
Alvin menghentikan mobilnya begitu sampai di halaman depan rumah Melisa. Pria itu segera turun setelah mematikan mesin mobilnya. Alvin melangkah mantap menuju teras depan rumah Melisa. Alvin sangat tidak sabar untuk bertemu dengan kekasih hatinya.
Alvin menghela napas. Pria itu merapikan bajunya sebelum mengetuk pintu utama kediaman sederhana Melisa. Namun baru saja Alvin mengangkat tangannya dan belum mengetuk daun pintu bercat coklat gelap itu, tiba tiba pintu sudah di buka oleh David.
“Ek kak Alvin...” Senyum David saat mendapati Alvin yang sudah berada di depan pintu utama kediamannya.
Alvin tersenyum lebar dan sedikit salah tingkah. Pria itu kembali menghela napas untuk yang kesekian kalinya.
“Masuk dulu kak..” Kata David lagi.
“Oh nggak, nggak usah. Aku biar duduk di luar saja. Kakak kamu mana? Kalian sudah siap kan?”
“Aku sama Farid sih udah. Tapi kalau kakak dia masih di dalam kamarnya. Sebentar biar aku panggil dulu ya kak. Kakak duduk dulu, atau mau aku buatin kopi?”
“Nggak usah.. Nggak perlu repot repot.” Senyum Alvin menolak dengan lembut.
“Ya sudah aku panggil kakak dulu.”
“Oke...” Angguk Alvin.
Setelah David berlalu untuk memanggil Melisa, Alvin pun memutuskan untuk duduk di kursi yang ada di teras depan rumah kekasih tercintanya. Dengan penuh kesabaran Alvin menunggu Melisa yang sedang di panggil oleh adiknya, David.
Tidak sampai 10 menit menunggu, Melisa pun keluar dari dalam rumah dengan David dan Farid yang berada dibelakangnya. Melisa yang sudah lama tidak merias dirinya tampak malu malu saat menemui Alvin. Melisa bahkan merasa sangat deg degan. Padahal baginya sudah biasa merias diri. Tapi sekarang, rasanya benar benar sangat berbeda. Tidak hanya gugup, Melisa juga merasa malu.
__ADS_1
Melisa menahan napasnya sejenak ketika melihat Alvin yang duduk dengan posisi membelakangi nya. Untuk meredakan rasa gugup nya, Melisa pun menghela napas dengan kasar dan berhenti melangkah sejenak sebelum akhirnya mendekat pada Alvin yang sedang menunggu nya.
“Alvin..” Panggil Melisa pelan setelah berada tepat di samping kursi yang di duduki oleh Alvin.
Alvin yang merasa namanya di panggil pun langsung menoleh. Kedua matanya langsung terpana begitu kepalanya mendongak menatap pada Melisa yang berdiri di samping kursi. Alvin menelan ludah. Dia tidak bisa munafik bahwa penampilan Melisa sangat luar biasa cantik sore itu. Walaupun memang tanpa menggunakan make up pun bagi Alvin Melisa sudah tampak sempurna dengan kecantikan alaminya. Tapi sekarang penampilan Melisa sangat berbeda dari biasanya.
Alvin bangkit dari duduknya pelan pelan dengan tatapan terpesona akan kecantikan Melisa. Pria itu bahkan menatap Melisa dengan mulut sedikit terbuka saking terpesona nya.
David dan Farid yang melihat itu cekikikan. Ekspresi Alvin benar benar seperti orang bodoh sekarang. Dan itu sangat menggelikan bagi keduanya.
Sedangkan Melisa yang di tatap seperti itupun hanya bisa menundukkan kepalanya salah tingkah. Tatapan Alvin membuat Melisa semakin merasa gugup.
“Ekhem !!” Deheman keras David membuat Alvin langsung tersadar dari keterpanaan nya pada Melisa. Pria itu langsung salah tingkah karena kepergok menatap Melisa dengan tampang bodohnya di depan David dan Farid.
“Oh ya, ya jadi dong. Ya udah yuk kita pergi sekarang aja.” Jawab Alvin sedikit tergagap. Pria itu menggaruk pelan tengkuknya menggunakan jari telunjuk yang menandakan bahwa dirinya sedang benar benar gugup sekarang.
Sedang David dan Farid, mereka berdua kembali terkikik. Karena tidak ingin membuat kakaknya semakin tidak tahu harus bagaimana, keduanya pun memilih untuk melangkah lebih dulu menuju mobil Alvin dengan membawa buah tangan yang memang sebelumnya sudah Melisa siap kan untuk di bawa ke kediaman Harrison guna menjenguk Lena dan bayinya.
Alvin menghela napas. Dia kembali menatap pada Melisa yang hanya diam saja dengan rasa gugup yang menguasainya.
“Eum.. Kamu cantik banget Melisa.” Puji Alvin pelan.
Wajah Melisa langsung merona mendengar pujian itu. Melisa tersenyum malu malu karena Alvin yang juga terus menatap nya. Seumur hidupnya ini kali pertama Melisa merasa sangat gugup di depan seseorang. Dan tanpa di duga duga yang mampu membuat Melisa gugup adalah Alvin, teman sekolahnya dulu yang sedikit pun tidak pernah Melisa pikirkan akan menjadi bagian penting dalam hidupnya.
__ADS_1
“Makasih...” Gumam Melisa malu malu.
Alvin tersenyum. Baginya dengan penampilan apapun Melisa nya tetap lah wanita tercantik di pandangan nya. Dan itu Alvin rasakan karena memang dia benar benar tulus menerima Melisa apa adanya.
“Ya udah kita berangkat sekarang.” Kata Alvin kemudian.
Melisa hanya mengangguk saja. Dia kemudian melangkah mendahului Alvin menyusul kedua adiknya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil Alvin.
Sementara Alvin, dia mengiringi Melisa dari belakang dengan senyuman manis yang tidak kunjung pudar dari bibirnya. Bisa memiliki dan mencintai Melisa adalah keinginan nya sejak masih duduk di sekolah menengah atas dulu. Dan sekarang semua itu terjadi bahkan Melisa menyambut cintanya dengan balik mencintai nya. Alvin benar benar sedikit pun tidak mempermasalahkan bagaimana masa lalu Melisa. Karena yang dia tau dan selalu yakini adalah Melisa wanita yang baik dan pantas untuk di cintai. Adapun yang telah terjadi, Alvin tau itu semua karena tekanan dari pria brengsek yang tidak lain adalah Alex. Alvin sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Melisa lagi termasuk Alex. Apapun akan Alvin lakukan untuk bisa menjaga dan melindungi Melisa.
Alvin membukakan pintu mobil untuk Melisa dengan cara yang sangat romantis. Dan itu kembali membuat Melisa tersipu apa lagi Alvin melakukan nya di depan kedua adiknya. Karena itu Melisa hanya diam saja dan masuk ke dalam mobil Alex kemudian duduk dengan tenang di kursi samping kemudi.
Setelah memastikan Melisa duduk dengan nyaman di kursinya, Alvin bergegas menyusul masuk ke dalam mobil.
“Kita jalan sekarang.” Katanya pelan lalu segera menghidupkan mesin mobilnya dan berlalu dengan kecepatan sedang dari halaman rumah sederhana Melisa dan kedua adiknya.
Dari kejauhan tanpa mereka sadari ternyata ada sosok yang sedang memperhatikan sejak tadi. Bahkan sosok itu mengawasi kediaman Melisa sebelum Alvin datang. Ya, dia adalah Alexander Smith. Pria yang sangat di benci dan di hindari oleh Melisa.
“Jadi karena usaha tidak seberapa nya ini dia bisa mengembalikan uang yang pernah aku gunakan untuk membantu nya membiayai rumah sakit teman adiknya dulu?” Gumam Alex sinis.
Beberapa bulan lalu memang Melisa sudah berhasil mengganti uang Alex yang di gunakan Alex secara cuma cuma untuk membantu membiayai rumah sakit teman David yang David pukuli. Dan karena hal itu Alex merasa Melisa merendahkan nya.
“Dasar perempuan, semuanya sama saja. Merasa dirinya istimewa dan paling berharga. Padahal mereka hanya barang murah.” Sinisnya lagi.
__ADS_1