
“Makasih yah..” Senyum Melisa begitu turun dari boncengan Alvin. Mereka baru saja kembali setelah mencari makan malam untuk Farid yang sedang terkena demam. Sore tadi mereka juga memeriksakan Farid ke dokter karena Melisa yang sangat khawatir pada keadaan Farid yang sama sekali tidak mau makan apapun yang Melisa berikan sejak pagi tadi. Karena itulah Melisa berusaha mencari apa saja makanan kesukaan adik bungsunya itu dengan bantuan Alvin yang selalu menemaninya kemanapun Melisa pergi.
Sedang untuk penjagaan Farid, Melisa menyerah kan nya kepada David yang bahkan sampai rela bolos sekolah demi adiknya itu.
“Makasih kaya sama siapa aja. Aku kan calon suami kamu Sa.. Kalau cuma buat nemenin kamu beli makanan itu bukan apa apa. Jadi nggak perlu lah kamu bilang makasih.” Kata Alvin.
Melisa tersenyum mendengar nya. Itulah yang sangat dia sukai dari seorang Alvin. Alvin tidak hanya baik dan pengertian. Tapi Alvin selalu tulus membantunya sejak dulu, tepatnya sejak mereka masih sama sama duduk di bangku sekolah menengah atas.
“Udah mending sekarang kita masuk. Kasihan loh David juga belum makan seharian bantuin kamu jagain Farid.”
Melisa menganggukkan kepalanya setuju. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam rumah Melisa beriringan.
“Gimana dek?” Tanya Melisa pada David yang berbaring disamping Farid yang terlelap sembari memainkan game online di ponselnya.
David menghela napas kemudian bangkit dari berbaring nya. Remaja tampan itu menatap sebentar pada adiknya sebelum menatap pada Melisa kakaknya.
“Farid nggak mau makan kak. Dari tadi cuma minum minum doang. David udah paksa, tapi katanya nanti saja dia pusing mau tidur dulu.” Jawab David pelan.
Melisa menghela napas mendengar nya. Melisa sendiri tahu bagaimana rasanya saat sedang tidak enak badan. Jika di turuti memang rasanya malas sekali untuk makan karena indra perasanya yang sedang tidak bisa di ajak kompromi.
“Ya sudah nggak papa. Biarin Farid istirahat dulu. Nanti kalau dia bangun kamu coba pelan pelan bujuk dia buat makan terus minum obatnya. Kasihan kalau terlalu di tekan dan di paksa.” Kata Alvin.
David mengangguk setuju dengan apa yang Alvin katakan. Sedangkan Melisa, dia hanya diam dengan tatapan sendunya pada Farid. Melisa merasa kasihan juga sangat sedih dengan keadaan adiknya sekarang.
“Hey..” Alvin menyentuh lembut bahu Melisa membuat si empunya menoleh.
__ADS_1
“Nggak apa apa. Farid akan baik baik saja kok. Nanti kalau sudah mau minum obat dia pasti akan baikan.” Ujar Alvin.
Melisa menelan ludah kemudian mengangguk pelan. Saat ini Melisa hanya bisa berharap semoga adik bungsunya segera pulih.
“Lebih baik sekarang kita makan dulu yuk? Kan kamu dan David juga harus jaga kesehatan. Nggak lucu dong kalau kalian berdua sampai lupa buat jaga kesehatan karena terlalu fokus jagain Farid yang sedang demam. Nanti yang ada begitu Farid sembuh malah kalian berdua yang sakit. Kasihan kan kalau Farid harus jagain kalian berdua nantinya.” Senyum Alvin.
Melisa tersenyum. Senang dan lega sekali rasanya karena Alvin tidak hanya menyayangi nya, tapi juga menyayangi kedua adiknya. Alvin begitu sangat perhatian padanya dan kedua adiknya.
“Ya udah yuk Vid makan dulu. Kita berdua udah beliin makanan kesukaan kamu juga loh.” Ajak Alvin pada David.
“Oke kak..” Angguk David nurut saja.
David kemudian turun dari ranjang tempat nya menjaga Farid yang juga sedang terlelap disana.
Karena tidak tega melihat keadaan Farid yang tampak lemas dan terus saja memuntahkan apa yang di makan nya, Alvin pun memutuskan untuk menginap. Namun sebelum itu Alvin meminta izin lebih dulu pada ketua RT disana. Alvin juga tidak lupa menghubungi orang tua nya memberitahu bahwa dirinya tidak bisa pulang dan akan menginap di rumah Melisa karena khawatir pada keadaan Farid. Dan tentu saja nyonya Genie langsung mengizinkan. Karena nyonya Genie sendiri juga sangat menyayangi Melisa sebagai calon menantunya. Nyonya Genie bahkan berpesan pada Alvin agar benar benar menjaga Melisa dan kedua adiknya dan meminta di hubungi jika ada sesuatu yang terjadi.
Tidak ingin menimbulkan fitnah, Alvin pun dengan suka rela berniat tidur di luar rumah. Melisa sudah mengatakan itu tidak perlu Alvin lakukan, namun dengan sangat Alvin memberi alasan.
“Apa? David temenin kak Alvin tidur di teras? Ya ampun kak, yang bener aja sih? Lagian ngapain juga kak Alvin mesti tidur di teras. Kan bisa kak Alvin tidur sama David, kakak temenin Farid. Ribet banget.” Sungut David yang merasa sangat keberatan jika harus menemani Alvin tidur di teras depan rumah.
“Menurut kakak juga gitu Vid, tapi kak Alvin tetap nggak mau. Dia bilang dia takut kalau sampai nanti ada fitnah.” Jelas Melisa mengharapkan pengertian adiknya.
“Ya kan kita sudah minta izin sama pak RT kak. Aman lah pasti.” David berdecak. David tidak bisa membayangkan akan seperti apa jika dirinya benar harus tidur di teras depan rumah. Pasti akan sangat merepotkan karena nyamuk juga pasti akan menjadikan nya mangsa empuk.
“Please banget dek.. Kakak minta tolong banget sama kamu.” Melisa menatap David dengan tatapan sendu dan penuh harap. Melisa benar benar tidak enak jika harus membiarkan Alvin tidur sendirian di luar dengan hanya beralaskan kasur lantai saja.
__ADS_1
“Ck, ya udah deh.” Dengan rasa kesal David pun akhirnya setuju dan mau menemani Alvin tidur di luar rumah. Semua itu David lakukan karena David yang tidak mau kakaknya sedih.
“Bentar David ambil selimut sama handphone dulu.” Katanya kemudian masuk kembali ke dalam kamarnya. Saat Melisa memanggilnya, David menang sedang asik telepon dengan teman nya.
Melisa menghela napas merasa sangat lega. Jika Farid tidak sedang demam tinggi pasti Alvin juga tidak harus menginap. Namun karena rasa khawatir pria itu yang terlalu besar sehingga dengan begitu tulus mau menemani Melisa dan David menjaga Farid.
“Makasih banget ya dek.. Kamu selalu bisa ngertiin kakak.” Senyum Melisa tulus begitu David keluar dengan membawa selimutnya.
“Iya kak. Ya udah David keluar yah. Kalau Farid nangis atau apa kakak panggil David aja.”
“Hem..” Senyum Melisa mengangguk. Melisa benar benar bangga pada kedewasaan adiknya. David selalu mengerti dan memahaminya.
Dengan sangat terpaksa demi sang kakak, David pun mau menemani Alvin tidur diluar. Meski memang nyamuk begitu sangat banyak dan menjadikan nya juga Alvin sasaran empuk. Padahal mereka juga sudah menggunakan obat nyamuk bakar, namun sepertinya obat tersebut tidak berpengaruh saking banyaknya nyamuk disana.
“Kak..” Panggil David berhenti sejenak dari aktivitas bermain game online nya. Dia menatap Alvin yang tampak sibuk dengan ponselnya.
“Ya..” Sahut Alvin menoleh.
“Kakak emangnya nggak papa tidur di lantai begini? Di depan rumah lagi. Disini banyak banget loh nyamuknya. Aku saja di gigitin terus dari tadi.”
Alvin tertawa mendengar apa yang David tanyakan padanya. Pria itu merasa lucu dengan apa yang David ucapkan.
“Aku lakukan ini karena aku ngerasa apa yang menjadi tanggung jawab Melisa adalah tanggung jawab aku juga. Jadi aku berharap kamu juga Farid bisa menerima aku sebagai kakak kalian juga.” Jawab Alvin.
David tertawa pelan. Dia kemudian menganggukan kepalanya. David juga sebenarnya punya harapan besar pada Alvin. Bukan untuk ikut bertanggung jawab atas dirinya dan Farid, tapi tanggung jawab penuh atas Melisa kedepan nya.
__ADS_1