SAYANG

SAYANG
Episode 146


__ADS_3

Besok paginya Sherin sudah pergi dari apartemen tempat nya dan Alex tinggal bahkan sebelum bibi menyiapkan sarapan pagi. Kepergian Sherin pagi itu bahkan juga tidak di sadari oleh bibi yang notabene nya selalu bangun paling awal setiap pagi.


Alex yang merasa aneh karena Sherin tidak kunjung keluar dari kamarnya pun bertanya tanya. Tidak biasanya Sherin tidak sarapan pagi bersamanya.


“Eum.. Bi, Sherin mana?” Tanya Alex tampak ragu menanyakan tentang Sherin pada asisten rumah tangganya.


“Saya tidak tau tuan. Tapi tadi saya coba ketuk pintu kamarnya tidak ada sautan. Terus pas saya buka pelan pelan pintu kamarnya nyonya Sherin juga tidak ada.” Jawab bibi dengan sopan.


Alex mengeryit mendengarnya. Sherin pergi tanpa bibi dan dirinya tau. Namun Alex tidak mau ambil pusing. Dia tidak mau mengurusi apa yang tidak penting baginya. Karena kemanapun Sherin pergi Alex tidak perduli. Bahkan menurut Alex akan lebih baik jika Sherin tidak kembali. Sherin hanya membuat beban bagi Alex.


“Ya sudah kalau begitu.” Ujar Alex. Pria itu kemudian mulai menyantap sarapan paginya tanpa mau memikirkan kemana Sherin pergi sekarang.


Sementara bibi yang melihat itu hanya bisa menggeleng saja. Wanita tua itu tau Alex memang tidak pernah perduli pada Sherin. Tapi setidaknya menurut bibi harusnya Alex merasa khawatir karena bagaimanapun juga Sherin sedang mengandung anaknya.


“Kalau begitu saya permisi mau kebelakang tuan.”


“Ya...” Balas Alex singkat.


Bibi berlalu dari hadapan Alex. Wanita itu menoleh kembali saat hendak masuk ke dalam dapur. Dia benar benar tidak menyangka dengan sikap Alex yang begitu sangat tidak perduli dengan apa yang terjadi pada Sherin, istrinya sendiri.

__ADS_1


“Ya Tuhan.. Semoga saja nyonya selalu baik baik saja.” Gumam bibi sembari masuk ke dalam dapur.


---------------


Disinilah Sherin sekarang. Dia berdiri didepan gerbang kediaman kedua orang tuanya. Setelah mendengar kabar tentang bunda nya yang sering sakit, Sherin tidak bisa tidur dengan tenang semalaman. Hingga akhirnya begitu pagi tiba Sherin pergi begitu saja dari apartemen Alex tanpa berpamitan pada Alex maupun bibi. Tapi sekarang begitu sampai di depan kediaman kedua orang tuanya Sherin kembali di landa rasa kebingungan. Sherin tidak tau harus bagaimana. Ingin sekali dirinya masuk ke dalam. Tapi Sherin takut kedua orang tuanya akan menyuruhnya untuk menjauh dari Alex. Sherin tidak ingin berpisah dengan Alex. Sherin ingin selalu bersama dengan pria itu. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk janin dalam kandungan nya.


“Nona Sherin...”


Sherin menoleh saat ada seseorang menyebut namanya. Dia terkejut saat mendapati asisten rumah tangga yang sering di sapa mbak Marnie itu sudah berdiri di belakangnya dengan kedua tangan menenteng tas berisi sayuran dan beberapa bahan makanan lain nya. Sherin menebak asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja dengan kedua orang tuanya itu baru saja selesai belanja di pasar.


“Ya Tuhan.. Syukur nona pulang. Nyonya pasti akan sangat senang melihat nona.” Senyum mbak Marnie merasa sangat bahagia melihat anak dari majikan nya itu telah kembali.


Sherin hanya diam saja. Dia sendiri bingung harus bagaimana sekarang. Kedua orang tuanya sangat tidak setuju dengan keputusan nya menikah dengan Alex. Bukan tidak mungkin mereka berdua akan memaksa Sherin agar Sherin meninggalkan Alex.


Mbak Marnie menghela napas pelan mendengar pertanyaan yang Sherin lontarkan. Wanita yang seumuran dengan bunda Sherin itu memperlihatkan ekspresi sendunya mengingat keadaan majikan nya sekarang.


“Nyonya tidak bisa di katakan baik baik saja non. Nyonya sering sakit dan selalu melamun sejak kepergian nona Sherin. Bahkan karena itu juga tuan jadi tidak bisa kemana mana. Tuan selalu mengerjakan pekerjaan nya dari rumah.” Jawab mbak Marnie.


Sherin terkejut mendengarnya. Dia menutup mulutnya menggunakan tangan nya dengan kedua mata berkaca kaca. Sherin tidak pernah tau bagaimana keadaan bunda nya selama ini. Bahkan sekalipun Sherin tidak pernah memikirkan bagaimana kondisi bunda nya setelah kepergian nya. Sherin pikir semuanya baik baik saja.

__ADS_1


“Lebih baik nona langsung temui nyonya saja. Nyonya pasti akan sangat senang melihat kepulangan nona.” Tambah mbak Marnie.


Sherin menelan ludah. Sekarang pikiran nya mulai kacau. Sherin ingin melihat keadaan bunda nya. Tapi Sherin juga khawatir begitu dirinya masuk ke dalam dirinya tidak akan bisa lagi keluar dan pulang pada Alex.


“Maaf mbak, saya nggak bisa masuk. Mbak tolong selalu kabari saya saja tentang keadaan bunda. Saya...” Sherin tidak sanggup melanjutkan ucapan nya. Air mata sudah mendahuluinya meluncur dengan begitu deras di kedua pipinya.


“Tapi nona...”


“Mbak, saya mohon. Saya benar benar tidak bisa masuk ke dalam. Saya titip salam saja untuk Ayah, bunda, juga Reyhan. Saya harus pergi sekarang mbak..” Sela Sherin yang kemudian pergi begitu saja dari hadapan mbak Marnie yang tentu tidak bisa mencegah kepergian nya.


Mbak Marnie sudah cukup lama bekerja dengan keluarga Sherin. Itu membuat mbak Marnie tau betul bagaimana sikap keluarga Sherin. Mereka adalah keluarga harmonis yang saling menyayangi satu sama lain sebelum datangnya Alex dalam kehidupan Sherin.


“Ya Tuhan.. Tolong berikan jalan keluar terbaik untuk masalah yang sedang di hadapi oleh keluarga tuan dan nyonya.” Lirih mbak Marnie menatap Sherin yang masuk ke dalam mobilnya kemudian pergi begitu saja tanpa lagi menatap rumah yang menjadi tempatnya menghabiskan masa kecil hingga dirinya tumbuh menjadi dewasa.


Sedang Sherin. Dia menangis meraung sambil mengendarai mobilnya. Sherin benar benar merasa berada di posisi yang sangat sulit sekarang. Sherin sangat menyayangi keluarganya, namun Sherin juga sangat mencintai Alex suaminya. Hal itu yang akhirnya membuat Sherin tidak bisa meninggalkan Alex dan lebih memilih untuk hidup dengan Alex.


“Bunda.. Huhuhuhu.. Maafin Sherin bunda.. Maafin Sherin.. Sherin sayang sama bunda.. Tapi Sherin juga ingin hidup dengan pilihan Sherin sendiri...” Tangis Sherin.


Karena perasaan dan hatinya yang sedang kacau, Sherin pun mengendarai mobilnya dengan sangat tidak stabil. Kecepatan nya bahkan sampai diatas rata rata. Sherin bahkan beberapa kali hampir menabrak pejalan kaki di sekitaran kompleks perumahan tempat keluarganya tinggal. Sherin benar benar merasa sangat kalut juga bimbang. Namun beratnya hati Sherin lebih pada takut kehilangan Alex, pria yang tidak pernah mengharapkan kehadiran nya.

__ADS_1


Kecepatan mobil Sherin semakin bertambah karena Sherin semakin menangis meraung Raung sendiri sambil mengendarai mobilnya. Dan karena itulah kecelakaan tunggal tidak terhindarkan. Mobil Sherin menabrak gerbang utama kompleks yang langsung membuat Sherin tidak sadarkan diri di tempat.


Para satpam penjaga kompleks yang sedang berjaga dan melihat langsung kejadian naas itu langsung berlarian untuk menolong Sherin yang sudah tidak sadarkan diri.


__ADS_2