
“Bodoh !! Kamu bisa kerja tidak sih?!” Bentak Alex pada sekretaris nya, Moana.
Wanita yang mengenakan baju super ketat itu terkejut mendapat bentakan dari Alex. Beberapa hari ini memang Alex sedang sangat sensitif. Alex gampang sekali marah pada siapapun. Bahkan pernah Alex marah pada seorang OB hanya karena masalah sepele.
“Kamu sudah bosan kerja disini hah?! Kamu mau saya pecat?!”
Moana menggelengkan kepalanya tidak menyangka mendengar apa yang Alex katakan. Menjadi sekretaris adalah jabatan yang selama ini dia idam idamkan. Apa lagi bisa mendampingi Alex kemanapun pria itu pergi bertemu dengan rekan bisnisnya, itu benar-benar sesuatu yang sangat menyenangkan bagi Moana. Selain dirinya yang di hormati, Moana juga merasa sangat beruntung karena selalu bisa dekat dengan duda tampan nan kaya raya seperti Alex.
“Ti tidak pak, sa saya.. Saya minta maaf. Saya akan segera memperbaiki laporan nya.” Dengan suara bergetar takut, Moana menyahuti bentakan Alex. Wanita itu juga mengambil berkas yang berserakan di lantai dengan tangan bergetar. Moana benar benar tidak mau jika sampai kehilangan pekerjaan nya.
“Perbaiki laporan itu dan selesaikan sore ini juga. Kalau kamu tidak bisa memperbaiki nya dalam waktu singkat silahkan kamu angkat kaki dari perusahaan saya. Mengerti?!”
Moana memejamkan kedua matanya. Alex benar benar sedang sangat murka sekarang. Padahal biasanya kalaupun Moana melakukan kesalahan Alex tidak sampai semarah itu padanya. Alex hanya akan menegurnya dengan kata pedas yang selalu Moana abaikan.
“Saya akan berusaha sebaik nya memperbaiki laporan ini pak. Saya permisi.” Tidak mau semakin membuat Alex mengamuk padanya, Moana pun bergegas berlalu dari hadapan Alex. Moana keluar dari ruangan Alex dengan sangat terburu buru.
Setelah Moana keluar dari ruangan nya, Alex menghela napas gusar. Pria itu juga mengusap dengan kasar wajah tampan nya. Sejak mendengar berita pernikahan Melisa dan Alvin, Alex memang sering tidak bisa mengontrol emosinya. Bahkan pernah sekali Alex membentak Arkana yang berhasil membuat balita itu menangis ketakutan. Alex tidak tau pengaruh Melisa akan begitu besar dalam hidupnya. Melisa mampu membolak balikan perasaan Alex sehingga Alex menjadi seperti orang plin plan. Alex sering melontarkan kata cemoohan pada Melisa, namun sebenarnya Alex juga mengharapkan Melisa menjadi pendamping hidupnya. Itu semua membuat Alex merasa frustasi sendiri. Alex bahkan merasa dirinya sudah gila karena bersikap seperti itu hanya karena seorang Melisa, mantan sekretaris nya.
Alex menyandarkan punggungnya disandaran kursi kebesaran nya. Pria itu memejamkan kedua matanya mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Alex tiba tiba membandingkan Melisa dan Moana. Alex berpikir Moana sebenarnya jauh lebih segalanya dari Melisa. Moana lebih sexy, lebih cantik juga agresif. Moana juga sering terang terangan menggodanya dengan penampilannya. Namun sekalipun Alex tidak pernah merasa tertarik pada Moana. Alex mengabaikan Moana yang sering memberikan sinyal kepasrahan padanya.
Alex kembali membuka kedua matanya. Moana adalah sekretaris yang dia pilih sendiri. Namun Alex memilih Moana bukan tanpa alasan, tentu saja karena Moana cantik dan sexy. Penampilan nya yang terbuka sering membuat Alex memperhatikan nya diam diam. Namun sekali lagi, Alex tidak pernah merasa tertarik pada kecantikan dan ke sexy an Moana.
Ya, sejak tidak lagi berhubungan dengan Melisa, Alex memang tidak pernah lagi bermain wanita. Selain karena Alex yang sibuk dengan pekerjaan dan putranya Arkana, Alex juga merasa tidak bernafsu untuk bergumul dengan siapapun. Nafsunya seolah padam setelah kepergian Melisa dari samping nya.
__ADS_1
Alex juga pernah mendatangi wanita wanita yang menjadi teman ranjangnya, namun melihatnya saja Alex merasa bosan yang akhirnya membuat Alex mengurungkan niatnya untuk menyalurkan hasratnya pada wanita wanita tersebut.
“Melisa.. Sebesar itukah pengaruh kamu dalam hidupku. Aku bahkan seperti mati rasa sekarang. Aku tidak bisa merasakan gairah bahkan meski melihat wanita telanjang di depan mataku sekalipun.” Gumam Alex membayangkan wajah cantik Melisa.
Alex menelan ludah. Meski sekarang dirinya sedang merasakan efek dari menjauhnya Melisa dari kehidupan nya, namun Alex masih tidak bisa sepenuhnya percaya bahwa apa yang dia alami sekarang adalah karena pengaruh Melisa yang begitu kuat dalam hidupnya.
“Enggak, nggak mungkin. Ini pasti cuma perasaan ku saja. Melisa, kamu tidak sehebat itu. Kamu tidak semenarik itu.” Geleng Alex dengan senyuman sinisnya.
Alex meraih ganggang telepon dan segera menghubungi Moana. Dengan tegas dan penuh memerintah, Alex menyuruh agar Moana masuk kembali ke dalam ruangan nya. Alex ingin membuktikan bahwa dirinya masih mempunyai gairah yang menggebu gebu pada wanita selain Melisa.
Tidak menunggu lama, Moana pun kembali masuk ke dalam ruangan Alex. Wanita yang mengenakan baju ketat dan super sexy itu menundukkan kepala sembari mendekat pada Alex. Moana masih takut jika Alex akan kembali membentak nya.
“Sa saya pak.” Lirih Moana gagap.
Alex menatap penampilan Moana dari atas sampai bawah. Wanita itu benar benar memiliki tubuh yang bagus. Tinggi semampai, dengan pinggang ramping dan dada penuh juga besar. Di tambah dengan kaki jenjang nan putih mulusnya. Alex yakin semua karyawan laki laki di perusahaan nya juga tergoda dengan kecantikan Moana.
Sesaat Moana terlihat kebingungan. Wanita itu sudah berdiri di depan meja kerja Alex, dan Alex masih menyuruhnya untuk mendekat.
“Mendekat pada saya Moana.” Perintah Alex memperjelas maksudnya.
Moana mengerjapkan beberapa kali kedua matanya. Dia berpikir sejenak sebelum akhirnya otak pintarnya bekerja. Moana tau apa maksud Alex sekarang.
Moana menghela napas pelan kemudian menuruti apa yang Alex mau.
__ADS_1
Benar saja, begitu Moana sampai di depannya, Alex langsung meraih pinggang ramping Moana, menarik nya dengan kasar kemudian mendorong kembali Moana ke meja kerjanya.
“Duduk.” Perintahnya lagi.
Moana menurut saja. Hatinya bersorak senang sekarang. Moana berpikir Alex mulai tertarik padanya. Dan itu adalah kesempatan bagus baginya untuk memenangkan hati pria itu.
Setelah Moana duduk di atas mejanya, Alex pun mulai mengetes gairahnya sendiri. Pria itu membuka kaki Moana dan membelainya membuat Moana langsung memejamkan kedua matanya pasrah.
Alex mengeram kesal karena meskipun sudah ada Moana yang begitu pasrah menerima setiap sentuhan nya, namun gairahnya tidak kunjung memuncak. Alex tidak merasakan apapun. Namun Alex tidak menyerah, kali ini dia menuntun agar Moana yang lebih aktif membangkitkan gairahnya. Alex memberi kebebasan pada Moana untuk melakukan apapun yang Moana inginkan.
Hampir 20 menit Moana berusaha memancing gairahnya, namun sedikitpun Alex tidak merasa gairahnya itu bangkit.
“Sudah cukup.” Tegas Alex yang membuat Moana kebingungan. Apa yang mereka lakukan sudah hampir mencapai inti, namun Alex malah menyuruhnya untuk berhenti. Itu membuat Moana merasa di permainkan sekarang.
“Tapi pak..”
“Keluar dari ruangan saya sekarang juga.” Sela Alex kembali bersuara dengan tegas.
Moana yang tidak mau membuat Alex kembali marah pun menurut saja meski merasa sangat kecewa karena gagal melakukan itu dengan Alex.
Moana merapikan bajunya yang berantakan juga rambutnya yang awut awutan sebelum akhirnya keluar dari ruangan Alex.
Alex memejamkan kedua matanya. Dia kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dengan kepala mendongak merasa sangat frustasi. Bahkan kepasrahan Moana tidak juga membuatnya bergairah sekarang.
__ADS_1
Sementara itu, di luar ruangan Alex, Moana tidak berhenti menggerutu. Moana merasa sangat di permainkan sekarang. Padahal tinggal selangkah lagi dirinya berhasil menggoda Alex, namun tiba tiba pria itu menghentikan nya dan menyuruhnya keluar.
“Dasar impoten.” Gumam Moana sembari melangkah menuju meja kerjanya.