SAYANG

SAYANG
Episode 65


__ADS_3

Sherin berdiri di depan tembok kaca besar di kamarnya dan Alex yang memperlihatkan pemandangan kota jakarta yang begitu sangat padat oleh kendaraan malam itu. Ya, kota jakarta memang seperti tidak pernah tidur, hampir 24 jam selalu ramai oleh orang orang yang berlalu lalang. Tentu karena mereka mempunyai aktivitas yang berbeda dari satu orang ke orang lainnya. Seperti ada yang pulang dari bekerja, ada juga yang hendak berangkat bekerja.


Sherin menghela napas berat. Perutnya semakin hari semakin terlihat. Namun sedikitpun Alex tidak pernah memperhatikannya. Alex sibuk dengan dunianya sendiri. Dan seminggu ini Alex bahkan sudah membawa Melisa sekretarisnya tiga kali ke dalam apartemen. Itu membuat batin Sherin terguncang hebat. Namun Sherin tidak tau harus kemana dirinya mengadu. Hanya bibi lah yang selalu menguatkan dan menyabarkan nya. Bibi juga yang begitu sangat perhatian padanya dan terus mewanti wanti agar Sherin tidak terlalu memikirkan apa yang Alex lakukan. Tentu karena itu akan berpengaruh buruk pada kandungan Sherin.


“Apa ini karma buat aku? Aku mengejar Alex dan mengkhianati Lena..” Sherin bergumam dengan pandangan menerawang jauh. Entah kenapa setiap Alex membawa Melisa pulang ke apartemen, Sherin selalu teringat pada Lena yang pernah dia khianati. Lena sahabatnya yang begitu sangat dekat dan sudah seperti saudara bagi Sherin.


“Tapi aku hanya ingin bahagia. Aku ingin bisa memiliki laki laki yang aku cintai. Aku ingin memperjuangkan apa yang aku mau.. Meski pada kenyataannya memang yang aku lakukan dengan mengkhianati Lena adalah dosa.. Tapi.. Apa tidak ada sedikitpun kebahagiaan yang pantas aku dapatkan? Aku juga ingin seperti Lena. Aku ingin di cintai..” Sherin memejamkan kedua matanya. Saat itu lah air mata berlomba lomba menetes dari kedua matanya. Sherin tidak pernah sedikitpun membayangkan jika Alex akan begitu sangat kejam padanya. Begitu tidak perduli bahkan terus menggempur mentalnya sebagai seorang istri. Alex seolah sedang berusaha merobohkan dinding pertahanan Sherin dengan terus menyakiti Sherin.


“Alex.. Kamu bisa sangat mencintai Lena. Tapi kenapa kamu tidak bisa sedikitpun bersikap lembut sama aku sejak kita menikah? Padahal saat kita menjalin hubungan di belakang Lena kamu begitu manis dan romantis. Kamu begitu lembut memperlakukan aku. Menghujami aku dengan rayuan yang akhirnya membuat aku tidak berdaya dan pasrah di bawah kuasa kamu..”


Sherin meracau sendiri. Air mata sudah tidak mampu lagi dia bendung karena rasa sesak di dadanya. Semua yang terjadi sekarang benar benar sangat berbanding terbalik dengan apa yang terjadi dulu di antara dirinya dan Alex. Dulu Alex bahkan selalu mencuri kesempatan untuk selalu bersamanya. Tapi sekarang, jangan bersamanya. Menegurnya saja Alex merasa enggan.


“Nyonya...”


Suara bibi membuat Sherin menoleh. Wanita itu menggelengkan kepalanya kemudian berlari dari berhambur ke dalam pelukan wanita tua itu. Saat ini tidak ada siapapun yang mengerti dirinya selain bibi.


“Nyonya kenapa?” Tanya bibi kebingungan.


Sherin tidak bisa menjawab. Dia terus menangis meraung dan sesekali terisak.


Bibi yang memang sengaja masuk ke dalam kamar karena sejak tadi mengetuk pintu tidak ada jawaban hanya bisa diam saja. Sebenarnya wanita tua itu berniat memberitahu Sherin bahwa ada nyonya besar Smith di ruang tamu dan mengatakan ingin bertemu dengan Sherin. Namun melihat Sherin yang begitu sangat pilu bibi menjadi ragu.

__ADS_1


“Ada apa ini?”


Pertanyaan tegas dan lantang nyonya besar Smith berhasil menghentikan raungan tangisan Sherin detik itu juga. Sherin langsung melepaskan pelukannya pada bibi dan terkejut melihat mamah mertuanya yang sudah berdiri di ambang pintu kamarnya dan Alex. Sherin menelan ludah. Dia tidak menyangka jika nyonya besar Smith berada di sana.


Sementara bibi. Dia hanya diam saja. Dia tidak tau harus bagaimana saat Sherin menangis di pelukannya.


“Mamah..” Gumam Sherin menelan ludah.


Nyonya besar Smith menatap tajam pada Sherin yang kemudian langsung menundukkan kepala tidak berani membalas tatapan tajam dari mamah mertuanya itu.


“Tinggalkan kami berdua bi.” Katanya masih dengan nada tegas.


“Baik nyonya. Kalau begitu saya permisi.”


Setelah bibi berlalu, nyonya besar Smith melangkah mendekat pada Sherin yang sesekali mengusap air mata yang membasahi pipinya. Sherin terus menunduk tidak berani membalas tatapan wanita itu bahkan meski nyonya besar Smith sudah berdiri tepat di depannya.


“Kenapa kamu menangis?” Tanya nyonya Smith menuntut.


“Apa kamu pikir pantas kamu menangis meraung seperti tadi di pelukan bibi? Kamu mau menjatuhkan harga diri keluarga saya hah?!” Kali ini nada pertanyaan nyonya Smith meninggi menandakan emosi yang sedang menguasainya.


Sherin memejamkan kedua matanya tidak menyangka dirinya justru akan di hakimi seperti sekarang oleh mamah mertuanya. Wanita itu seperti tidak memiliki belas kasihan sedikitpun padanya.

__ADS_1


“Jawab saya Sherin?!” Bentaknya membuat kedua bahu Sherin berjengit karena kaget.


Air mata Sherin kembali berlomba lomba menetes membasahi kedua pipinya. Sherin tau semua itu pasti akan terjadi. Dirinya akan terus di hakimi meskipun tidak bersalah. Tapi sekali lagi Sherin menekan kan pada dirinya sendiri bahwa itulah konsekuensi atas pilihannya. Tidak di anggap dan terus di salahkan.


“Nggak mah.. Nggak begitu..” Sherin berkata dengan suara bergetar.


Nyonya besar Smith bukannya merasa iba justru merasa semakin gemas pada Sherin. Wanita itu sudah bisa menebak sebenarnya kenapa Sherin seperti itu. Tentu saja karena kelakuan Alex yang seenaknya.


“Saya sudah bilang sama kamu untuk memikirkan lebih dulu apa yang kamu putuskan Sherin. Tapi kamu sangat keras kepala dan tetap memilih untuk tinggal disini. Dan sekarang kamu terima saja akibat dari ke keras kepalaan kamu itu. Satu lagi Sherin. Saya tidak mau kalau sampai calon cucu saya kenapa napa. Karena kalau sampai itu terjadi saya yang akan pastikan sendiri kamu akan lebih menderita dari ini.”


Sherin menggelengkan kepalanya. Hukuman Tuhan atas apa yang dia lakukan dengan mengkhianati Lena terlalu berat menurut Sherin. Tuhan seolah tidak mengizinkannya untuk sedikit saja merasakan bahagia setelah pernikahannya dengan Alex. Setiap hari hanya ucapan sinis sana makian dari Alex. Apa lagi jika Sherin sampai protes dengan apa yang Alex lakukan, Alex akan membentaknya bahkan memukulnya.


“Sudah, hapus air mata kamu. Saya tunggu kamu di depan. Hari ini sudah waktunya kamu memeriksakan kandungan kamu ke dokter. Berdandan secantik mungkin dan jangan pernah menperlihatkan penderitaan di depan banyak orang. Mengerti kamu?!” Nyonya besar Smith kembali menekan Sherin. Kali ini dengan sangat tegas.


Setelah itu wanita yang selalu berpenampilan elegant itu berlalu begitu saja dari hadapan Sherin. Nyonya besar Smith sama sekali tidak merasa iba dan kasihan pada Sherin yang hidup tertekan dan menderita karena ulah putranya. Wanita itu justru semakin menekan Sherin bahkan melimpahkan semua kesalahan pada Sherin.


Sherin menangis sesunggukan. Hatinya benar benar di luluh lantahkan oleh keluarga Smith. Bukan hanya Alex saja, tapi juga orang tuanya.


Bibi yang mendengar dan melihat itu hanya bisa menatap iba pada Sherin. Sebagai seorang wanita dan seorang ibu, bibi merasa tidak tega melihat Sherin yang di tekan dari berbagai arah oleh keluarga Smith. Tapi bibi sadar siapa dirinya yang tentu tidak bisa melakukan apapun untuk menbela Sherin.


“Ya Tuhan... Kuatkan nyonya Sherin dalam menghadapi ujian darimu..” Gumam bibi lirih.

__ADS_1


__ADS_2