SAYANG

SAYANG
Qhaza & Gadis Hantu


__ADS_3

Pukul tujuh pagi, aku terlambat. Itu sudah biasa, tidak masalah. Hanya saja yang tidak biasa adalah orang yang kulihat begitu pagi sudah ada di rumahku.


“Selamat pagi Leva!” Sapa Gin yang sedang berdiri di anak tangga terakhir. Aku melewatinya begitu saja, menuju dapur.


“Lea, aku lapar.” Kataku pada Lea yang sudah di dapur.


Lea menatapku lesu. “Haaa? Kau sudah lapar sepagi ini? Sarapan saja di sekolah. Aku tidak memasak apapun pagi ini, malas sekali rasanya. Aku ingin bersantai saja.” Kata Lea memelas. Yang benar saja, seluruh ibu di dunia tidak boleh mencontohinya.


“Baiklah.” Kataku kecewa.


Aku berangkat ke sekolah dengan Gin pagi ini. Dia memaksa. Kami jalan kaki, karena tidak mungkin untuk naik skateboardnya. Kami seharusnya ada di sekolah pukul tujuh pagi, tapi sekarang pukul 7.33 menit, tidak masalah untukku, tapi bagaimana dengannya? Bukan berarti aku benar-benar memikirkannya.


“Kau yakin kau sudah membaik?” Katanya ketika kami masih di jalan.


“Ya!” Jawabku seadanya.


“Maaf tidak menjenguk.”


Aku diam saja. Bukan masalah, dia tidak punya kewajiban untuk itu. Kehadirannya mungkin akan membuatku terganggu.


“Leva!” Panggil Gin, lagi.


“Hmm?”


“Ummm, festival tinggal tiga hari lagi.”


“Hmmm!”


“Bagaimana persiapanmu di kelas tambahan?”


“Tidak tahu.”


“Benar juga, kau sakit.”


Dia diam sejenak. “Leva!” Orang ini sangat berisik. Apa yang membuatnya menjadi selalu memanggil namaku?


“Apa?”


“Ummmm …mau jalan denganku di pantai?” Terlihat Gin mengumpulkan banyak keberanian hanya untuk mengatakan ini. Kenapa kata-kata itu membuat dia sangat kesulitan dalam mengungkapkannya?


“Tidak mau.”


“Ti-tidak mau? Kenapa?”


Kenapa? Apa aku harus punya alasan? Kenapa pula harus pantai? Memangnya kami anak 80-an? Yang benar saja.


“Di sana sepertinya banyak orang!” Dan, terpaksa harus memikirkan alasannya.


“Itu alasanmu?”


Aku mengangguk. “Kau suka tempat yang sepi? Di sana memang banyak orang, tapi tenang!” Gumamnya pelan. “Aku akan menjagamu!”


“Dari apa?”


“Aaaaa, pokoknya pergi denganku sore ini sepulang sekolah. Aku bahkan terlambat masuk sekolah hanya untuk mengatakan ini.” Katanya, kemudian dia lari meninggalkanku, tapi ketika kami sampai di gerbang sekolah satpam sekolah menghentikannya, Gin mendapat sedikit masalah. Aku melewatinya begitu saja, dari ujung mataku kulihat pak satpam menggelengkan kepalanya ketika melihatku melewatinya. Ya aku tahu apa yang dia pikirkan.


Begitu sampai di depan kelas, aku bertemu dengan Fairel.


“Hei!” Sapa Fairel.


“Hmmm.” Anggukku.


“Tidak ada kelas tambahan hari ini.”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Karena kita akan pulang lebih awal, kemudian kita akan bertemu lagi di sekolah jam empat sore dan kita―” dia menjelaskannya dengan hati-hati, berusaha agar aku memahaminya dengan mudah. “Kita akan berkemah di sekolah malam ini.”


“Berkemah?”


“Ya … itu semacam kegiatan luar sekolah―oh tapi ini hanya untuk kelas tambahan. Untuk persiapan ferstival, kita akan melakukan syuting di malam hari. Lokasinya tetap di sekolah, hanya saja di malam hari―dan menginap! Beritahu saja ibumu seperti itu.”


Apa hubungannya dengan ibuku? Apa ibuku juga harus ikut menginap? Fairel meninggalkanku begitu saja. Dari jauh kulihat Gin terengah-engah berlari menghampiriku. Kelas sudah di mulai sejak setengah jam yang lalu. Kami berdua terlambat, itu sudah jelas.


Sebelum kami memasuki kelas, Gin sempat bergumam, “Bagaimana dia bisa lolos dari pak satpam begitu saja?”


Hahaha. Apa aku perlu menjelaskannya?


***


Seperti yang dikatakan Fairel tadi pagi, tidak ada kelas tambahan hari ini. Aku ingin segera pulang ke rumah dan memberitahu Lea tentang perkemahan dan menginap.


“Kau ingin ke mana?” Cegat Gin tiba-tiba. Dia mengejarku sampai di gerbang.


“Pulang!” Jawabku jujur. Aku memang selalu jujur.


“Bagaimana kau bisa pulang begitu saja, kita ada janji hari ini.”


“Aku tidak ada!”


“Tapi-”


“Hari ini benar-benar tidak bisa. Lain kali saja, ya?”


“Lain kali? Sungguh?”


“Hmmm. Ini janji. Dah!”


Sial! Aku terpaksa mengucapkan janji, dari pada dia mengganggu.


Lea membangunkanku saat sore hari. Sebelumnya, aku telah memberitahu mereka tentang rencana menginapku di sekolah, jadi Lea telah menyiapakan segala hal yang aku butuhkan. Meskipun aku tidak tahu bagaimana kondisinya ketika seseorang menghabiskan malamnya di sekolah, tapi menurutku persiapan yang Lea lakukan sedikit berlebihan.


Selimut ekstra tebal, bantal tidur, obak nyamuk, obat-obatan flu dan sakit perut serta sakit kepala, jaket, handuk, alat mandi, tali, senter, pisau, kantong plastik serta makanan ringan.


“Jaga dirimu baik-baik. Ingat, jangan tidur dekat dengan anak laki-laki, kalau mereka sampai mendekatimu tusuk saja dengan pisau ini, kemudian ikat mereka di pohon menggunakan tali ini, setelah itu selimuti mereka agar tidak berisik!” Kata Lea mengakhiri kalimatnya yang panjang.


Kupikir, benda-benda yang akan kubawa ini memiliki tujuan yang berbeda dari yang kupikirkan sebelumnya.


Setelah aku sendiri siap, aku berangkat bersama Qhaza, dia membantuku membawa barang-barangku ke sekolah.


“Ini pertama kalinya kakak akan tidur jauh dari kami semua.” Kata Qhaza saat di pertengahan jalan. “Aku sedikit khawatir.”


“Apa itu salah?” Tanyaku heran.


“Tidak. Tidak apa-apa! Hanya saja terasa aneh, tapi aku senang.”


Ini sore yang indah dengan matahari yang bersembunyi di balik awan. Melewati jalan beraspal di antara rumah-rumah sederhana yang di tumbuhi tanaman-tanaman liar. Sepanjang musim, banyak daun  menumpuk di atas tanah, semuanya tampak indah seakan musim gugur baru saja dimulai.


Qhaza tiba-tiba berhenti. “Astaga, dia akan segera melihatku. Di mana aku harus bersembunyi?” Katanya panik.


“QHAZAAAAA!”


Aku mendengar suara dan spontan menengok kea rah suara itu berasal. Dari jauh kulihat seorang gadis muda melambaikan tangan kepada kami.


“Sial! Dia melihatku!” Kata Qhaza kesal. “Kakak, ayo terus jalan. Jangan hiraukan dia.” Kata Qhaza sambil menarik tanganku dengan terburu-buru. Aku mengikutinya.


“Qhaza,” panggilnya lagi. Qhaza pura-pura tidak melihatnya. Gadis itu juga semakin mendekat ke arah kami dengan kecepatan penuh, dia berlari dan kami berjalan cepat.

__ADS_1


“Oh Tuhan, dia mengejar!” Kata Qhaza.


“Siapa?” Tanyaku pelan.


“Sebaiknya kakak tidak mengenalnya! Kakak tidak akan menyukainya,” jawab Qhaza.


“QHAZAAAAAAAAAA!” Gadis itu berteriak lebih keras lagi.


Kini jaraknya hanya satu meter dari kami. Sekarang bukan satu meter lagi, tapi sangat dekat. Kenapa aku jadi merinding? Dia memegang tanganku dan aku kaget. Lalu berhenti, Qhaza berbalik dan melihat gadis itu memegang tanganku. Kemudian terjadilah aksi tarik menarik di antara kami. Sebenarnya bukan di antara kami, tapi di antara mereka berdua. Akulah yang mereka tarik. Qhaza menarik tangan kiriku dan perempuan hantu itu menarik tangan kananku. Tentu saja aku sudah punya nama untuknya, perempuan hantu‒dia menakutkan.


“Appppaaa yang kau lakukkannn?” Tanya Qhaza berusaha keras menarik tanganku.


“Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau lari dariku?” Perempuan hantu ini juga berusaha keras.


“Aku tidak lari darimu. Aku sedang terburu-buru!”


“Bohong! Kau lari begitu melihatku.”


“Kau salah paham. Aku tidak lari.”


“Lalu kenapa kau tidak melepaskan tangannya?” Tanya gadis hantu. Apa hubungannya dengan melepaskan tangan?


“Itu harusnya menjadi pertanyaanku, kenapa kau menarik tangannya?” Kata Qhaza.


“Agar kau berhenti!”


“Sudah kukatakan aku terburu-buru!”


“Bohong!” Kata gadis hantu marah.


Aku sungguh kecewa. Ini bukan seperti cerita hantu yang sering ku lihat di film dan anime, bukan seperti ini. Tidak saling tarik menarik seperti ini. Seharusnya ketika gadis hantu mendapatkanku, Qhaza melepas tanganku kemudian lari mencari pertolongan. Gadis hantu seharusnya membunuhku. Dia seharusnya menggunakan tubuhku untuk meneror orang-orang dan Qhaza. Setelah itu cerita berakhir ketika Qhaza mendapatkan pertolongan dari seorang ahli sihir.


“Sakit!” Kataku kemudian. Mereka berdua tiba-tiba berhenti. Dengan pelan melepas tanganku.


“Hehehe. Maafkan aku, aku sudah terbiasa!”


Apa maksudnya sudah terbiasa? Gadis hantu tertawa nyengir sambil memegang kepalanya.


“Kakak, ayo pergi dari sini. Kau sudah terlambat!” Kata Qhaza, dia mengajakku tapi matanya tajam menatap gadis hantu dengan marah. Gadis hantu juga membalas tatapannya, tapi dia tersenyum.


“Sepertinya sudah benar-benar terlambat.” Kata gadis hantu dengan wajah polos dan santai. “Kak Leva,titip salam untuk kak Fairel ya.”


Apa?


Pertama, dia memanggilku kakak. Kedua, dia tahu namaku. Ketiga, dia mengenal Fairel. Keempat, dia menyuruhku menyampaikan salamnya pada Fairel. Siapa dia?


“Ayo pergi!” Kata Qhaza meninggalkan gadis hantu.


Dia berjalan tanpa menengok kebelakang. Sebelum aku mengikutinya, aku sempat berkata pada mereka berdua, “Aku kecewa!” Sungguh aku kecewa. Padahal aku berharap cerita horror ini bisa lebih menarik dan menantang lagi. Tapi kenapa berakhir dengan berpamitan secara normal? Tapi anehnya, entah kenapa, berkat ucapanku yang barusan, suasana horror yang sesungguhnya antara Qhaza dan gadis hantu tercipta.


Beberapa saat kemudian, kami sampai di sekolah, Fairel sudah menunggu di gerbang.


“Kupikir kau tidak akan datang.” Kata Fairel begitu melihat kami berdua.


“Ada sedikit masalah di jalan.” Jawab Qhaza.


“Hmmm.” Fairel tersenyum, luar biasa tampannya.


“Aku hanya akan mengantarnya sampai di sini!” Kata Qhaza. “Pastikan dia baik-baik saja! Jika terjadi masalah dengannya, aku akan mencarimu!” Kata Qhaza tegas. Ada apa sih sebenarnya?


“Hahaha,”


Aneh. Mereka berdua tertawa.

__ADS_1


Qhaza pergi. Fairel membawa kedua rancelku. Aku mengikutinya, kami menuju kelas tambahan bersama-sama. Di sana semuanya sudah berkumpul, termasuk Tiwa dan pak Abdul. Berarti aku yang datang paling terakhir,  sepertinya statusku sebagai yang selalu terlambat masih melekat kuat padaku.


Aku memasuki kelas‒yang sudah tertata dengan sangat rapi. Mereka sudah membersihkannya sehingga kami bisa menempatinya untuk tidur. Kami akan di sini sampai besok pagi, karena tiga hari lagi, festival dilaksanakan.


__ADS_2