
Sekitar setengah jam perjalanan, mobil Erlan sampai tepat di depan pemakaman umum yang berada tidak jauh dari keramaian kota. Erlan segera turun di susul oleh Lena yang tidak tau harus mengatakan apa. Kenyataan bahwa Erlan sudah tidak punya ibu kandung membuat Lena terkejut juga bingung secara bersamaan. Semua itu benar benar jauh dari pemikiran Lena semenjak Erlan menceritakan tentang kedua orang tuanya yang tidak memberinya restu saat Erlan berniat menikahinya.
“Sayang.. Kamu nggak papa kan? Apa kita pulang saja? Kamu sakit hem?” Tanya Erlan menyentuh lembut pipi Lena dengan tatapan yang sangat penuh dengan perhatian.
Lena sedikit mendongak menatap wajah tampan suaminya. Dia benar benar bingung sekarang harus bagaimana. Untuk tubuhnya Lena akui dirinya baik baik saja dan sama sekali tidak merasakan apapun. Tapi hati dan pikirannya sedang di landa rasa kebingungan yang begitu besar.
“Aku baik baik saja. Aku hanya masih sedikit tidak menyangka kalau ternyata mommy kamu...” Lena tidak bisa meneruskan ucapannya. Meski dirinya juga sudah tidak punya orang tua, bahkan hidupnya sangat sangat memilukan, namun Lena tidak bisa memungkiri dirinya juga sedih mendengar orang orang di sekitarnya juga merasakan bagaimana rasanya kehilangan. Apa lagi Erlan kehilangan mommy nya sejak dia pertama kali dilahirkan di dunia yang artinya Erlan tidak pernah merasakan bagaimana hangat dan nyamannya dekapan seorang wanita yang telah membuatnya hadir di dunia ini.
Erlan tersenyum. Ekspresi Lena sangat mudah sekali di tebak menurutnya.
“Semua itu sudah berlalu begitu sangat lama sayang. Tidak perlu di pikirkan. Kan sekarang ada kamu di samping aku.” Katanya mencoba untuk menghibur.
Lena tersenyum mendengarnya. Erlan tumbuh tanpa kasih sayang dari ibu kandungnya. Tapi sikap dan perilakunya begitu baik dan lembut. Erlan tidak seperti orang yang tidak pernah mendapat perhatian dari ibu kandungnya. Dari situ Lena mengartikan mungkin ibu sambung Erlan sangat lah baik dan menyayangi Erlan sebagaimana Erlan adalah putranya sendiri. Sehingga Erlan bisa tumbuh menjadi pria yang begitu lembut dan penuh dengan kasih sayang.
“Ayo..” Ajak Erlan. Tangan besarnya meraih tangan kecil Lena. Erlan menuntun Lena memasuki area pemakaman umum itu. Mereka berdua berjalan beriringan melewati beberapa makam yang mereka sendiri tidak tau itu makam siapa hingga akhirnya Erlan menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah makam yang begitu sederhana. Makam itu hanya di selimuti oleh rumput hijau dengan batu marmer warna hitam sebagai nisan nya. Sementara di atas makam tersebut, terletak sebuket bunga tulip berwarna putih.
“Hay mom.. Lihat siapa yang Erlan bawa. Dia Lena, istri Erlan. Perempuan yang sudah sejak lama Erlan tunggu dan Erlan cintai.” Ujar Erlan setelah duduk di samping pusara mendiang mommy nya.
Lena hanya diam saja. Dia menatap nisan mewah dengan nama Lady Diana Harrison itu. Sejenak Lena membayangkan bagaimana rupa ibu kandung suaminya.
“Namanya Lena susianti mom. Erlan bahkan sudah beberapa kali menyebut nama Lena di depan mommy kan? Erlan tidak tau harus bagaimana mengucap syukur atas apa yang Erlan miliki sekarang. Karena untuk mengukur rasa bahagia yang sekarang Erlan rasakan saja Erlan tidak tau harus bagaimana caranya. Rasa itu begitu sangat besar mom..”
Erlan terus berceloteh di samping makam mommy nya. Sementara Lena masih saja diam. Kebingungan itu masih menguasainya.
__ADS_1
Karena Lena yang terus saja diam, Erlan pun menoleh menatap istrinya yang tampak masih kebingungan itu. Erlan tertawa geli. Tangan besarnya kemudian terulur yang tidak langsung di sambut oleh Lena.
“Kemari sayang..” Titah Erlan lembut.
Lena menghela napas pelan kemudian menganggukkan kepalanya. Lena menyambut uluran tangan Erlan dan ikut duduk bersimpuh tepat di samping Erlan.
“Lihat mom, istriku sangat menggemaskan bukan?” Canda Erlan yang sama sekali tidak bisa menghapus rasa kebingungan Lena.
Lena kembali menatap pada nisan ibu dari suaminya. Entah apa yang harus dia katakan sekarang.
“Hey.. Ada apa? Kenapa kamu seperti orang linglung begitu?” Erlan yang tidak bisa menahan rasa penasaran akan ekspresi istrinya pun memutuskan untuk bertanya secara langsung.
Lena menggeleng.
Erlan tersenyum. Erlan benar benar lupa mengatakannya pada Lena. Padahal hampir setiap hari Erlan selalu menyuruh Kenzie untuk menaruh bunga di atas pusara mommy nya. Bunga yang kata daddy nya adalah bunga kesukaan wanita yang telah melahirkannya itu.
“Aku benar benar minta maaf sayang. Maaf sudah membuat kamu seperti ini.”
Lena menggeleng lagi. Dia tidak bisa menyalahkan Erlan yang begitu mendadak memberitahunya. Lena maklum karena Erlan juga selalu di sibukkan dengan urusan pekerjaan setiap harinya.
Sekali lagi Lena menghela napas. Lena mengulurkan tangannya menyentuh dengan lembut rumput hijau yang menyelimuti pusara di depannya. tumbuh besar tanpa kasih sayang seorang ibu juga Lena rasakan. Apa lagi cerita hidupnya begitu pilu dimana Lena harus tinggal di panti asuhan karena tidak memiliki saudara satupun.
“Mommy... Semoga mommy di beri tempat terindah disana ya..” Batin Lena.
__ADS_1
Melihat ekspresi istrinya, Erlan pun akhirnya memutuskan untuk mengajak istrinya itu pulang. Erlan tidak mau membuat Lena semakin tidak tau harus bagaimana.
“Kamu tidak ke kantor?” Tanya Lena mendongak menatap Erlan yang sedang mendekapnya.
Ya, saat ini mereka berdua sudah berada di kamar dan sedang berbaring bersama diatas tempat tidur dengan Erlan yang mendekap lembut Lena. Keduanya sampai di rumah lebih cepat dari waktu sebelumnya.
Erlan tersenyum membalas tatapan polos Lena. Pria itu memberikan ciuman singkatnya di kening Lena sebelum menjawab.
“Bagaimana mungkin aku meninggalkan kamu yang seperti ini sayang?”
Lena tersenyum mendengar itu.
“Aku baik baik saja Erlan. Tidak perlu berlebihan.”
Erlan kemudian mendekatkan wajahnya membuat Lena terkejut sampai kedua matanya sedikit melebar.
“Semua yang sudah berlalu biarkan berlalu sayang. Entah itu rasa sedih atau rasa kehilangan sekalipun. Yakin lah bahwa semuanya akan baik baik saja. Kita harus bahagia menjalani kebersamaan kita.”
Lena menelan ludah. Apa yang Erlan katakan memang benar. Semua rasa itu seharusnya tidak perlu lagi di pikirkan. Yang terpenting adalah bagaimana mereka menjalani kehidupan selanjutnya.
“Tolong, jangan memikirkan apapun lagi tentang masa lalu. Anggap itu adalah proses untuk kita mendapat kebahagiaan seperti sekarang.” Lanjut Erlan sembari membelai lembut pipi Lena.
“Kalaupun memang ada yang harus kita pikirkan, itu adalah bagaimana cara kita mempertahankan semua ini sayang.” Erlan melanjutkan lagi.
__ADS_1
Pria itu benar benar sangat bijak dalam menyikapi segala sesuatu menurut Lena. Dan itu yang membuat Lena semakin yakin dan percaya bahwa Lena bisa mencintai Erlan suatu saat nanti.