
Dengan ragu Melisa melangkah menyusul Alex menuju ruangan pria itu. Sesaat Melisa terdiam begitu sampai tepat di depan pintu yang sedikit terbuka itu. Melisa merasakan sesuatu yang tidak enak sekarang. Namun Melisa juga tidak mau sampai mendapat amukan dari Alex karena tidak mematuhi perintahnya.
Melisa menarik napas dalam dalam lalu menghelanya perlahan. Wanita itu menyentuh handle pintu ruangan Alex dan mendorongnya pelan membuka pintu bercat coklat gelap tersebut.
“Kunci pintunya.” Perintah Alex dengan tegas.
Melisa menelan ludah. Jika sudah seperti ini Melisa tau apa yang di inginkan oleh Alex sekarang. Apa lagi jika bukan pelayanan darinya. Melisa ingin sekali berlari keluar dari ruangan Alex sekarang tapi itu tidak mungkin. Alex pasti akan mengancamnya dengan mengatakan akan memecat Melisa secara tidak hormat.
Melisa tidak punya pilihan lain sekarang selain menuruti apa yang Alex mau. Toh Melisa juga terkadang merasa terbuai dengan sentuhan pria itu.
Melisa memutar tubuhnya setelah mengunci pintu ruangan Alex. Wanita itu melangkah menghampiri Alex yang sudah duduk dengan kedua kaki terbuka di atas sofa panjang di seberang meja kerjanya.
“Saya pak..” Angguk Melisa berdiri tepat di depan meja kaca yang menghalangi posisi berdirinya dengan posisi duduk Alex di sofa.
Alex menatap penampilan Melisa dari atas sampai bawah. Seperti biasanya, wanita itu selalu mengenakan baju super ketat yang mencetak jelas lekuk tubuhnya. Dan semua itu tentu saja karena Alex yang sering meminta padanya.
“Lepas cardigan kamu sekarang.” Alex kembali memerintah. Namun Melisa tidak langsung menurutinya. Melisa terdiam sesaat. Rasa ragu kembali menghampirinya. Mereka sudah terlalu sering melakukan hal itu di ruangan Alex. Melisa takut apa yang mereka berdua lakukan akan di ketahui oleh nyonya ataupun tuan besar Smith yang saat ini sedang berada di ruangannya. Melisa takut dirinya akan di pecat.
“Tapi pak.. Anda sedang di tunggu oleh pak Smith di ruangannya.” Melisa mencoba menghindar dengan mengatakan pesan dari tuan besar Smith padanya beberapa menit yang lalu.
“Saya akan memenuhi panggilan papah saya nanti setelah kamu memuaskan saya. Tapi kalau kamu tidak mau memuaskan saya, maka saya tidak akan menghadap papah saya. Jika sudah begitu kamu lah yang akan disalahkan Melisa. Kamu mungkin juga akan di pecat secara langsung oleh papah saya karena di anggap lalai tidak memberitahu saya tentang panggilan itu. Ingat Melisa, mencari pekerjaan di luar sana sangatlah susah. Kamu tidak mau bukan kehilangan jabatan kamu sebagai sekretaris saya?”
Melisa terkejut mendengar apa yang Alex katakan. Pria itu selalu bisa menguasainya dengan ancaman. Padahal Melisa yakin sedikitpun Alex tidak mempunyai rasa padanya. Tentu karena Melisa sendiri tau bagaimana Alex yang sangat memuja Lena. Dirinya dan para wanita panggilan itu hanyalah budak nafsu Alex. Alex membutuhkannya juga wanita wanita itu hanya untuk memuaskannya.
__ADS_1
“Kenapa malah diam? Jadi kamu lebih memilih di pecat secara tidak hormat?” Tanya Alex dengan senyuman liciknya.
Melisa menggelengkan kepalanya. Melisa tidak bisa mengelak bahwa dirinya juga sering menikmati setiap sentuhan Alex. Walaupun memang Alex selalu menyentuhnya dengan brutal bahkan terkadang kasar. Tapi itu bukan berarti Melisa selalu bersedia menjadi budak nafsu Alex. Melisa masih sadar akan harga dirinya sebagai seorang wanita.
“Pak tapi saya..”
“Saya tidak menerima penolakan Melisa. Buka semua kain yang menutupi tubuh kamu atau kamu akan kehilangan pekerjaan kamu hari ini juga.” Sela Alex menatap Melisa dengan wajah liciknya.
Melisa menggeleng lagi. Melepas sendiri semua kain yang melekat di tubuhnya itu sama saja dirinya semakin merendahkan diri di depan Alex. Dan Melisa tidak ingin sedikitpun melakukan itu.
“Saya..”
“Sekali lagi saya tekan kan, lepas semuanya atau kamu saya pecat sekarang juga.” Alex kembali menyela apa yang ingin Melisa katakan. Pria itu benar benar menggunakan kekuasaannya untuk menguasai wanita. Bahkan Alex juga adalah pria yang merenggut secara paksa kehormatan Melisa dulu.
Melisa memejamkan kedua matanya, harga dirinya benar benar sedang di injak injak oleh seorang Alexander Smith.
Alex yang melihat itu merasa sangat puas. Birahinya semakin naik ke ubun ubun. Namun Alex tidak ingin terburu buru. Alex ingin Melisa yang datang padanya.
Ketika hendak melepas sisa kain yang masih menutupi bagian tubuh tertentu nya, Melisa meneteskan air mata. Alex selalu saja memperlakukannya seperti budak saat sedang sangat bergairah. Dan sekarang pria itu menyuruh Melisa bertingkah seolah Melisa adalah wanita murahan yang sedang menggodanya.
Setelah semua kain itu tercampakan di lantai, Melisa tidak kuasa menahan air mata yang sejak tadi sudah mendesak ingin terjun melewati pipi mulusnya.
“Kemari.” Untuk yang kesekian kalinya Alex memerintah.
__ADS_1
Melisa menelan ludah kemudian mengusap air mata yang membasahi pipinya. Wanita itu membuka kedua matanya. Melisa sudah tidak punya lagi harga diri di hadapan Alex. Dan sekarang Melisa merasa tidak ada gunanya lagi menolak, toh dirinya juga tidak mau jika sampai kehilangan pekerjaannya. Mau di beri makan apa nanti adik adiknya jika sampai dia kehilangan pekerjaan. Apa lagi gaji yang Alex berikan padanya sangat menggiurkan. Alex mengatakan itu adalah bonus karena Melisa selalu membuatnya merasa puas.
Melisa melangkah mendekat pada Alex yang sudah begitu siap.
Detik berikutnya mereka berdua sudah kalap dengan aktivitas yang tidak seharusnya mereka lakukan itu. Melisa bahkan juga melupakan harga dirinya yang sempat ingin dia pertahankan.
-------
Setelah puas menyalurkan hasratnya, Alex pun bergegas menemui tuan besar Smith yang sudah lebih dari setengah jam menunggunya. Tentu saja karena Alex yang lebih dulu meminta di layani oleh sekretaris sexy nya.
“Melisa bilang papah memanggilku. Ada apa pah?” Tanya Alex begitu sampai di belakang tuan besar Smith yang berdiri menghadap tembok kaca di ruangan membelakanginya.
Mendengar suara Alex, emosi tuan besar Smith kembali memuncak. Pria itu mengepalkan kedua tanganya dengan napas memburu.
Perlahan tuan besar Smith memutar tubuhnya menghadap pada Alex yang berdiri dengan wajah seolah dirinya tidak melakukan kesalahan apa apa.
“Dasar anak kurang ajar.” Umpat tuan besar Smith sembari melayangkan tamparan keras ke pipi kanan Alex. Dan tamparan itu tepat mengenai luka lebam Alex bekas tinjuan dari Lena beberapa saat tadi.
Alex terkejut dengan apa yang di lakukan oleh papahnya. Alex tidak merasa melakukan kesalahan apapun di perusahaan. Tapi tiba tiba sang papah begitu murka bahkan sampai menamparnya.
“Kok papah nampar Alex? Ada apa ini pah? Apa salah Alex?” Tanya Alex yang masih tidak mengerti dimana letak kesalahannya.
Tuan besar Smith menggelengkan kepalanya tidak menyangka jika Alex bahkan sampai berani menyinggung nyonya muda Harrison. Tuan Smith tau Lena adalah mantan dari karyawan di perusahaannya. Tapi itu bukan berarti Alex bisa seenaknya menghina. Apa lagi Lena sudah menjadi istri sah Erlan Harrison.
__ADS_1
“Kali ini kamu sudah melampaui batas Alex. Kamu berani merendahkan istri tuan Erlan. Dan kamu tau akibatnya sekarang? Tuan Erlan memutus begitu saja kerja sama perusahaan yang sedang berlangsung. Apa kamu senang kita mengalami kerugian besar? Apa kamu senang proyek terbesar kita gagal?” Marah tuan besar Smith dengan tatapan tajam yang begitu menusuk.
Alex membulatkan kedua mata mendengarnya. Pria itu tidak percaya jika Lena langsung mengadukan apa yang di katakannya pada Erlan.