
Keesokan harinya, telah menjadi peraturan sekolah setiap tahunnya bahwa setelah festival usai, sekolah akan libur selama satu minggu. Saat itulah, kami semua bersiap-siap untuk berangkat ke pulau Komodo. Impian orang-orang aneh terkabul, aku juga sih jadi sedikit mengharapkannya.
“Semua yang di daftar sudah ada, sekarang apa lagi?” Tanya Lea pada dirinya sendiri. Dia sibuk mempersiapkan barang-barang yang akan kubawa. Qarima sibuk menyisir dan mengikat rambutku, sesuai permintaan, dia melakukannya dengan baik. Setelah itu kami semua turun di ruang keluarga. Ayah sudah ada di sana bersama Qhaza.
“Ingat, jangan dekat-dekat dengan anak laki-laki. Mereka semua tidak bisa dipercaya.” Kata ayah.
“Ayah dan Qhaza, juga?” Tanyaku.
“Tentu saja tidak.” Jawab mereka berdua serentak.
“Kalau ingin ganti baju lakukan di kamar mandi, tutup pintu dengan baik. Pastikan tidak ada orang yang mengintip.”
“Kenapa kalau ada orang yang mengintip?” Tanyaku.
“Tentu saja tidak boleh, karena kau itu perempuan.”
“Aku tidak mengerti.”
“Tidak perlu dimengerti, pokoknya seperti itu, lakukan apa yang ayah katakana.”
“Meskipun aku tidak mengerti?”
“Ha! Meskipun kau tidak mengerti! Juga, jika ada laki-laki yang mencoba menyentuhmu, langsung tampar saja.”
“Kenapa?”
“Itu adalah peraturan!”
“Peraturan? Menampar orang adalah peraturan? Baiklah, aku mengerti.”
“Kuharap dia tidak salah mengerti.” Kata Lea, Qarima dan Qhaza secara bersamaan.
Tentu saja tidak. Hanya saja, aku tertawa memikirkannya, ini sepertinya menyenangkan. Jika ada yang protes ketika aku melakukannya nanti, aku laporkan saja ayah ke polisi.
Ting! Ting! Ting!
Bel rumah berbunyi. Lea membukakan pintu.
“Selamat pagi! Saya di sini untuk menjemput tuan Putri!” Kata seseorang yang ada di belakang pintu, meskipun aku tidak menyebutkannya, kalian pasti sudah tahu siapa yang datang, gadis penuh obsesi.
“Tu-tuan putri?” Tanya Lea heran.
“Benar! Apa tuan Putri sudah siap?” Tanya gadis penuh obsesi lagi. Sebenarnya siapa yang mengijinkannya untuk ikut?
“Aku bertanya, siapa yang kau maksud tuan Putri?” Tanya Lea heran.
“Princess Rou!”
“Princess Rou? Oh, begitu. Jadi maksudmu Princess Rou?” Lea langsung menangkap maksudnya.
“Ya!”
“Masuklah!” Kata Lea.
“Tidak! Saya tidak pantas menginjakan kaki di kediaman tuan Putri!”
Sikap berlebihannya menyebalkan. “Be-begitu? Leva, ada orang aneh yang mencarimu.” Teriak Lea, dia sengaja berteriak agar gadis penuh obsesi mendengarnya, padahal aku ada di dekatnya.
__ADS_1
Aku menghampiri mereka berdua.
“Selamat pagi Princess. Bagaimana keadaan Anda pagi ini, apa tidur Anda nyenyak?”
“Pagi! Keadaan baik, ya!” Jawabku.
“Leva, persilahkan dia masuk!” Kata ayah.
“Masuklah!”
“Anda memerintah saya untuk masuk? Saya tidak punya pilihan, kalau begitu saya akan masuk, Princess!” Katanya sambil tersenyum bahagia. Lalu dia masuk, kemudian berdiri di samping tempatku duduk.
“Duduklah!” Kataku.
Dia duduk. Di lantai.
“Apa-apaan itu?” Tanya Qhaza tidak percaya. Dia mengerutkan keningnya, bersiap-siap menelpon ambulan.
“Pelayan rendahan seperti saya tidak pantas duduk di kursi yang sering diduduki oleh Tuan Putri!”
“Makanya kau duduk di lantai?” Tanya Qhaza, dia mulai menekan tombol pemanggil.
“Iya!”
“Duduklah di atas sofa!” Kataku. Perintahku, maksudku.
“Tuan Putri …” Dia terharu. “Terimakasih Princess!” Ratapnya haru, panggilanku selalu berubah. “Saya akan duduk, Putri!”
Kemudian, dia duduk di atas sofa.
“Panggil aku Putri saja!” Kataku, aku mulai menikmatinya. Permainan tuan putri dan pelayan ini.
“Ya, Putri!” Tegasku bangga.
“Baiklah. Itu adalah titah anda, Putri!”
“Kurasa aku harus meminta dua ambulan.” Gumam Qhaza sendirian, aku menatapnya kesal. Memangnya aku sakit jiwa?
“Jadi, dia siapa?” Tanya Qarima kemudian, setelah menahan rasa penasarannya selama beberapa menit.
“Gadis Penuh Obsesi.” Jawabku. Aku berharap dia tidak marah aku memanggilnya seperti itu, aku kan tidak tahu namanya.
“Haaa???”
“Sebenarnya nama saya Ramona.”
“Ramona?” Tanya kami semua.
“Ya, saya Ramona, Putri! Tapi jika itu keinginan anda, anda boleh tetap memanggil saya ‘Gadis Penuh Obesi’. Hahaha.” Tawanya menggema di seluruh ruangan, kami semua terdiam sejenak. Terpaku dengan gigi-giginya yang runcing. Iiiih.
“Kak Leva ... kau yakin dia bukan vampir?” Bisik Qhaza di sampingku, aku sendiri merinding tapi bersemangat.
Ini menarik juga, dia bisa menjadi pengawal yang baik. Oh Tuhan, semoga dia tidak membunuhku! Ratap batinku yang lain.
“Namamu terdengar lezat.” Kata ayah tiba-tiba, memecahkan suasana.
“Namanya terlalu bagus!” Kata Qhaza pelan.
__ADS_1
Ramona hanya tersenyum. Tanpa gigi-giginya yang tidak kelihatan, Ramona tampak sangat manis.
Menit berikutnya Tiwa datang menjemput kami, bersama dengan Marlyn. Entah kenapa mereka bisa bersama. Setelah itu, kami berangkat ke bandara dengan taxi. Lea dan ayah mengantar kami hanya sampai di gerbang. Tiwa tidak banyak bertanya kenapa Ramona dan Marlyn ikut bersama kami, dia hanya bertanya: Apa kalian berdua mempunyai tiket? Dengan serentak dua gadis itu menjawab, “tidak!”. Juga, sejak kapan aku mulai fasih mengingat nama orang? Apa karena orang-orang ini berbeda dengan orang lain yang kutemui pada umumnya, atau apakah karena otakku mulai terasah karena banyaknya sosialisasi tak terduga yang terjadi akhir-akhir ini?
***
Kami sampai di bandara. Tiwa dengan segera memesan dua tiket tambahan untuk Ramona dan Marlyn, pelayan yang merepotkan. Aku tak menyangka, Princess dan Pelayan ini ... tidak main-main gilanya. Mereka berdua sepertinya memanfaatkanku untuk liburan gratis.
Beberapa saat kemudian pak Abdul dan Ono datang bersamaan, disusul oleh Adit, kemudian Fajar, Fairel, Abi dan yang terakhir adalah Vicky−membawa barang yang terlalu banyak.
“Vicky, apa enam koper tidak terlalu banyak?” Tanya Ono.
“Jangan khawatirkan aku, aku bisa mengurus barangku sendiri.” Jawab Vicky.
“Bukan itu masalahnya ...”
“Aku bisa mengurusnya sendiri!” Pertegas Vicky lagi.
“Terserah!”
Kami pun berangkat. Fairel duduk di sampingku. Aku senang. Kenapa ya?
“Jadi Princess Rou! Kau sudah punya dua pelayan sekarang.” Kata Fairel tanpa melihat ke samping, dia sibuk bermain games dengan ponselnya.
“Iya!”
“Kau menyukainya?”
“Iya!”
“Kenapa?”
“Mereka berdua baik.”
“Ya, kepadamu.” Kata Fairel setengah berbisik seakan untuk dirinya sendiri.
“Kepadamu tidak?”
“Sepertinya begitu. Tapi itu tidak masalah, meski pun seluruh dunia membenciku juga tidak masalah asalkan kau tidak seperti itu padaku.” Katanya sambil tersenyum.
“Ehmmm!” Fajar berbatuk sangat keras. Fairel tersenyum.
“Kenapa?” Tanyaku.
“Tidak! Tidak apa-apa!” Kata Fairel. “Ngomong-ngomong Leva, apa yang kau pegang?” Dia beralih menatapku, meletakan ponselnya di atas pahanya.
“Boneka!”
“Kenapa kau memegang boneka yang … seperti itu?”
Kulirik boneka kayu di tanganku. “Kata Lea, ini untuk keberuntungan.”
“Keberuntungan? Lebih seperti untuk mengutuk seseorang!”
“Mengutuk?”
“Tidak! Maksudku semoga bonekanya benar-benar untuk keberuntungan.”
__ADS_1
Apa maksudnya? Kenapa boneka seimut ini digunakan untuk mengutuk seseorang? Paku-paku yang tertancap di perutnya, merupakan hiasan yang sangat manis, kan? Ya sudahlah, yang penting sekarang, aku ingin tidur.