
Aku terbangung. Kuperhatikan sekitarku, aku tidak melihat Qarima dan Vicky. Kulirik jam weker yang terletak di atas meja di samping televisi, pukul 3 pagi. Aku masih duduk di atas kasur, kupikir aku akan menunggu beberapa saat, mungkin saja mereka berdua ke toilet−secara bersamaan.
Tapi, setelah sekitar sepuluh menit menunggu, mereka berdua tak kunjung datang. Aku mulai bosan, aku juga tidak ingin tidur lagi. Aku turun dari tempat tidurku dan membuka horden secara perlahan, membukanya secukup mataku bisa melihat keluar. Pemandangan di sekitar pantai masih sama, hanya saja, sangat sepi.
Aku diam beberapa saat, perasaanku entah kenapa sangat tenang.
Menit berikutnya, dengan ujung mataku, ku lihat sosok Qarima dan Fairel yang sedang duduk di pinggir kolam, mengahadap ke arah pantai membelakangiku. Ada rasa sedikit penasaran dengan apa yang mereka berdua lakukan, kubuka horden sedikit lebih lebar lagi. Lalu memperhatikan.
Tapi membosankan. Aku telah memperhatikan mereka cukup lama, tapi mereka tidak melakukan apa-apa. Sepertinya mereka hanya bicara, hanya saja yang membosankan adalah, bahwa aku tidak dapat mendengarnya meskipun aku ingin. Jarak kami jauh. Sebaiknya aku menonton TV saja. Pikirku. Aku hendak menutup kembali horden, tapi sesuatu terjadi secara tak terduga. Mereka berdua beranjak dari duduknya, berdiri saling berhadapan. Qarima menggaruk kepalanya, lalu―dengan cepat Qarima mencium Fairel.
Gila!
Aku syok melihatnya.
Qarima berlari meninggalkan Fairel yang masih berdiri terpaku. Aku juga terpaku menatapnya tanpa bergerak. Setelah itu, Fairel melihat ke arahku. Tanpa sengaja pandangan kami bertemu, untuk beberapa detik kami saling menatap. Perasaanku tak karuan. Reflex aku menutup horden. Apa yang terjadi denganku?
Beberapa menit berikutnya, pintu kamar terbuka secara tiba-tiba.
“Qarima!” Kataku kaget.
“Apa? Kenapa kau kaget?” Tanya Qarima dengan napas terengah-engah.
“Karena kau membuka pintu dengan tiba-tiba!” Kataku datar. Ekspresiku kembali normal, aku sudah bisa menguasai diriku.
“Apa yang kau lakukan di situ, di dekat jendela?”
Aku diam. Kupikir ini yang dimaksud oleh Vicky, pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Meskipun dalam benakku, aku berpikir bahwa Qarima ingin sekali aku menjawabnya.
“Sejak kapan kau di situ?” Tanya Qarima lagi. Dia menatapku dengan curiga.
“Se-sejak tadi!” Jawabku.
“Sejak tadi?” Kagetnya. “Apa kau melihat ke luar jendela?” Tanya Qarima lagi. Dia mendekat dan menatapku penuh selidik. Aku menggelengkan kepalaku.
“Tidak!” Jawabku. Untuk pertama kalinya aku berbohong dengan keinginanku sendiri. Sebenarnya, apa yang terjadi denganku?
“Serius?” Tanyanya meyakinkan.
“Ya!” Jawabku.
“Oh!” Desahnya lega. Dia tersenyum lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur, “Aku sangat bahagia! Apa kau ingin tahu penyebabnya?” Tanyanya dengan wajah berseri. Dia tidak berhenti tersenyum sejak beberapa detik yang lalu. “Kau tidak ingin keluar? Suasana saat malam di sini sangat menyenangkan.” Lanjutnya.
“Aku ... tentu akan keluar.” Kataku. Aku segera keluar, saat membuka pintu, Qarima memanggilku.
“Leva!” Panggilnya. Aku berhenti. “Kami di sini karena untuk memastikan kau baik-baik saja. Lea khawatir akanmu.” Katanya.
Kami saling menatap untuk beberapa saat.
“Terimakasih!” Ucapku tak bergairah.
Dia menatapku heran. Sepertinya dia kaget karena untuk pertama kalinya dia mendengarku mangatakan kata “terimakasih”.
__ADS_1
* * *
Aku keluar dari hotel dan berdiri terpaku di halaman, di sini tidak ada seorang pun yang aku kenal. Sedikit tidak nyaman. Aku kembali saja, pikirku.
“Leva!” Aku mendengar suara Gin memanggilku. Entah kenapa aku bersyukur. Kulihat Gin yang sedang duduk di kursi di bawah pohon palem. “Apa yang kau lakukan?” Tanyanya padaku.
“Berdiri.” Jawabku.
Dia tersenyum. Untuk pertama kalinya aku menyadari, Gin cukup manis.
Dia mendekatiku.
“Sudah saatnya menepati janji, ayo jalan-jalan bersamaku ke pantai.”
Aku mengangguk. Kami berjalan perlahan menyisiri pantai, gila, dingin sekali. Kok bisa ya Qarima dan Fairel bertahan lebih dari sepuluh menit di luar kamar? Aneh. Tapi yang lebih aneh lagi, Gin tidak banyak bicara, dia diam saja sejak tadi. Gin yang bersamaku saat ini adalah sosok Gin yang sama sekali berbeda dari Gin yang selama ini kukenal. Dia hanya mengajakku duduk di atas pasir, yang membuat dinginnya semakin luar biasa.
“Kau kedinginan?” Tanya Gin padaku. Sudah tahu malah bertanya.
“Aku suka!” Kataku berpura. Enah kenapa, ingin saja berbohong. Karena perasaan tak karuanku, ingin kuhilangkan dengan dingin ini.
“Kau … suka dingin?”
“Um. Anginnya tenang.” Bohongku lagi, padahal, anginnya sangat kencang.
“Benarkah?” Tanyanya.
Dia menatapku, pandanganku lurus ke depan melihat ombak. Gin menghembuskan nafasnya perlahan.
“Leva,” panggilnya.
“Aku senang kau berada di sini, bersamaku.” Ungkapnya sambil dia menatapku.
“Aku juga.” Jawabku jujur.
Dia menatapku dalam, sangat lama. “Bisa kita pulang sekarang? Ke kamar?” Pintaku memecah keheningan yang aneh di antara kami berdua.
Gin tidak menjawab.
“Di sini sangat dingin, sebenarnya aku tidak suka dingin.” Sudah tidak tahan, aku jujur saja. Dan dingin tidak berguna untuk menenangkan pikiranku yang kacau.
Gin tertawa pelan. “Kali ini kau berbohong, tidak biasanya. Kau banyak berubah semenjak bertemu anak-anak kelas tambahan. Sesuatu yang tidak bisa kulakukan.”
Gin diam sejenak, aku menatapnya. Benar, kata-katanya barusan, benar adanya. Tapi, kupikir bukan hanya karena kehadarin anak-anak kelas tambahan yang membuatku berubah, melainkan karena dia juga.
“Ayo!” Dia menarik tanganku dan kami berdua kembali.
Di pintu hotel, tanpa sengaja aku bertemu dengan Fairel. Aku rasa, suasananya canggung, entah kenapa.
“Ke mana kau membawanya pergi?” Tanya Fairel pada Gin. Dari mana munculnya pertanyaan ini?
“Ke pantai.” Jawab Gin seadanya.
__ADS_1
“Dia bisa sakit!” Bentak Fairel.
“Benarkah? Dia mengatakan, dia menyukainya.”
“Dia memang seperti itu.” Kata Fairel lagi.
“Dia jarang seperti itu.” Bantah Gin.
Mereka saling menatap untuk beberapa saat.
“Cari milikimu sendiri.” Kata Gin marah sambil meninggalkanku dan Fairel berdua, tanpa kata pamit.
Aku menghela nafas, kami berdua memandangi punggungnya hingga dia tak terlihat lagi. Ya, itu dia Gin yang ku kenal. Kumatnya kembali lagi.
“Kenapa kau di luar?” Tanya Fairel padaku setelah beberapa saat Gin meninggalkan kami. Dia lebih ramah dari sebelumnya, tapi dia tidak tersenyum.
“Qarima mengatakan di luar sangat menyenangkan.” Jawabku pelan.
“Kau ingin sesuatu yang menyenangkan?”
Aku mengangguk, bingung. Aku tidak tahu seperti apa sesuatu yang menyenangkan yang aku inginkan, karena sebelumnya satu-satunya yang menyenangkan bagiku adalah saat-saat di mana aku sedang menikmati kesendirianku. Tapi sekarang, aku mencari sesuatu yang menyenangkan lainnya yang tidak aku ketahui. Aku mencari kesenangan yang ada di luar diriku.
“Pergilah tidur.” Kata Fairel lembut. Dia menyentuh kepalaku. “Jangan berkeliaran lagi.” Dia mendekat ketelingaku. “Aku sangat khawatir!” Bisiknya.
Tiba-tiba saja aku menjadi gugup, jantungku berdetak aneh.
“Juga, jangan menamparku.” Katanya setelah dia melepas tangannya dariku. Aku tersenyum. Begitu juga dengannya.
Aneh, kenapa ya, semua ini mengalir begitu saja?
***
Pagi ini, kami menikmati sarapan terakhir kami di pulau Komodo. Gin dan teman-teman sekelasku bergabung bersama kami. Setelah itu, kami menghabiskan waktu di pantai hingga jam 11 pagi, lalu berkemas dan berangkat ke bandara. Begitu juga dengan Gin dan rombongannya, kami semua menaiki pesawat yang sama. Di dalam pesawat aku duduk di samping Vicky. Ramona dan Marlyn duduk berdampingan.
“Kau tahu Leva, aku sangat bahagia.” Kata Vicky pelan. Aku diam saja. “Karena kau berbeda dengan yang lainnya.” Lanjutnya. “Kau menerimaku tanpa syarat!” Katanya.
Dia menunduk, kemudian perlahan air matanya berjatuhan. “Terimakasih!”
Aku menatapnya, kaget. Apa ini sinetron?
“Leva, terimakasih!” Katanya dengan air mata berlinang, dia menatapku. Aku mengangguk, meskipun dalam keadaan bingung. Vicky menjadi lebih aneh dari biasanya.
“Oh ya, aku punya sesuatu untukmu!” Katanya setelah dia mulai tenang.
Dia mengeluarkan sebuah liontin dari dalam tasnya. Dia membuka liontin tersebut dan menunjukkan isinya.
“Di sini, ada fotoku dan fotomu. Aku juga punya yang sama!” Dia memperlihatkan liontin yang ada di lehernya.
“Kita, jadi sahabat, kan?” Tanyanya hati-hati.
Aku mengangguk. Senyumnya merekah.
__ADS_1
“Kalau begitu kita akan merayakannya besok malam di rumahmu!” Katanya penuh semangat.
Apa?