
Untuk yang kesekian kalinya Alex diam diam datang dan mengawasi Melisa dari kejauhan. Pria itu terus menatap lekat lekat Melisa yang begitu sibuk melayani pelanggan nya yang begitu ramai. Tanpa sadar Alex tersenyum. Pria itu merasa sangat tenang dan damai jika menatap wajah cantik alami Melisa.
“Melisa.. Aku selalu berharap kita bisa dekat lagi seperti dulu. Aku juga berharap kita bisa bersama suatu hari nanti. Tidak perduli akan bagaimana penilaian orang nanti.” Gumam Alex tersenyum menatap Melisa yang begitu ramah melayani satu persatu pelanggan nya.
Alex sebenarnya sangat tidak menyangka Melisa bisa berhasil dan sukses mengembangkan bisnis kuenya. Bisnis yang awalnya sangat Alex remehkan. Bisnis yang juga sempat Alex curigai hasil dari Melisa merayu Alvin.
Alex menghela napas pelan. Pria itu berniat turun dari mobilnya dan berbasa basi berpura pura membeli kue buatan Melisa. Tidak sabar ingin bertatap muka secara langsung dan dekat dengan Melisa, Alex pun bergegas turun dari mobilnya dan melangkah lebar mendekat pada Melisa.
“Ekhem.”
Deheman Alex berhasil membuat Melisa menoleh. Melisa berdecak merasa sangat kesal saat mendapati Alex berada di depan toko kue nya.
“Mau ngapain lagi sih tuh orang kesini. Nggak puas puas kayanya dia menghina aku.” Batin Melisa merasa muak.
“Eum.. Saya mau beli kuenya dong. Kue lapis legitnya satu sama bolu pisangnya satu.” Ujar Alex dengan santainya.
Melisa menghela napas kasar. Tidak ingin berlama lama berada dekat dengan pria yang sudah menghancurkannya, Melisa pun bergegas mengambilkan apa yang Alex sebutkan. Melisa juga berusaha bersikap tenang seolah tidak mengenal Alex dan menganggap Alex seperti pembeli lain nya.
Melisa menyodorkan pada Alex kresek dimana satu dus kue lapis legit dan bolu pisang itu dia masukan.
“Berapa semuanya?” Tanya Alex sembari mengeluarkan dompet yang berada di dalam saku celana bahan nya.
Melisa tidak langsung menjawab. Dia tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya tersenyum.
__ADS_1
“Tidak perlu tuan. Saya berikan itu gratis untuk anda. Saya sedang ingin sedekah. Yah.. Hitung hitung untuk menghapus dosa saya di masa lalu.” Ujar Melisa dengan sangat tenang. Melisa berharap Alex merasa terhina dengan ucapan nya karena dia ingin sekali bisa membalas rasa sakit hatinya karena perlakuan dan hinaan Alex padanya selama ini.
Alex menyipitkan kedua matanya kemudian tertawa dengan sinis.
“Kalau kamu ingin sedekah harusnya kamu berikan ini pada orang yang membutuhkan atau orang yang ingin mencicipi kue buatan kamu ini tapi tidak memiliki uang untuk membeli nya. Masa begitu saja kamu tidak tau. Sedangkan saya, saya bahkan bisa membeli toko kue milik kamu ini sekarang juga.” Balas sinis Alex.
Melisa tersenyum. Apa yang Alex katakan memang benar. Bersedekah seharusnya Melisa berikan pada orang yang tidak mampu, tapi sayangnya bukan itu niat Melisa sekarang. Melisa hanya ingin membalas hinaan Alex padanya.
“Saya pikir anda tidak tau tentang teori sedekah tuan. Saya pikir yang anda pikirkan hanya uang dan nikmat duniawi yang sesaat. Tapi ternyata anda juga tau tentang itu. Dan sebagai hadiah atas kepintaran anda mengajari saya tentang sedekah, maka ambil saja kue yang harganya tidak seberapa itu. Saya ikhlas memberikan nya untuk anda tuan.” Kata Melisa dengan sangat puas.
Gurat kemarahan mulai terlihat jelas di wajah Alex. Dan Melisa tau itu. Tentu saja, dulu Melisa terbiasa menghadapi Alex yang selalu marah marah padanya juga pada karyawan lain nya. Ya, Alex memang suka semena mena dan seenaknya dengan kekuasaan yang dia miliki.
“Apa maksud kamu Melisa? Kamu memancing amarah saya?” Tanya Alex dengan penuh penekanan.
“Alvin...” Senyum Melisa penuh arti.
Melisa menatap sebentar pada Alex kemudian berlalu begitu saja untuk menyambut kedatangan calon suaminya.
Alex yang penasaran dengan siapa pemilik mobil yang baru kali ini di bawa oleh Alvin pun ikut menoleh. Dia menyipitkan kedua matanya. Dengan kedua mata kepalanya Alex melihat pemandangan yang berhasil membuat hatinya terasa di remas remas. Yaitu Melisa yang menyambut kedatangan Alvin dengan pelukan hangatnya.
“Sudah siap?” Tanya Alvin yang sebenarnya juga menyadari kehadiran Alex namun berusaha untuk abai dan tidak perduli.
“Belum.. Hehee.. Ini aku baru mau tutup toko. Memangnya kita mau pergi sekarang? Bukannya kita perginya nanti sore?”
__ADS_1
Alex melengos enggan melihat kemesraan Alvin dan Melisa. Pria itu yakin Alvin memang sengaja memamerkan kemesraan nya dengan Melisa.
“Tadi aku udah kirim pesan ke kamu loh.. Aku bilang aku udah lagi jalan kesini sayang...” Alvin mencubit kedua pipi Melisa dengan gemas. Namun pria itu tidak benar benar mencubit kedua pipi Melisa.
Melisa tertawa pelan. Wanita itu merasa sangat di istimewa kan setiap bersama dengan Alvin. Melisa juga bisa merasakan ketulusan Alvin padanya.
“Hehe.. Maaf, aku nggak ada waktu buat pegang handphone.”
“Ya udah lebih baik sekarang kamu siap siap. Mamah sama papah udah nungguin di butik loh. Mamah juga sangat antusias memilih gaun pengantin untuk kamu. Tokonya biar aku yang beresin.” Kata Alvin dengan sangat bijak.
“Oke kalau begitu. Aku akan siap dalam waktu 10 menit.” Ujar Melisa semangat.
Alvin mengangguk percaya. Pria itu kemudian segera menyuruh Melisa masuk ke rumah dan bersiap siap. sedangkan Alvin, dia melangkah menuju toko kue Melisa untuk menutupnya. Alvin bersikap acuh dan tidak menganggap kehadiran Alex yang masih berdiri di depan toko kue Melisa. Alvin ingin sekali menghajar Alex sebenarnya. Namun Alvin berusaha untuk menahan nya. Alvin tau tidak ada gunanya bermasalah dengan Alex yang tidak akan mengerti bagaimana caranya menghargai orang lain.
“Jadi anda masih mau menikahi Melisa? Memangnya anda tidak merasa jijik dengan dia? Dia kan bekas saya.” Ujar Alex memancing Alvin.
Alvin menghela napas. Jika saja negara yang menjadi tempat nya tinggal bukan negara hukum, mungkin Alvin sudah menghabisi Alex. Tapi Semarah apapun Alvin, dia masih bisa berpikir dengan jernih. Alvin tidak akan berbuat seenaknya pada siapapun sekalipun itu pada orang yang tidak punya hati seperti Alex.
“Kenapa saya harus jijik? Saya mencintai Melisa apapun kekurangan nya. Saya menerima semuanya. Melisa adalah korban dimana tersangkanya adalah anda. Saya justru merasa jijik pada anda. Anda adalah seorang CEO di perusahaan yang cukup punya nama. Tapi sayangnya kelakuan anda tidak mencerminkan siapa anda. Anda bertingkah seolah anda adalah orang yang tidak pernah duduk di bangku sekolah. Anda menindas bahkan melakukan perbuatan asusila pada orang lemah.” Balas Alvin dengan tenang.
Rahang Alex mengeras mendengarnya. Pria itu paling tidak suka jika ada yang berani padanya. Namun Alex juga tidak bisa memungkiri bahwa apa yang Alvin katakan memang benar. Tidak tau harus berkata apa, Alex pun memilih untuk berlalu. Alex tidak ingin semakin mempermalukan dirinya sendiri di depan Alvin.
Sementara Alvin, dia justru tersenyum merasa puas karena berhasil membuat Alex tidak bisa berkutik dengan kata katanya.
__ADS_1
Tidak mau membuang buang waktu, Alvin pun segera membereskan toko kue Melisa sembari menunggu Melisa yang sedang bersiap untuk pergi bersamanya juga kedua orang tuanya.