
Sangat jauh berbeda dengan Lena dan Melisa yang di limpahi kebahagiaan karena cinta dari orang orang yang berada di dekat nya, nasib malah justru terus melingkupi Sherin. Wanita itu masih belum membuka kedua matanya. Sedangkan Alex yang sangat dia cintai sama sekali tidak perduli padanya. Hal itu membuat kedua orang tua Sherin hanya bisa pasrah saja begitu juga dengan Reyhan, adik Sherin.
Harapan dan do'a selalu mereka panjatkan untuk kesembuhan Sherin. Namun apalah daya semua tergantung pada sang pemberi kehidupan yaitu Tuhan yang satu.
“Sherin.. Ini bunda sayang.. Memangnya kamu nggak capek terus menutup mata seperti ini? Kamu nggak kangen sama bunda? Kamu nggak pengin belajar masak bareng lagi sama bunda nak?” Serentet pertanyaan terlontar dari bibir bunda Sherin. Pertanyaan yang membuat siapa saja yang mendengarnya pasti akan merasa tersayat hatinya.
“Bunda kangen banget sama kamu nak, bunda ingin kita bersama lagi seperti dulu.. Bunda ingin kita...”
Pada akhirnya bunda Sherin tidak bisa lagi melanjutkan ucapan nya. Wanita itu menangis terisak meratapi kondisi putrinya yang sampai saat ini belum juga siuman. Bahkan dokter yang menangani nya hanya bisa menghela napas jika memeriksa kondisi Sherin.
Reyhan yang melihat itu hanya bisa mengusap usap punggung bergetar bunda nya. Reyhan sendiri tidak tau harus bagaimana karena memang sepertinya tidak ada lagi harapan untuk kakaknya bisa seperti semula lagi.
“Reyhan, kamu dengar bunda baik baik. Saat ini hanya kamu satu satunya yang bunda percayai. Bunda yakin kamu bisa melakukan apa yang bunda katakan.”
Reyhan menelan ludah mendengar apa yang di katakan bunda nya. Pria itu hanya bisa diam menunggu apa yang ingin di katakan oleh wanita yang sudah melahirkan nya ke dunia ini.
“Bunda mau jika saat bunda sudah tiada kakak mu baru membuka matanya nanti, bunda mau kamu jaga kakak kamu dengan baik. Sayangi dia seperti kamu menyayangi bunda ya nak ya...”
Reyhan memejamkan kedua matanya. Sekalipun Reyhan tidak pernah berani membayangkan orang yang sangat dia sayangi pergi meninggalkan nya. Entah itu kakaknya yang sedang sekarat maupun bundanya yang sering sakit sakitan. Yang Reyhan mau semuanya sehat dan tetap baik baik saja. Reyhan ingin keluarga mereka harmonis seperti dulu lagi.
“Bunda nggak boleh ngomong begitu. Bunda akan selalu ada buat aku, buat ayah, juga buat kak Sherin. Kita akan sama sama melihat kak Sherin membuka kedua matanya bunda. Kita semua akan bersama lagi seperti dulu. Kita akan bahagia lagi berkumpul seperti dulu. Bunda harus yakin itu..” Ujar Reyhan yang tidak ingin apa yang di katakan bunda nya akan benar benar terjadi.
“Tapi Reyhan..”
“Bunda.. Jangan membuat Reyhan tidak semangat. Selama ini bunda yang selalu menjadi alasan untuk Reyhan menggapai cita cita Reyhan. Reyhan selalu semangat dan gigih karena bunda.” Sela Reyhan lirih.
Bunda Sherin memejamkan kedua matanya. Air mata sudah membasahi wajahnya yang pucat tanpa sapuan make up. Wanita itu memang sudah tidak pernah lagi mementingkan penampilan nya sejak sakit sakitan. Yang dia pikirkan setiap hari hanya Sherin. Dan sekarang keadaan Sherin sangat memperihatinkan yang membuat wanita itu kadang merasa putus asa dan tidak punya lagi harapan.
__ADS_1
“Bunda.. Tuhan pasti tidak akan mencoba hambanya melebihi kekuatan yang di miliki oleh hambanya. Tuhan pasti akan mengabulkan do'a kita. Bunda percaya itu kan?”
Bunda Sherin kemudian mengangguk mengiyakan pertanyaan putra bungsunya. Meski memang kecil harapan Sherin akan bisa bangun dan berkumpul bersama mereka lagi, namun apa yang Reyhan katakan memang benar. Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak.
Reyhan kemudian menarik tubuh ringkih bundanya ke dalam pelukannya. Pria itu memejamkan kedua matanya mencoba untuk menahan perasaan marah juga sedihnya.
Reyhan marah bukan karena keadaan Sherin sekarang. Tapi karena sikap Alexander yang sedikitpun tidak menunjukan rasa ibanya pada keadaan Sherin. Bahkan Alex malah membawa bayi Sherin tanpa izin dari keluarga Sherin. Dan kemarin malam, Alex datang dan memberikan secara langsung surat undangan dari pengadilan untuk perceraian nya dengan Sherin.
Reyhan ingin sekali bertindak. Tapi Reyhan masih bisa berpikir jernih. Karena jika sampai dirinya melakukan sesuatu pada Alex dan Alex tidak bisa menerima kemudian menuntut nya yang pasti akan menyusahkan keluarga nya lagi.
“Bunda kangen banget sama kakak kamu Reyhan. Bunda ingin kita bisa bersama sama lagi seperti dulu. Bunda ingin Sherin bersama kita lagi.” Tangis bunda Sherin meratap.
Reyhan tidak bisa berkata apa apa. Dia mendengarkan saja ucapan pilu bunda nya. Reyhan hanya bisa mengusap lembut punggung bunda nya berusaha untuk menenangkan nya.
----------------
“Tuan...”
“Ada apa bi? Dede rewel? Apa ada sesuatu yang kurang?” Tanya Alex langsung.
Bibi menelan ludah kemudian menggelengkan kepalanya.
“Bukan, bukan itu tuan. Tapi tentang nama tuan muda. Ini sudah lebih dari satu Minggu tapi tuan muda belum juga tuan beri nama. Kasihan tuan muda tuan kalau masih belum di beri nama juga.” Ujar bibi.
Alex mendesis frustasi mendengar apa yang bibi katakan. Dirinya benar benar sangat sibuk mengurus bisnisnya sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan nama untuk anaknya.
“Ya... Nanti saya pikirkan.” Katanya kemudian langsung masuk begitu saja ke dalam ruang kerjanya.
__ADS_1
Bibi yang melihat itu hanya bisa menghela napas. Tuan mudanya tidak rewel. Dia begitu anteng. Bahkan saat haus ingin susu pun hanya merengek pelan saja kemudian akan langsung diam setelah di beri susu.
Bibi kemudian berlalu dari depan ruang kerja Alex. Wanita tua itu bukan bermaksud kurang ajar dengan menuntut pada Alex tentang nama. Tapi itu semua bibi lakukan demi kebaikan anak Alex sendiri yang sampai saat ini memang masih belum di kasih nama oleh Alex.
Sedangkan Alex, dia menghempaskan tubuhnya dengan kasar di kursi kerjanya. Pria itu menyandarkan punggungnya kemudian memijit pangkal hidung mancungnya. Alex tidak pernah memikirkan tentang nama untuk anaknya karena waktu nya selalu dia habiskan untuk bekerja. Jangan memikirkan tentang nama untuk bayi nya. Menatapnya saja tidak pernah. Alex benar benar menyerahkan segala kepengurusan bayi itu pada bibi. Alex bahkan tidak keberatan menaikan gaji bibi tiga kali lipat agar mau mengurus putranya dengan baik.
Tidak tau lagi harus bagaimana, Alex pun memutuskan untuk menghubungi kedua orang tuanya. Alex ingin meminta saran pada keduanya tentang nama yang pas untuk putranya. Karena bagaimana pun juga anaknya adalah cucu pertama di keluarga Smith. Siapapun itu yang mengandung dan melahirkan nya.
“Halo mah...” Tidak menunggu lama nyonya besar Smith pun mengangkat telepon dari Alex.
“Ada apa?” Tanya nya ketus.
Alex berdecak. Dia tau kedua orang tuanya sangat marah padanya. Tapi Alex juga tidak ingin terus hidup bersama dengan Sherin apa lagi hanya karena keterpaksaan. Alex ingin bebas dan bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri tanpa campur tangan dari kedua orangtuanya.
“Mah jangan begitu dong. Mamah sama papah nggak bisa terus terusan maksa Alex untuk bertahan dengan orang yang tidak Alex cintai. Alex..”
“Cukup Alex. Katakan saja ada perlu apa kamu menelepon. Mamah tidak ada waktu untuk basa basi.” Sela nyonya besar Smith tidak perduli dengan apapun alasan Alex.
Alex menghela napas kasar. Pria itu tidak tau kenapa kedua orangtuanya sedikitpun tidak mendukung apa yang menjadi keputusan nya.
“Baiklah kalau begitu. Alex cuma mau minta saran tentang nama untuk anak Alex mah.” Kata Alex pelan.
Nyonya besar Smith tertawa di seberang telepon. Wanita itu tidak menyangka putranya begitu sangat bodoh dan gegabah dalam bertindak.
“Bahkan untuk nama saja kamu bingung Alex. Apa lagi untuk masa depan anak kamu kelak. Tapi karena dia juga adalah cucu mamah sama papah, mamah akan pikirkan nanti. Dan mamah akan memberitahu kamu secepatnya.”
Alex tersenyum mendengarnya. Dia merasa sangat lega meski memang dia di tertawa kan lebih dulu oleh mamahnya. Tapi itu tidak penting bagi Alex sekarang. Yang terpenting adalah putranya akan segera memiliki nama.
__ADS_1
Baru saja Alex membuka mulutnya hendak mengatakan terimakasih pada sang mamah, tapi nyonya besar Smith sudah lebih dulu memutuskan sambungan telepon nya.
Alex hanya bisa menghela napas. Bahkan sekarang kedua orang tuanya pun tidak mendukung apa yang menjadi keputusan nya dengan menceraikan Sherin. Padahal menurut Alex dirinya sudah cukup baik dan berbesar hati dengan menanggung semua biaya rumah sakit Sherin.