percaya kakaknya adalah wanita baik baik yang pasti tidak akan sampai hati menyakiti sesama wanita.


“Kita pulang sekarang ya kak..” Bisik David.


Melisa hanya bisa mengangguk saja. Namun saat hendak melangkah kakinya tiba tiba melemas hingga tubuhnya hampir saja ambruk ke lantai jika saja David tidak menopangnya. Mengerti dengan keadaan sang kakak, David pun membopong tubuh kakaknya kemudian membawanya melangkah menjauh dari ruang rawat Sherin.


Dari kejauhan tanpa David dan Melisa sadari, Alex sedang memperhatikan. Pria itu mematung di tempatnya melihat Melisa yang menangis dalam pelukan adik laki lakinya. Alex tidak tau apa yang terjadi di dalam ruang rawat Sherin tadi. Tapi yang pasti Alex yakin adalah Sherin murka pada Melisa.

__ADS_1


Alex menghela napas. Entah kenapa melihat Melisa menangis dadanya ikut terasa sesak. Rasanya Alex ingin berada di posisi David, memeluk dan menenangkan Melisa yang sedang kalut. Tapi Alex tau itu tidak mungkin karena Alex sendiri juga meyakini bahwa pasti Melisa pun sangat membencinya mengingat apa yang selama ini Alex lakukan padanya.


__ADS_2