SAYANG

SAYANG
Marlyn Monroe & Gadis Penuh Obsesi


__ADS_3

“Bersiap-siaplah Leva. Ketika namamu dipanggil, segeralah naik ke atas panggung.” Kata Vicky padakku.


“Aku, harus ke sana!?”


“Tentu saja!”


“Tidak mau.”


“Kenapa?”


“Akan dilihat oleh bayak orang!”


“Memang itu tujuannya!”


“Tidak mau!” Kataku.


“Lalu kenapa kau harus setuju untuk mendaftarkan namamu?” Kata Vicky, suaranya kecil seakan dia bicara pada dirinya sendiri. Dia diam beberapa saat, terlihat sedang berpikir. “Kalau aku menemanimu, apa kau akan mau?” Tanyanya kemudian.


“Mu-mungkin!” Jawabku ragu.


“Baiklah! Kita akan tampil bersama.”Vicky menarik tanganku, kami berdua mendekati panggung. Aku gugup. Kepalaku pusing seakan aku merasa sebentar lagi aku akan gila. Kenapa aku menurut begitu saja? Kenapa aku harus mempertontonkan diriku di hadapan orang sebanyak ini? Aku merasa konyol, aku merasa seperti orang bodoh. Masih sempat, masih ada waktu untuk kabur.


“Quinzha Leva!”


Sial! Padahal baru saja mau kabur, namaku langsung dipanggil. Sekarang aku kesusahan untuk kabur, Vicky kini menggenggam tanganku erat. “Leva, aku sangat gugup.” Dan juga, kenapa dia yang lebih gugup?


“Jangan khawatir.” Kenapa malah aku yang menenangkannya?


“Ini dia, kita sambut peserta terakhir hari ini, Quinzha Leva.” Teriak pemandu acara sekali lagi.


Vicky berjalan di depanku, menuntunku di belakangnya. Kami menaiki panggung bersama-sama dan pembawa acara itu memberiku mikropon, aku menerimanya begitu saja tanpa tahu maksudnya. Vicky mengambil mikropon di tanganku, dia meletakannya dekat dengan mulutnya kemudian dia menyapa semua orang di ruang olah raga. “Halo semuanya.” Suaranya menggema di seluruh ruangan.


“Haloooo!” Jawab mereka semua dengan serentak.


Vicky berbisik padaku. “Perkenalkan dirimu.” Katanya. Aku mengangguk pelan.


“Na-namaku …” Sumpah mati aku gugup, “Qui-Quinzha Lewa!”


Apaaaaaaaaaa? Aku salah menyebut namaku sendiri. Mereka tidak tertawa, kan? Mereka tidak tertawa, kan?


“Hahahahahahahaha!” Anehnya, malah aku sendiri yang tertawa.


Vicky disampingku melirikku bingung, yang lainnya entah kenapa ikut tertawa.


Beberapa saat setelah mampu mengendalikan diriku, aku terdiam menatap semuanya. Gugupku hilang. “Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan di sini, aku tidak punya pengalaman tentang ini. Tapi …”


“Kau sangat cantik Leva, juga, tingkahmu alami. Pada intinya kau menarik.” Salah satu juri memotong pembicaraanku. “Kau juga memakai kostum yang cukup unik. Kostum apa yang kau kenakan? Dan kenapa orang itu ikut bersamamu?”


“Karena―”


“Karena ini demi peran!” Potong Vicky.


“Peran?”


“Yes! Sebenarnya saat ini dia meniru pakaian tuan putri Tsukuyo yang menyelamatkan seluruh negeri dengan kipas sakti!” Jawab Vicky cepat, sekarang aku tahu kalau dia memang pandai berbohong. Karena kepandaiannya, semua orang mengangguk kagum.


“Lalu kau sendiri berperan sebagai apa?”


“Pelayannya!”


“Semakin menarik.”


Apanya yang menarik? Kalian semua sedang dikelabui.


“Bisa kau jelaskan sesuatu untukku, pelayanannya Tuan Putri?”


“Ya, ingin minta penjelasan apa?”


“Putri Tsukuyo ini … berasal dari mana? Aku belum pernah mendengarnya.”


“Putri Tsukuyo adalah keturunan ke tujuh dari raja Arwah yang tidak bisa hidup berdampingan dengan manusia, karena berada di dunia yang berbeda. Putri Tsukuyo yang lebih akrab dipanggil Rou ini, telah hidup sejak 1000 tahun yang lalu, saya telah melayani keluarga kerajaan lebih dari 2000 tahun. Kami para arwah memiliki umur yang lebih panjang dari manusia, umur kami bisa mencapai 5000 tahun. Saat ini Tuan Putri sedang berkelana mencari sepasang liontin peninggalan permaisuri, saya sebagai pelayannya harus terus mendampinginya!”


“Begitu … itu legenda yang berasal dari mana?” Tanya pembawa acara.


“Dari Jepang!”


“Oh … dari Jepang. Pantas saja aku tidak pernah mendengarnya.” Apanya yang ‘Oh?’, padahal kalian semua sedang dibohongi.


“Kalau begitu silahkan tampilkan penampilan terbaik anda Princess Rou! Berikan kepuasan kepada para penonton untuk penampilan terakhir hari ini!”


Penampilan apa lagi? Kupikir kami sedang tampil sekarang. Si pembawa acara itu meninggalkan panggung. Sekarang hanya kami berdua, bingung. “Tuan Putri,” panggil Vicky, dan aku bukan Tuan Putri, keluhku dalam hati. “Haruskah kita tetap melakukan perjalanan ke Barat?”

__ADS_1


“Ya!” Jawabku kesal. Barat mana kita akan pergi, orang aneh?


“Kalau begitu haruskah kita pergi sekarang?”


“Ya!”


“Begitulah!” Teriak Vicky, “Pertunjukan selesai!” Lanjutnya.


Hah! Tuhan, ambil nyawaku sekarang. Aku lebih baik mati. Ruang olah raga sangat hening. Kurasa penonton kebingungan, lebih bingung daripadaku. Kami meninggalkan panggung begitu saja, si pembawa acara mengambil alih dan keadaan kembali normal.


Sekitar sepuluh menit kemudian, pemenangnya diumumkan. Anehnya, aku mendapat juara dua. Sorak sorai terdengar sangat riuh dari bawah panggung, tanpa komentar apapun lagi kami meninggalkan panggung setelah mengambil hadiahnya dan pergi.


Menuju kelas tambahan, aku dan Vicky melewati kelas regulerku. Dari dalam ruangan dapat kulihat Gin dan teman sekelasku sedang sibuk meyalani tamunya. Di sisi lain koridor, Qarima dan beberapa anggota osis lainnya sedang berjalan memantau berjalannya festival, entah kenapa aku meresa merekalah yang paling sibuk di antara yang lainnya. Qarima melihatku sekilas dan dia melempar senyum.


Di sudut koridor, dari jauh aku sudah bisa melihat ke arah kelas tambahan. Tidak biasanya, tempat terpencil yang selalu kelihatan sepi itu kini dipenuhi oleh keramaian orang-orang yang sedang mengantri di depan meja pembelian tiket. Pemutaran filmnya telah dimulai.


Kami berdua berlari-lari kecil menuju kelas tambahan, berharap bisa membantu Tiwa yang kelelahan melayani pelanggan di meja pembelian tiket‒yang kelihatan sangat bahagia‒saat menatap tumpukan uang di depannya, entah kenapa. Ono di sampingnya berdiri tegap mengawasi keadaan, layaknya seorang satpam.


Kami mendekatinya.


“Banyak juga ya orangnya.” Komentar Vicky.


“Ya, sebenarnya ini pemutaran yang empat kalinya, karena ruangan ini tidak cukup untuk menampung mereka semua.” Jelas Ono.


“Sungguh? Keren! Yang lainnya mana?”


“Hanya ada Fajar dan Abi di dalam. Yang lainnya masih belum ada yang kembali. Bagaimana dengan kalian?”


“Leva juara dua dilomba kostum.”


“Kereeeeen.”


“Biasa saja.” Vicky mengatakan biasa saja untuk usahaku yang luar biasa? “Ngomong-ngomong, ada yang bisa kami bantu?”


“Untuk sementara bisa kami tangani.”


“Baguslah … ah, saatnya istirahat. Aku kelelahan.” Keluh Vicky sambil menyandarkan diri di tembok.


“Princess Rooooooou!” Entah kenapa aku mendengar nama itu lagi mengiang di telingaku. “Princess Roooooou!” Panggil seseorang dari jauh.


“Sepertinya ada orang aneh yang berlari ke sini sambil melambai-lambaikan tangannya.” Bisik Ono. Kami berdua mengangguk. “Dia memanggil ‘Princess Rou’, siapa itu?”


“Entahlah …” Jawab kami berdua serentak.


“.... Siapa!?” Tanya kami bertiga serentak.


“Perkenalkan, aku pelayan barumu. Marlyn Monroe, arwah yang datang dari bulan.” Katanya. Gadis aneh yang bernama Marlyn Monroe itu menunduk.


“Oh, jadi kau ... bisa dikatakan arwah bulan?” Tanya Vicky sinis.


“Ya. Aku diutus untuk melindungimu oleh ... Baginda Raja Armor.”


“Nama yang bagus.”


“Itu gelar.” Bantah Marlyn Monroe, si gadis imut berambut panjang. Kulitnya sangat putih yang membuatku berpikir bahwa dia benar-benar seorang arwah, terlebih dia memakai gaun putih.


“Akhirnya aku menemukanmu!” Kata gadis lainnya yang baru tiba dengan lesu. Wajahnya terlihat lelah, sangat lelah.


“El!? Kau, apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Fairel pada gadis hantu. Mereka saling mengenal. Dan, sejak kapan Fairel ada di sini?


“Hai kak Fairel.” Gadis Hantu menyapa Fairel. “Aku ke sini untuk berfoto dengan kak Leva. Aku telah mencari kalian hampir di seluruh area sekolah!” Katanya.


“Ya, bisa kulihat dari kondisimu.” Kata Fairel. “Memangnya ada apa? Kenapa berfoto dengan Leva menjadi sangat penting?”


“Ini salah satu syarat dari Qhaza untuk−pokoknya lakukan saja.” Bentaknya.


“Baik! Baik!” Kata Fairel. Dia mengambil kamera yang disodorkan oleh gadis hantu. “Leva, berdirilah di sana bersamanya.” Perintah Fairel, yang membuatku sedikit melotot ke arahnya.


Enak saja, memang siapa dia berani memerintahku? Kenapa aku harus mau berfoto dengan gadis hantu?


“Leva, satu kali saja. Kumohon bantu gadis kesayanganku.” Pintanya.


Gadis kesayangan? Apa maksudnya? Dan, tanpa kusadari, aku telah mengikuti perintahnya dan berfoto dengannya, hal yang paling kubenci dan sangat jarang kulakukan. Aku bahkan diminta untuk tersenyum sedikit, sementara si gadis hantu berpose dengan sangat aneh.


“El. Kenapa kau berpose seperti itu?” Tanya Fairel, syukurlah dia juga berpikiran sama sepertiku.


“Ini memang sangat memalukan, tapi syaratnya harus seperti ini. Kumohon lakukan dengan cepat!”


“Baik! Qhaza memang keterlaluan.” Gerutu Fairel pelan dan foto kami berdua pun diambil dalam satu cepretan.


“Qhaza akan mengajakku ke bioskop jika aku mendapatkan fotomu.” Katanya kemudian dengan bangga. Gadis ini sedang dimanfaatkan. Jelas sekali! Atau, aku yang sedang dimanfaatkan?

__ADS_1


“Princess Rou.” Gadis lainnya, menatapku dengan mata berbinar-binar. Entah dari mana dia muncul dan sejak kapan dia di sini, tidak ada yang tahu. Aku harus memberi dia pujian untuk itu.


“Akhirnya aku bisa bertemu denganmu secara langsung.” Katanya. Air matanya menetes perlahan, dia tersenyum. Kami semua menatapnya bingung. “Aku sangat mengagumimu, Princess Rou.” Katanya lagi. “Kenapa kau sendiri? Di mana pelayanmu?”


“Mereka berdua ada di sini.” Aku mengikuti alur, kunikmati saja peran ini. Menjadi ‘Princess’ menarik juga.


Aku menunjuk Vicky dan Marlyn. Vicky melambaikan tangannya, sementara Marlyn tampak bahagia dengan jabatan barunya.


Lalu, gadis tadi mendekati Vicky, kemudian menatapnya penuh teliti.


“Kau tidak boleh membiarkan Princess sendirian. Bagaimana jika ada bahaya, bagaimana jika Princess diculik, bagaimana jika ada pangeran jahat yang ingin menikahinya?” Bentaknya.


Itu tidak akan terjadi.


“Sebenarnya apa yang terjadi di sini?” Tanya Gin.


Tunggu, sejak kapan dia ada di sini? Merepotkan saja. Tapi bagusnya, semua orang mengabaikannya.


“Tapi itu bagus.” Kata gadis baru itu kemudian, dia berbicara sendiri menghadap tembok. “He he he!” Dia tertawa jahat. “Jika Princess tidak punya pelayan, berarti aku bisa melamar jadi pelayannya. He he he. Aku hanya perlu menyingkirkan pelayan yang sebelumnya. Hahaha. Haruskah aku membunuhnya?!”


“Mem-membunuhku?” Gumam Vicky, gadis penuh obsesi berbalik menatapnya dengan tajam, tatapan yang mengerikan. Jelas sekali, kata-katanya tentang membunuh itu serius.


“Kau―” kata gadis penuh obsesi pada Vicky.


“Aku baru mengundurkan diri sebagai pelayannya Tuan Putri!” Kata Vicky cepat, aku tahu dia khawatir akan keselamatannya.


“Huh? Sungguh?” Tanyanya pada Vicky. Lalu dia beralih menatapku. “Princess … anu … aku …” Dia gugup? Di depanku?  “Anu … aku …”


Dia masih belum bisa mengucapkan kata lain selain ‘anu, aku’. “Waktumu habis!” Kata Gin tiba-tiba. “Selanjutnya!” Apa maksudnya selanjutnya?


“Appppaaaaaa!!!” Kata gadis penuh obsesi pada Gin dengan tatapan mengerikan. Tanduknya keluar mencapai langit-langit koridor. Matanya melotot dan taringnya kelihatan. Dia kemudian berjalan mendekati Gin yang berdiri santai di dekat pintu, sesuatu yang tidak terpikirkan terjadi, dia mencekik Gin sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya, dia berkata dengan penuh amarah, “Apa kau main-main denganku!? Aku bahkan belum mengatakan apapun pada Princess dan kau sudah menyuruhku untuk keluar. Apa kau ingin lenyap, Hah?”


“Ka-kau se-sedang melenyapkanku sekarang!” Kata Gin terbata-bata.


Gadis penuh obsesi mencekiknya dengan sangat kuat, Gin tidak bisa bergerak. Ini situasi yang lucu, hiburan paling menarik hari ini. Tapi sayang, Vicky dan Fairel dengan cepat memegang gadis penuh obsesi, berusaha melepaskan dan menolong Gin. Bagusnya, pegangan gadis itu sangat kuat, sulit dilepas.


“Leva! Lakukan sesuatu, bantu aku melepasnya. Gin bisa mati kalau seperti ini!” Teriak Vicky.


“Aku? Lepaskan?” Tanyaku, sebenarnya aku bertanya ‘apakah aku juga harus membantu melepaskan gadis penuh obsesi?’ tapi ternyata kata-kataku sangat efektif untuk membuat gadis penuh obsesi itu dalam seketika melepas tangannya pada Gin, dia menjadi tenang. Dia tersipu malu menatapku, dia kembali ke sikapnya sebelumnya. Gugup.


“Pri-Princess baru saja memberi perintah padaku?” Tanyanya gugup.


“Ummm.” Pura-pura saja.


“Sebenarnya, apa yang terjadi di sini?” Tanya Gin pelan sambil menenangkan diri.


“Princess!” Kata gadis penuh obsesi, dia mengabaikan Gin. Dia mendekatiku. “Bo-Bolehkah aku … menjadi pe-pelayanmu?” Tanyanya padaku.


“Tidak!” Jawabku. Dia dalam sekejap menjadi shock. Wajahnya pucat pasi.


“Ti-ti-ti-ti-tit-tidak boleh? Kenapa?”


“Aku tidak butuh pelayan. Aku sudah punya.” Aku menolaknya, karena serius gadis ini menakutkan. Bagaimana jika dia mencekikku suatu hari nanti saat aku menolak memberi gaji untuknya?


“Tapi kau membutuhkanku.” Memaksa sekali. “Bukan sampah seperti dia!” Dia melirik Vicky sejenak dengan tatapan merendahkan.


“Siapa yang kau sebut sampah?” Tanya Vicky dengan suara kecil, sedikit ketakutan.


“Leva, katakan saja ‘ya!” Perintah Fairel.


Kenapa aku harus mengatakan ya? Dan kenapa aku harus mematuhinya.


“Agar masalahnya cepat selesai.” Lanjutnya.


Gadis penuh obsesi mengangguk setuju seperti anak kucing.


“Ya!” Jawabku. Sial!


“Horeeeee!” Gadis penuh obsesi bersorak. Dia meloncat-loncat dan berlari mengelilingi ruangan. Kami semua menghembuskan nafas lega.


“Selamat Leva, sekarang kau punya dua pelayan.” Kata Ono, aku mengangguk saja. Ini di luar dugaan.


“Kurasa, pemutaran filmnya telah selesai. Ini adalah waktu kita semua, anak-anak kelas tambahan.” Kata Fairel. “Lalu, kenapa kalian berdua masih di sini?” Tanya Fairel kepada Marlyn dan gadis penuh obsesi.


“Saya adalah pelayannya tuan Putri, saya harus memastikan tuan Putri pulang dengan selamat.” Jawab mereka berdua hampir bersamaan.


“Dunia ini sulit kupahami.” Gumam Gin.


“Katakan saja kalau kalian ingin nonton gratis.” Gumam Ono pelan, gadis penuh obsesi menatapnya tajam.


“Terserah.” Kata Fairel. Dia masuk ruangan, kami semua mengikutinya. Sekarang pukul 16.45. Film kemudian diputar ulang setelah ruangan kosong dan anak-anak dari kelas tambahan berkumpul di dalam ruangan, lengkap,dengan tambahan tiga orang‒Marlyn, Gadis Penuh Obsesi dan si Pengerat.

__ADS_1


Dua pelayan baruku ini duduk di sampingku, ketika aku berdiri mereka berdiri dan ketika aku berjalan mereka berdua pun berjalan. Mereka benar-benar mengikutiku.


__ADS_2