
Dalam diam Alex terus mencoba menahan emosinya. Tentu saja karena Alex tidak ingin membuat mamahnya marah. Alex juga tidak ingin mamahnya tau tentang Melisa. Itu pasti akan sangat berakibat fatal nantinya. Apa lagi Sherin juga sangat licik dan sangat pintar memanfaatkan keadaan. Bukan tidak mungkin juga Sherin akan mengadukan apa saja yang pernah Alex lakukan dengan Melisa di apartemen tempat tinggal mereka.
Sherin yang menyadari ekspresi Alex tersenyum penuh makna. Wanita itu yakin setelah ini Alex tidak akan lagi mau mengingat Melisa.
“Melisa !!” Panggil Sherin sembari mengangkat dan melambaikan tangan nya agar Melisa tau dirinya lah yang memanggil.
Alex yang terkejut dengan apa yang Sherin lakukan dengan memanggil Melisa membulatkan kedua matanya. Entah apa yang ingin Sherin lakukan sekarang sehingga wanita itu justru memanggil Melisa. Padahal Alex sendiri sudah berusaha menahan diri agar tidak mendekat pada Melisa dan Alvin.
“Apa apaan kamu Sherin?” Tanya Alex penuh penekanan dan suara se pelan mungkin supaya mamahnya tidak mendengar.
Sherin tersenyum dan menatap pada suaminya.
“Aku cuma pengin menunjukan sama kamu Alex, Melisa bukan perempuan yang baik untuk kamu.” Ujar Sherin pelan.
Alex melengos. Melisa memang tidak sebaik Lena. Tapi setidaknya Alex tau bagaimana dan seperti apa perjuangan Melisa untuk menghidupi kedua adik laki lakinya. Sementara Sherin, dia memang sudah jelas tidak ada sedikitpun baiknya. Karena pada Lena saja yang dulu adalah sahabat dekatnya Sherin bisa mengkhianatinya.
“Tapi kamu jauh lebih buruk dari dia Sherin.” Kata Alex.
Sherin mengedikkan kedua bahunya tidak perduli. Wanita itu tidak masalah jika Alex mencelanya sekarang. Yang terpenting sekarang adalah dirinya akan menunjukan pada Alex bahwa Melisa sudah punya pilihan sendiri yaitu pria yang saat ini sedang bersamanya.
Melisa yang merasa namanya di panggil pun menoleh. Dia terkejut bahkan sangat saat melihat siapa yang melambaikan tangan dan memanggilnya. Tidak jauh darinya dan Alvin ternyata juga ada Sherin dan Alex. Dua orang yang selalu ingin Melisa hindari.
“Itu kan laki laki yang kemarin itu Sa.. Mantan bos kamu.” Gumam Alvin mengernyit melihat Sherin dan Alex yang berdiri berjejer.
__ADS_1
“Ya.. Yang memanggilku itu istrinya.” Sahut Melisa pelan.
Melisa tidak ingin mendekat sebenarnya. Karena Melisa tau tidak ada gunanya berbasa basi dengan mereka berdua. Alex dan Sherin adalah dua orang yang dengan kepribadian yang sama. Yaitu sama sama egois dan selalu menganggap diri mereka paling benar. Terkadang Melisa juga berpikir pantas saja Tuhan mempersatukan mereka dalam ikatan suci tali pernikahan. Ternyata karena memang mereka sangat cocok. Meski memang Alex tidak pernah menunjukan rasa cinta nya pada Sherin. Berbeda dengan Sherin yang seolah sangat takut jika Alex sampai jatuh ke pelukan wanita lain. Sherin bahkan pernah menyuruh agar Melisa menjauh dengan iming iming akan memberikan berapapun uang yang Melisa inginkan.
“Oh ya? Terus yang di belakang itu siapa yang lagi milih baju? Istrinya juga?” Tanya Alvin menunjuk pada nyonya besar Smith.
Melisa tertawa mendengar pertanyaan yang Alvin lontarkan. Bagaimana mungkin Alvin bisa menganggap nyonya besar Smith adalah istri Alex juga. Memang Melisa akui nyonya besar Smith masih cantik dan tampak awet muda. Tapi mengira nyonya besar Smith adalah istri Alex benar benar adalah hal yang sangat konyol yang pernah Melisa dengar.
“Kok malah ketawa?” Tanya Alvin lagi bingung.
“Ayolah Alvin, kamu juga adalah pengusaha. Tidak mungkin kamu tidak kenal dengan nyonya besar Smith. Dia itu mamahnya pak Alex, istrinya tuan besar Smith.” Jawab Melisa menjelaskan.
Alvin meringis. Dia memang sering mendengar tentang perusahaan keluarga Smith. Namun satu kalipun Alvin belum mendapat kesempatan berjumpa dengan tuan besar Smith. Tidak heran jika Alvin bahkan tidak tau siapa tuan besar Smith maupun istrinya, nyonya besar Smith.
Melisa hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Dia kemudian meraih tangan Alvin dan menggandengnya mengajaknya untuk mendekat pada Alex dan Sherin. Kali ini Melisa bertekad tidak akan lagi takut dengan siapapun apapun alasan nya. Entah itu pada Alex ataupun Sherin. Melisa merasa keduanya tidak berhak menekan nya apa lagi terus mengancam ketenangan hidupnya.
Alvin yang terkejut karena Melisa tiba tiba menggenggam dan menggandeng tangan nya hanya bisa diam dan menurut saja. Pria yang tidak mengenakan jas hitamnya itu mengikuti langkah Melisa yang mendekat pada Sherin dan Alex.
“Maaf, apa nyonya tadi memanggil saya?” Tanya Melisa sopan begitu sudah saling berhadapan dengan Sherin. Melisa berusaha mengabaikan keberadaan Alex dan fokus pada Sherin yang memanggilnya.
“Ah iya Melisa, saya tadi memang memanggil kamu. Kamu apa kabar?” Senyum lebar Sherin bertanya pada Melisa seolah mereka adalah ibu bos dan pegawai yang akrab.
Melisa terdiam sesaat. Entah kenapa pemikiran tentang bangkai kecoa yang ada di dalam kemasan box kuenya adalah karena ulah Sherin kembali menguasai benaknya. Melisa merasa Sherin memang mempunyai niat tidak baik terhadap dirinya. Dan itu tentu di sebabkan oleh Alex. Apa lagi Sherin juga pernah menyaksikan bagaimana panasnya Melisa dan Alex saat berada di atas tempat tidur. Meski itu bukan kehendak Melisa dan atas kuasa seorang Alex yang selalu memaksanya. Mengingat semua itu Melisa merasa wajar jika Sherin membencinya. Wanita manapun pasti tidak ingin berbagi suami dengan yang lain nya.
__ADS_1
“Seperti yang nyonya lihat. Saya baik baik saja.” Senyum Melisa menjawab.
Sherin menganggukkan kepalanya. Dia kemudian menatap pada Alvin yang berdiri disamping Melisa.
“Ini pacar kamu ya?” Tanya Sherin dengan sengaja. Sherin ingin membuat Alex sadar bahwa Melisa juga tidak mengharapkan nya. Sherin ingin Alex tau bahwa hanya dirinyalah satu satunya wanita yang bisa bertahan dengan Alex.
Melisa menoleh sebentar pada Alvin. Setelah itu Melisa menatap tangannya yang masih menggandeng tangan besar Alvin. Saat itu Melisa berpikir untuk menunjukkan pada Alex bahwa ada pria baik yang mau menerima kekurangan nya. Bahkan meski Melisa sudah tidak suci lagi.
“Eum.. Ya nyonya. Ini Alvin namanya. Dia CEO di Dharma grup.” Jawab Melisa tenang.
Alvin mendelik mendengar jawaban Melisa yang mengakui bahwa dirinya adalah pacarnya.
“Oh ya? ya ampun ganteng banget loh pacar kamu. Orang kaya juga lagi. Selamat ya Melisa. Ah ya.. Jangan lama lama pacaran nya. Cepet nikah biar cepet punya baby kaya saya sama Alex..” Senyum lebar Sherin bahagia mendengar pengakuan Melisa.
“Itu pasti nyonya.” Sahut Sherin lagi dengan mantap.
Sementara Alex, pria itu benar benar sangat marah namun tidak bisa berbuat apa apa. Di tambah lagi dengan jawaban Melisa atas pertanyaan Sherin. Hati bahkan seluruh tubuh Alex terasa terbakar. Begitu panas sehingga darahnya pun ikut mendidih.
“Alex, Sherin.” Panggil nyonya besar Smith yang sejak tadi sibuk memilih baju untuk Sherin.
“Ya mamah..” Sahut Sherin ceria sembari menolehkan kepalanya.
“Mereka siapa?” Tanya nyonya besar Smith mendekat dan berdiri tepat di samping Alex yang hanya diam menahan rasa sejak tadi.
__ADS_1
“Ah mamah nggak tau ya? ini Melisa mah, dia mantan sekretarisnya Alex. Dan ini tuan muda Alvin, dia pacarnya. CEO dari Dharma grup.” Jawab Sherin yang begitu sangat semangat mengenalkan Melisa dan Alvin pada nyonya besar Smith.