SAYANG

SAYANG
Episode 166


__ADS_3

Sesampainya di parkiran depan rumah sakit, Erlan dan Lena pun bergegas turun dari mobilnya. Lena terdiam di samping mobil Erlan menatap gedung rumah sakit elit itu. Rasa ragu kembali merayapi hati Lena. Lena bahkan berpikir untuk kembali masuk ke dalam mobil suaminya lagi saja dan mengurungkan niat untuk bertemu dengan Sherin yang sedang sakit.


Erlan menghela napas pelan. Erlan tau bagaimana perasaan istrinya. Pria itu kemudian melangkah mendekat pada Lena yang masih berdiri disamping pintu mobil.


“Sayang...” Panggil Erlan pelan.


Lena menatap Erlan dengan wajah sendu. Rasa bimbang dan ragu itu kembali merayapi hatinya membuat nya bingung antara meneruskan niat baiknya menjenguk Sherin atau pulang saja dan berpura pura tidak tau apa apa tentang keadaan Sherin sekarang.


“Erlan aku...” Lena tidak bisa melanjutkan ucapannya. Dia sendiri merasa bingung harus mengatakan apa.


“Apa kita pulang saja Hem?” Tanya Erlan. Erlan tidak ingin istrinya merasa tertekan dengan niat baik nya sendiri. Apa lagi Erlan juga sudah tau penyebab hancurnya hubungan persahabatan antara Lena dan Sherin adalah karena pengkhianatan Sherin dan Alex dulu di belakang Lena. Pengkhianatan yang hampir saja membuat hidup Lena hancur jika saja Tuhan tidak mempertemukannya Lena. Terlebih saat itu Lena justru masuk ke dalam klub malam yang sebenarnya adalah milik Erlan.


Lena menelan ludah. Meski memang hubungan persahabatan nya dengan Sherin berakhir tidak baik. Tapi bukan berarti dirinya tidak perduli lagi pada Sherin. Apa lagi sekarang Sherin sedang dalam keadaan yang tidak baik baik saja baik secara mental maupun fisik. Sherin pasti sedang sangat membutuhkan dukungan penuh dari orang orang di sekitar nya. Dan Lena tau bagaimana rasanya berada di fase tersebut.


“Enggak Erlan. Aku tetap mau menjenguk Sherin. Aku ingin tau bagaimana keadaan nya secara langsung. Aku ingin melihat sendiri bagaimana Sherin sekarang. Dia adalah sahabat yang selalu ada untuk aku dulu.”


“Walaupun dia sudah menghancurkan hati dan kepercayaan kamu?” Tanya Erlan cepat.


Lena terdiam sesaat. Apa yang sudah terjadi biarkan terjadi dan apa yang sudah berlalu tidak perlu lagi di permasalahkan menurutnya. Mungkin dulu Lena merasa sangat benci dan marah pada Sherin juga Alex. Tapi setelah menyadari hikmah di balik kejadian yang dia alami itu Lena pun mengerti. Bahwa rasa sakit yang Tuhan berikan itu adalah cara Tuhan memberikan petunjuk padanya tentang apa yang sesungguhnya terjadi di belakang Lena.


“Aku sudah punya kamu sekarang. Aku cinta sama kamu dan aku bahagia dengan kehidupan aku sekarang. Jadi aku pikir sudah tidak ada gunanya lagi aku mengingat tentang yang terjadi di masa lalu.” Ujar Lena dengan lapang dada.


Erlan tersenyum mendengarnya. Pria itu menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang istrinya katakan. Menyimpan dendam hanya akan membuat kehidupan yang di jalani tidak tenang.


“Ya sudah kalau memang begitu. Tapi sayang, kalau memang kamu berniat seperti itu, kamu harus tenangkan dulu hati dan pikiran kamu. Jangan sampai nanti begitu bertemu dengan Sherin kamu merasa tidak baik.”


Lena menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan nya perlahan. Wanita itu kembali membulatkan tekadnya. Dia yakin bahkan sangat. Niat baiknya menjenguk Sherin pasti akan mendatangkan kebaikan pula untuk dirinya. Karena Tuhan tidak pernah membiarkan hambanya yang berniat baik mengalami masalah berat yang tidak setara dengan kemampuan nya.


“Ya udah ayo kita masuk.” Ajak Erlan meraih pinggang Lena mesra, menggiring wanita nya melangkah masuk menuju gedung rumah sakit elit itu.


Ketika Erlan dan Lena hendak melangkah mendekat ke meja resepsionis untuk menanyakan tentang Sherin, tiba tiba Reyhan muncul dan tertangkap oleh pandangan mata Lena.


“Itu Reyhan.” Tunjuk Lena.


Erlan mengikuti arah tunjuk istrinya. Pria itu kemudian melangkah mendekat pada Reyhan yang sedang melangkah dengan tujuan entah akan kemana.


“Reyhan tunggu.” Panggil Erlan yang berhasil membuat langkah Reyhan terhenti.


Reyhan menoleh dan tersenyum ketika melihat Erlan dan Lena yang sedang melangkah mendekat padanya.


“Kak Lena.. Tuan Erlan.” Gumamnya.


“Selamat siang kak, tuan..” Sapa Reyhan dengan sopan pada Lena dan Erlan.

__ADS_1


“Ya... Kami berdua kesini karena Lena ingin menjenguk Sherin. Eum.. Bisa tolong kamu tunjukan pada kami dimana ruang rawat tempat Sherin?”


“Oh tentu saja. Mari saya tunjukan tuan. Mari kak..”


Lena tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lena dan Erlan kemudian melangkah mengikuti Reyhan.


Saat sampai di ruangan tempat Sherin berada, Lena terkejut. Padahal Lena pikir keadaan Sherin tidak seperti apa yang di lihatnya sekarang.


“Ya Tuhan...” Gumam Lena menutup mulut nya yang terbuka karena keterkejutan nya.


Tidak jauh berbeda dengan Lena, Erlan pun sama terkejutnya. Pria itu juga sama sekali tidak berpikir jika keadaan Sherin seperti itu.


“Begini lah kak keadaan kak Sherin. Sejak mengalami kecelakaan dan bayi dalam kandungan nya terpaksa di ambil dengan jalan operasi, kak Sherin sama sekali belum sadarkan diri.” Ujar Reyhan pelan.


Lena menelan ludah. Keadaan Sherin benar benar sangat memilukan. Lena tidak menyangka jika ternyata Sherin mengalami koma setelah melahirkan putranya.


“Lalu dimana anaknya? Apa anak Sherin baik baik saja?” Tanya Lena kemudian.


Reyhan tersenyum miris. Pandangan nya terarah pada Sherin yang tidak berdaya diatas brankarnya dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya.


“Alexander membawa anak yang kak Sherin lahirkan kak. Bahkan dia juga sudah memberikan surat undangan ke pengadilan.” Jawab Reyhan lagi masih dengan nada pelan.


Lena menatap Sherin kemudian perlahan mendekat pada Sherin yang tergeletak dengan kedua mata terpejam dengan tenang. Lena tidak tau harus bagaimana sekarang. Keadaan Sherin benar benar membuatnya sangat kaget.


Lena meraih tangan Sherin yang terasa sangat dingin. Tangan itu begitu lemas tanpa tenaga. Tangan yang dulu sering bergandengan dengan tangan Lena.


Erlan yang melihat itu hanya bisa diam di tempatnya berdiri begitu juga dengan Reyhan.


“Sherin.. Aku minta maaf kalau aku nggak bisa menjadi sahabat yang baik untuk kamu. Aku minta maaf kalau selama kita bersahabat aku banyak salah sama kamu. Aku.. Aku...” Lena tidak bisa lagi melanjutkan ucapan nya karena air matanya sudah lebih dulu mendahuluinya. Tetesan bening itu menyebrangi kedua pipi Lena membentuk anak sungai disana.


Melihat keadaan Sherin sekarang Lena menjadi merasa bersalah. Walaupun sebenarnya Sherin lah yang bersalah padanya karena sudah mengkhianatinya dengan menjadi selingkuhan Alex dulu.


“Tentang yang sudah terjadi aku sudah tidak lagi mempermasalahkan nya Sherin. Kamu bangunlah. Ada keluarga kamu juga anak kamu yang pasti sangat membutuhkan kamu Sherin...” Lanjut Lena dengan air mata berderai.


Karena ucapan lirih dan bergetar Lena tiba tiba tubuh Sherin merespon. Wanita itu mengejang secara tiba tiba yang langsung membuat Lena, Erlan, juga Reyhan panik.


“Ya Tuhan.. Sherin..” Geleng Lena kembali di buat terkejut.


Erlan yang takut terjadi sesuatu pada istrinya langsung mendekat pada Lena. Sedang Reyhan, dia buru buru memencet tombol yang ada di samping brankar Sherin. Saat itu juga dokter langsung masuk dengan sangat terburu buru ke dalam ruang rawat Sherin.


Dokter itu juga meminta pada Lena, Erlan, juga Reyhan agar menunggu di luar sementara Sherin di periksa.


Mereka bertiga yang memang sudah mengerti dengan peraturan di rumah sakit menurut saja. Ketiganya keluar dari ruang rawat Sherin menunggu dokter memeriksa keadaan Sherin.

__ADS_1


“Sherin... Huhuhu..” Tangis Lena sangat terpukul.


Erlan yang tidak tega melihat istrinya menangis segera menarik lembut tubuh Lena dan memeluknya dengan lembut. Erlan tau dan paham bagaimana perasaan istrinya sekarang. Lena adalah wanita dengan hati yang baik, tidak heran jika dia merasa sedih bahkan sampai menangis karena kondisi Sherin sekarang.


Sementara Reyhan yang melihat itu hanya tersenyum saja. Keadaan Sherin memang sangat memperihatinkan. Kondisinya akan membuat siapa saja merasa iba dan kasihan tak terkecuali Alex yang sampai saat ini sama sekali tidak menjenguk Sherin lagi.


“Tuhan... Apapun keputusan mu kami semua ikhlas.” Batin Reyhan dengan rasa sesak yang memenuhi dadanya.


Kedua orang tuanya juga sudah pasrah. Karena berhari hari tidak ada sedikitpun kemajuan pada kondisinya. Sebaliknya, kondisi Sherin justru semakin hari semakin memburuk. Mereka tidak mau jika Sherin semakin tersiksa dengan berbagai macam alat medis yang menempel di tubuhnya.


Isak tangis Lena semakin terdengar begitu memilukan membuat Erlan semakin erat memeluknya. Erlan juga membisikan ucapan lembut untuk menenangkan istrinya yang mulai kalut. Erlan tidak menyangka semuanya akan seperti itu.


Sekitar lima menit menunggu, pintu ruang rawat Sherin pun di buka oleh dokter. Reyhan langsung mendekat untuk menanyakan tentang keadaan kakak satu satunya yang sangat dia sayangi itu.


“Bagaimana dokter? Kakak saya baik baik saja kan?”


Meski kemungkinan buruk juga sedang Reyhan pikirkan, tetapi dia mengelak sendiri dengan pertanyaan yang membuat Reyhan merasa sangat bodoh sekarang.


Dokter itu menghela napas kemudian meraih pundak Reyhan dan mengusapnya pelan.


“Kami benar benar minta maaf. Kami sudah berusaha semampu kami. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Nyonya Sherin, dia sudah tiada.” Jawab dokter itu penuh sesal.


Reyhan menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dokter katakan. Kata pasrah yang selalu dia gumamkan dalam hatinya ternyata tidak semudah yang dia bayangkan. Buktinya sekarang dirinya tidak percaya dengan apa yang dokter katakan bahwa Sherin telah tiada. Kakaknya sudah meninggal.


“Nggak, nggak mungkin.” Lirih Reyhan menangis pilu.


Sementara Lena, tangisan nya semakin hebat. Dirinya belum sempat meminta maaf pada Sherin atas segala kesalahan nya. Namun Sherin sudah lebih dulu pergi meninggalkan nya.


“Sabar sayang.. Sabar.. Semuanya sudah kehendak dari Tuhan..” Lirih Erlan memejamkan kedua matanya.


Lena menggelengkan kepalanya tidak bisa mempercayai begitu saja apa yang terjadi. Sherin pergi untuk selama lamanya. Sherin sahabatnya.


Kilasan kebersamaan mereka dulu kembali membayangi Lena. Senyum dan tawa Sherin serta perhatian Sherin dulu padanya juga terngiang kembali di telinganya.


Di tengah keterpurukan nya, Reyhan pun langsung menghubungi keluarganya untuk memberitahukan tentang kematian Sherin. Dan dalam sekejap berita kematian Sherin langsung berhembus ke berbagai media bahkan sampai pada telinga Alex.


Alex terkejut dengan berita tersebut. Dia terpaku saat menonton langsung berita live tentang kematian Sherin yang masih berstatus sebagai istri sahnya.


“Sherin...” Lirih Alex tidak menyangka.


Hari itu juga Sherin langsung di kebumikan. Keluarga Sherin tidak ingin menunda nunda waktu untuk menyemayamkan Sherin di tempat peristirahatan terakhirnya.


Alex yang tidak berani mendekat hanya bisa menatap dari kejauhan. Entah kenapa Alex merasa ada sesuatu yang hilang darinya. Padahal Alex sendiri tidak merasa mencintai Sherin.

__ADS_1


Disana juga ada Melisa dan Alvin yang langsung hadir di pemakaman Sherin sore itu. Mereka berdua berdiri berdampingan yang juga sempat di tatap oleh Alex. Namun Alex merasa tidak tertarik dengan kehadiran keduanya. Dia lebih fokus memikirkan apa yang telah terjadi. Sherin pergi untuk selama lamanya.


Sherin seolah memanen apa yang telah dia tanam. Akibat dari apa yang di lakukan nya dengan mengkhianati persahabatan nya dengan Lena, Sherin sama sekali tidak merasakan bahagia setelah itu. Sherin menderita karena cinta sepihaknya pada Alex. Bahkan sampai di akhir hayatnya Alex sama sekali tidak membalas cintanya.


__ADS_2