
Berniat menunggu kejujuran suaminya, Lena pun tidak memberitahu tentang jas yang Chilla kirim lewat jasa kurir itu. Lena juga menyimpan secarik kertas dimana tertulis ucapan terimakasih yang Lena sendiri tidak tau karena apa itu di saku jas Erlan.
Namun, sampai dua hari menunggu Erlan tidak kunjung mengatakan apapun padanya. Kali ini Erlan benar benar lupa.
Karena hal itu pemikiran buruk Lena pun semakin menjadi jadi. Apa lagi Erlan juga menjadi sangat sibuk sampai untuk makan siang saja dia tidak bisa pulang ke rumah seperti biasanya. Erlan selalu minta maaf begitu pulang sore harinya dan mengatakan bahwa dirinya sangat sibuk. Itupun Erlan selalu pulang terlambat.
Tapi nyatanya permintaan maaf itu justru membuat pemikiran buruk Lena semakin menguasai Lena. Akibatnya Lena pun mulai merasa malas dan tidak nyaman bila sedang bersama dengan Erlan. Itu tentu saja karena pemikiran Lena yang buruk pada suaminya sendiri. Wajar memang mengingat apa yang Lena terima dua hari lalu.
Malam ini Lena berniat menunjukan jas Erlan yang Chilla kirim beserta dengan secarik kertas ucapan terimakasih dari Chilla untuk Erlan. Lena merasa tidak kuat menahan semuanya sendiri. Lena ingin tau apa yang sebenarnya sudah terjadi. Kalaupun memang Erlan mempunyai hubungan dengan Chilla di belakangnya, Lena akan meminta agar Erlan memilih antara dirinya dan Chilla. Begitu pemikiran Lena sekarang.
Lena menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan nya perlahan. Wanita itu membuka pelan lemari berisi jas jas Erlan yang tergantung dan tertata rapi disana. Jas itu memang belum di kenakan lagi sejak Chilla mengembalikan nya. Lena sengaja tidak menyiapkan nya untuk Erlan karena di dalam saku jas tersebut ada secarik kertas dari Chilla untuk suaminya.
Sekali lagi Lena menghela napas. Dia meraih jas tersebut kemudian mengeluarkan dari lemari. Malam ini juga Lena harus tau apa yang sudah terjadi antara suaminya dan Chilla sebenarnya.
“Sayang...”
Suara Erlan membuat Lena tersentak. Dengan cepat Lena membalikan tubuhnya. Lena menatap Erlan yang berdiri di depan pintu kamar mereka.
Seperti biasanya, Erlan selalu memperlihatkan senyuman manis di bibirnya. Meskipun dua hari ini Lena bersikap cuek bahkan menghindar darinya, namun nyatanya itu tidak membuat Erlan marah. Pria itu tetap bersikap lembut seolah tidak terjadi apa apa. Namun yang membuat Lena merasa kesal dan sakit hati bahkan semakin di kuasai rasa curiga adalah Erlan sama sekali tidak mengatakan apapun tentang jasnya yang kenapa bisa berada pada Chilla.
Erlan melangkah mendekat pada Lena. Pria itu selalu mencoba berpikir positif meski Lena terlihat malas malasan saat bersamanya. Bahkan meski Lena menolak untuk dia peluk dan selalu tidur dengan posisi memunggunginya Erlan tetap saja tidak merasa tersinggung. Pria itu hanya berpikir mungkin mood istri nya sedang tidak bagus padanya.
__ADS_1
“Ada yang mau aku tanya sama kamu.” Ujar Lena begitu Erlan sampai tepat di depan nya.
Erlan mengernyit. Ucapan Lena sangat serius. Di tambah dengan ekspresi wajahnya yang datar. Erlan langsung berpikir dimana letak kesalahannya sehingga Lena bersikap demikian padanya.
“Tanyakan apapun yang ingin kamu tau sayang. Tapi sebelum itu aku mau minta maaf kalau ada sikap aku yang membuat kamu merasa tidak nyaman apa lagi sampai sakit hati.”
Lena mengangkat sebelah alisnya mendengar permintaan maaf suaminya. Itu membuat asumsi buruk Lena terhadap suaminya semakin besar.
“Jadi baru sekarang kamu merasa punya salah sama aku?” Tanya Lena dengan senyuman sinis nya.
Erlan menyipitkan kedua matanya. Tidak biasanya Lena ber ekspresi seperti itu padanya. Kalaupun sedang merajuk Lena pasti hanya akan diam dan menampilkan wajah kesalnya. Tidak sinis seperti sekarang.
“Maksud kamu apa sayang?” Tanya Erlan yang tidak mengerti dengan apa yang di pertanyakan dengan sinis oleh istrinya.
“Kamu langsung saja. Tidak perlu muter muter Erlan. Katakan apa yang ingin kamu katakan sekarang. Aku akan mendengarkan. Aku juga akan menerima nya.”
Erlan semakin tidak mengerti. Pria itu mencoba berpikir dan mengingat ingat apa salahnya pada Lena. Namun Erlan sama sekali tidak merasa memiliki salah apapun yang dia sengaja pada Lena.
“Sayang aku...”
“Ini...” Sela Lena mengangkat jas yang di tangan nya tinggi tinggi pada Erlan.
__ADS_1
“Dua hari yang lalu setelah kamu pergi ke kantor ada seseorang yang mengirimkan jas ini beserta ucapan terimakasih yang begitu manis.” Lanjut Lena.
Erlan menatap jas yang di tunjukan Lena padanya. Pria itu menatap dengan seksama jas miliknya itu mencoba mengingat ingat ada apa dengan jas miliknya itu sehingga Lena tampak sangat marah padanya sekarang.
“Kamu pasti tau siapa orang itu kan Erlan?” Tanya Lena. Kali ini suaranya terdengar lirih dan bergetar mengisyaratkan kesakitan yang bisa langsung Erlan pahami.
Erlan menelan ludahnya, dia benar benar tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai menyakiti Lena.
“Sayang kamu tenang dulu.. Aku benar benar...”
“Chilla. Dia yang mengirimkan jas ini. Ini milik kamu kan? Ini jas yang aku siapkan untuk kamu dua hari yang lalu saat kamu akan berangkat ke kantor. Dan malamnya kamu pulang telat bahkan sampai malam larut. Kamu pulang tanpa mengenakan jas ini lagi dan dengan penampilan yang sangat berantakan. Dan ini.. Ini surat dari Chilla untuk kamu.” Nada suara Lena meninggi juga bergetar. Air mata yang sejak tadi dia tahan menetes dengan begitu deras dari kedua matanya. Lena menyerahkan jas serta secarik kertas yang dia ambil dari saku jas Erlan dengan kasar.
Detik itu juga Erlan mengingat semuanya. Malam itu Erlan memang berniat untuk menjelaskan semuanya pada Lena. Namun karena Lena yang tertidur si sofa saat menunggunya mandi, Erlan pun menjadi tidak tega untuk membangunkan nya dan terpaksa menunda niatnya untuk menceritakan apa yang terjadi malam itu. Dan besoknya Erlan benar benar lupa bahkan tidak mengingat sedikitpun niatnya untuk menceritakan nya.
“Sekarang kamu mau jelaskan apa Erlan? Kamu tidak ada waktu makan siang di rumah dua hari ini. Kamu juga selalu pulang telat. Jujur sama aku, ada hubungan apa kamu sebenarnya sama Chilla? Dan apa maksud dari ucapan terimakasih ini? Kenapa sampai jas kamu ada sama dia?” Nada suara Lena semakin meninggi membuat Erlan menggelengkan kepalanya. Pria itu tidak menyangka jika ternyata selama dua hari ini istrinya begitu banyak menanggung beban hatinya karena kebodohan Erlan.
Karena suara meninggi Lena, Rezvan pun sampai terbangun dari tidur lelapnya. Balita itu menangis menjerit marah karena tidur lelapnya terusik.
Lena yang tidak bisa mengabaikan putranya, melangkah menjauh dari Erlan menuju ranjang sambil menangis terisak. Wanita itu meraih tubuh putranya dan segera menyusuinya. Lena berusaha menenangkan putranya yang terus saja menangis meski dirinya sendiri sedang menangis.
Erlan yang melihat itu mematung di tempatnya. Erlan tidak percaya dirinya bisa begitu sangat bodoh karena tempat sadar sudah menyiksa hati juga batin istrinya yang begitu sangat dia cintai. Meski memang Erlan sendiri tidak bermaksud menyakiti Lena, namun kebodohan nya telah membuat Lena menaruh curiga padanya juga memendam sakit yang akhirnya membuat Lena marah dan menangis terisak di depan nya.
__ADS_1
“Ya Tuhan.. Kenapa aku begitu bodoh....” Batin Erlan dengan hati berdenyut ngilu serta dadanya yang terasa sesak.