SAYANG

SAYANG
Episode 147


__ADS_3

Alex baru saja selesai menemui rekan bisnisnya di salah satu restoran siang ini. Pria itu berniat akan mendatangi kediaman sederhana Melisa guna mengawasi secara diam diam wanita itu. Alex tidak bisa memungkiri rasa bersalah juga menyesalnya karena apa yang sudah dia lakukan. Alex sadar dirinya sudah sangat gegabah karena menunjukan video itu pada Melisa bahkan sampai di lihat oleh Alvin. Hal itulah yang juga menjadi penyebab Alex tidak melaporkan Alvin ke pihak yang berwajib. Alex sudah bisa menebak urusan nya tidak akan sesederhana itu jika dirinya melaporkan Alvin ke polisi dengan tuduhan penganiayaan terhadap nya. Bahkan bisa jadi hal itu juga menjadi bumerang sendiri bagi Alex mengingat apa yang sudah Alex lakukan pada Melisa selama Melisa menjadi sekretaris nya.


Ketika hendak beranjak dari tempat nya, tiba tiba ponsel yang berada di dalam saku dalam jas hitam yang Alex kenakan berdering. Alex segera merogoh sakunya dan mengeluarkan benda pipih itu dari dalam saku jasnya.


“Mamah...” Gumam Alex bingung. Mamahnya tidak akan menghubunginya jika memang tidak ada hal yang penting.


“Pasti karena Sherin lagi.” Tebak Alex dengan rasa kesal yang mulai menguasainya.


Tidak mungkin me mengabaikan telepon dari sang mamah, Alex pun memilih untuk segera mengangkat telepon tersebut.


“Ya halo mah...”


“Alex dimana kamu sekarang nak? Segeralah ke rumah sakit. Sherin mengalami kecelakaan tunggal. Mamah akan kirim alamat rumah sakitnya.” Ujar nyonya besar Smith dari seberang telepon dengan sangat terburu buru.


“Mah tapi...”


Tut Tut Tut...


Belum selesai Alex melanjutkan ucapannya, nyonya besar Smith sudah lebih dulu memutuskan sambungan telepon nya. Dan sedetik kemudian Alex menerima pesan singkat berisi alamat rumah sakit tempat Sherin sekarang berada.

__ADS_1


“Ck, dasar perempuan tidak tau diri. Bisanya bikin orang susah saja.” Gerutu Alex. Pria itu sedikitpun tidak merasa khawatir dengan kondisi Sherin sekarang. Sebaliknya, Alex merasa dirinya sangat terganggu dengan adanya kabar kecelakaan yang di alami oleh Sherin.


Tidak mungkin mengabaikan perintah mamahnya, Alex pun dengan setengah hati melangkah keluar dari dalam restoran tempat nya bertemu dengan rekan bisnis nya. Alex bahkan terpaksa harus membatalkan niatnya untuk datang ke kediaman Melisa siang ini. Dan semua itu karena Sherin yang tiba tiba masuk ke rumah sakit.


Alex masuk ke dalam mobilnya. Pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Alex tidak mau terburu buru ke rumah sakit. Karena menurutnya apapun yang terjadi pada Sherin bukanlah urusan nya.


Ponsel di dalam saku dalam jas Alex kembali berdering membuat Alex berdecak kesal. Alex tau pasti mamahnya lagi yang menelepon. Mamahnya pasti akan menyuruhnya untuk cepat cepat datang ke rumah sakit. Karena tidak ingin mendapat amukan dari sang mamah, Alex pun memilih untuk mengabaikan telepon tersebut. Alex tidak perduli dengan apapun yang sedang menimpa Sherin sekarang. Toh itu juga bukan kesalahan nya.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Alex terjebak macet. Namun pria itu tampak santai santai saja. Alex tidak seperti suami pada umumnya yang akan merasa sangat panik mendengar istrinya yang sedang hamil masuk rumah sakit. Alex juga tidak mengumpat marah meski harus menunggu lama akibat kendaraan yang begitu padat di jalanan raya siang itu. Alex bahkan malah menghidupkan musik di mobilnya untuk menemaninya menunggu macet parah yang memang biasa terjadi di ibu kota.


--------------


Suara pintu yang terbuka dari ruangan tempat Sherin di tangani membuat semua perhatian tertuju pada dokter yang menangani Sherin. Nyonya dan tuan besar Smith berserta keluarga Sherin langsung mendekat pada dokter tersebut.


“Bagaimana keadaan anak saya dokter?” Tanya bunda Sherin yang sebenarnya sedang sakit namun memaksakan diri untuk ikut ke rumah sakit.


Dokter itu menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaan seputar keadaan Sherin sekarang.


“Keadaan pasien sangat gawat. Maka dari itu kami dari pihak rumah sakit menyarankan untuk melakukan operasi guna mengambil janin dalam kandungan pasien. Itu untuk kebaikan keduanya. Karena jika tidak di lakukan dengan segera akibatnya akan sangat fatal untuk keduanya.” Jawab dokter yang membuat tubuh bunda Sherin melemah seketika. Beruntung ayah Sherin dengan sigap langsung menahan tubuh istrinya itu sehingga tidak meluruh ke lantai.

__ADS_1


“Untuk itu kami memerlukan persetujuan dari pihak keluarga pasien, terutama persetujuan dari suaminya.”


Nyonya besar Smith menghela napas mencoba untuk berpikir dengan tenang. Bagaimanapun juga Sherin adalah istri dari putra tunggalnya. Suka atau tidak, nyonya besar Smith tetap harus bertanggung jawab apapun yang terjadi pada Sherin selama Sherin masih berstatus sebagai istri Alex.


“Nyonya, bagaimana ini? Kenapa anak anda tidak juga datang?” Tanya ayah Sherin yang tidak tau harus bagaimana. Keputusan utama ada di tangan Alex selalu suami Sherin. Namun sampai sekarang Alex belum juga datang padahal sudah di hubungi sejak tadi oleh nyonya besar Smith sendiri.


“Alex pasti akan datang sebentar lagi. Mungkin dia terjebak macet tuan. Untuk tindakan nya saya pikir lebih baik di lakukan segera saja operasinya. Alex pasti akan setuju demi kebaikan istri dan anaknya.” Jawab nyonya besar Smith.


Reyhan yang mendengar itu hanya bisa diam saja. Dia tidak tau siapa yang harus di salahkan. Reyhan sendiri tau Alex tidak pernah mencintai kakaknya. Alex bahkan secara tidak langsung menunjukan ketidak cintaan nya pada publik dengan membawa sekretaris nya ke acara dimana seharusnya Alex membawa pasangan nya. Reyhan juga tidak berani bertindak gegabah mengingat siapa keluarga Smith. Keluarganya pasti akan terkena imbasnya jika sampai Reyhan melakukan sesuatu untuk membela kakaknya. Sedang kakaknya saja begitu sangat keras kepala tetap ingin bersama Alex.


“Dokter, tolong lakukan apapun yang terbaik untuk menantu dan calon cucu saya.” Ujar nyonya besar Smith kemudian menatap kembali pada dokter tersebut.


“Baik kalau begitu nyonya. Tapi kamu tetap membutuhkan tanda tangan sebagai tanda persetujuan atas tindakan yang akan kami lakukan. Mari ikut saya nyonya, tuan.”


Nyonya dan tuan besar Smith menganggukkan kepalanya. Mereka berdua mengikuti dokter yang menangani Sherin begitu juga dengan ayah Sherin. Untuk bunda Sherin, dia di serahkan pada Reyhan agar di jaga selama ayah Sherin mengikuti dokter tadi untuk memberikan persetujuan nya selaku pihak keluarga dari Sherin.


“Sherin.. Ya Tuhan...” Tangis bunda Sherin pilu.


“Bunda tenang yah.. Kakak pasti akan baik baik saja. Bunda tidak perlu takut. Tuhan itu maha baik. Tuhan pasti akan mengabulkan harapan kita semua.” Ujar Reyhan berusaha untuk menenangkan bunda nya.

__ADS_1


__ADS_2