
Hari ini Lena akan memulai apa yang sejak dulu sangat dia ingin lakukan, yaitu membantu sesama. Meski memang Lena melakukan semua itu bukan dengan hasil jerih payahnya sendiri tapi Lena tetap merasa senang karena Erlan memberinya izin. Bahkan Erlan juga mengatakan akan mendampingi Lena untuk melakukan semua yang selama ini Lena cita cita kan.
“Nggak boleh dandan menor menor. Nanti aku di kira badut ancol yang nyasar lagi.” Gumam Lena sambil memoles wajah cantiknya dengan make up senatural mungkin.
Setelah merasa puas dengan hasil make up nya, Lena pun tersenyum menatap pantulan wajahnya di cermin. Lena merasa sudah cukup dengan dandanan ala kadarnya itu. Lagi pula Lena juga tidak suka memoles wajahnya dengan make up yang terlalu berlebihan. Wajahnya akan terasa berat jika make up yang melapisi wajahnya terlalu tebal.
“Oke, sepertinya sudah cukup seperti ini..” Gumam Lena lagi.
Ketika Lena bangkit dari duduknya, saat itu lah pintu kamarnya di buka dan muncul sosok tinggi tegap serta tampan suaminya yang sudah tidak mengenakan jasnya. Bahkan kemeja ungu muda yang Erlan kenakan sudah di lipat sampai siku di lengan nya. Dasinya pun sudah tidak lagi melingkari kerah kemejanya.
Lena tersenyum. Tanpa sadar mereka berdua mengenakan baju dengan warna senada. Lena juga mengenakan dress lengan pendek yang panjangnya tepat diatas lutut. Itu membuat Lena merasa serasi dengan suami tercintanya.
Lena memutar tubuhnya dan tersenyum manis pada Erlan yang kemudian melangkah nendekat padanya.
Erlan berhenti ketika sampai tepat di depan Lena. Pria itu menatap dari atas sampai bawah penampilan Lena yang terkesan sangat manis menurutnya. Apa lagi bibirnya yang terpoles lipstik dengan warna alami dan tidak mencolok itu. Rasanya Erlan ingin meraupnya dan menciumnya dengan penuh cinta.
“Eum.. Bagaimana penampilan aku? Nggak terlalu berlebihan kan?” Tanya Lena mengharapkan pujian dari Erlan.
Erlan tersenyum dan menggelengkan pelan kepalanya.
__ADS_1
“Kamu manis banget sayang..” Jawab Erlan dengan jujur.
Lena tersenyum malu karena pujian tersebut. Meski Erlan memang hampir setiap hari memujinya. Bahkan saat Lena bangun tidur dan belum mandi pun Erlan selalu memujinya.
“Manis, emangnya aku gula apa.” Gumam Lena menahan senyuman di bibirnya.
Erlan terkekeh geli dengan reaksi menggemaskan Lena. Pria tampan itu kemudian meraih tangan Lena, menggenggam dan mengangkatnya kemudian mencium lama punggung tangan Lena.
Hal romantis yang Erlan lakukan itu membuat darah Lena berdesir. Erlan selalu memperlakukan nya dengan lembut dan penuh cinta. Lena yakin bukan hanya dirinya saja yang akan jatuh cinta jika di perlakukan begitu manis oleh Erlan, tapi wanita manapun juga. Dan Lena sangat berharap wanita yang sangat beruntung bisa bersama dengan Erlan itu cukup dirinya saja.
“Kita jalan sekarang ya sayang..” Senyum Erlan setelah mencium punggung tangan Lena.
Erlan benar benar sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk menyenangkan hati Lena, wanita yang sejak dulu sangat dia dambakan.
Tempat pertama yang mereka datangi adalah panti asuhan. Selain memberikan sumbangan tunai, Ternyata Erlan juga sudah menyiapkan banyak barang barang yang tentu sangat di butuhkan oleh anak anak di panti asuhan yang dia dan Lena sambangi. Di antaranya adalah peralatan sekolah dan mainan untuk mengasah otak mereka.
Lena yang memang tidak tau dari awal apa yang Erlan siapkan merasa sangat tersentuh dengan kebaikan suaminya. Erlan tidak tanggung tanggung memberikan sumbangan ke panti asuhan tersebut.
“Kalau boleh jujur, ini adalah pertama kalinya aku datang langsung ke panti asuhan sayang. Dan ternyata melihat anak anak disini happy itu rasanya kita juga ikut happy ya..”
__ADS_1
Lena tersenyum menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang Erlan katakan. Lena sendiri pernah merasakan bagaimana rasa bahagianya mendapat mainan dari orang baik yang menyumbangkan uangnya secara cuma cuma ke panti asuhan. Tentu saja karena dulu Lena juga tinggal di panti asuhan. Tepatnya sampai Lena duduk di bangku sekolah menengah pertama.
“Aku juga dulu bahagia banget kalau ada yang nyumbang begini. Karena biasanya kalau abis dapat sumbangan itu kita makan enak, terus dapat mainan dan buku buku pelajaran secara gratis.” Ujar Lena pelan dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
Erlan menoleh menatap istrinya yang tersenyum dengan pandangan lurus ke depan. Erlan yakin yang membuat Lena merasa tergerak ingin membantu di beberapa tempat yang membutuhkan juga pasti berdasarkan pengalaman Lena sendiri. Seperti di panti asuhan, Erlan juga tau dulu Lena tinggal di panti asuhan.
Erlan menghela napas. Jika mengingat apa yang di alami oleh Lena dulu, Erlan kembali merasa seperti pengecut karena hanya bisa mengawasi Lena dari jauh tanpa pernah mendekat. Namun Erlan punya alasan melakukan itu, yaitu karena Erlan tidak mau terkesan memaksa agar Lena mau dekat dengan nya. Dulu dengan melihat Lena aman dan tersenyum saja sudah bisa membuat Erlan merasa sangat bahagia.
Erlan meraih tangan Lena dan menggenggamnya lembut membuat perhatian Lena teralihkan. Saat ini keduanya memang sedang berada di taman yang berada di samping gedung panti asuhan itu.
Lena menatap tangan nya yang di genggam oleh Erlan kemudian beralih menatap Erlan yang menatapnya dengan tatapan penuh perhatian.
“Andai aku mampu memutar waktu sayang.. Aku pasti tidak akan membiarkan kamu hidup berkekurangan di panti asuhan. Maaf karena aku tidak bisa ada di samping kamu di saat kamu membutuhkan bantuan.” Kata Erlan penuh sesal.
Lena tertawa mendengar apa yang suaminya katakan. Sedikitpun Lena tidak pernah menyesal pernah hidup di panti asuhan. Karena meski memang dulu dirinya tidak hidup serba ada, tapi Lena mendapat pelajaran yang sangat berharga. Yaitu berbagi dan saling mengasihi. Pelajaran itu yang membuat Lena akhirnya bisa berdiri sendiri dengan kedua kakinya hidup di kota yang begitu keras.
“Apaan sih? Pake minta maaf segala. Lagian apa yang sudah pernah aku rasakan itu aku jadiin pelajaran berharga buat mengarungi masa depan. Aku nggak pernah menyesal apa lagi malu pernah hidup di panti asuhan kok. Justru aku merasa sangat beruntung karena lewat panti asuhan itu aku tau bagaimana caranya aku harus bertahan hidup sebelum Tuhan mempertemukan kita.” Senyum Lena membalas tatapan Erlan.
Erlan menganggukkan kepala dengan senyuman yang menghiasi bibir tipisnya. Sikap Lena memang sangat dewasa yang membuat Erlan semakin yakin bahwa pilihan hatinya sejak pertama kali bertatap muka dengan Lena memang tidak salah.
__ADS_1