SAYANG

SAYANG
Semangat yang Mencapai Pulau Komodo


__ADS_3

Dua hari menjelang festival, sekolah ramai dan sibuk. Siswa dan siswi berjalan mondar-mandir di koridor. Suara ketukan palu tak beraturan dari setiap kelas menciptakan ritme yang‒mengesalkan. Suara tawa mereka dan teriakan yang selama ini terdengar bising di telingaku kini terasa nyaman dan hangat. Aku bisa merasakan berada di lingkungan yang seperti ini ternyata sedikit lebih menyenangkan dari pada menonton anime. Karena aku merasa seperti sedang berada di dalam anime itu sendiri.


“Leva,bantu aku merangkai pita-pitanya.” Kata Vicky yang duduk di dekatku, dia sengaja menegurku karena sejak tadi aku terus memperhatikan Fairel dan Fajar yang sedang mengedit video menggunakan laptopnya masing-masing, keahliannya dalam mengedit video tidak bisa dikatakan amatiran, mereka berdua tampak ahli, tampak.


“Ya!” Jawabku.


“Aku tidak melihat pak Abdul dan ibu Tiwa sejak tadi.” Gumam Vicky dengan suara pelan.


“Mereka menghadiri pertemuan para guru,” jawabku, karena kebetulan aku tahu.


Vicky menatapku terkejut. Bola matanya hampir keluar. “Leva, kau baru saja menjawab pertanyaan yang tidak diajukan secara khusus kepadamu.” Katanya dengan nada penuh penekanan.


“Tidak biasanya!” Komentar Adit.


Yang lainnya pun ikut berkomentar, “Apa kau sakit?”


“Kau ingin pulang?”


“Sebaiknya kau istrahat.”


“Aku baik-baik saja,” kataku. Juga aku sangat marah sekarang.


“Apa yang mereka lakukan?” Tanya Adit setelah beberapa saat terdiam menatapku.


“Maksudmu, mereka?” Tanya Vicky.


“Ono dan Abi! Kenapa mereka menghiasi ruangannya di sini? Kita seharusnya memperindah ruang olah raga.” Jelas Adit.


“Kau belum tahu?” Tanya Vicky.


“Tentang apa?”


“Ruang olah raga tidak bisa digunakan.”


“Kenapa?” Tanya Adit kaget.


“Ada kelas lain yang menggunakannya, mereka terlebih dahulu mengajukan permohonon penggunaan ruangan, mereka akan menggunakannya seharian penuh.” Jelasku. Lelahnya, ini kalimat terpanjang yang pernah kuucapkan. Akibatnya secara bersamaan Adit dan Vicky mengatakan―


“Leva, kau harus ke rumah sakit!”


Aku tidak menyalahkan mereka.


“SEMUANYAAA!” Teriak Tiwa begitu dia memasuki ruangan, dia datang dengan tergesa-gesa. “Berkumpul, berkumpul, berkumpul!” Katanya penuh semangat. “Kita akan berlibur ke pulau … Komodo!” Lanjutnya, berteriak.


“Tenanglah ibu Tiwa.” Kata pak Abdul yang berjalan di belakangnya.


“Kita akan melakukan perjalanan dengan pesawat, setelah mendarat kita akan berangkat ke pulau dengan kapal pesiar. Kita akan menikmati jus jeruk di tengah teriknya matahari sambil menyaksikan pertunjukan liar para lumba-lumba di lautan luas. Menikmati semilir angin di atas gelombang yang menggoncangkan kapal, disambut dengan seikat bunga mawar oleh guide yang keren, beristrahat sejenak di hotel berbintang lima kemudian mulai tur dengan mengendarai sepeda, bertemu dengan para penyair jalanan, lalu berenang di pantai, dan … SANGAT MENYENANGKAN!” Kata Tiwa dengan mata berbinar-binar. Semangat membaranya menyilaukan mata. Dia punya cukup bayak imajinasi, sebenarnya, berapa umurnya?


“Ibu, sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Abi penasaran, maksudku dia sangat-sangat penasaran. Tentu saja, siapa yang tidak penasaran dengan gaya bahasa Tiwa yang menggairahkan.


“Ibu baru saja dari ruang rapat, terus … ah ini sangat menyenangkan!” Katanya.


Sekarang aku punya hal lainnya lagi yang membuatku penasaran, bagaimana cara dia dibesarkan?


“Kelas yang mendapatkan poin terbanyak saat festival akan memenangkan tiket pesawat untuk pergi ke pulau Komodo!” Lanjut Tiwa.


“APAAA?” Teriak Vicky, Adit dan Abi secara bersamaan.

__ADS_1


“Serius?” Tanya Fajar.


Tiwa mengangguk-ngangguk sambil tersenyum. Anggukannya tertalu banyak.


“Jika kita menang …”


“Kita akan ke pulau Komodo …”


“BENAAAAR!” Teriak Tiwa lagi. “Untuk para gadis!” Dia menunjukku dan Vicky, caranya menunjuk membuatku merinding, rasanya seperti seorang algojo sedang menjatuhkan hukuman mati padaku. “Bersiaplah! Kita akan disambut oleh para lelaki tampaaan!”


Syukurlah, dia tidak mengatakan akan memotong kepalaku. Lalu kenapa aku masih saja merinding? Apa karena kata-katanya? Apa dia benar-benar seorang guru? Kenapa laki-laki tampan? Seharusnya Komodo tampan. Juga, kenapa harus pulau Komodo? Kenapa tidak pulau Kucing atau pulau Panda? Panda lebih lucu dari pada Komodo.


“Ngomong-ngomong Bu, apa semua murid di dalam kelas yang akan ikut serta?” Tanya Ono.


“Itu … tidak disebutkan. Tapi, tentu saja, kan.”


“Masalahnya di rumahku hanya ada enam tiket.” Lanjut Ono.


“Maksudmu?”


“Beberapa hari yang lalu, seorang temannya ayag yang sedang dalam masa promosi tempat wisata memberi ayah enam tiket untuk perjalanan ke pulau Komodo. Kupikir tiket itulah yang akan jadi hadiahnya.”


“Maksudmu hanya ada enam tiket?”


“Ya!” Jawab Ono.


“Berarti dia akan membeli tiket tam―”


“Sayang sekali, ayah bukan orang yang dermawan.” Kata Ono sambil tersenyum. Tanpa dijelaskan pun semua orang pasti tahu, kepala sekolah orangnya pelit.


“Dia pasti menambahnya dengan uang sekolah.” Kata Tiwa.


“Sekolah tidak akan rugi jika hanya membeli tiga tiket tambahan.” Kata Vicky.


“Dia harus membeli 20 tiket tambahan, Vicky!” Jelas Adit.


“Jumlah kita hanya tujuh orang, sembilan dengan pak Abdul dan ibu Tiwa.” Bantah Vicky kesal.


“Vicky, jumlah murid di setiap kelas ada 25 orang. Kelas kita bukan patokannya.”


“Benar juga!” Kata Vicky lesu, dia menempelkan wajahnya pada meja.


“Tapi itu bisa saja terjadi jika kelas kita yang sudah dipastikan akan menang.”


“Untuk menang, kita harus mengumpulkan poin sebanyak-bayaknya, kan?” Tanya Fajar.


“Benar.” Jawab kami serentak.


“Untuk mendapatkan banyak poin, kita harus menang di banyak lomba, kan?”


“Benar!”


“Untuk mengikuti lomba, kita membutuhkan banyak orang, kan?”


“Benar!” Jawab mereka serentak, Fajar tersenyum.


Kelas menjadi hening. Mereka semua seakan-akan baru saja menyadari sesuatu yang sangat besar. Dengan bersamaan mereka menghembuskan nafasnya berat.

__ADS_1


“Pulau Komodonya jadi semakin jauh …” kata Tiwa dan Vicky secara bersamaan. Seingin itukah mereka ke pulau Komodo?


“Juga,” kata Fairel tiba-tiba. “Sebagai ketua osis, aku tidak bisa ikut berpartisipasi dengan kalian!” Suaranya jelas dalam keheningan. Semua terpaku menatap Fairel. Senyum Fairel melebar, dia menggaruk kepalanya.


“APAAAAA!!??”


“Aku harus memantau berjalannya festival!” Jelas Fairel dengan wajah tak berdosa. Aura hitam menyelimuti setiap orang, kelas ini menjadi suram.


“Tapi poin juga bisa didapatkan dari penghasilan festival!” Kata Fairel, perhatian mereka teralihkan dan ada sedikit cahaya di mata mereka.


“Penghasilan maksudmu …”


“Uang!”


“Oh ...” Kata mereka serentak.


“Penghasilan terbanyak di festival bernilai 50 poin.”


“Serius!!!!?” Tanya mereka serentak penuh semangat.


“Ya!”


“Waaahhh!”


“Tapi jika kita berpenghasilan paling banyak dari kelas lainnya.”


“Oh!” Kata mereka serentak.


“Aku punya ide, kita naikkan harga tiketnya.” Kata Ono.


“Itu bukan ide yang bagus, Ono,” bantah Fajar, “Kita akan kekurangan pengunjung jika seperti itu.”


“Kenapa tidak bekerja keras untuk meningkatkan pengunjung?” Kata Tiwa semangat.


“Ya!” Jawab mereka semangat. Memangnya semudah itu?


“Tapi kita tidak akan bisa menang jika hanya dengan 50 poin,” gumam pak Abdul.


“Tapi, 50 poin sama dengan memenangkan 5 kompetisi.” Jelas Vicky serius.


“Memangnya ada berapa kelas di sekolah ini?”


“Sekitar 37 kelas.” Kata pak Abdul. “Kita tidak akan menang hanya dengan 50 poin, belum tentu juga kita akan mendapatkan penghasilan paling banyak dari kelas lain.”


“Kita hanya perlu mengikuti sebanyak-banyaknya kompetisi, kan?”


“Itu maksudku.” Kata pak Abdul.


Aku tersenyum, tersenyum khawatir. Memikirkan nasibku nantinya. Meskipun aku tidak ingin ikut, mereka pasti akan memaksaku berpartisipasi. Soalnya mereka butuh banyak orang untuk memenangkan lomba, sementara kami hanya beranggotakan tujuh orang, dikurangi Fairel, jadi enam.


“Aku juga merasa kembali muda.” Teriak Tiwa. Jadi sekarang dia mengakui kalau dia sudah tua?


“Festival ini pasti akan menyenangkan,” kataku pelan pura-pura tertarik. Namun, kelas hening seketika.


“Leva, perlu kupanggilkan ambulan?” Kata mereka serentak.


Begitulah ...

__ADS_1


Kami menyelesaikan dekorasi kelasnya sampai jam 6 sore. Tapi tetap saja, menurutku kelas ini terlalu kecil untuk pemutaran film. Lalu aku pulang bersama Tiwa, di rumah Lea menyambutku dan melayaniku dengan baik. Besok kami akan menyebar pamflet diseluruh sekolah dan di luar sekolah. Jadi aku harus beristirahat dengan baik.


__ADS_2