SAYANG

SAYANG
Episode 170


__ADS_3

Kabar tentang kelahiran putra pertama Lena dan Erlan langsung berhembus hangat di kalangan media. Bahkan kabar itu juga sampai di telinga kedua orang tua Erlan yang berada di luar negeri.


Akibatnya rumah sakit tempat Lena dan bayinya berada menjadi penuh dengan para awak media yang memburu berita bahagia tersebut. Kenzie yang memang selalu super sigap menangani setiap permasalahan sang tuan pun langsung turun tangan. Kenzie mewakili Erlan yang memang belum bisa menemui para wartawan itu pun menemui mereka. Tidak banyak Kenzie berkomentar. Dia hanya mengatakan bahwa keluarga besar Harrison sangat bahagia dengan lahirnya anak pertama Erlan dan Lena. Selebihnya Kenzie meminta do'a yang paling terbaik saja untuk keluarga besar Harrison.


Sementara itu Chilla yang juga mendengar berita bahagia Erlan dan Lena hanya bisa menghela napas. Setelah apa yang Erlan katakan hari itu Chilla merasa tidak punya muka lagi untuk berhadapan langsung dengan Erlan. Apa lagi ternyata Erlan juga tau tentang kehamilan nya dulu dengan teman kelas Chilla. Itu benar benar sangat memalukan bagi Chilla.


“Erlan.. Andai saja waktu bisa aku putar kembali aku tidak akan begitu bodoh dengan menyerahkan kehormatan ku pada laki laki yang tidak semestinya. Aku akan menjaga hubungan kita dengan baik.” Sesal Chilla.


Pada kenyataannya penyesalan apapun yang Chilla rasakan sudah tidak lagi ada gunanya. Karena semenyesal apapun Chilla, Erlan tidak akan lagi mau menatap nya. Apa lagi sekarang Erlan sudah bahagia dengan kehidupan barunya dan Lena. Di tambah sekarang mereka juga sudah di karuniai seorang putra. Pastilah cinta Erlan pada Lena akan semakin bertambah besar. Dan Chilla, tentu saja dia tidak bisa melakukan apa apa untuk menarik perhatian Erlan kembali.


“Erlan.. Aku harus bagaimana untuk melupakan kamu?” Lirih Chilla dengan suara bergetar.


Rasa penyesalan juga rasa sedih karena harus merelakan Erlan bahagia dengan wanita lain benar benar bukan hal mudah yang harus Chilla lalui. Tapi sesulit apapun itu Chilla harus tetap menjalani nya. Karena Erlan memang sudah tidak lagi mengharapkan nya.


----------------


“Jadi kakak mau menjenguk tuan dan nyonya Harrison? Kapan kak? Sama kak Alvin juga? David boleh ikut nggak?”


Melisa yang sedang mengaduk adonan kue di dalam wadahnya menghela napas kasar sembari berhenti dengan aktivitasnya itu. Adiknya memang akan sangat bawel jika sudah menyangkut tentang Lena dan Erlan. David benar benar tidak ingin melewatkan apapun jika sudah menyangkut tentang Erlan.


“Atau nggak kakak jenguknya hari Minggu aja. Kan toko kue kita tutup tuh. David juga libur. Bagaimana?” Senyum David penuh harap.


“Terus Farid di rumah sama siapa? Kamu tega ninggalin Farid sendiri?” Tanya Melisa dengan cepat.


“Ya.. Ya Farid ikut lah kak. Masa iya di tinggal. Kan kita perginya naik mobil kak Erlan. Sekalian jalan jalan lah kak. Kan selama kakak jualan kue kita bertiga udah nggak pernah jalan sama sama kan?” Ekspresi David langsung berubah. Sejak sibuk mengurus usaha berjualan kue nya Melisa memang tidak pernah lagi mengajaknya dan Farid jalan jalan. Tentu karena selain sibuk, Melisa juga tidak punya cukup uang untuk mengajak mereka keluar.

__ADS_1


Mendengar itu Melisa tersenyum. Apa lagi Ekspresi sendu David sangat menggemaskan menurut nya. Melisa juga kadang merasa pangling karena David yang kini sudah menjelma menjadi seorang remaja tampan dengan tubuh tinggi tegap yang ideal. Melisa bahkan hanya sebatas leher David sekarang.


“Ya udah deh iyaa.. Nanti coba kakak tanya sama Alvin dia bisa apa nggak. Oke?” Kata Melisa yang akhirnya mengiyakan karena tidak tega melihat wajah sendu adiknya.


“Beneran kak? Kakak nggak bohong kan?” Tanya David antusias.


“Emangnya sejak kapan sih kakak suka bohong sama kamu sama Farid Hem?”


David hanya tertawa saja. Dengan perasaan bahagia dia kembali melanjutkan aktivitas nya membantu Lena, yaitu memasukan kue yang sudah jadi ke dalam box karena kue kue itu juga harus segera di antar pada tuan nya.


David memang tidak pernah kenal lelah membantu Melisa. Setiap hari setelah pulang sekolah David selalu membantu kakak tercintanya itu mengantar kue kue pada pelanggan dan tetangga terdekat. Sedang untuk yang jauh Melisa memutuskan untuk menggunakan jasa ojek online ataupun kurir.


Melisa menatap David diam diam. Adiknya begitu sangat telaten membantu nya. David tidak pernah protes ataupun mengeluh meski kadang terlihat kelelahan membantu nya. David selalu terlihat semangat setiap membantu nya. Dan Melisa berpikir kali ini dirinya akan berusaha membuat adiknya itu bahagia dengan memenuhi keinginan David.


Setelah selesai membuat kue, Melisa pun segera masuk ke dalam kamarnya dan mendudukan dirinya di tepi ranjang lalu menghubungi Alvin. Dia sangat berharap Alvin ada waktu untuk pergi bersama nya ke rumah sakit untuk menjenguk Lena dan bayinya.


“Halo Alvin...”


“Ya calon istriku yang paling cantik dan paling baik..” Saut Alvin dari seberang telepon yang membuat Melisa berdecak sembari menahan senyuman di bibirnya. Malam ini memang Alvin tidak datang karena sedang sibuk dengan urusan perusahaan nya.


“Apaan sih? Lebay banget.” Ujar Melisa merasa berlebihan dengan apa Alvin katakan. Tentu karena Melisa merasa dirinya tidak sebaik itu.


“Hahahah..” Alvin hanya tertawa saja. Di tempatnya sekarang Alvin sedang membayangkan bagaimana ekspresi kekasih hatinya sekarang.


“Kamu lagi ngapain? Masih sibuk ya?” Tanya Melisa kemudian.

__ADS_1


“Hem.. Sebenarnya bisa di katakan begitu. Tapi karena pacarnya aku nelepon aku harus bersantai sejenak untuk menikmati obrolan ini.” Jawab Alvin dengan manisnya.


“Ya Tuhan Alvin, kamu bisa nggak? Nggak usah lebay begitu ngomongnya. Kalau kamu sibuk ya udah nanti lagi saja telepon nya.”


“Eh eh eh enggak enggak. Aku nggak sibuk sibuk banget kok. Jangan begitu dong Sa.. Aku seneng tau kalau kamu nelepon aku dulu.”


Melisa tersenyum mendengarnya. Melisa tau Alvin tidak sedang berbohong. Buktinya Alvin bahkan tetap mengangkat telepon dari nya meskipun Alvin sedang tidak bersantai.


“Ah ya sayang, kamu udah makan belum?” Tanya Alvin kemudian.


“Udah.. Tadi aku udah makan sama David sama Farid. Kamu sendiri udah makan?” Jawab Melisa yang kemudian bertanya balik pada Alvin.


“Aku juga udah tadi. Ngomong ngomong ada apa nih telepon dulu. Kamu kangen yah sama aku karena malam ini aku nggak bisa datang?”


Melisa tertawa merasa geli mendengar pertanyaan Alvin. Walau memang tidak bisa di pungkiri sosok Alvin memang kadang membuat Melisa merasa rindu.


“Kamu tuh ya bercanda mulu. Aku itu mau nanya sama kamu tau. Besok sore kamu sibuk nggak? Aku mau ajak kamu buat jenguk Lena, istrinya tuan Erlan yang beru kemarin melahirkan.”


“Oh ya ya.. Aku juga tau kabar itu dari media. Tapi memangnya kamu kenal deket ya sama nyonya Lena?” Tanya Alvin yang merasa penasaran apa lagi Melisa memanggil Lena dengan sebutan nama saja tanpa embel embel nyonya.


“Ya.. Kami berteman baik. Jadi bagaimana kamu bisa nggak?”


“Oh tentu saja. Besok sore aku jemput kamu ya.. Ajak sekalian David yang super ngefans sama tuan Erlan. Farid juga. Oke?”


“Oke, ya sudah kalau begitu kamu semangat ya kerjanya. Cepat pulang dan istirahat. Aku juga mau istirahat. Bye...”

__ADS_1


“Iya calon istriku...” Balas Alvin.


Melisa tertawa kemudian segera memutuskan sambungan telponnya. Wanita itu menghela napas merasa sangat lega. Hidupnya benar benar terasa sangat tenang sejak lepas dari cengkraman Alex. Dan Melisa berharap itu akan terus dia rasakan dan Alex benar benar pergi jauh dari kehidupan nya.


__ADS_2