SAYANG

SAYANG
Episode 189


__ADS_3

Lena melenguh begitu terbangun dari tidurnya. Wanita itu menoleh dan tersenyum begitu mendapati Rezvan yang tertidur dengan pulas di samping nya.


Lena menghela napas kemudian dengan sangat pelan dan sangat hati hati bangkit dari berbaring nya. Lena membenarkan bajunya dan mengancingnya menutupi bagian dadanya yang tadi dia biarkan terbuka karena Rezvan yang menyusu padanya.


Lena menutup mulutnya karena menguap. Perlahan dia meraih ponsel yang berada tepat di samping tempat nya berbaring.


Lena mengernyit, malam sudah hampir larut namun suaminya belum juga pulang. Itu tidak seperti biasanya. Apa lagi siang tadi saat hendak berangkat Erlan sama sekali tidak mengatakan apapun.


“Tumben banget nggak bilang kalau mau pulang telat.” Gumam Lena pelan.


Lena menghela napas kemudian berusaha untuk menghubungi suaminya. Lena khawatir sesuatu terjadi pada suaminya yang akhirnya membuat Erlan harus pulang terlambat malam ini.


Beberapa kali mencoba menghubungi Erlan namun Erlan sama sekali tidak merespon nya. Lena berdecak. Pikiran nya mulai tidak tenang. Erlan tidak biasanya pulang terlambat. Kalaupun akan pulang telat Erlan pasti akan memberitahu nya lebih dulu. Tapi sekarang, Erlan bahkan tidak mengangkat telepon darinya.


“Ya Tuhan..” Lirih Lena.


Pikiran pikiran buruk mulai menguasai hati dan pikiran Lena. Namun sebisa mungkin Lena mengenyahkan semua pemikiran buruk itu. Lena berusaha berpikir positif.


“Tenang Lena.. Mungkin sekarang Erlan sedang berada di jalan menuju pulang.” Batin Lena yang kemudian menarik napas dalam dalam lalu dia hembuskan dengan sangat pelan dan perlahan.


Karena tidak mungkin tidur lagi dalam keadaan pikiran nya yang sedang tidak tenang, Lena pun memutuskan untuk membuat teh hangat untuk menemaninya sembari menunggu kepulangan Erlan. Lena turun dari ranjang kemudian melangkah pelan menuju pintu kamarnya. Ketika sudah membuka pintu dan hendak melangkah keluar dari kamarnya tiba tiba Lena meragu. Lena takut jika begitu dirinya turun ke bawah dan sedang membuat teh di dapur Rezvan terbangun lalu menangis.


Lena menghela napas. Saat dirinya sudah berniat mengurungkan niatnya membuat teh, tiba tiba melintas salah satu pelayan tepat di depan pintu kamarnya. Lena pun segera memanggil nya dan meminta tolong kepada pelayan tersebut agar di buatkan teh hangat yang tentu saja di setujui oleh pelayan tersebut.

__ADS_1


Tidak menunggu lama pelayan itupun kembali dengan membawakan secangkir teh hangat untuk Lena.


“Terimakasih yah..” Senyum Lena sambil menerima secangkir teh hangat tersebut dari si pelayan.


“Sama sama nyonya. Kalau begitu saya permisi.”


“Oh iya ya...” Angguk Lena.


Sekali lagi Lena menghela napas. Lena kembali menutup pintu kamarnya kemudian melangkah menuju sofa yang ada di seberang ranjang. Lena meletakan secangkir teh yang di buatkan oleh pelayan tadi di meja kaca di depan nya. Setelah itu Lena kembali mencoba untuk menghubungi suaminya berharap kali ini Erlan mengangkat telepon darinya.


------------


Di tempat lain tepatnya di rumah sakit, Chilla hanya bisa diam saja mendengar deringan suara ponsel Erlan. Wanita itu sudah tau siapa yang menghubungi Erlan. Oleh karena itu Chilla pun memilih membiarkan saja dari pada mengangkat nya. Chilla takut jika dia mengangkat telepon tersebut akan menimbulkan masalah yang tidak di inginkan.


suara pintu yang di buka membuat Chilla langsung mengarahkan pandangan ke arah pintu masuk. Chilla tersenyum begitu mendapati Erlan yang muncul di balik pintu tersebut.


“Erlan..” Senyum Chilla bangkit dari duduknya di sofa seberang brankar yang seharusnya menjadi tempat nya berbaring.


“Dokter bilang kamu sudah bisa pulang. Dan aku juga sudah menghubungi keluarga kamu tadi. Mungkin sebentar lagi keluarga kamu akan datang untuk menjemput. Kalau begitu aku pulang dulu.” Kata Erlan.


Pria itu meraih ponselnya yang sudah berhenti berdering.


“Eum.. Erlan tunggu.” Cegah Chilla saat Erlan hendak melangkah dari hadapan nya.

__ADS_1


“Yah..” Sahut Erlan menatap Chilla dengan tatapan datarnya.


“Eumm... Terimakasih banyak karena kamu sudah menolongku. Aku nggak tau apa jadinya aku kalau tidak ada kamu tadi.” Ujar Chilla pelan. Kali ini Chilla serius. Dia benar benar merasa sangat berhutang nyawa pada Erlan karena Erlan sudah menyelamatkan nya dari cengkraman para begal yang hampir saja menodainya.


“Hem.. Aku hanya melakukan apa yang sudah seharusnya di lakukan untuk membantu sesama. Tidak perlu berpikir berlebihan. Dan kalaupun korban para begal itu bukan kamu juga aku akan tetap menolong.” Balas Erlan.


Chilla mengangguk dan tersenyum tipis. Tentu saja Erlan akan menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan darinya. Erlan adalah orang yang baik. Dan Chilla tau itu.


“Eum.. Tadi istri kamu beberapa kali menelepon saat kamu sedang berbincang dengan dokter.” Beritahu Lena.


“Ya..” Sahut Erlan dingin. Pria itu kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Chilla. Erlan yakin Lena pasti sedang sangat mengkhawatirkannya sekarang. Apa lagi Erlan sampai pulang begitu larut karena harus menolong Chilla yang hampir saja menjadi korban kekejaman para begal.


Jika saja Chilla tidak terluka karena sayatan benda tajam di lengan nya, Erlan tidak mungkin mengantar langsung Chilla ke rumah sakit. Namun karena keadaan Chilla yang lumayan parah dengan baju berantakan dan darah yang sudah keluar begitu banyak dari luka sayatan benda tajam itu Erlan pun dengan berbesar hati membawa Chilla kerumah sakit. Erlan juga memberikan jasnya untuk menutupi tubuh Chilla yang sebagian sudah terbuka karena ulah bejat para begal yang dia lawan untuk menolong Chilla tadi.


Erlan melangkah lebar dan sangat terburu buru di koridor rumah sakit. Pria itu benar benar tidak menyangka akan bertemu kesialan malam ini.


Tidak mau membuat istrinya semakin khawatir dan ketar ketir menunggu kepulangan nya, Erlan pun berusaha untuk secepatnya sampai di rumah. Beruntung nya jalanan sudah mulai sepi malam itu sehingga Erlan bisa lebih leluasa mengatur kecepatan laju mobilnya sesuai yang dia inginkan.


Dalam waktu singkat, Erlan pun sampai di depan rumahnya. Pria itu buru buru keluar tanpa menunggu bodyguard membuka kan pintu mobil untuknya. Yang saat ini berada di pikiran Erlan hanya Lena yang pasti sedang sangat mengkhawatirkannya. Apa lagi Lena juga sudah beberapa kali menghubungi nya yang tidak bisa Erlan jawab karena saat sedang berbicara dengan dokter mengenai luka yang di derita Chilla, Erlan tanpa sadar meninggalkan ponselnya di ruangan tempat Chilla berada.


Erlan melangkah masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke lantai dua rumahnya. Pria itu berlari secepat mungkin saat menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya dan Lena yang ada di lantai dua. Begitu sampai di depan pintu kamarnya, Erlan pun langsung membukanya dan menghela napas lega ketika mendapati Lena yang sedang duduk di sofa panjang di seberang ranjang mereka berdua dengan kepala yang menoleh kearahnya.


“Erlan...” Lirih Lena merasa sangat lega melihat Erlan berdiri di ambang pintu kamar mereka.

__ADS_1


__ADS_2