
Aku pulang lebih awal hari ini.
Qarima dan Qhaza sedang menonton tv di ruang tamu. Sebelum aku akan ke kamarku,
Qarima memanggilku.
“Leva-kun!” Panggilanku berubah lagi.
Aku berhenti dan menatapnya.
“Aku dengar kalau kelas tambahan juga ikut berpartisipasi dalam festival?”
Aku mengangguk.
“Sudah punya ide untuk itu?”
Aku mengangguk lagi.
“Benarkah?” Dia mendekatiku. “Apa itu?”
Aku diam saja.
“Apa teman-temanmu menyuruhmu merahasiakannya! Ayolah, aku tidak akan mencuri ide. Lagi pula kami sudah tetapkan apa yang akan kami lakukan.”
“Aku lapar!” Kataku mengalihkan pembicaraan.
“Woe-”
Aku meninggalkannya. Dia terlihat kesal karena aku tidak menjawabnya. Pak Abdul memang menyuruh kami untuk
merahasiakannya.
Beberapa saat setelah jam makan siang berakhir, aku merenung di kamar. Berpikir keras tentang film. Kebanggaanku sebagai pecinta film akan berada di bawah nol jika aku tidak bisa menghasilkan ide yang lebih baik dari yang lainnya.
Kring kring kring.
HP-ku berbunyi. Tapi berhenti ketika aku hendak mengangkatnya. Nomor baru. Dari luar, ku dengar langkah kaki
seseorang yang mendekat. “Leva, aku masuk ya.”
Qarima muncul dengan hanya memakai handuk kimono. “Ada apa?” Tanyaku.
“Apa yang kau lakukan?”
“Tidak ada.”
“Bohong. Ceritalah padaku.”
“Tidak akan, aku malu.” Kata berpura, sembari memalingkan muka.
“Malu? Hahaha. Jangan konyol. Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang dapat membuatmu malu! Aku tahu itu!” Ejeknya. Dia menghela nafas panjang. “Sebenarnya Leva ... aku sedang jatuh cinta. Aku akan menembak cowok besok.”
“Kau sudah melakukannya kemarin.”
__ADS_1
“Akanku lakukan lagi.”
“Muka tembok.”
“Tidak sopan sekali kau bicara seperti itu pada kakakmu.”
“Cih!’
“Apa maksudmu cih?”
Aku menutup mataku, menutup telingaku, berharap tidak mendengar ocehannya lagi. Dan beberapa saat kemudian terasa hening, dia sudah keluar. Syukurlah. Sekarang aku bisa tenang, kembali ke duniaku lagi.
Setelah selesai di kelas reguler, aku segera menuju kelas tambahan. Aku tidak terlalu menghiraukan teman sekelasku yang mulai sibuk dengan kegiatan tambahannya untuk festival sekolah. Aku buru-buru mengambil tasku dan pergi, sebelum itu Gin mencegatku.
“Kau mau ke mana?”
“Kelas tambahan.” Jawabku.
“Benar juga, aku lupa.” Katanyanya dingin. Dia tidak seperti biasanya. Sikapnya aneh lagi.
“Pergilah!” Ucapnya sembari menyingkir dari depan pintu. Aku meliriknya sejenak. Heran, ada apa dengannya. Dan, menuju kelas tambahan lagi.
Aku bertemu dengan Fairel dipersimpangan koridor sekolah, kemudian kami berjalan bersama. Aku terus berpikir tentang film, aku tidak bisa berhenti tersenyum.
“Terjadi hal yang baik?” Fairel menegurku.
“Hmmm,” aku mengangguk pelan.
“Benarkah?”
“Tidak, aku juga tidak ingin mendengarnya.”
Tidak ingin mendengarnya? Entah kenapa, rasanya cukup menyakitkan.
“Tadi, aku ke ruang osis.” Sekarang, malah dia yang mulai bercerita. “Aku bertemu dengan kakakmu.”
“Dengan ka―HEH!?”
Langkahku terhenti, aku kaget. Sungguh. Dia mengikutiku, dan berbalik menatapku.
“Ada apa?” Tanyanya.
“Apa Fairel mengenal Qarima?” Tanyaku dengan nada hati-hati.
“Kenal. Kenapa memangnya, apa itu aneh?”
Aku mengangguk, “Kakakku yang kau maksud itu ... adalah Qarima?”
“Tentu saja, apa kau punya kakak lain selain dia?”
Aku menggeleng. Aneh, bagaimana dia bisa tahu? Aku kembali berjalan, Fairel mengikutiku dari belakang.
“Apa yang Fairel lakukan di ruang osis?” Tanyaku basa-basi sekedar mengalihkan pikiran.
__ADS_1
“Tidak ada, aku hanya mengecek keadaan.”
Jawaban apa itu? Mengecek keadaan? Memangnya kau ini siapa? “Mengecek keadaan? Untuk apa?”
“Untuk apa? Pertanyaanmu sangat aneh.”
Tidak, ucapanmu yang aneh. “Fai―”
“Tentu saja, kan? Soalnya itu kewajibanku sebagai ketua osis.”
“Oh, ketua o―HEH!?”
HEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEHHHH!!!!?
TIDAK MUNGKIN!
“Leva, ada apa? Kau baik-baik saja?” Tanyanya polos.
Tidak! Aku tidak baik-baik saja. Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi, dikagetkan dua kali berturut-turut dalam jeda yang singkat, sudah pasti membuatku terkena stroke, kan? Tapi ... kenapa aku kaget, ya? Kenapa hal seperti ini bisa membuatku terganggu?
“Leva?” Fairel mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku, aku menatapnya kosong. Aku berjalan tanpa kata, melewati Tiwa dan pak Abdul yang sedang mendiskusikan hal aneh yang benar-benar aneh. Sekian banyak dari pembicaraan orang dewasa lainnya seperti ‘berapa banyak saudara yang kau miliki’ ‘oh aku juga menyukai mocca. Sepertinya kita punya banyak kesamaan’.
Di teras depan kelas sisi lainnya Adit dan Ono pun sedang berdiskusi sambil menghadapkan tubuhnya ke arah hutan sekolah. Sementara itu Vicky sedang menyapu ruangan, dia punya keahlian untuk menjadi pelayan, dia tampak anggun ketika memegang sapu lidi dengan lengannya yang kecil dan lemah, tubuhnya bergoyang ke kiri dan ke kanan menyapu sobekan kertas yang berserakan di lantai.
Di waktu yang bersamaan Abi dan Fajar merapikan kursi-kursi yang berjejer tak beraturan, mereka bersemangat dan akrab satu sama lain. Hanya saja, aku sedikitheran dengan dunia ini, begitu banyak kejadian yang berbeda, bagaimana bisa ada orang yang susah payah bekerja dan ada juga orang yang hanya duduk dan bersantai? Yah, aku termasuk kategori yang kedua.
Aku membanting diriku di atas kursi, segera membuang jauh-jauh pikiran tentang pembicaraanku sebelumnya dengan Fairel, aku tidak ingin terganggu dengan hal konyol seperti itu. Siapa yang peduli jika dia ketua osis?
“Kalian sudah datang.” Teriak pak Abdul dari luar ruangan, dia melambaikan tangannya padaku. Ada apa dengan orang ini?
“Kalian terlambat,” komentar Fajar yang sudah selesai merapikan kursi.
“Ada apa dengan sapu lidi itu?” Tanya pak Abdul, sembari menatap sapu lidi yang sedang di pegang Vicky.
“Hehe! Hanya ini yang tersisa di ruang perlengkapan. Semuanya sedang digunakan oleh kelas lain. Kelas kita tidak memiliki peralatannya sendiri, jadi hanya ini yang bisa digunakan.” Jelas Vicky sambil tertawa kecil.
“Ada apa dengan kepala sekolah itu?” Keluh Fairel.
“Jangan membicarakan ayahku seperti itu,” Ono dan Adit yang di luar ruangan pun ikut bergabung. “Ketua osislah yang harusnya punya inisiatif untuk hal yang seperti ini.”
“Ini tidak ada hubungannya dengan osis! Osis tidak punya urusan dengan hal-hal konyol!” Fairel membela dirinya.
Sebenarnya aku benar-benar tidak tahu kenapa yang bernama ‘osis’ itu ada. Aku tidak tahu tugas dari osis atau pun kepala sekolah itu seperti apa, makanya untuk perdebatan mereka saat ini aku bukan sekutu siapa pun.
“Sudah cukup bersantainya.” Kata pak Abdul kemudian, “bentuk kembali mejanya seperti kemarin.”
“Heh!? Kenapa tidak katakan sejak tadi, saya sudah susah payah membuatnya seperti ini!” Keluh Fajar.
“Bukan aku yang menyuruhmu!” Bantah pak Abdul. Dan mereka semua tertawa.
“Hari ini sampai satu minggu ke depan kita tidak belajar.” Tiwa akhirnya bicara setelah beberapa detik terdiam.
“Horeeeee!” Teriak Abi tiba-tiba. Kami semua menatapnya. Tidak biasanya. “Apa?” Tanyanya. Serentak kami semua menggelengkan kepala. Lagi pula, sejak kapan aku mulai melakukan kebisaan yang ‘serentak’ dengan mereka? Duniaku yang berharga kini mulai terkacaukan.
“Aku ingin mendengar hasil pemikiran kalian mengenai tema yang kita sepakati kemarin.” Pak Abdul mulai berbicara. Semuanya memperhatikan, kami siap untuk bertukar pikiran.
__ADS_1